dekar wanita.
Seorang anak bangsawan yang biasa hidup mewah dan senang, mana mungkin dapat menghadapi kehidupan sulit di pertapaan?" kata pula Si Dewa Rambut Putih.
Akan tetapi Sin Wan tidak setuju dengan pendapat tiga orang gurunya.
Dia tadi melihat betapa anak perempuan itu nampak bersedih dan sinar matanya seperti orang yang putus harapan.
Dalam keadaan seperti itu tidak akan aneh kalau anak itu berlaku nekat dan benar-benar akan berlutut di sana sampai mati!
"Suhu, hati teecu merasa tidak enak.
Bagaimana kalau ia benar-benar berlutut di sana sampai mati?
Kalau hal itu terjadi, apakah suhu bertiga tidak akan merasa berdosa dan menyesal?" Tiga orang kakek itu berhenti melangkah.
Pintu gerbang istana itu sudah tertinggal jauh dan tidak nampak lagi, akan tetapi mereka menengok ke belakang seolah hendak melihat apakah anak perempuan itu masih berlutut di sana.
"Hemmm, Sin Wan., Apakah engkau hendak mengatakan bahwa kami harus menerima anak itu menjadi murid?" tanya Dewa Pedang sambil menatap tajam wajah Sin Wan.
Wajah Sin Wan menjadi kemerahan dan dia menjawab.
"Tentu saja keputusan itu terserah kepada suhu bertiga.
Teecu hanya hendak mengatakan bahwa anak itu bersikap seperti tadi tentu ada alasan dan sebabnya yang kuat.
Setidaknya, alangkah baiknya kalau suhu bertiga mengetahui sebabnya, dan sebelum kita meninggalkannya, kita dapat membujuk agar ia tidak bersikap nekat seperti itu." Tiga orang kakek itu saling pandang.
Mereka bukanlah orang-orang yang bersikap acuh dan kejam.
Merekapun tertarik melihat sikap anak perempuan itu, akan tetapi mereka tadi bersikap seolah-olah mereka acuh justeru untuk menguji dan mengetahui bagaimana Sin Wan menghadapi peristiwa itu.
"Ha ..
ha ..
ha, kalau begitu, biar kita tunggu dan lihat nanti.
Kalau ia hanya berlutut selama semalam ini saja, kurasa ia tidak akan mati karena itu.
Besok pagi-pagi baru kita lihat apakah ia masih berada di sana.
Ha ..
ha ..
ha agaknya memang sudah takdir bahwa kita harus tinggal semalam lagi di kota raja." Mereka tidak mau bermalam di rumah penginapan.
Berita tentang mereka yang berhasil menemukan kembali pusaka istana yang hilang tentu sudah tersiar dan kalau mereka bermalam di tempat umum, tentu hanya akan menarik perhatian orang.
Dewa Arak yang banyak pengalamannya di kota raja lalu mengajak dua rekannya dan Sin Wan melewatkan malam itu di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi, terletak di daerah pinggiran yang terpencil.
Kuil tua itu kini menjadi tempat bermalam para pengemis dan mereka yang tidak mempunyai rumah, atau pendatang dari luar kota raja yang tidak mampu membayar sewa kamar yang mahal.
Malam itu Sin Wan gelisah tidak dapat pulas.
Bukan karena tempatnya yang buruk.
Semenjak mengikuti tiga orang gurunya, dia sudah terbiasa hidup seadanya, tidur di mana saja, bahkan di tempat terbuka.
Bukan karena tempat itu yang membuat dia tidak dapat tidur, melainkan dia selalu teringat kepada anak perempuan itu!
Akan tetapi, tiga orang gurunya tidur dengan nyenyaknya!
Dia tidak bermaksud melakukan sesuatu di luar tahu guru-gurunya.
Akan tetapi mereka sudah pulas dan dia tidak ingin mengganggu mereka.
