Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 39

Memuat...

lintut!

Hek I Kai-pang selama ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak becus, maka mudah saja menjadi permainan perkumpulan lain seperti Hwa I Kai-pang.

Sekarang, suci dengan mudah mengalahkanmu, maka ia berhak menjadi pangcu.

Kenapa engkau malah mengatakan bahwa suci tidak mau menjadi ketua?

Omongan macam apa itu ?" "Harap ji-wi lihiap (berdua pendekar wanita) tidak salah paham dan suka mendengarkan keterangan kami," kata Souw Kiat.

"Hek I Kai-pang sejak puluhan tahun telah mempunyai suatu peraturan tertentu yang sama sekali tidak boleh dilanggar mengenai pengangkatan seorang ketua baru.

Selain seorang ketua baru harus menjadi orang yang paling tinggi ilmu kepandaiannya di antara seluruh anggauta, juga sebagai ketua baru dia harus lebih dahulu melakukan sendiri pekerjaan mengemis selama satu bulan, dan dia tidak boleh mengenakan pakaian lain kecuali pakaian hitam.

Nah, apakah Cu-lihiap suka memenuhi syarat dalam peraturan itu?" Dua orang wanita itu saling pandang.

Lili tertawa akan tetapi sucinya cemberut dan mengerutkan allsnya "Mengemis?

Sebulan dan selalu berpakaian hitam?

Wah, aku tidak suka melakukan itu, Souw-pangcul" katanya kemudian.

"Akan tetapi aku tetap ingin didukung oleh Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti!" Kini ketua dan wakil ketua Hek I Kai-pang yang mengerutkan alis dengan bingung.

Tiba-tiba Lu Pi memandang kepada ketuanya dengan wajah berseri.

"Ah, hal itu bisa diatur, Souw-toako!

Dalam peraturan kita, tidak ada disebut tentang ketua kehormatan!

Maka, kita dapat mengangkat Cu-lihiap dan Tang-lihiap sebagai ketua dan wakil ketua kehormatan.

Karena tidak ada dalam peraturan, maka mereka tidak terikat oleh peraturan dan persyaratan itu.

Dan kelak, dalam pemilihan, tentu kita dapat mendukung Cu-lihiap sebagai calon pemimpin besar kai-pang karena mereka telah kita terima sebagai ketua-ketua kehormatan!" "Bagus sekali!

Engkau benar, siauw-te.

Nah, ji-wi lihiap mendengar sendiri usul Lu-siauwte yang amat baik.

Apakah ji-wi juga setuju dengan usul itu?" Sui In mengangguk.

"Teserah kepada kalian.

Bagiku yang terpenting, kalian harus mendukung aku dalam pemilihan pemimpin kai-pang." Untuk menghormati ketua dan wakil ketua kehormatan itu, Souw-Pangcu dan Lu-Pangcu lalu mengadakan penyambutan dengan pesta.

Dan dalam kesempatan ini, Souw Kiat menceritakan tentang keadaan kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dan tentang pemilihan pemimpin besar kai-pang yang akan diadakan sebulan lagi di kota Lok-yang.

Ada empat kai-pang terbesar yang menguasai empat daerah.

Di barat adalah Hek I Kai-pang dengan pakaian hitam, di timur Hwa I Kai-pang dengan pakaian kembang-kembang, di utara terdapat Ang-kin Kai-pang dengan tanda sabuk merah di pinggang para anggautanya dan yang berkuasa di selatan adalah Lam-kiang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sungai Selatan) yang ditandai dengan topi butut hitam yang dipakai para anggautanya.

"Masih banyak perkumpulan pengemis lainnya, akan tetapi mereka semua hanyalah perkumpulan-perkumpulan kecil yang bernaung di bawah panji kekuasaan empat perkumpulan pengemis yang besar itu," Souw Pangcu melanjutkan keterangannya.

