Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 30

Memuat...

..

ha ..

ha, Dewi Ular, apakah engkau mulai merasa menyesal karena membunuh mereka?

Ha ..

ha, engkau sudah begitu berjasa terhadap dua orang sahabatku, dan engkau menyuruh aku membalas dendam kepadamu?

Ha-ha-ha, sayang engkau terluka, nona.

Kalau tidak, tentu akupun akan kaubebaskan dari pada kurungan hidup yang palsu ini.

Masih untung ada arak, kalau tidak, betapa menjemukan, apalagi setelah dua orang sababatku pergi." Cu Sui In bangkit berdiri.

Napasnya tidak terengah lagi walaupun mukanya masih pucat.

"Kalau engkau hendak membalas dendam, biar terluka aku akan melayanimu, Dewa Arak.

Kalau tidak, jangan kira bahwa aku melarikan diri takut oleh pembalasanmu." "Ha ..

ha ..

ha, engkau memang wanita gagah Dewi Ular.

Agaknya engkau hendak menutupi semua kesengsaraan hatimu dengan sikap gagah dan tidak mau kalah dengan mengangkat harga diri setinggi mungkin.

Aih, aku kasihan kepadamu, Dewi Ular!" Mendengar ini, Lili mengerutkan alisnya lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.

"Hei, tua bangka pemabok!

Jangan semnbarangan bicara engkau!

Katakan kepada muridmu si Kerbau-sapi-kuda itu bahwa sekali waktu, aku akan mencarinya untuk membalas penghinaannya kepadaku sepuluh tahun yang lalu!" "Sudahlah, sumoi.

Dia pemabok akan tetapi ucapannya benar.

Mari kita pergi!" kata Cu Sui In.

Lili tidak berani membantah dan dua orang wanita itu lalu menuruni lembah itu, diikuti pandang mata Dewa Arak yang menggeleng kepalanya.

Setelah matahari naik tinggi, dari lereng sebelah timur nampak dua orang muda mendaki puncak memasuki Lembah Awan Putih sambil membawa bermacam barang belanjaan.

Mereka adalah Sin Wan dan Kui Siang yang baru pulang dari kota Yin-coan mana mereka berbelanja bermacam barang untuk menyambut datangnya tahun baru seperti yang diusulkan guru-guru mereka.

Dengan gembira mereka berlari mendaki tebing yang curam itu.

Mereka membeli pakaian, bukan hanya untuk mereka berdua, juga untuk tiga orang suhu mereka.

Juga mereka membeli roti kering, daging kering, bumbu-bumbu masak, bahkan membeli pula lima ekor ayam dan telur asin.

Ketika rnereka tiba di lembah, mereka melihat suasana di situ sunyi sekali.

Biasanya, tiga orang guru mereka itu berada di luar pondok pada tengahari seperti itu dan ada saja yang mereka kerjakan.

Akan tetapi, kini suasana di luar pondok sunyi.

Ketika mereka menghampiri pondok, mereka mendengar suara Dewa Arak bicara dengan suara lantang.

"Aih, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, sungguh aku merasa iri kepadamu!

Kalian mendapat kesempatan untuk lebih dahulu pergi meninggalkan dunia yang telah menjadi tempat kotor karena ulah manusia ini, terbebas dari sengsara badan dan batin.

Kalian tewas sebagai orang-orang gagah, dan mendapat kehormatan tewas di tangan lawan yang berilmu tinggi.

Kalian tidak kecewa, akan tetapi aku?

Aihhh, siapa tahu kelak aku mati digerogoti kuman-kuman kecil.

Ah, sungguh aku iri sekali kepada kalian!" Mendengar ucapan itu, tentu saja Sin Wan dan Kui Siang menjadi heran, akan tetapi juga terkejut sekali.

Mereka lalu berlari masuk seperti berlomba dan mereka sejenak terpukau, berdiri saja memandang tubuh dua orang kakek yang terbujur kaku di atas pembaringan masing-masing!

Dua orang guru mereka itu telah menjadi jenazah!

