Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 37

Memuat...

an tetapi sebagai orang yang sudah banyak pengalaman, dia dapat menahan diri dan berkata dengan suara yang tegas.

"Cu-lihiap, apakah sesungguhnya yang kaukehendaki!

Tidak mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita.

Dan engkau juga bukan orang pengemis!

Bagaimana mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan pengemis?

Andaikata ada yang setujupun, seluruh anggauta yang jumlahnya ratusan orang tentu akan merasa berkeberatan!" "Hemm, kalau begitu, jangan memaksaku untuk merampas kedudukan ketua!

Akupun tidak suka menjadi ketua kaum jembel.

Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang." "Hemm, lalu siapakah calon yang kaupilih untuk menjadi pemimpin besar kai-pang?" Souw-pangcu bertanya, semakin penasaran.

Dengan wajah dingin namun bibirnya yang amat manis menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata, suaranya lantang terdengar semua anggauta kai-pang yang berada di situ.

"Calonnya adalah aku sendiri!

Aku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Beng-cu." Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh.

Ada yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita itu.

Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya ditertawakan orang.

Biarpun sekarang Sui In telah menjadi kakak seperguruannya, namun dalam beberapa hal ia masih menganggapnya sebagai gurunya.

"Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau!

Suci ingin menjadi pemimpin besar kai-pang, kalian tidak cepat menyambutnya dengan baik malah mentertawakan!

Hayo siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju melawan aku!" Sebetulnya karena melihat kedua orang wanita ini datang tidak untuk memusuhi mereka, ketua Souw Kiat tidak ingin memusuhi mereka dan menyambut mereka dengan sikap hormat.

Akan tetapi, mendengar permintaan mereka` untuk menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia terkejut dan merasa penasaran.

Oleh karena itu, ketika wakilnya yang bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu, diapun mendiamkannya saja.

Bagaimanapun juga, kedua orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia tidak ingin perkumpulannya menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw.

Dipimpin oleh wanita muda yang cantik!

Bagaimana mungkin?

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan berpenyakitan, akan tetapi sesungguhnya dia seorang ahii silat yang pandai.

Dia memiliki tenaga sin-kang yang kuat, juga memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan merupakan tangan kanan Souw Kiat.

Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan diapun sudah meloncat ke depan dara itu.

Dengan telunjuk tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, diapun membentak.

"Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang?

Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan menghajarmu!" Dia melintangkan tongkat hitamnya, sama dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, di depan dada lalu menantang.

"Hayo cepat keluarkan senjatamu!" "Untuk apa senjata?

Melawan orang macam engkau ini, dengan tangan kosongpun sudah terlalu kuat!" kata Lili dan kembali ucapannya itu membuat banyak orang terkejut.

Ada yang kagum akan keberaniannya akan tetapi lebih banyak yang marah karena, gadis ini dianggap terlalu sombong.

"Sumoi, jangan bunuh orang!" kata Sui In.

Ia tidak menghendaki Hek I Kai-pang mendendam kepadanya karena ia membutuhkan bantuan dan dukungan perkumpulan pengemis ini.

"Jangan khawatlr, suci.

Aku hanya ingin memberi hajaran kepada anjing kurus ini." Mendengar ucapan kedua orang wanita itu Lu Pi menjadi semakin marah.

Mereka sungguh amat memandang rendah kepadanya.

Dia sudah memutar tongkat hitamnya sehingga benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam dan dia berseru lantang.

"Bocah sombong, lihat seranganku!" Tanpa sungkan lagi dia menyerang gadis muda, yang tidak memegang senjata itu.

Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman.

Biarpun dia marah bukan main namun dia bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang tinggi.

Setelah membentak sebagai peringatan pembukaan serangan, gulungan sinar hitam itu semakin meluas dan tiba-tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu, menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili.

Bagaimanapun juga, Lu Pi agaknya masih teringat bahwa yang diserangnya adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak bersenjata, maka serangannya pun masih lunak dan hanya ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari totokan itu.

Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak, tangan kanannya bergerak ke atas dan jari tengahnya menjentik ke arah ujung tongkat yang orang menyambar pundaknya.

"Takkk!" Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya tergetar dan hampir saja tongkat itu terlepas dari genggamannya.

Ujung jari tengah gadis itu membuat tongkatnya terpental keras!

Kini tahulah dia bahwa lawannya bukan sekedar membual belaka.

Gadis yang masih amat muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sin-kangnya lewat jentikan jari tadi saja sudah terbukti kekuatannya, Diapun tidak sungkan lagi dan serangan berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Bertubi-tubi ujung tongkatnya mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan enak-enak saja.

Lili telah dapat mengukur tingkat kepandaian lawan dan iapun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang bergerak seperti dua ekor ular.

Begitu lentur dan begitu aneh gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari dengan kepala terangkat.

Dan ke manapun ujung tongkat menotok, selalu bertemu dengan "kepala" dua ekor ular itu yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, kini menusuk ke arah tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan kanannya, sekaligus menangkap ujung tongkat dengan tangannya, gerakannya seperti ular yang membuka moncongnya dan menggigit.

Ujung tongkat tertangkap dan sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili.

Seketika lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat mudahnya, tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili.

Gadis itu menggunakan tongkat rampasannya untuk menyerang.

Gerakannya aneh dan cepat dan tubuh Lu Pi menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri.

Biarpun dia berusaha untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah cepat dan terdengas suara bak-bik-buk ketika tongkat itu menggebuki kepala, punggung, dan pinggulnya.

Pukulan itu datang bertubi-tubi dan akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting roboh.

Setelah lawannya roboh tanpa menderita luka parah, barulah Lili menghentikan pukulan tongkat.

Dia lalu meremas tongkat itu dengan kedua tangannya.

Bagian yang diremas itu menjadi hancur berkeping dan ia lalu melemparkan sisa tongkat dan remukannya ke arah tubuh Lu Pi yang mulai merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan telapak tangan dari remukan kayu tongkat!

Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggauta kai-pang memandang dengan mata terbelalak.

Hampir mereka tidak dapat percaya bahwa wakil ketua mereka yang amat lihai dengan tongkatnya itu, dalam beberapa gebrakan saja roboh, bahkan setelah dipermainkan oleh dara remaja ltu, seperti seorang dewasa mempermainkan seorang kanak-kanak saja!

Lu Pi juga tahu diri.

Dia maklum sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka dengan muka pucat dan kepala ditundukkan, diapun mundur ke sudut.

Post a Comment