Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 33

Memuat...

uk keperluan paman, akan tetapi sewaktu-waktu kami datang membutuhkannya, paman harus mengembalikan kepada kami," kata wanita yang muda.

Nelayan itu memandang heran, akan tetapi karena perahu itu biarpun kecil cukup kokoh dan indah, dia mengangguk.

"Baiklah, nona.

Biar anakku yang merawatnya dan dia pula yang menggunakan untuk sekadar mencari ikan, Namaku A Liok, nona.

Kelak kalau nona hendak mengambilnya kembali, tanyakan saja kepada orang di sini." Gadis itu mengangguk, kemudian dua orang wanita yang cantik itu pergi meninggalkan pantai sungai, menuju ke barat, melalui jalan raya yang menuju ke kota Lok-yang.

Dua orang wanita itu adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan Tang Bwe Li!

Setahun lebih yang lalu, mereka datang ke Pek-in-kok dan Si Dewi Ular itu telah berhasil membunuh Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, walaupun ia sendlri juga terluka parah.

Namun, sekarang ia telah sembuh sama sekali dan biarpun usianya kini sudah empatpuluh tahun lebih, Cu Sui In masih nampak cantik jelita seperti belum ada tigapuluh tahun usianya.

Rambutnya masih digelung tinggi, dan rambut itu masih hitam panjang, gelungnya model sanggul para puteri bangsawan dengan dihias emas perrnata berbentuk burung Hong dan bunga teratai.

Pakaiannya juga indah, terbuat dari sutera mahal berkembang dan wajahnya yang cantik jelita itu bertambah cantik dengan olesan bedak tipis dan pemerah bibir dan pipi.

Alisnya kecil melengkung dan hitam karena ditata dengan cukuran dan penghitam alis, sepasang matanya, tajam dan mengandung sesuatu yang dingin dan menyeramkan.

Hidungnya mancung, akan tetapi yang paling menggairahkan hati pria adalah mulutnya.

Mulut itu memang indah bentuknya, bahkan tanpa pemerah bibirpun sebetulnya sepasang bibir itu sudah merah membasah karena sehat, sepasang bibir yang hidup dan dapat bergerak-gerak pada ujungnya, penuh dan tipis lembut.

Akan tetapi semua kecantikan itu menjadi keren dengan adanya sebatang pedang yang bergagang dan bersarung indah tergantung di punggungnya, tertutup buntalan pakaian dan sutera kuning.

Tang Bwe Li yang kini berusia duapuluh tahun, tidaklah secantik dan seanggun gurunya yang kini menjadi sucinya itu.

Namun, dara ini jauh lebih manis!

Lesung di pipinya, kerling tajam pada matanya, senyum sinis pada mulutnya, hidung yang dapat kembang kempis itu, ditambah gayanya yang lincah jenaka dan galak, membuat hati setiap orang pria yang melihatnya menjadi gemas-gemas sayang.

Beberapa bulan yang lalu, Tang Bwe Li atau yang biasa dipanggil Lili, pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Himalaya di mana suhunya, See-thian Coa-ong Cu Kiat dan sucinya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In, tinggal.

Dara ini telah melakukan perjalanan seorang diri untuk mencari Dewa Arak dan muridnya, anak laki-laki yang pernah menampari pinggulnya sampai panas dan merah, yang tidak diketahui namanya akan tetapi amat dibencinya itu.

Ia hendak mewakili sucinya yang sedang mengobati luka dalam karena tendangan Pek-mau-sian.

Akan tetapi, Lili tidak berhasil menemukan Dewa Arak di Pek-in-kok.

Ia hanya melihat dua buah makam, yaitu makam Kiam-san dan Pek-mau-sian.

Ia mencari ke sekitar lembah itu, namun sia-sia dan dengan marah-marah terpaksa ia kembali ke rumah suhunya dan melapor kepada sucinya.