"Suhuuu .....!!" Kui Siang menjerit dan melompat, menubruk dua jenazah itu bergantian sambil menangis dan memanggil-manggil.

Gadis ini memang amat sayang kepada tiga orang guru mereka, yang seolah menjadi pengganti orang tuanya.

Dan kini ia mendapatkan dua orang di antara tiga gurunya tewas begitu saja.

pada hal ketika pagi tadi ia berangkat ke kota Yin coan bersama Sin Wan dua orang gurunya itu masih dalam keadaan sehat, tidak sakit apapun.

Sin Wan berdiri sambil menundukkan kepalanya, memejamkan matanya dan dengan suara lirih diapun berdoa.

"Ya Allah, mereka berasal dariMu dan kini Engkau berkenan memanggil mereka kembali kepadaMu.

Semoga Allah Maha Kasih menerima mereka dan memberi tempat yang penuh bahagia abadi." Kemudian dia menghampiri Kui Siang yang masih sesenggukan menangisi kematian dua orang gurunya, menyentuh pundaknya dan berkata.

"Sumoi, amat tidak baik menangisi dua orang guru kita yang sudah meninggal dunia.

Tidak baik untuk mereka.

Hentikan tangismu sumoi." Kui Siang mengangkat mukanya yang basah air mata.

"Aduh, suheng .....

bagaimana aku tidak boleh menangis?

Hatiku hancur melihat dua orang suhu meninggal dunia dengan mendadak .......

Tiba-tiba gadis itu meloncat berdiri dan membalik, memandang Dewa Arak yang masih menghadapi guci arak dan masih tersenyum-senyum itu.

"Aku harus membalas kematian mereka!

Suhu, siapa yang membunuh mereka?

Katakanlah, siapa yang membunuh mereka?" Dewa Arab tersenyum memandang kepada muridnya itu.

"Kui Siang, kalau engkau tahu siapa yang membunuh mereka, lalu engkau mau apa?" "Teecu (murid) akan membalas dendam kematian suhu berdua!

Teecu akan mencari pembunuh itu dan kubunuh dia!" kata gadis itu sambil mengepal tinju dan meraba gagang pedang Jit-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya.

"Kau mau tahu yang membunuh mereka?

Yang membunuh adalah Tuhan." Kui Siang memandang kepada gurunya itu dengan mata terbelalak "Tuhan?

Suhu, apa maksud suhu?

Teecu tidak mengerti......!" "Ha..ha..ha..ha!" Dewi Arak meneguk lagi arak dari gucinya, Sin Wan mendekati sumoinya.

"Sumoi, suhu berkata benar.

Kematian kedua orang suhu, atau kematian siapapun juga di dunia ini, baru dapat terjadi kalau dikehendaki Tuhan!

Tanpa kehendak Tuhan, siapa yang akan mampu membunuh siapa?

Segala kehendak Tuhanpun jadilah, sumoi!" "Ha..ha..ha, suhengmu benar, Kui Siang.

Nah, kalau yang membunuh dua orang gurumu ini Tuhan, apakah engkau juga mendendam kepada Tuhan dan hendak membunuhnya untuk membalas dendam?" Kui Siang tertegun dan menjadi bingung.

"Tapi .....

tapi .....

bagaimana Tuhan membunuh kedua guruku ini?

Teecu bingung, suhu, tidak mengerti dan mohon penjelasan.

Apa yang telah terjadi sampai kedua orang suhu ini meninggal dunia?" "Duduklah dengan tenang, Kui Siang.

Hentikan tangismu dan mari kita antar kematian Kiam-sian dan Pek-mau-sian dengan percakapan tentang kematian agar engkau mengerti.

Sin Wan, kalau ada yang terlewat, kaulengkapi keteranganku kepada sumoimu.

Nah, Kui Siang.

Setiap manusia dilahirkan dan kemudian mengalami kematian.

Kelahiran dan kematian setiap orang berada di tangan Tuhan, sudah dikehendaki oleh Tuhan!

Tentu saja, seperti juga segala peristiwa di dunia ini, kelahiran dan kematianpun ada penyebabnya yang hanya menjadi jalan atau lantaran saja.

