Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 20

Memuat...

ritakan pengalamanmu," kata Dewa Pedang.

Sin Wan menarik napas panjang dan memakai pakaian yang diambilkan oleh Dewa Rambut Putih, kemudian menjawab.

"Teecu sendiri masih merasa bingung dan heran, suhu.

Ketika teecu mandi di anak sungai, ada seorang anak perempuan mencuri pakaian teecu, hanya meninggalkan sebuah celana pendek.

Teecu naik ke darat, mengenakan celana pendek dan mengejar anak perempuan yang mencuri pakaian itu.

Kiranya ia seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang nakal dan lihai.

Ia merobek-robek pakaian teecu dan menuduh teecu mengotorkan air karena mereka tadi mandi di sebelah hilir.

Teecu tidak melihat mereka karena terhalang belokan sungai.

Anak itu kemudian menantang.

Teecu tidak melayani, akan tetapi ia menyerang bertubi-tubi sampai beberapa kali teecu jatuh.

Ketika ia menyerang dengan pukulan yang mengandung sin-kang, teecu terpaksa menangkis dan iapun terhuyung.

Lalu gurunya memukul teecu ........" "Hemm, sungguh sewenang-wenang memukul anak kecil.

Siapa gurunya itu?" tanya Dewa Arak dengan alis berkerut.

"Akulah yang memukulnya.

Kalian mau apa?" Mendengar suara merdu itu, tiga orang pertapa segera memutar tubuh dan memandang.

Mereka tertegun, sama sekali tidak mengira bahwa guru anak perempuan seperti yang diceritakan Sin Wan tadi adalah seorang gadis cantik yang nampaknya baru berusia duapuluh tahun walaupun sikapnya menunjukkan bahwa ia jauh lebih tua dari pada nampaknya.

Seorang gadis yang berpakaian mewah seperti wanita bangsawan.

"Siancai ....!

nona, kenapa engkau memukul seorang anak kecil yang tidak berdosa?" Dewa Arak berseru.

"Pertama, karena ia mengotori air tempat kami mandi.

Kedua, karena dia telah membuat muridku terhuyung hampir jatub.

Ketiga, karena dia mempunyai ilmu pukulan Tangan Api!

Di mana Se Jit Kong?

Apakah kalian anak buahnya?

Suruh dia keluar untuk menerlma kematian!" Wanita itu berkata dengan suara galak.

Tiga orang pertapa itu saling pandang, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih tersenyum, akan tetapi Dewa Arak tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, sungguh engkau memandang remeh kepada kami kalau menganggap kami anak buah Se Jit Kong!

Anak ini memang pernah belajar ilmu dari Se Jit Kong, akan tetapi sekarang dia menjadi murid kami dan Se Jlt Kong telah meninggal dunia!" Wanita cantik itu mengerutkan sepasang alisnya yang melengkung panjang dan hitam itu.

"Mati?

Dia sudah mampus?

Hemm ........

akan sia-sia sajakah perjalananku ini?" Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang nyaring.

"Subo, pusaka-pusaka itu berada di dalam peti, di kereta ini!" Semua orang menoleh ke arah kereta!

Sebuah kepala terjulur keluar dari tirai kereta, kepala anak perempuan yang dipanggil Li Li.

"Ihhh!

Kiranya kalian telah membunuhnya dan merampas pusaka-pusaka istana?

Kalau begitu, serahkan nyawa dan pusaka!" "Heiii, nona!

Ketahuilah bahwa kami adalah utusan kaisar dan kami akan membawa kembali pusaka itu ke istana di kota raja!" Dewa Arak berteriak.

"Pusaka dan nyawa kalian harus diserahkan!" Wanita itu membentak dan tiba-tiba ia sudah bergerak maju, jari tangannya meluncur dengan membentuk kepala ular menotok ke arah leher Dewa Arak.

"Haiii ....

ah, sungguh berbahaya dan galak!" Dewa Arak melempar tubuh ke belakang ketika melihat datangnya serangan yang amat berbahaya itu.