Maka, dengan hati-hati Sin Wan meninggalkan ruangan di bagian belakang kuil itu, mengambil jalan dari samping agar tidak mengganggu mereka yang tidur di ruangan tengah dan depan, lalu meninggalkan kuil itu, pergi menuju ke arah istana!
Begitu dia keluar, hujan turun rintik-rintik, akan tetapi Sin Wan melanjutkan perjalanannya melalui pinggir rumah ke rumah sehingga tidak basah kuyup pakaiannya.
Akhirnya, dia tiba di depan pintu gerbang istana yang menghadap jalan raya.
Anak perempuan itu masih di sana!
Jantungnya seperti ditusuk karena haru dan iba.
Anak perempuan itu masih berlutut seperti tadi siang!
Pelayan wanita setengah tua tadipun masih di belakangnya, kini memegang sebuah payung terbuka untuk memayungi anak perempuan itu, melindunginya dari air hujan rintik-rintik.
Akan tetapi, anak perempuan itu tidak perduli, masih berlutut pada hal air hujan telah menggenangi tempat ia berlutut sehingga kaki dan pakaiannya menjadi basah dan kotor oleh lumpur.
"Siocia marilah kita pulang dulu.
Hari sudah malam, hujan turun.
Besok, boleh siocia lanjutkan lagi," berulang kali pelayan itu membujuk dengan suara hampir menangis.
Akan tetapi anak perempuan itu sama sekali tidak bergerak atau menjawab.
Sebuah kereta berhenti di dekat tempat itu dan empat orang turun dari kereta.
Mereka adalah dua pasang suami isteri yang berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, berpakaian seperti hartawan.
Empat orang itu menghampiri si gadis kecil dan merekapun membujuk-bujuk, mengajak anak perempuan.
itu pulang.
Akan tetapi anak itu tetap tak bergerak dan tidak menjawab.
Ketika dua orang pria yang menyebutkan diri sendiri sebagai paman kepada anak perempuan itu hendak memaksanya, menarik lengannya untuk dipaksa pulang, pelayan wanita ini mencegah dengan suara memohon.
"Harap siocia jangan dipaksa.
Tadi siocia mengatakan kepada saya bahwa kalau ia dipaksa pulang, sampai di rumah siocia akan, membunuh diri!" Mendengar ucapan itu, dua orang pria itu terkejut dan melepaskan tangan anak perempuan itu yang terus berlutut dan menundukkan mukanya.
Akhirnya, karena hujan turun semakin deras, dua pasang suami isteri itu naik ke dalam kereta dan kereta itupun meninggalkan tempat itu.
Anak perempuan itu masih, berlutut dan pembantunya masih berdiri di belakangnya sambil memayunginya.
Sin Wan tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun nekat menempuh hujan, menghampiri anak perempuan itu.
Dilihatnya anak itu masih berlutut seperti arca, sama sekali tidak bergerak dan mukanya menunduk.
Biarpun wanita itu memayunginya, namun angin membuat air hujan menyiram dari samping dan pakaian anak itu sudah basah kuyup, demikian pula rambutnya dan air menetes-netes dari dagunya yang hampir menempel dada.
"Nona, kenapa engkau berkeras hendak menjadi murid tiga orang lo-cianpwe itu?" Anak perempuan itu diam saja, mengangkat mukapun tidak, apa lagi menjawab.
"Nona, tidak baik menyiksa diri seperti ini.
Engkau bisa masuk angin dan jatuh sakit.
Kalau hanya ingin belajar ilmu silat, bukankah di kota raja ini terdapat banyak guru silat?
Kenapa nona berkeras hendak belajar dari tiga orang lo-cianpwe itu?" Sin Wan kembali bertanya, suaranya lembut.
Namun yang ditanyanya tidak menjawab, bergerakpun tidak.
"Orang muda, harap jangan ganggu siocia.
Siapapun yang mengajaknya bicara, ia tidak akan mau menjawab, kecuali kalau tiga orang kakek tadi yang datang bicara dengannya," kata pelayan yang memayungi.