"Empat perkumpulan besar itulah yang pada bulan depan nanti akan mengadakan pertemuan untuk memilih seorang pemimpin besar kai-pang yang menjadi penasihat dan sesepuh, yang berwenang memutuskan kalau terdapat pertikaian dan persaingan di antara keempat kai-pang." "Aku pernah mendengar bahwa seluruh kai-pang sudah mempunyai seorang pemimpin besar yang amat sakti dan bijaksana.

Ayahku mengenal baik tokoh ini, apakah sekarang dia tidak lagi memimpin para kai-pang!" tanya Sui In.

Souw Pangcu mengangguk-angguk.

"Memang benar sekali, Cu-lihiap.

Dahulu para kai-pang telah mempunyai seorang sesepuh yang sakti dan bijaksana, yaitu Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih).

Selama ada beliau, para kai-pang tidak ada yang berani melakukan penyelewengan dan mereka hidup rukun dan saling bantu dengan kai-pang lainnya.

Akan tetapi, semenjak beberapa tahun yang lalu, beliau menghilang dan tak seorangpun mengetahui di mana adanya, masih hidup ataukah sudah mati.

Beliau dahulu memimpin kami untuk menentang penjajah Mongol dengan gerakan bawah tanah, bahkan membantu pergerakan Kerajaan Beng.

Akan tetapi setelah penjajah Mongol berhasil digulingkan, beliau menghilang.

Mungkin karena kini rakyat tidak terjajah lagi, negara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Beng, bangsa sendiri, beliau menganggap tidak perlu lagi memimpin para kai-pang." Sui In juga menceritakan rencananya.

"Kai-sar Thai-cu sendiri yang memerintahkan agar dunia persilatan memilih seorang beng-cu (pemimpin rakyat) agar pemerintah mudah mengadakan hubungan dengan para tokoh dunia persilatan.

Nah, dalam rangka inilah aku ingin menjadi pemimpin para kai-pang.

Aku ingin mewakili kai-pang dalam pemilihan beng-cu itu dan para kai-pang harus mendukung ayahku sebagai calon beng-cu." Mendengar ini, para pimpinan pengemis itu merasa lega.

Kiranya, wanita ini sama sekali bukan menginginkan kedudukan ketua Hek I Kai-pang ataupun pemimpin besar kai-pang, melainkan menginginkan kedudukan beng-cu untuk ayahnya.

Tentu saja hal itu tidak ada sangkut-pautnya secara langsung dengan Hek I Kai-pang, maka dengan hati lega Souw-pangcu menyatakan kesanggupannya untuk membantu dan memberi dukungan.

Karena pemilihan permimpin besar kai-pang masih sebulan lagi, maka Sui In dan Lili meninggalkan perkumpulan itu, memasuki kota Lok-yang dan menghabiskan waktu untuk berpesiar ke seluruh daerah Lok-yang di mana terdapat banyak daerah wisata yang indah.

Dataran tandus di kaki pegunungan, di sebelah dalam Tembok Besar itu merupakan daerah yang amat sunyi.

Letaknya di sebelah utara kota Peking.

Daerah yang berbukit-bukit dan kadang diseling gurun pasir dan tandus itu merupakan daerah yang mati.

Akan tetapi, ketika pasukan rakyat mengejar tentara Mongol pada akhir perang yang meruntuhkan kekuasaan Mongol, daerah ini merupakan daerah pertempuran besar-besaran.

Banyak perajurit kedua pihak tewas di daerah ini.

Juga banyak pula para pengungsi dan penduduk dusun yang ikut pula dibantai di tempat ini.

Biarpun perang itu sudah berlalu selama belasan tahun, namun masih banyak ditemukan rangka-rangka manusia berserakan di situ, tengkotak-tengkorak dan bahkan senjata.senjata tajam yang sudah berkarat.

Pada siang hari itu, seorang kakek melintasi daerah tandus yang terakhir dan kini dia melepas lelah di hutan pertama, di bawah pohon besar yang rindang, berteduh dari terik matahari.

Di dalam perjalanan tadi dia memungut sebuah tengkorak yang bersih, dan kini dia duduk di bawah pohon sambil memegangi tengkorak itu, menghadapkan muka tengkorak kepadanya dan dia mengajak tengkorak itu bercakap-cakap!

