eram ke arah lehernya!
Sungguh merupakan serangan yang amat hebat, biarpun dilakukan dua tangan anak perempuan!
"Ihh, kau ular kecil!" Sin Wan memaki sambil meloncat ke belakang.
Gerakan kedua lengan anak itu mengingatkan dia akan gerakan ular.
Dimaki ular kecil, anak perempuan itu semakin marah.
"Kuhajar kau, kubunuh kau!" Dan ia lalu mengamuk, menyerang bertubi-tubi dan saking marahnya, serangannya banyak ngawur dan tidak menurut gerakan silat lagi, melainkan gerakan seorang perempuan yang marah, mencakar, mencengkeram, menampar dan menjambak!
Menghadapi anak perempuan yang mengamuk itu, Sin Wan menjadi kewalahan bahkan pipi kirinya sudah kena dicakar kuku jari tangan anak itu sehingga lecet dan berdarah!
Namun akhirnya dia dapat menangkap kedua pergelangan tangan anak itu.
Anak itu meronta, kemudian menggigit lengan Sin Wan.
"Aduh!" Sin Wan merenggut lengannya lepas dan kulit lengannya juga lecet berdarah.
"Kau anak liar!" bentaknya dan berhasil menelikung kedua lengan anak itu ke belakang.
Ditariknya anak itu mendekati kereta.
Dia lalu duduk di anak tangga kereta dan memaksa anak perempuan itu menelungkup melintang di atas pahanya, kemudian, dengan tangan kanan memegang kedua pergelangan tangan anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi, dia menggunakan telapak tangan kirinya untuk menampari pinggul yang menonjol ke atas itu.
"Engkau mencakar dan menggigit, hukumannya kutambah menjadi sepuluh kali pukulan!" Dan tangan Sin Wan menampari pinggul anak perempuan itu, berulang-ulang.
"Plak ..
plak ..
plak .......!" Anak perempuan itu menjerit-jerit, bukan karena sakit pada pantatnya, melainkan sakit pada hatinya.
Ia merasa dihina bukan main oleh anak laki-laki itu.
"Plak ..
plak ..
plak ......" Setelah sepuluh kali, baru Sin Wan menghentikan tamparannya.
Telapak tangannya terasa panas setelah sepuluh kali menampar itu.
"Subo .....
tolong .....!" Anak perempuan itu menjerit-jerit dan menangis!
"Hemm, engkau bersalah, pantas dihukum, kenapa menangis?" Sin Wan melepaskan anak itu dan memandang dengan hati mulai merasa kasihan.
Bagaimanapun galaknya, ia hanya seorang anak perempuan kecil.
Dia mulai merasa malu atas perbuatannya sendiri, akan tetapi ketika melihat lengan dan pipinya berdarah, penyesalannya menghilang dan dia bahkan merasa geli melihat anak itu menggunakan kedua tangan mengusap-usap pinggulnya yang ditampari tadi.
Anak perempuan itu menoleh kepada subonya untuk minta bantuan.
Akan tetapi, ia tertegun melihat subonya terlempar dan jatuh terjengkang!
Wanita itu bangkit, maklum bahwa ia tidak akan menang melawan mereka bertiga, lalu mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor, kedua tangan mulai menyanggul rambutnya yang awut-awutan, tiada hentinya memandang kepada tiga orang itu dan bertanya.
"Siapakah kalian bertiga?" Suaranya tetap merdu akan tetapi mengandung kemarahan tertahan.
Dewa Arak mewakili rekan-rekannya berkata.
"Hemmm, kepandaianmu hebat sekali, nona, akan tetapi sayang, engkau sungguh ganas dan kejam!
Kami adalah tiga orang tua yang tidak suka mencari permusuhan.
Aku Si Tukang Mabuk, dia ini Si Tukang Pedang dan yang itu Si Rambut Putih!" Mereka bertiga tidak pernah menganggap diri mereka sebagai dewa seperti yang dikatakan orang-orang kang-ouw untuk menghormati mereka, walaupun kadang-kadang untuk mengejek mereka saling menyebut dewa!