Akhirnya Sin Wan meninggalkan anak itu, di dalam hatinya mencela tiga orang gurunya yang dianggap kejam dan acuh terhadap seorang anak yang mempunyai tekad sedemikian hebatnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Sin Wan yang sama sekali tidak tidur malam itu, sudah menyambut tiga orang gurunya yang baru bangun dengan permintaan agar mereka segera menengok anak perempuan yang berlutut di depan pintu gerbang istana!
"Marilah, suhu.
Kasihan anak perempuan yang berlutut semalam suntuk di sana, pada hal semalam hujan turun ....." Dewa Arak tertawa.
"Ha ..
ha ..
ha.
bagaimana engkau tahu bahwa ia masih berada di sana, Sin Wan ?
Siapa tahu semalam ia sudah pulang dan tidur nyenyak di kamarnya yang indah dan hangat." "Tidak suhu.
Ia memang semalam suntuk berlutut di sana, Maaf, semalam teecu menengok ke sana.
Teecu tidak dapat memberi tahu kepada suhu bertiga karena suhu sudah tidur pulas.
Teecu bahkan membujuknya agar ia menghentikan kenekatannya, namun sia-sia.
Ia tidak akan mau bangkit sebelum suhu bertiga datang dan mengajaknya seperti yang dikatakannya kemarin." Tentu saja tiga orang sakti sudah mengetahui akan semua ini.
Semalam mereka mempergunakan kepandaian mereka untuk membayangi murid mereka, dan merekapun melihat semuanya.
Kalau kini mereka berpura-pura, hal itu mereka lakukan untuk menguji sampai di mana kejujuran murid mereka.
"Hemm, baiklah.
Mari kita pergi ke sana," kata Dewa Rambut Putih dan Sin Wan ingin bersicepat, bahkan berjalan paling dulu untuk segera tiba di pintu gerbang itu.
Benar saja.
Anak perempuan itu masih berlutut di situ!
Pelayan wanita juga masih di sana, menangis!
Dan mulailah banyak orang datang merubung karena tentu saja amat menarik melihat seorang anak perempuan bangsawan berlutut di situ, apa lagi mendengar bahwa anak itu berlutut disitu sejak kemarin siang, dan semalam bahkan berhujan-hujan di situ!
Sam Sian menghampiri anak itu dan Dewa Arak menyentuh kepala anak perempuan itu.
"Hemm, engkau sungguh keras hati, anak baik.
Marilah kita bicara tentang dirimu sebelum kami mengambil keputusan.
Mari, bangkitlah!" Dewa Arak memegang tangan anak itu dan menariknya berdiri.
Anak itu sudah lemas dan tentu akan roboh kalau tangannya tidak digandeng Dewa Arak.
Wajahnya yang manis itu agak pucat, akan tetapi matanya bersinar cerah ketika ia memandang kepada tiga orang kakek itu.
Ia menurut saja ketika dibimbing menuju ke sebuah rumah makan yang buka pagi-pagi menjual sarapan bubur ayam dan teh panas.
Dewa Arak memesan bubur ayam untuk dia, Sin Wan, anak perempuan itu dan pelayan wanita yang terus mengikuti nonanya, sedangkan Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih memesan bubur tanpa daging ayam.
"Makanlah dulu, baru kita bicara," kata Dewa Arak kepada anak perempuan itu yang tanpa membantah segera makan bubur ayam.
Sarapan hangat ini penting sekali bagi kesehatannya, setelah ia berlutut sejak kemarin, semalam berhujan-hujan di tempat terbuka, tidak makan tidak minum.
Setelah mereka makan, barulah Dewa Arak bertanya.
"Nah, sekarang katakan mengapa engkau bersikap seperti itu?
Siapakah engkau dan mengapa pula engkau ingin menjadi mu-rid kami?" Anak itu ingin menjawab, akan tetapi hanya bibirnva yang bergerak gemetar dan iapun menundukkan mukanya, menangis!
Pelayannya yang duduk di sebelahnya merangkul nonanya dan iapun mewakili nonanya menceritakan riwayat anak itu.
"Siocia (no