Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 35

Memuat...

"Anjing geladak ini perlu dihajar.

Apakah kalian pemeliharanya?

Kenapa tidak kalian ajar adat kepadanya?" Dua orang pengemis tua itu saling pandang, kemudian mereka melangkah maju mendekat.

Si tinggi kurus mengangkat kedua tangan depan dada, sedangkan orang ke dua yang bertubuh gemuk pendek juga mengangkat kedua tangan depan dada.

Mereka lalu memberi hormat kepada Sui In dan Lili.

"Kami dari Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) mohon maaf kepada nona," kata si tinggi kurus.

"Kami berterima kasih atas pelajaran yang diberikan kepada anggauta kami," kata si gemuk pendek.

Dua orang pengemis tua itu memberi hormat.

Sui In dan Bwe Li tersenyum mengejek.

Tanpa berdiri, sambil duduk, mereka.

pun mengangkat kedua tangan ke depan dada, membalas penghormatan itu.

Dua orang pengemis itu tadi bukan sembarang menghormat saja, melainkan mengerahkan tenaga sakti yang disalurkan melalui lengan mereka dan ketika mereka menggerakkan tangan memberi hormat.

Sebetulnya mereka telah melakukan penyerangan jarak jauh untuk menguji kepandaian dua orang wanita yang telah merobohkan anak buah mereka itu.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika dari gerakan tangan kedua orang wanita itupun menyambar tenaga dahsyat yang menyambut tenaga mereka dan membuat tenaga mereka membalik dan merekapun terhuyung!

Pada saat itu, terdengar suara orang.

"Ciangkun lihat saja, di mana-mana anggauta pengemis Baju Hitam membikin kekacauan!" Nampak serombongan orang datang ke tempat itu.

Pasukan yang terdiri dari belasan orang dikepalai seorang perwira datang bersama seorang laki-laki setengah tua yang juga mengenakan pakaian tambal-tambalan.

Akan tetapi pakaiannya bukan berwarna hitam seperti pengemis yang lain, melainkan berkembang-kembang!

Dialah yang tadi bicara dengan lantang kepada komandan pasukan kecil itu.

Melihat yang datang rombongan penjaga keamanan, dua orang pengemis baju hitam yang sudah dapat menguasai diri mereka karena terkejut mendapat sambutan dua orang wanita itu, lalu memberi hormat kepada komandan pasukan dan pengemis baju kembang.

"Sobat dari Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), kenapa menuduh yang bukan"bukan kepada kami segolongan?" kata pengemis baju hitam yang tinggi kurus.

Pengemis baju kembang yang tinggi besar dan bermuka hitam itu tersenyum mengejek.

"Sobat-sobat dari Hek I Kai-pang, aku bukan menuduh yang tidak-tidak kepada orang segolongan.

Akan tetapi, semua orang di kedai ini tahu belaka betapa anggauta kalian ini tadi memaksa ketika minta sedekah, kemudian bahkan menggoda dua orang nona ini.

Bukankah itu berarti bahwa para pengemis Hek I Kai-pang adalah orang-orang yang suka membuat kekacauan?" Dua orang pengemis baju hitam memandang ke sekeliling dan melihat betapa semua orang mengangguk dan membenarkan ucapan pengemis baju kembang, mereka menghela napas dan pengemis tinggi kurus berkata, "Anggauta perkumpulan kami telah membuat kesalahan.

Akan tetapi dia sudah menebus dengan nyawanya, sudah terhukum.

Biarlah ini menjadi peringatan bagi kami agar kami lebih ketat mengawasi anak buah kami.

Ciangkun, maafkan, kami akan membawa pergi mayat anggauta kami." Setelah berkata demikian, si gemuk pendek memondong tubuh pengemis yang telah mati itu, dan setelah keduanya memandang sejenak kepada Sui In dan Bwe Li, mereka lalu pergi dari situ dengan cepat.