Tentu saja Tuhan tidak mengulurkan tangan seperti kita untuk mencabut nyawa seseorang, melainkan melalui suatu sebab.

Ada kematian karena penyakit, ada kematian karena bencana alam, ada kematian karena bunuh membunuh, dalam perang atau dalam perkelahian.

Kita harus menghadapi setiap kematian sebagai suatu hal yang wajar, sebagai bukti bahwa hidup di dunia ini tidak abadi, dan bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan mampu menghindarkan kita dari kematian kalau Tuhan sudah menghendakinya.

Sebaliknya, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang dapat membunuh kita kalau Tuhan tidak menghendaki kita mati!

Nah, kalau kematian itu ditentukan oleh Tuhan, maka setiap kematian, kalau ditanya pembunuhnya, maka pembunuhnya adalah Tuhan!

Kalau, kita hendak mendendam, maka kepada Tuhanlah dendam itu ditujukan dan itu merupakan dosa yang teramat besar!" "Tapi, suhu!

Yang melakukan pembunuhan adalah manusia lain, walaupun kematian itu di tangan Tuhan!" bantah Kui Siang.

"Kalau ada orang membunuh orang lain yang tidak berdosa, maka si pembunuh itulah yang bertanggung jawab dan dia harus dihukum!" "Ha..ha..ha, tentu saja!

Dan kau bicara tentang hukum.

Setiap dosa tidak akan dapat bebas dari hukuman Tuhan, dan ada pula hukuman manusia, yaitu hukum yang diadakan oleh negara, oleh masyarakat, oleh agama.

Tapi, membalas dendam tidak termasuk dalam hukum apapun, kecuali hukum nafsu setan, hukum kebencian, Andaikata kedua orang gurumu ini mati karena penyakit, karena kuman, apakah engkau juga akan membalas dendam kepada kuman, kepada penyakit?

Andaikata kedua orang gurumu ini mati karena banjir, apakah engkau akan mendendam kepada air?

Kalau mati karena terbakar, apakah engkau akan mendendam kepada api?

Dan masih banyak lagi penyebab kematian yang banyak menjadi lantaran saja." Kui Siang tertegun dan bengong.

Ia merasa bulu tengkuknya meremang, melihat kenyataan yang sama sekali tak pernah dipikirkan sebelumnya.

"Tapi ......

tapi .....

kalau dua orang suhu dibunuh orang jahat, apakah teecu harus mendiamkan saja orang jahat itu membunuh dua orang suhuku?

Apakah teecu harus mendiamkan pula penjahat itu merajalela menyebar maut, membunuhi orang-orang yang tidak berdosa?" "Sumoi, bukan begitu maksud suhu.

Tentu saja kita harus menentang setiap perbuatan jahat.

Kalau kita melihat penjahat yang telah membunuh dua orang guru kita, atau membunuh siapapun juga, atau penjahat lain yang manapun juga, kalau kita melihat dia melakukan kejahatan, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegah perbuatan jahat itu dilakukan.

Akan tetapi, kita menentang dan memberantas kejahatan berdasarkan membela kebenaran dan keadilan, bukan demi membalas dendam karena kebencian atau sakit hati." Kui Siang mengangguk-angguk.

Baru sekarang setelah mendengarkan penjelasan suhengnya, ia teringat akan ajaran-ajaran dari dua orang gurunya yang kini telah rebah telentang, tanpa nyawa itu.

"Nah, engkau mulai mengerti agaknya, Kui Siang.

Kita harus mengetahui bahwa budi dan dendam, keduanya merupakan belenggu pengikat kita kepada hukum karma.

Hukum karma merupakan mata rantai yang tiada berkeputusan selama kita terikat oleh belenggu tadi." "Suhu, mohon dijelaskan tentang karma." "Hukum karma adalah hukum sebab akibat, Kui Siang.

Ada akibat tentu ada sebabnya, dan akibat itu dapat menjadi sebab baru lagi sehingga mata rantai itu sambung menyambung tiada berkeputusan.

Kalau engkau menen

Post a Comment