Dari gerakan tangan itu saja dia tahu bahwa lawannya ini, biarpun masih muda, namun ganas dan lihai sekali.

Benar dugaannya, begitu dia melempar tubuh ke belakang, wanita itu sudah menerjangnya lagi dengan serangan susulan.

Gerakan kedua lengannya seperti dua ekor ular yang menyambar-nyambar, menimbulkan suara bercuitan, dan diam-diam Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pukulan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan ilmu pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang) yang dikuasainya.

Dewa Arak juga tahu akan hal ini, diapun kini mengerahkan tenaga dan kelincahannya untuk menghadapi desakan itu dan balas menyerang.

Wanita itupun kelihatan terkejut melihat betapa lawannya tidak seperti yang disangkanya semula.

Lawannya memiliki gerakan yang amat lincah biarpun perutnya gendut, dan ketika menangkis, ia mendapat kenyataan bahwa orang itupun memiliki sin"kang yang kuat!

Melihat dua orang lain berdiri di pinggir, ia lalu mendapat akal.

Ia harus merobohkan mereka yang paling lemah lebih dahulu karena kalau mereka itu keburu mengeroyoknya, mungkin ia akan kewalahan!

Tiba-tiba saja tubuhnya menyambar ke kiri.

ke arah Dewa Rambut Putih, dan begitu ia menggerakkan tangan kiri, tujuh batang jarum secara bertubi-tubi menyambar ke arah tiga orang kakek itu, dan yang dijadikan sasaran adalah dada dan tenggorokan, tempat-tempat yang paling lemah!

"Siancai ....!" Dewa Rambut Putih berseru dan seperti dua orang rekannya, diapun berhasil mengebut jarum-jarum itu sehingga runtuh.

Kembali wanita itu terkejut.

Serangan jarumnya dapat diruntuhkan dengan mudahnya oleh tiga orang kakek itu!

"Mampuslah!" Ia menubruk ke kiri, menyerang Dewa Rambut Putih dengan dahsyatnya, mulutnya mendesis dan kedua tangan yang membentuk kepala ular itu kini terbuka dan mencengkeram, seperti ular-ular yang menggigit, sedangkan kuku-kuku jari tangannya berubah menghijau!

"Hemmm, sungguh ganas ........!" Dewa Rambut Putih melompat ke belakang menghindar, kemudian kipas di tangan kirinya mengebut.

Angin keras menyambar ke arah wanita itu yang menjadi gelagapan dan terkejut karena ia mendapat kenyataan betapa kakek rambut putih ini tidak kalah lihainya dibandingkan kakek perut gendut.

"Wirrr ..........!" Tiba-tiba saja tangannya merenggut ke kepalanya sendiri dan semua tusuk sanggul telah direnggut dan dimasukkan saku, rambutnya yang panjang sampai ke pinggul itu terlepas dan begitu ia menggerakkan kepala, gumpalan rambut hitam yang harum dan panjang menyambar ke arah Si Dewa Rambut Putih.

"Hebat .......!" Kembali Pek-mau-sian Thio Ki berseru dan kebutan kipasnya ternyata tidak mampu menangkis rambut yang terus meluncur ke arah lehernya!

Terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik lima kali baru berhasli terhindar dari sergapan rambut panjang.

Wanita itu marah bukan main.

Wajahnya yang cantik berubah kemerahan, matanya mencorong, mulutnya mendesis-desis dan dengan rambut riap-riapan, biarpun ia masih amat cantik, namun ada sesuatu yang menyeramkan karena ia seperti berubah menjadi iblis yang cantik, atau siluman ular yang cantik namun berbahaya sekali.

Ia memang marah karena begitu tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut sebatang pedang dari balik bajunya.

Pedang itupun aneh gagang dan pedangnya menjadi satu, gagangnya merupakan ekor ular yang melingkar tebal, ujung pedangnya berbentuk kepala seekor ular yang menjulurkan lidahnya.

