Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 31

Memuat...

dang sebuah batu dari puncak bukit, batu itu menjadi sebab tergelincirnya batu ke dua.

Akibat ini menjadi sebab lain lagi karena batu ke dua menimpa batu ke tiga dari selanjutnya." "Kalau begitu, kita tidak berdaya, suhu.

Kita menjadi permainan karma, menjadi permainan hukum sebab dan akibat." "Kalau kita membiarkan diri terikat, memang demikian, Kui Siang.

Akan tetapi, Tuhan Maha Kasih kepada kita.

Tuhan telah memberi alat yang serba lengkap kepada kita manusia, selain dengan nafsu-nafsu untuk mempertahankan hidup, dengan hati dan akal pikiran, juga menyertakan pula kesadaran jiwa.

Kekuasaan Tuhan akan membimbing kita, Kui Siang, menyadarkan kita sehingga kita dapat mematahkan ikatan belenggu sebab akibat dan tidak terseret oleh berputarnya roda karma." "Mohon penjelasan, suhu, berilah contohnya." "Sin Wan, aku ingin mendengar apakah engkau sudah mengerti benar.

Coba engkau yang menerangkan kepada sumoimu." "Baik, suhu.

Akan tetapi kalau ada kekeliruan harap suhu suka membetulkan dan memberi penjelasan.

Sebelumnya, teecu harap suhu suka memberitahu, bagaimana kedua orang suhu ini sampai, tewas, agar dapat teecu pergunakan sebagai contoh tentang ikatan belenggu karma." Dewa Arak menarik napas panjang.

"Ketika kalian turun dari lembah tadi, dan kami bertiga duduk di luar pondok menikmati sinar matahari pagi, muncullah Bi-coa Sian-li Cu Sui In bersama seorang gadis yang disebutnya sumoi.'' "Siapakah Bi-coa Sian-li Cu Sui In itu?" Kui Siang bertanya.

"Sumoi, ia seorang tokoh kang-ouw wanita yang sepuluh tahun lalu pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka istana dari tangan guru-guru kita." kata Sin Wan yang masih ingat kepada wanita galak itu, juga ingat kepada anak perempuan yang ketika itu mengaku sebagai murid Dewi Ular Cantik.

"Nah, wanita itu sepuluh tahun yang lalu gagal merampas pusaka dari kami, dan kekalahan sepuluh tahun yang lalu itu membuat ia menaruh dendam.

Ia datang mencari kami dan menantang kami untuk bertanding satu lawan satu untuk menebus kekalahannya sepuluh tahun yang lalu.

Tentu saja kami tidak menanggapi, akan tetapi ia memaksa dan akan membunuh kami kalau kami tidak mau menyambut tantangannya.

Tentu saja kami tidak mau dibunuh begitu saja dan mati konyol.

Maka Dewa Pedang lalu menyambut tantangannya." "Tapi, Louw-suhu (guru Louw) sudah mengatakan tidak akan bertanding lagi, dan beliau menyerahkan Jit-kong-kiam kepada teecu dan Pedang Tumpul kepada suheng!" seru Kui Siang, lalu ia menoleh dan memandang ke arah wajah jenazah Kiam-sian Louw Sun.

Dewa Arak tersenyum.

"Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, setiap benda berbentuk pedang dapat saja menjadi senjata pengganti pedang.

Dia melawan Dewi Ular itu dengan sebatang ranting pohon." "Ahhh ......!

Dan Louw-suhu melawannya dengan ranting, sedangkan lawan menggunakan pedang pusaka?" teriak Kui Siang.

"Bukan hanya karena itu.

Akan tetapi memang harus kami akui bahwa ilmu kepandaian Dewi Ular Cantik tidak dapat disamakan dengan tingkatnya sepuluh tahun yang lalu.

Ia lihai bukan main dan akhirnya, setelah melalui pertandingan yang seru dan hebat, guru kalian Kiam-sian Louw Sun tewas di tangan Dewi Ular Cantik." Wajah Kui Siang menjadi merah, akan tetapi ia masih menahan kemarahannya.