Dewi Ular juga menjadi kecewa sekali, maka setelah ia sembuh sama sekali, ia mengajak sumoinya turun gunung.

Mereka berdua selain hendak mencari Dewa Arak dan muridnya, juga ingin memenuhi pesan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Datuk ini sudah mendengar Akan perubahan besar yang terjadi sejak penjajah Mongol diusir dari Cina.

Dia merasa sudah tua dan tidak semestinya mengasingkan diri di Pegunungan Himalaya.

"Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk mencari kedudukan, karena kaisarnya adalah bangsa sendiri." katanya.

"Apakah ayah bercita-cita untuk menjadi seorang pembesar?" tanya Dewi Ular heran.

"Ha..ha..ha, siapa ingin menjadi pejabat?

Kalau menjadi pejabat, aku harus menjadi kaisar!

Ah, tidak, Sui In.

Kita adalah orang-orang dunla persilatan.

Aku mendengar bahwa sekarang para orang gagah di dunia kang-ouw, mendapat angin baik dari pemerintah yang baru.

Aku ingin menjadi beng-cu (pemimpin) dari rimba persilatan!" "Suhu, dalam perjalananku mencari Dewa Arak, akupun mendengar bahwa tahun ini, pada akhir tahun, akan ada pertemuan besar antara para pimpinan partai persilatan, dan mungkin dalam pertemuan itu akan dilakukan pemilihan ketua atau pemimpin baru," kata Lili.

"Bagus!

Akhir tahun masih lama, masih sembilan bulan lagi.

Kalian berangkatlah lebih dulu, menyusun kekuatan dan sedapat mungkin membentuk sebuah perkumpulan yang kuat untuk menjadi anak buah kita.

Kelak, pada saatnya, aku akan muncul di tempat pertemuan puncak itu.

Bwe Li, di mana pertemuan itu diadakan?

Biasanya, pertemuan semacam itu diadakan di Thai-san " "Menurut yang kudengar memang akan diadakan di puncak Thai-san, suhu," kata gadis itu.

"Nah, kalau begitu, kalian berangkatlah.

Menurut sejarah, dahulu perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan yang amat kuat dan memiliki anak buah paling banyak di antara semua perkumpulan.

Bahkan partai pengemis di utara pernah menjadi penghalang bagi penjajah Mongol ketika hendak menyerbu ke selatan.

Akan tetapi, karena adanya pengkhianatan di antara para pimpinan, partai pengemis dapat dikuasai orang-orang Mongol dan akhirnya diadu domba dan pecah belah.

Bahkan ketika jaman penjajahan Mongol, partai itu dilarang sehingga anak buahnya cerai berai.

Sekarang, setelah penjajah lenyap, kurasa mereka tentu membangun kembali partai pengemis.

Kalau kalian dapat menguasai mereka, kalau kalian dapat menjadi pimpinan kai-pang (partai pengemis), tentu kedudukan kita akan menjadi kuat dan disegani." Demikianlah, dua orang wanita itu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu, mereka turun dari perahu dan menuju ke Lok-yang.

Mereka mendengar dalam perjalanan mereka bahwa memang kini kai-pang mulai nampak kuat kembali, di mana-mana diadakan persatuan pengemis dan pusatnya berada di tiga tempat.

Pengemis utara berpusat di Pe-king, pengemis barat berpusat di Lok-yang dan pengemis timur dan selatan berpusat di Nan-king, kota raja.

Itulah sebabnya, dua orang wanita itu kini menuju ke Lok-yang.

Kalau saja mereka dapat menguasai cabang barat di Lok-yang ini, akan memudahkan mereka menuju kepada kedudukan puncak yang berpusat di Nan-king.

Ketika mereka memasuki Lok-yang, Lili yang jarang melihat kota besar, menjadi kagum.

Kota Lok-yang merupakan bekas kota raja, maka selain besar dan ramai, juga indah, banyak bangunan indah bekas istana di sana, juga gedung-gedung besar yang dahulu menjadi tempat tinggal para pembesar tinggi.

