arena sudah berjasa semasa hidupnya.
Dan engkau, apa jasamu terhadap orang lain, terhadap negara dan bangsa, dan terutama terhadap Tuhan?" Kini kakek itu tidak tertawa lagi, melainkan menghela napas panjang.
Kemudian terdengar lagi dia berkata.
"Kuharap saja engkau dahulu bukan seperti para muda yang tidak jujur, yang suka mengintai orang dan tidak berani muncul secara berterang, tengkorak.
Kalau begitu halnya, engkau tidak pantas kuajak bicara!" Dia meletakkan tengkorak itu di atas tanah dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon besar berloncatan keluar seorang pemuda dan seorang gadis.
Mereka tadi bersembunyi sambil mengintai dan mendengarkan ulah kakek jambel itu dengan terheran-heran, dan ucapan terakhir kakek itu yang menyindir mereka yang sedang mengintai, mengejutkan mereka dan keduanya segera berloncatan keluar.
Mereka menghampiri kakek itu dan memberi hormat.
"Kakek yang baik, harap maafkan kami yang tadi bersembunyi di sana." Kata pemuda itu dengan sikap yang sopan.
Kakek itu terkekeh dan memandang kepada dua orang muda itu dan hatinya merasa senang.
Dia adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah luas sekali pengalamannya dan dia dapat menilai orang hanya dengan melihat sinar matanya saja.
Pemuda itu berusia duapuluh satu tahun, berkulit gelap, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tampan dan gagah.
Dahinya lebar, sepasang alis tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar.
Akan tetapi mata yang bersinar tajam itu amat lembut dan ini saja sudah menyenangkan hati si kakek, apa lagi melihat pemuda itu begitu muncul sudah minta maaf kepadanya!
Dan gadis yang muncul bersama gadis itupun mengagumkan hatinya.
Dara itupun sebaya dengan si pemuda, wajahnya lonjong dengan dagu runcing.
Setitik tahi lalat menghias dagu kanannya.
Matanya juga tajam bersinar, namun lembut.
Bibirnya merah segar dan sikapnya halus dan anggun.
"He..he..heh!" kakek jambel itu terkekeh setelah mengamati wajah kedua orang muda itu.
Wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.
"Kenapa kalian minta maaf kepadaku?
Tempat ini bukan milikku.
Siapa saja boleh datang dan pergi.
Akan tetapi kenapa kalian main sembunyi-sembunyi?
Kalian bukan sepasang kekasih yang melarikan diri dari orang tua kalian, bukan?" Wajah dua orang muda itu berubah kemerahan, akan tetapi keduanya tersenyum dan tidak menjadi marah.
Ucapan kakek itu wajar dan sebagai kelakar yang sopan, tidak bermaksud menghina.
"Sama sekali bukan, locianpwe (orang tua gagah)." "Heii!
Kenapa engkau menyebut aku seorang jembel tua dengan sebutan locianpwe!
Aku hanya pandai makan dan minta-minta!" "Harap locianpwe tidak merendahkan diri.
Locianpwe tadi dapat mengetahui bahwa kami bersembunyi, hal itu saja sudah menunjukkan bahwa locianpwe memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam sekali," kata pemuda itu.
Kakek itu memandang dengan kagum.
"Haii, engkau cerdik juga.
Nah, katakan mengapa kalian bersembunyi tadi." "Kami melihat dan mendengar semua kata-katamu, locianpwe.
Karena kami tidak ingin mengganggumu, maka kami bersembunyi.
Ucapan locianpwe kepada tengkorak tadi sungguh menyentuh perasaan kami.
Akan tetapi, locianpwe, mengapa locianpwe seperti orang yang berputus-asa dan melihat dunia ini dari seginya yang mengecewakan dan menyedihkan belaka?
Bukankah masih banyak segi lain yang menggembirakan?" Tiba-tiba sepasang mata yang lembut dan ramah itu mencorong, mengejutkan hati pemuda itu.
