Halo!

Si Rase Emas Chapter 27

Memuat...

Kie Bouw juga cepat2 membalas penghormatan dari tojin2 itu.

Sedangkan salah sorang tojin itu telah berkata dengan suara yang mengandung rasa terima kasihnya.

"Kalau tidak ada Kongcu, entah bagaimana nasib kami ditangan pemuda jahat itu !" Katanya.

Cepat2 Kie Bouw mengeluarkan kata2 untuk merendahkan diri.

Saat itu setelah ber cakap2 sesaat lagi, akhirnya Kie Bouw berpisah dengan tojin2 dari Hoa-san Pai itu.

Sedangkan tojin2 telah mengangkat mayat ketiga kawan mereka.

Dan mayat dari Kim Long Kun dibiarkan tetap menggeletak belaka, terkena siliran angin pegunungan Hoa-san ini.

Sambil melakukan perjalanannya lagi, Kie Bouw nenikmati pula pemandangan Hoa-san.

Saat itu, dia telah merasa letih bukan main,maka dihampirinya sebatang pohon, dia duduk menyender disitu untuk mengasoh.

Setelah rasa letihnya lenyap, barulah Kie Bouw melanjutkan perjalanannya lagi, dia telah meninggalkan pegunungan Hoa-san untuk singgah dikota Pai-cu-kwan.

---oo.dwka.0.Tah.oo--- BAGIAN 16 MALAM itu hawa udara sangat panas disekitar perkampungan Wie Ian cung.

Dan juga awan tampak bersih dari langit, entah mengapa didalam musim panas seperti ini, terasa sangat panjang dan kemarau begitu menyiksa dengan hawa udara yang menggesliskan.

Dan penduduk kampung banyak sakali yang berkumpul diluar rumah, bercakap2 dengan sanak famili dan keluarganya, sambil ber-kipas2 mencari sekedar angin untuk menyejukkan tubuh.

Disebuah taman bunga yang sangat luas dan teratur indah, dengan barisan pohon Yang liu tampak memenuhi bagian sebelah kanan dari tembok yang tinggi itu tampak Siangkoan Wanggwe (hartawan she Siangkoan) tengah duduk ber-cakap2 dengan istri dan putri tunggalnya yang bernama Siangkoan Nio Ditangan Siangkoan Wanggwe tampak tercekal sebuah kipas yang berlukisan sangat indah oleh huruf2 bunga, dan tampak Siangkoan Hujin, nyonya Siangkoan, duduk dengan berkipas dengan sebuah kipas pula, Hanya Siangkoan Nio yang tidak berkipas.

Rupanya, hawa udara yang bagaikan membakar kulit itu telah membuat mereka panas dan kegerahan bukan main.

Saat itu, Siangkoan Wanggwe telah berkata dengan suara yang perlahan.

"Telah dua puluh tahun lebih kira menetap diperkampungan ini.....

sehingga boleh dibilang, kita sudah menjadi warga yang cukup lama dan tua dikampung ini "Siangkoan Hujin mengangguk.

"Ya, sebelum Nio-jie (anak Nio) dilahirkan, kita sudab menetap disini....,!" Kata nyonya sambil tersenyum.

"Dan selama dua puluh tahun kita dapat hidup dalam suasana yang tenang, tanpa perlu dipusingkan oleh segala macam pertikaian didalam rimba persilatan, seperti se-belum2nya kita tinggal disini" Siangkoan Wanggwe telah mengangguk, dia menghela napas panjang.

"Tanpa terasa kita telah tua.......

aku telah menjadi seorang kakek dan engkau telah menjadi seorang nenek......!" Kata Siangkoan, Wanggwe lagi.

Siangkoan hujin telah tersenyum lembut.

"Tetapi kita telah melewati hidup dan hari2 kita dengan tenang.......tidak ada seorang pun sahabat atau lawan kita dari rimba persilatan yang mengetahui bahwa kita telah hidup mengasingkan diri ditempat ini" "Ya.......

memang inilah cara yang terbaik agar kita terhindar dari gangguan lawan2 kita itu.......!" Kata Siangkoan Wanggwe.

"Jika pada dua puluh tahun yang lalu kita masih tidak mengundurkan diri dari rimba persilatan dan tetap berkelana ingin mencampuri persoalan kalangan rimba persilatan, jelas hal itu hanya akan membuat kita pusing selalu tanpa kesudahannya........