"Ciangkun, seharusnya mereka berdua tadi ditangkap saja untuk dihadapkan ke pengadilan." kata pengemis baju kembang kepada perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan.

Perwira itu menggeleng kepala.

"Yang bersalah sudah mati.

Dua orang pengemis baju hitam itu tidak melakukan kesalahan apapun, bagaimana kami dapat menangkapnya?

Sudahlah, selama ini tidak ada pengemis baju hitam yang membuat kekacauan." Sui In segera membayar harga makanan, dan memberi isyarat kepada sumoinya untuk cepat meninggalkan tempat itu.

Ketika sucinya mengajak ia berlari menyelinap dalam kegelapan, Bwe Li bertanya lirih.

"Ada apakah, suci?" "Ssttt, kita membayangi para pengemis baju hitam itu," kata Sui In.

Mereka berdua mempergunakan ilmu kepandaian mereka dan sebentar saja mereka telah dapat menyusul dua orang pengemis baju hitam yang memondong tubuh anak buah mereka yang telah menjadi mayat itu.

Dua orang baju hitam itu keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah barat dan kurang lebih tiga li kemudian dari kota, mereka memasuki sebuah perkampungan di mana terdapat rumah-rumah yang cukup besar.

Kiranya Hek I Kai-pang mempunyai perkampungan para pengemis baju hitam di situ, dan di tengah perkampungan berdiri sebuah gedung yang cukup besar dan cukup megah, dikelilingi rumah-rumah yang lebih kecil.

Ketika dua orang pengemis itu masuk memondong mayat seorang pengemis baju hitam, gegerlah perkampungan itu.

Mereka semua mengikuti dua orang pengemis itu menuju ke gedung besar dan memasuki ruangan yang luas di mana telah menunggu ketua mereka yang sudah lebih dulu dlberitahu.

Karena mereka semua mencurahkan perhatian kepada dua orang pengemis yang memondong mayat seorang rekan mereka, maka para pengemis baju hitam itu menjadi lengah.

Hal ini tentu saja memudahkan Sui In dan Lili yang mempergunakan ilmu kepandaian mereka menyelinap memasuki perkampungan itu dan mereka sudah mengintai ke dalam ruangan dari atas atap.

Lebih dari duapuluh orang berada di ruangan itu.

tentu mereka ini adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena ia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu.

Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enampuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan, mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walaupun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam.

Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena di ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Ceritakan apa yang terjadi," kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu.

Mayat itu kini rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat.

"Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai.

Kami mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelonjotan sekarat, kedua pipi ditembusi sebatang sumpit.

Dengan hati"hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai.

Dalam menguji dengan sin-kang (tenaga sakti), kami bukan tandingan dua orang wanita itu.

Dan pada saat itu, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang.

Dia datang bersama sepasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau.

Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini telah melakukan pemerasan di kedai itu, dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu.

Semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami segera minta maaf dan membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)." Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang.

Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggauta Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru.

Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya.

Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya.

Ji-pangcu (ketua Ji ), coba periksa, apa yang menyebabkan dia mati," perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu.

Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umum bahwa sumpit itu bukan yang menyebabkan kematian.

Dia lalu merobek baju di bagian dada untuk memeriksa.

Dan, tepat di bawah, tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, yang menyebabkan kematiannya adalah tiga batang jarum yang menembus bajunya dan memasuki dadanya," Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa ia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya?

Kalau sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang inipun akan tewas seketika!" kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik.

Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!" kata Sui In dengan suara lantang namun lembut.

"Pangcu.....

mereka .....

mereka inilah dua orang tamu di kedai itu .......," kata pengemis tinggi kurus.

Souw Kiat sejenak memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia kagum dan terkejut.

Dua orang wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja.

Dia sendiri yang biasanya amat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka.

Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang ketika mendengar bahwa dua orang wanita ini pembunuh anak buah mereka.

"Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!" Setelah berkata demikian, Souw Kiat lalu memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya tadi yang memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal

Post a Comment