Lalu kakek itu menghela napas panjang, pandang matanya melembut kembali.
"Aihhh, siapa yang tidak akan merasa kecewa dan bersedih, orang muda?
Kalau aku mengenang semua peristiwa yang terjadi selama beberapa tahun ini, sejak perang yang meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol.
Aihh, sungguh menyedihkan ......" Pemuda itu mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, locianpwe, bukankah peristiwa itu amat membahagiakan rakyat?
Bukankah perang itu yang berhasil melepaskan rakyat dari pada cengkeraman penjajah?
Kenapa locianpwe malah menyatakan kecewa dan sedih?
Bukankah sudah selayaknya kalau kita bersyukur, bahkan kalau bisa membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?" Kakek itu menatap wajah pemuda yang bicara dengan sikap penasaran itu beberapa lamanya, kemudian dia tertawa bergelak sambil memandang ke angkasa.
"Ha..ha..ha..ha, lucunya!
Engkau memberi kuliah kepadaku tentang perjuangan?
Ha..ha..ha, orang muda, ketahuilah bahwa selama perang melawan Mongol, aku selalu berada di garis terdepan!" Pemuda dan gadis itu cepat memberi hormat.
"Kiranya locianpwe seorang pahlawan!" kata gadis itu, baru pertama kali bicara.
"Apa pahlawan?
Apa artinya sebutan itu?
Kalian tahu, ketika rakyat bergerak dan berjuang melawan penjajah Mongol, aku merasa bangga dan gembira bukan main.
Hampir dapat dikatakan bahwa semua golongan, tidak perduli dari aliran mana, bersatu padu dan bekerja sama, bahu membahu dalam perjuangan, rela setiap saat berkorban nyawa.
Akan tetapi, kegembiraan itu hanya sebentar!
Aih, seperti awan tipis tertiup angin saja.
Segera terganti kedukaan ketika aku melihat betapa perang itu mengakibatkan jatuhnya korban yang teramat besar.
Banyak rakyat jelata yang tidak berdosa menjadi korban, Tidak perduli wanita, kanak-kanak, orang-orang jompo, semua tak terkecuali, banyak yang roboh dibantai orang!
Perang itu mengakibatkan banjir darah!" "Apa anehnya hal itu, locianpwe?
Setiap peperangan tentu saja menjatuhkan banyak korban.
Setiap perjuangan tentu saja membutuhkan pengorbanan.
Pengorbanan rakyat tidak sia-sia, locianpwe.
Mereka yang tewas dalam perang itu.
baik dia perajurit maupun rakyat, adalah pahlawan dan darah mereka yang membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah.
Kematian mereka yang mendatangkan kebebasan dan kemakmuran .........." "Kemakmuran siapa, orang muda?
Inilah yang menyedihkan hatiku.
Kami dahulu dengan senang hati membantu perjuangan yang dipimpin pendekar Cu Goan Ciang yang gagah perkasa, bahkan sampai sekarangpun, setelah menjadi Kaisar Thai-cu, kami masih menaruh rasa hormat kepada dia.
Dia memang seorang pejuang sejati, seorang pemimpin sejati.
Sekarang.
pun dia menjadi kaisar yang bijaksana, yang tidak mabok kemenangan, tidak mabok kemuliaan dan kesenangan.
Dia terus membangun yang rusak oleh perang, dibantu oleh para pejabat yang setia dan bijaksana .........." "Nah, bukankah hal itu menggembirakan sekali, locianpwe?" "Uhhh, engkau hanya tahu satu tidak tahu selebihnya yang jauh lebih banyak.
Aku melihat hal-hal yang menyedihkan sebagai akibat perang, atau menyusul perjuangan yang luhur itu.
Kalau dahulu, semua golongan bersatu padu menyerang penjajah, ehh, sekarang malah terjadi perpecahan antara kita dengan kita sendiri, karena saling berebutan!