Wanita itu terbelalak.
Kini ia telah selesai menyanggul rambutnya, walaupun masih kasar dan kacau kusut.
"Aih, kiranya aku berhadapan dengan Huang-ho Sam Sian (Tiga Dewa Sungai Kuning)?
Baiklah Sam Sian, sekali ini aku mengaku kalah.
Akan tetapi akan tiba saatnya aku mencari kalian untuk menebus kekalahan ini!" "Hei, kamu!
Siapa namamu agar kelak aku membalas penghinaan ini!" anak perempuan itupun bertanya kepada Sin Wan.
"Aku tidak punya nama," jawab Sin Wan yang tidak ingin anak itu mengingat namanya sebagai musuh dan kelak mencarinya seperti yang dikatakan wanita itu terhadap ketiga orang gurunya.
"Kau tidak bernama?
Kau kerbau sapi kuda babi anjing kucing ......!
Yang mana di antara itu namamu?" Anak perempuan yang galak itu memaki saking marahnya.
"Semua itu namaku," jawab Sin Wan sambil tersenyum.
"Kau jahat .......!" anak perempuan itu mengepal tinju dan hendak menyerang lagi.
"Li Li, mari kita pergi!" kata gurunya, dan wanita cantik itu berkelebat, menyambar lengan muridnya dan iapun lari sepertl terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.
"Siancai .....
seorang gadis yang amat berbahaya!" kata Pek-mau-sian Thio Ki.
"Benar, ilmu pedangnyapun hebat.
Kelak ia pasti akan merupakan lawan yang amat sukar dikalahkan," sambung Kiam-sian Louw Sun.
"Sayang, kita tidak tahu siapa wanita itu," kata pula Ciu-sian Tong Kui.
"Suhu, teecu tahu siapa namanya .....!" Sin Wan menghampiri tiga orang gurunya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara ringkik kuda dan dua ekor kuda di depan kereta itu roboh!
Tiga orang pendeta itu cepat meloncat ke dekat kereta, untuk menjaga agar peti pusaka tidak diambii orang, dan mereka masih melihat berkelebatnya bayangan wanita tadi yang kini melarikan diri amat cepatnya.
Mereka memeriksa dan dua kuda itu sudah mati.
Leher mereka ditembusi pisau kecil yang beracun, tepat mengenai jalan darah besar sehingga racun cepat membunuh dua ekor binatang itu.
"Hemm, ia membunuh kuda kita," kata Dewa Arak.
"Pinto tahu maksudnya.
Tentu ia bermaksud agar perjalanan kita ke kota raja membawa pusaka"pusaka itu menjadi lambat," sambung Dewa Pedang.
"Siancai ......!" Benar sekali.
Ini berarti bahwa wanita ganas itu masih ingin mencoba untuk merampas pusaka.
Ia lihai, kalau ia membawa teman"teman yang banyak, bisa berbahaya.
Kita harus mencari jalan agar dapat menyelamatkan pusaka-pusaka ini.
Kalau sampai terjatuh ke tangan golongan sesat, akan sukarlah merampasnya kembali," kata Dewa Rambut Putih.
"Aku tahu jalannya!" Dewa Arak berseru sambil tersenyum gembira.
"Tidak jauh dari sini terdapat benteng pasukan penjaga keamanan tapal batas.
Kalau kita datang ke sana dan memperlihatkan tek-pai (bambu tanda kuasa) tentu komandan pasukan itu akan suka memberi pasukan untuk mengawal keamanan pusaka untuk dikirim kembali ke kota raja." "Itu bagus sekali!" kata Kiam-sian.
"Kalau begitu, mari kita cepat bawa pusaka itu ke sana!" Mereka lalu membuka peti pusaka, mengambil isinya dan membagi belasan buah benda pusaka itu menjadi tiga bagian, menyimpan dalam bungkusan masing-masing dan menggendongnya di punggung.
"Kau tadi mengatakan bahwa engkau mengetahui nama wanita itu.
Siapakah namanya, Sin Wan?" tanya Dewa Rambut Putih.