!" "Sesungguhnya Thia (ayah), banyakkah lawan2 dari kalian?" Tanya Siangkoan Nio, dia sejak tadi berdiam diri saja.

Siangkoan Wanggwe menghela napas.

"Niojie, jika ingin dikatakan banyak, ya memang cukup banyak jumlah musuh2 kami itu......, ayah dan ibumu merupakan jago2 yang sangat dibenci oleh para penjahat, sebab kami tidak pernah menurunkan tangan ringan kepada setiap penjahat .......

selalu pula kami menurunkan tangan besi.Maka dari itu, sertap kali kami mengetahui ada penjahat yang telah mengumbar kejahatan mereka, kami akan menyatroni dan membinasakannya!

Atau se-ringan2nya kami akan membuat mereka bercacad!

Disamping perasaan benci, juga para penjahat itu memang merasa takut pada kami.

Merekapun menaruh dendam.

Ibumu beranggapan jika kami berkelana terus niscaya hanya akan membuat kami bersiengsara sebab ibumu saat itu tengah mengandung empat bulan, yaitu mengandung engkau!

Maka ibumu telah menganjurkan agar kami mencari sebuah tempat yang aman dan tenteram untuk hidup mengasingkan diri, dan jika telah lahir, untuk hidup tenang2 ditempat pengasingan kami membesarkan engkau", menjelaskan sang ayah panjang lebar.

Saat itu, Siangkoan Nio mendengarkannya dengan sungguh2, karena jarang sekali ayahnya membuka cerita masa lalunya itu.

"Dan sekarang ayah, selama dua puluh tahun ini, apakah ayah dan ibu tidak pernah berjumpa dengan seorang sahabat atau seorang lawan juga dari kalian?" Tanya Siangkoan Nio sambil mengawasi ayabnya.

Sang ayah menggelengkaa kepalanya sambil menghela napas.

"Tidak ada seorangpun yang mengetahui tempat pengasingan kami ini, maka dari itu kami dapat bidup tenang tanpa mendapat gangguan dari siapapun juga, dengan sendirinya kami dapat mengecap hidup yang tenang dan tentram ...

dan sampai saat ini engkau telah meningkat dewasa." Siangkoan Nio menghela napas dengan wajah memperlihatkan bahwa dia sangat tertarik sekali.

"Jika saja ayah dan ibunda mau menurunkan kepandaian yang kalian miliki itu, tentu akan menggembirakan sekali !" Kata Siangkoan Nio kemudian.Sang ayah tersenyum.

"tadinya aku menyangka bahwa anak yang sedang dikandung ibumu itu adalah seorang anak lelaki......

dan kami memang bermaksud akan mencurahkan seluruh perhatian kami untuk mendidik anak itu untuk menerima warisan dari kepandaian kami!

Namun kenyataannya harapan kami itu tidak terpenuhi!

Tadinya kami mengharapkan anak kami itu, jika memang seorang lelaki, dapat menjadi seorang pendekar yang perkasa dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali melakukan perbuatan2 yang mengandung kebaikan dan keadilan, melakukan berbgai kebajikan untuk menolong silemah dari tindasan sijahat.

Tetapi setelah melahirkan, ibumu memberitahukan kepadaku, bahwa anak kami itu seorang wanita dengan sendirinya, kami telah merobah pendirian.

Sebagai seorang gadis begini jelas engkau tidak dapat berkelana dengan memiliki kepandaian!

Setiap wanita yang memiliki kepandaian, tentu akan menjadi liar dan akan berkeras untuk melakukan pergi berkelana karena memang dia merasak yakin dirinyas memiliki kepandaian yang tinggi, maka dari itu....

kami telah memutuskan untuk tidak menurunkan kepandaian kami kepadamu, hanya membesarkan engkau secara baik2, agar engkau benar2 menjadi seorang siocia yang tidak liar, halus dan memiliki kelembutan." Muka Siangkoan Nio memperlihatkan perasaan tidak senang.

"Tetapi ayah dan ibu memiliki, pandangan yang salah!" Kata Siangkoan Nio memprotes perkataan ayahnya itu.

"Biar bagaimana satu contoh telah ada.

Seperti ibu, maka ibu memang memiliki kepandaian yang tinggi, maka dari itu, apa salahnja jika ibu bisa mempelajari ilmu silat, dan akupun mempelajari ilmu silat ?" Sang ayah teleh tersenyum.

"Kau jangan salah mengerti nak ?" Katanya kemudian.