Dia seorang pria tua, mungkin mendekati tujuhpuluh tahun usianya.

Pakaiannya jelek sekali, sudah robek di sana sini dan penuh tambalan.

Akan tetapi anehnya, pakaian yang butut itu nampak bersih, seperti habis dicuci.

Kedua kakinya telanjang tanpa alas kaki, dan celana yang robek dan buntung sebatas lutut itu memperlihatkan betis yang kecil kurus hampir tak berdaging.

Kakek ini tubuhnya sedang akan tetapi kurus, kepalanya besar dan mukanya seperti muka singa karena rambut, cambang, kumis dan jenggotnya tebal dan awut-awutan melingkari muka itu.

Rambutnya sudah banyak yang putih, demikian pula kumis dan jenggotnya, dibiarkan tumbuh liar tak terpelihara rapi.

Akan tetapi rambut dan kumis jenggotnya halus seperti kapas, juga bersih, tanda bahwa biarpun dia tidak pernah menyisir rambutnya akan tetapi rambut dan kumis jenggot itu sering dicuci bersih.

Sepasang matanya seperti mata kanak-kanak, nampak berseri gembira, mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi itupun selalu tersenyum, bibirnya merah tanda bahwa dia sehat.

Kalau dikatakan dia seorang kakek jembel, kurang pantas karena pakaian dan seluruh tubuhnya nampak sehat dan bersih.

Akan tetapi kalau bukan jembel, kenapa pakaiannya penuh tambalan dan robek-robek.

Sebuah caping lebar tergantung di punggungnya, baru saja dilepas dari atas kepalanya ketika dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon itu.

Kini dia bicara kepada tengkorak yang dipegangnya, seperti orang bicara kepada seorang sahabatnya saja.

"Hayo jawablah!" Dia mengulang.

"Selagi hidup engkau tentu cerewet bukan main, kenapa sekarang diam dalam seribu bahasa?" Dia terkekeh.

Suara kakek itu lirih dan ringan, seperti suara anak-anak.

"Hayo katakan, apakah engkau dahulu seorang wanita yang cantik jelita ataukah wanita yang buruk rupa?

Seorang laki-laki yang jantan perkasa ataukah seorang laki-laki yang lemah berpenyakitan?

Apakah engkau dahulu seorang panglima?

Ataukah perajurit biasa ?

Hartawan ataukah pengemis?" Kalau ada orang lain melihat dan mendengatnya di saat itu, tentu kakek ini akan dianggap seorang yang tidak waras, seorang gila atau setidaknya sinting.

"Coba jawab.

Engkau dahulu seorang pembesar yang jujur bijaksana, ataukah seorang pembesar yang korup dan penindas rakyat?

Seorang hartawan yang dermawan ataukah yang pelit?

Ataukah engkau seorang pendeta yang penuh kasih sayang dan arif bijaksana, ataukah seorang pendeta munafik yang pura-pura alim?

Ha..ha..ha, apapun adanya engkau dahulu, sekarang tiada lebih hanya sebuah tengkorak!

Mana itu kecantikan atau ketampananmu, mana hartamu, mana kedudukanmu?

Ha..ha..ha, engkau kini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak-anak saja!" Kakek itu tertawa-tawa.

"Heii, tengkorak!

Selagi hidup haruslah ada manfaatnya!

Jadilah seperti para pemimpin yang membimbing rakyat dengan bijaksana dan adil menuju ke arah kehidupan yang makmur, seperti para cerdik pandai yang memberi pelajaran yang bermanfaat bagi orang lain, seperti para pendekar yang selalu menegakkan dan membela kebenaran dan keadilan, seperti para pendeta yang benar-benar mengabdi kepada Tuhan, memberi penyuluhan dan bimbingan kepada orang lain ke arah jalan benar.

Mereka meninggalkan hasil karya dan nama baik mereka, sehingga matipun tidak menyesal k

Post a Comment