Lidah itu yang amat runcing, dan sisik-sisik ular itu tajam.

Sebatang pedang mirip ular!

Dengan pedang aneh ini ia menyerang ke arah Kiam-sian!

Si Dewa Pedang tentu saja maklum akan kelihaian lawan.

Diapun sudah mencabut pedang Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari) dan menangkis sambaran pedang ular.

"Cringgg .......!!" nampak banyak bunga api berpijar dan berhamburan.

Keduanya terkejut dan memeriksa pedang masing-masing.

Kiranya kedua pedang itu sama kuatnya dan tidak menjadi rusak.

Wanita itu menjadi semakin penasaran.

Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada atau jarang sekali terdapat orang yang akan mampu menandinginya, maka dengan penuh keyakinan diri ia memastikan bahwa Iblis Tangan Api pasti akan tewas ditangannya, dan pusaka istana akan terjatuh ke tangannya.

Akan tetapi, siapa sangka, kini bertemu dengan tiga orang pendeta ini, ia tidak mampu mengalahkan seorang saja di antara mereka walaupun ia sudah mencoba menyerang dengan ilmu pukulan beracun yang ampuh, jarum-jarum beracun, rambutnya, dan bahkan pedangnya!

Ia lalu mengamuk dengan pedang dan rambutnya dan sepak terjangnya memang menggiriskan sekali.

Kalau bukan Sam Sian yang diamuknya, tentu sudah jatuh korban di antara mereka.

Tiga orang pendeta itu membela diri dan sengaja tidak mau merobohkan wanita itu, apa lagi membunuh atau melukainya.

Sementara itu, ketika melihat betapa anak perempuan yang nakal dan galak itu sudah berada di kereta, agaknya ketika subonya muncul tadi, kesempatan itu dipergunakan oleh si anak perempuan untuk menyusup ke atas kereta, cepat lari menghampiri kereta.

"Engkau pencuri kecil!

Engkau hendak mencuri apa lagi di situ?

Hayo cepat turun atau ......" "Atau apa, hah?" Anak perempuan itu kini membuka tirai dan berdiri di dalam kereta sambil bertolak pinggang dan memandang galak.

"Atau apa?

Mau apa kamu kalau aku tidak mau turun?" Sin Wan memandang gemas.

Sesabar-sabar orang tentu ada batasnya.

Anak ini keterlaluan sekali.

Akan tetapi, Sin Wan masih teringat bahwa dia adalah seorang anak laki-laki.

Tidak pantas seorang anak laki-laki menyerang dan memukul anak perempuan.

Bagaimana sikapnya andaikata anak itu adiknya yang nakal?

"Akan kuseret kau turun dari kereta dan kupukul pinggulmu lima kali biar kau tahu rasa!" Sin Wan mengancam, menganggap anak perempuan itu adik sendiri yang perlu dihajar.

Hal ini menolong meredakan kemarahannya, karena kalau dia tidak menganggap anak perempuan itu adik sendiri, tentu akan timbul kemarahan yang melahirkan kebencian.

Akan tetapi jawaban itu bahkan membuat si anak perempuan membelalakkan mata saking kaget dan marahnya.

"Apa .....?

Kamu .....

kamu ......, kurang ajar, berani hendak menyeretku dan memukuli pinggulku?

Engkau agaknya sudah bosan hidup, ya?" teriaknya dan iapun meloncat turun, bukan sembarang meloncat, melainkan meloncat sambil menerkam seperti seekor burung garuda yang menyerang seekor domba!

Sin Wan mengelak dan ketika tubuh anak itu lewat, dia mencoba untuk menangkap lengan anak itu.

Dia berhasil menangkap lengan kiri anak itu dengan tangan kanannya dan selagi dia hendak meringkusnya, tiba-tiba anak itu membalik tangan kanan yang membentuk kepala ular meluncur ke arah matanya dan lengan yang dipegangnya tadi, licin bagaikan ular, sudah dapat melepaskan diri dan mencengk

Post a Comment