"Bukan ayahmu tidak ingin mewariskan seluruh kepandaian ayah, tetapi seperti ibumu pernah mengalaml, selama dia memiliki kepandaian ilmu silat, disaat gadisnya, dia telah menjadi liar dantelah berkelana dari kota yang satu kekota yang lain.

Tetapi setelah menikah dengan ayahmu, barulah perangainya yang berangasan itu lenyap, ber-angsur2, dan seperti sekarang engkau lihat ibumu telah menjadi seorang wanita yang berhati lembut dan peramah, tak seorangpun yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa sesungguhnya dulu ibumu merupakan singa betina yang sangat ditakuti oleh penjahat didalarn rimba persilatan !" Mendengar perkataan suaminya yang memuji dia secara tidak langsung, Siangkoan Hujin telah tersenyum.

Dan saat itu Siangkoan Nio telah berkata lagi dengan sikap ke- manja2an.

"Ayah, ibu, aku ingin sekali memiliki kepandaian ilmu siat seperti kalian !

Mempelajari ilmu surat sangat membosankan sekali!" Kata sigadis.

Sang ayah menggelengkan kepalanya.

"Sudah ayah katakan tadi, bahwa engkau jangan sekali-kali mempelajari ilmu silat, terlebih lagi untuk sekarang engkau baru mulai melatih diri apa gunanya?

Didalam usia yang dewasa baru memulainya merupakan pekerjaan yang terlambat!

Jika memang dulu dikala engkau berusia lima tahun, tentu engkau dapat melatih dengan cepat dan didalam usia seperti sekarang ini, engkau telah dapat memiliki kepandaian yang tinggi." Mendengar perkataan ayahnya itu, sigadis jadi merajuk, dengan mulut dimonyongkan "Ayah dan Ibu juga selalu salah mengapa dulu tidak menurunkan kepandaian kalian kepadaku ........?" Katanya dengan sikap merajuk dengan manja.

"Tetapi Niojie engkau, harus ingat!" Kata sang ayah.

"Keputusan yang kami, ambil itu semuanya demi kebaikan engkau juga.

Maka dari itu, engkau tidak perlu salah mengerti bahwa kami tidak menurunkan kepandaian ilmu silat kami kepadamu, hanyalah disebabkan kami tidak mau melihat engkaunanti menjadi liar eperti yang pernah terjadi pada ibumu.

Nah, engkau tentu mengerti maksud baik dari kedua orang tuamu ?" Tetapi Siangkoan Nio hanya berdiam diri merajuk dengan kepala tertunduk dalam2.

Rupanya hasrat ingin mempelajari ilmu silat itu terlampau besar didalam hatinya.

Disaat itulah, tampak Siangkoan Wanggwe telah tertawa sambil katanya.

"Baiklah, jika memang engkau berkeras ingin mempelajari ilmu silat juga, maka akupun tidak, bisa melarangnya mulai besok ayah dan ibumu akan menurunkan ilmu silat yang engkau inginkan itu!" Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir ini wajah Siangkoan Nio jadi berobah cerah.

"Benarkah ayah?" Tanyanya.

Sang ayah tersenyum sambil mengangguk.

"Ayah tak pernah menjustaimu bukan?" Dan wajah Siangkoan Nio jadi ber-seri2, dia mengucapkan terima kasih pada ayahnya.

Tetapi disaat itulah tiba2 sekali terdengar suara seseorang berkata.

"Hemm......, selama dua puluh tahun batok kepalamu itu masih dapat menempel dilehermu karena aku belum dapat menemukan jejak kalian, tetapi hari ini rupanya Thian maha pemurah, telah memberikan jalan dan petunjuk sampai akhirnya dapat menemukan jejak kalian." Mendengar suara itu wajah Siangkoan Wanggwe dan isterinya jadi berobah pucat, mereka juga telah melirik kearah asal suara itu datang.

"Hemmm......

itu ?" Tanya Siangkoan Wanggwe dengan suara yang tawar.

"Keluarlah perlihatkan diri, tidak baik bersikap seperti seekor tikus kecil yang selalu menyembunyikan ekor........!" Terdengar suara gelak tawa yang mengerikan sekali karena suara tertawa itu sangat panjang dan mirip2 suara tangisan yang mengalun."Ha...ha...ha..., aku justeru memang tengah mencari tikus2 yang menyembunyikan ekornya itu!

Post a Comment