Toko-toko besar penuh barang dagangan, juga terdapat banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan di kota itu, Sui In yang tidak heran melihat keramaian kota karena ia sudah sering berkunjung ke kota-kota besar, berkata.

"Sungguh luar biasa!" "Apanya yang luar biasa, suci?

Memang kota ini ramai dan indah......" "Bukan itu maksudku.

Coba kaulihat sumoi, tidak ada seorangpun pengemis nampak di kota ini.

Pada hal, menurut keterangan, Lok-yang merupakan pusat dari para pengemis daerah barat." "Ah, benar juga, suci.

Tentu telah terjadi sesuatu, atau mungkin mereka itu sudah pindah ke kota lain?" "Andaikata benar mereka pindahpun, kenapa di kota besar seperti ini tidak nampak seorangpun pengemis?

Ini sungguh aneh!" kata Dewi Ular.

Mereka lalu mencari kamar di rumah penginapan.

Karena baru saja mereka melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, mereka beristirahat siang itu dan setelah mandi sore, Dewi Ular mengajak sumoinya untuk keluar mencari makanan dan juga untuk berjalan-jalan melihat keadaan dan menyelidiki tentang para pengemis.

Kota Lok-yang di malam hari memang makin semarak.

Toko-toko dibuka dengan lampu-lampu gantung yang terang, juga jalan raya diterangi lampu-lampu.

Banyak orang lalu lalang, berjalan-jalan atau berbelanja di toko, di warung-warung, bahkan di taman kota yang indah, yang di waktu jaman penjajahan hanya untuk kaum bangsawan atau pembesar saja, kini dibuka untuk umum dan ramai sekali.

Dua orang wanita itu ikut merasa gembira dengan ramainya suasana.

Langit cerah dan bulan mulai muncul membuat suasana semakin gembira.

Sui In dan Bwe Li kini duduk di sebuah kedai nasi, duduk di meja paling luar sambil menonton keramaian di jalan raya, memesan makanan dan air teh.

Selagi mereka makan, tiba-tiba Bwe Li menyentuh lengan sucinya dan dengan pandang mata ia memberi isyarat ke sebelah kanan.

Sui In menengok dan ia melihat seorang pengemis datang rnenghampiri kedai itu.

Seorang pengemis yang usianya sekitar tigapuluh tahun, tubuhnya tegap dan sehat, pakaiannya serba hitam, bahkan rambutnya yang panjang juga diikat dengan pita hitam.

Melihat perawakannya, sungguh tidak pantas seorang pria muda yang masih kuat dan tidak cacat itu menjadi pengemis!

Juga gerak-geriknya tidak seperti orang pemalas, melainkan sigap dan langkahnya lebar.

Akan tetapi, wajahnya membayangkan kekerasan dan matanya liar.

Dua orang wanita itu kini menunda makan dan mengikuti gerak gerik pengemis itu dengan pandang mata mereka.

Pengemis muda itu kini menghampiri sebuah meja paling depan dekat pintu kedai, di mana duduk tiga orang laki-laki yang sedang makan bakmi.

"Tuan-tuan, bagilah sedikit rejeki untukku dan, beri sedekah untukku." kata pengemis itu, sikap dan suaranya angkuh seperti orang menagih hutang saja.

Tiga orang yang sedang makan itu nampak terganggu, akan tetapi yang paling tua di antara mereka agaknya tidak ingin ribut-ribut, mengambil sepotong uang kecil dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada si pengemis.

Pengemis baju hitam itu menerima uang kecil, mengamatinya dan diapun mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang itu dengan marah.

"Kalian hanya memberi sekeping tembaga ini?

Untuk membeli semangkok bakmi juga tidak cukup!

Kalian berani menghinaku, ya?" Pengemis itu membanting uang kecil itu ke atas meja.

Uang itu menancap di m

Post a Comment