"Ketika ia memukul teecu, ia mengatakan bahwa ia tidak membunuh teecu agar teecu dapat memberitahu Se Jit Kong bahwa wanita itu yang bernama Bi-coa Sian-li akan membunuh Se Jit Kong!" "Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik)?" Dewa Arak berkata sambil tertegun.
"Belum pernah aku mendengar julukan itu.
Akan tetapi melihat kelihaiannya, mungkin sekali masih ada hubungannya dengan See-thian Coa-ong (Raja Ular Daerah Barat)!" "Siancai ......" Dewa Pedang berseru.
"Raja Ular itu memang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Akan tetapi dia bukanlah golongan sesat, bukan orang jahat walaupun dia merupakan datuk yang memiliki watak luar biasa." "Wanita tadipun belum tentu jahat walaupun ia ganas dan kejam.
Buktinya, ia mencari Se Jit Kong untuk dibunuhnya.
Siapa yang memusuhi Se Jit Kong, agaknya tidak dapat digolongkan sesat." Tiga orang kakek itu lalu melakukan perjalanan cepat.
Bahkan Sin Wan digendong bergantian oleh mereka agar perjalanan dapat dilakukan secepat mungkin.
Hal ini dilakukan agar mereka dapat segera tiba di benteng pasukan penjaga keamanan, sebelum tiba serangan dari orang-orang yang hendak merampas pusaka istana.
Perhitungan mereka memang tepat.
Setelah dilakukan perjalanan sehari penuh, pada sore harinya mereka tiba di benteng itu.
Dan komandan benteng menyambut mereka dengan penuh kehormatan ketika tiga orang itu mem perlihatkan tek-pai dan memberi keterangan bahwa mereka adalah utusan kaisar untuk mencari dan merampas kembali pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana.
Setelah bermalam satu malam di benteng itu, pada keesokan harinya, mereka berangkat melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi sekali ini, perjalanan dilakukan dengan kereta dan dikawal oleh seratus orang perajurit!
Tentu saja orang-orang golongan sesat yang tadinya hendak menghadang dan merampas pusaka, menjadi mundur teratur melihat pengawalan yang ketat itu.
Menghadapi Sam Sian saja adalah merupakan usaha yang berbahaya dan berat, apa lagi ditambah pasukan seratus orang perajurit!
Andaikata mereka memberanikan diri menyerbu pasukan itu, mereka akan dicap pemberontak dan selanjutnya kehidupan mereka tidak akan aman lagi, menjadi orang-orang buruan atau musuh pemerintah!
Tiga orang pertapa itu bersama Sin Wan merasa tenang dan mereka dapat tiba di Nan-king, kota raja yang baru dari Dinasti Beng-tiauw dengan selamat.
Pada waktu itu, yang manjadi kaisar dari Kerajaan Beng adalah Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama atau pendiri dari Dinasti Beng-tiauw.
Pendiri Kerajaan Beng (Terang) ini berasal dari keluarga petani.
Dia dilahirkan dalam tahun 1328 di dusun yang terletak antara Sungai Huai dan Sungai Kuning, di daerah pertanian, dari keluarga petani biasa.
Ketika dia berusia enam tahun, di dusun tempat tinggalnya berjangkit wabah yang membunuh banyak keluarga para petani di dusun itu.
Keluarga anak yang kini menjadi Kaisar Thai-cu, dan yang dulu bernama Chu Goan Ciang ini pun terbasmi habis.
Ayah ibunya, saudara-saudaranya, mati semua oleh wabah.
Hanya tinggal Chu Goan Ciang seorang diri yang tinggal.
Dia menjadi seorang anak berusia enam tahun yang yatim piatu dan hidup sebatang kara!
Riwayat kaisar pertama Dinasti Beng ini ketika masih kecilnya memang amat menarik, hidupnya selain miskin juga penuh dengan kesengsaraan!
Setelah hidup seorang diri, sebatang kara, dia lalu bekerja sebagai penggembala kerbau.
Kemudian dia bahkan mengikuti seorang hwesio tua ke kuil dan menjad