"Apakah Thio-suhu (guru Thio) juga tewas oleh iblis betina itu, suhu?" Dewa Arak mengangguk.

"Setelah Dewa Pedang roboh.

Dewa Rambut Putih maju melawan Dewi Ular Cantik.

Pertandingan antara mereka lebih seru dan sebetulnya Dewi Ular sudah kehabisan tenaga.

Akan tetapi ia memang lihai dan mempunyai banyak siasat.

Akhirnya, dengan menggunakan rambutnya sebagai senjata.

Dewi Ular berhasil merobohkan dan menewaskan Dewa Rambut Putih walaupun ia sendiri terkena tendangan Pek-mau-sian dan menderita luka dalam yang cukup parah.

Dalam keadaan terluka ia dan sumoinya pergi." "Iblis betina keparat!" Kui Siang bangkit lagi kemarahannya yang sejak tadi ditahannya.

"Hemm, mau apa engkau, Kui Siang?" bentak Dewa Arak, sekali ini tidak tertawa lagi.

Kui Siang sadar, lalu membalik dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya sambil menangis.

"Suhu, ampunkan teecu ...." katanya di antara isaknya.

"Suhu, Maafkan sumoi," kata Sin Wan.

"Teecu sendiri juga merasa panas di hati.

Suhu, teecu berdua hanyalah manusia-manusia biasa yang tidak mungkin dapat begitu saja membebaskan diri dari pada nafsu perasaan.

Teecu berdua amat menyayang Louw-suhu dan Thio-suhu, tentu hati ini sakit sekali mendengar ada orang membunuh mereka.

Teecu sendiri mengerti bahwa perasaan ini hanya peranainan nafsu dan tidak benar menurutkannya, akan tetapi mungkin sumoi belum mengerti benar." "Heh ..

heh, karena itu, kaujelaskan padanya tentang karma tadi, Sin Wan." "Begini sumoi.

Kalau kita mau menelusuri, maka kematian dua orang guru kita yang tercinta hanya merupakan akibat dari pada sebab-sebab yang lalu.

Kalau kita telusuri, maka sebab-sebab itu kait-mengait seperti mata rantai.

Mereka tewas sebagai akibat pembalasan dendam Dewi Ular Cantik yang pernah mereka kalahkan, dalam perkelahian pertama.

Perkelahian pertama itu menjadi sebab perkelahian ke dua ini.

Dan perkelahian pertama itupun akibat dari pada sebab lain, yaitu karena guru-guru kita bertugas merampas kembali pusaka dari istana.

Tugas itupun mempunyai sebab, yaitu karena guru-guru kita adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang dimintai tolong oleh kaisar dan ketua perkumpulan persilatan.

Nah, kalau ditelusuri terus, sebab-sebab yang menjadi mata rantai itu tiada habisnya, sumoi." "Ha..ha..ha, mungkin yang menjadi sebab pertama adalah karena ......

kami bertiga dahulu dilahirkan di dunia ini!

Kalau kami tidak dilahirkan, mana akan terjadi semua itu?

Ha..ha..ha!" "Demikianlah, sumoi.

Sebab akibat yang disebut karma ini merupakan mata rantai yang tiada putusnya, dan masih akan berkepanjangan kalau kita tidak menghentikannya agar mata rantai itu putus.

Contohnya begini.

Kematian kedua orang guru kita menjadi akibat yang dapat menjadi sebab lain, yaitu apabila kita menaruh dendam sakit hati.

Mungkin kita lalu mencari Dew Ular Cantik dan kita berusaha membunuhnya untuk membalas dendam atas kematian,kedua orang guru kita.

Katakanlah kita berhasil dan ia mati di tangan kita, mata rantai itu tidak akan habis.

Mungkin ada saudaranya, gurunya, atau muridnya, yang menjadi sakit hati dan mendendam, lalu mencari kita untuk menuntut balas, demikian seterusnya." "Heh..heh..heh, kemudian muridnya, atau anaknya, saling mendendam dan saling membalas.

saling bermusuhan, maka timbullah perang!