Saling memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan yang pada hakekatnya saling memperebutkan kesenangan duniawi!
Orang-orang tidak mungkin akan memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan kalau di situ tidak terdapat kesenangan!
Jadi, yang diperebutkan adalah kesenangan!
Dan dalam perebutan ini, mereka tidak segan-segan untuk saling serang dan saling bunuh!
Bukan itu saja, akan tetapi lihat keadaan para pembesar!
Mereka tidak pantas disebut pemimpin, mereka adalah pembesar yang membesarkan perut sendiri.
Mereka melakukan korupsi, mencuri dan menipu uang negara, menindas yang bawah menjilat yang atas, bahkan banyak yang lebih tamak dan lebih murka dibandingkan penjajah Mongol sendiri!
Dan Kaisar yang bijaksana itu bagaimana mungkin dapat mengetahui semua yang terjadi di antara laksaan orang pejabatnya?" "Akan tetapi, locianpwe, aku tidak setuju!
Tidak semua pejabat seperti yang locianpwe katakan tadi!
Masih banyak yang merupakan pejabat sejati, setia kepada pemerintah, jujur dan tidak mementingkan diri sendiri!" Gadis itu kini berseru penasaran.
"Ha..ha..ha, hanya berapa gelintir orang saja yang seperti itu?
Dan .....
eh, kenapa aku bicara dan berdebat dengan dua orang muda yang sama sekali tidak kukenal?" Dia menepuk kepala sendiri dan mengomel, akan tetapi sambil tersenyum.
"Bu Lee Ki, engkau tua bangka pikun.
Sekali waktu bisa celaka oleh celotehmu sendiri!" Melihat kakek itu kini mengatupkan bibir kuat-kuat dan duduknya bahkan membelakangi mereka, pemuda itu saling pandang dengan si gadis dan keduanya tersenyum.
"Locianpwe, maafkan kami berdua yang masih muda dan lupa untuk memperkenalkan diri kepada locianpwe.
Namaku Sin Wan dan ini adalah sumoiku bernama Lim Kui Siang.
Kakek itu tidak menoleh, masih duduk membelakangi mereka, seperti acuh saja.
Sin Wan dan Kui Siang kembali saling pandang.
Mereka berdua baru saja meninggalkan guru mereka yang tinggal seorang, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui yang telah berhasil mengajarkan Sam-sian Sin-ciang kepada dua orang muridnya itu.
Selama hampir setahun dua orang murid itu dengan tekun melatih diri dengan ilmu silat baru hasil ciptaan Tiga Dewa.
Setelah Dewa Arak melihat bahwa dua orang muridnya sudah benar-benar menguasai ilmu silat sakti itu, diapun menyuruh mereka turun gunung.
"Aku hendak menghabiskan sisa hidupku di sini, menanti uluran tangan maut yang akan membawa aku menyusul dua orang gurumu yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita.
Kalian pergilah dan pergunakan semua kepandaian yang pernah kalian pelajarl dari kami demi keadilan dan kebenaran.
Kui Siang, sebaiknya engkau kembali ke kota raja.
Tentu semua harta peninggalan orang tuamu berikut rumahmu masih dirawat baik-baik oleh Ciang-Ciangkun.
Dan engkau, Sin Wan, terserah kepadamu hendak ke mana, akan tetapi .....
biarlah sekarang kuceritakan kepada kalian suatu keinginan hati yang sudah kami sepakati bertiga ketika dua orang gurumu yang lain masih hidup.
Kami ingin melihat kalian menjadi suami isteri ........" "Suhu ....!" Kui Siang berseru lirih dan mukanya menjadi merah sekali.
Ia hanya menunduk.
Juga wajah Sin Wan menjadi kemerahan, dan diapun tidak berani berkutik, hanya menunduk.
Sejak masih kecil, hatinya sudah penuh kasih sayang terhadap Kui Sian