Nafsu itu seperti api, kalau dibiarkan merajalela, dari sepercik bunga api dapat menjadi lautan api yang membakar dunia ha..ha..ha!" "Begitulah, sumoi.

Biarpun hati kita panas, namun pengertian ini harus kita laksanakan, dalam kehidupan.

Kita hentikan rangkaian karma ini sampai di sini saja.

Kita patahkan mata rantai agar kita tidak terikat belenggu karma.

Kita tidak seharusnya menaruh dendam kebencian kepada Dewi Ular Cantik." "Aku mengerti.

suheng." kata Kui Siang dan kini suaranya terdengar tenang.

"Akan tetapi apakah kita harus mendiamkan saja orang-orang jahat dan kejam seperti Dewi Ular Cantik itu berkeliaran begitu saja menyebar maut di antara orang-orang yang tidak berdosa?

Kita berpeluk tangan begitu saja ?" "Ha..ha..ha, anak manis.

Tentu saja tidak!

Kalau kalian diam saja, lalu untuk apa kalian menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari Ilmu dari Sam Sian?

Kalian harus turun tangan, menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang benar dan yang lemah tertindas, menentang yang jahat dan yang lalim, akan tetapi, ingat.

Yang kalian tentang bukanlah pribadinya, melainkan perbuatannya.

Kalian menentang orang jahat berdasarkan jiwa pendekar, bukan karena sakit hati, bukan karena dendam, dan sama sekali bukan karena membenci seseorang karena perbuatan yang dasarnya kebencian adalah perbuatan yang.terdorong oleh nafsu, dan semua perbuatan yang terdorong nafsu tentu akan menjadi mata rantai hukum karma." "Terima kasih, suhu, teecu mulai mengerti.

Teecu juga masih ingat akan semua ajaran budi pekerti yang pernah teecu terima dari mendiang Louw-suhu dan Thio-suhu.

Teecu harus menjadi seorang pendekar yang selalu mengambil jalan benar, taat kepada perintah Tuhan yang diperuntukkan manusia lewat agama dan ajaran-ajaran para budiman, teecu harus berprikemanusiaan, harus menjunjung keadilan, menolong sesamanya, berpribudi baik dan hidup rukun dan saling bantu, harus ........" "Kui Siang, dan kau juga Sin Wan.

Segala ajaran memang baik, akan tetapi kalian ingatlah baik-baik.

Pokok dari pada semua ajaran itu adalah bahwa kita harus.

berTUHAN!

Ber Tuhan bukan hanya di mulut, melainkan ber Tuhan dengan seluruh jiwa raga, tercermin di dalam hati akal pikiran, dalam kata-kata dan dalam perbuatan.

Ber Tuhan bukan berarti munafik, melainkan kita menyembah dan berbakti kepada Tuhan setiap saat, setiap detik ingat kepada Tuhan sehingga segala apa yang kita pikir, kita katakan, kita lakukan selalu dibimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih.

Orang yang ber.Tuhan, benar-benar ber Tuhan, sudah pasti dia itu berprikemanusiaan, sudah pasti dia itu adil, berpribudi baik, tolong-menolong dan hidup rukun dengan sesama, sudah pasti dia itu tidak kejam.

Pendeknya, orang yang ber Tuhan sudah pasti hatinya bersih dan baik!

Sebaliknya, orang yang berbuat baik, yang mengaku berprikemanusiaan, mengaku adil, belum tentu ber Tuhan, Kalau demikian keadaannya, maka semua kebaikannya itu berdasarkan nafsu, semua kebaikannya itu munafik dan palsu, karena tentu didasari pamrih demi keuntungan dan kepentingan diri pribadi!

Namun, seorang yang ber Tuhan, melakukan segala sesuatu demi baktinya kepada Tuhan, sebagai dharma sehingga semua perbuatannya itu tanpa dikotori pamrih demi keuntungan diri pribadi.

Mengertikah kalian?" "Teecu mengerti, suhu," kata Sin Wan dan Kui Siang hanya mengangguk, karena pengertiannya belum mendalam, bahkan ia masih agak bingung.

Sejak kecil ia telah banyak menderita, yaitu sejek ia berusia

Post a Comment