Gokhiol cepat menghiburnya. "Siocia, janganlah kau kuatir. Selama satu tahun ini aku telah berlatih ilmu Hwee Sui To. Biarpun Lok-Mo-Ciang sangat berbahaya, aku masih dapat bertahan untuk tiga sampai lima hari Iamanya.
Setelah kembali ke Leng Wan Koan, akan kuminta guruku untuk mengobatinya.' Hay Yan berpikir sebentar, lalu menyahut : "Suhumu tidak ada diatas gunung Mo-Thian Nia, bagaimana kau dapat berjumpa dengannya. Ah, hampir kulupa. Guruku Wanyen Hong memiliki sebutir mutiara Tong Hay Ya Kong Ci. Cahaya putih yang terpancar dari butir mutiara itu dapat menghilangkan racun. Baik kuajak kau untuk menemui guruku" Gokhiol merasa hatinya tidak tenteram. la masih ingat kejadian tahun yang IaIu, tatkala ia malam2 berkunjung ke Kota Hitam. Bukankah Hay Yan pernah mengurungnya didalam goa dibawah tanah" Hay Yan membanting-banting kakinya, seolah-olah dapat menduga apa yang sedang dipikir oleh Gokhiol.
"Apakah kau masih curiga aku" Waktu itu suhu sedang tidur. Justru Im Hian Hong Kie-su mempergunakan kesempatan tersebut untuk mencelakakan dirinya. Aku kira pada waktu itu bahwa kaupun adalah kaki tangannya juga.
Selain itu suhuku telah memesan kepadaku sebelum ia ingin tidur bahwa apabila aku berhasil menangkap kau, aku harus menunggu sampai ia bangun pula untuk.." "Dalam Ha1 ini kau ada sedikit salah pengertian." Gokhiol buru2 menjawab dengan muka merah.
Hay Yan tanpa malu2 lagi menarik tangannya.
"Sudahlah, hal2 yang sudah lewat jangan diingatkan kembali. Kebetulan sekali suhuku baru bangun beberapa hari, dan justru pula ia ingin bertemu denganmu." Serta-merta Hay Yan menyuruh Tai-tai untuk menjaga rumah, sedangkan ia sendiri dengan Gokhiol berangkat dengan menunggang kuda dimalam itu juga.
---oo0dw0oo---
Dikisahkan bahwa sejak Hek-Sia Mo-lie atau Wanyen Hong menemukan Gokhiol didatam goa Cian Hut Tong, dengan didapatkan pula sebuah telunjuk tangan manusia yang sudah kering dan kumala merah pada ikat pinggang dari pemuda kita, dalam hatinya Wanyen Hong menduga bahwa ia lagi berhadapan dengan puteranya Tio Hoan.
Tapi, apa mau musuhnya pun telah datang Kembali ia merasa curiga. Mungkinkah sepemuda ini merupakan suatu jebakan yang sengaja dipasang oleh musuhnya" Tatkala Gokhiol ditangkap oleh Hay Yan, Wanyen Hong sedang dalam keadaan tidur dan tatkala ia bangun pula, Gokhiol sudah tertolong oleh sibaju hitam. Maka iapun bercekad hatinya.
Pada suatu hari Hay An Peng menghaturkan sepucuk surat rahasia kepada Wanyen Hong, yang katanya dari seorang pendekar wanita. Ketika puteri negeri Kim menerima surat itu terkejutlah hatinya. Kiranya pada surat itu dilukiskan sebuah tangan Buddha! Adapun lukisan tangan Buddha itu merupakan tanda isyarat gurunya. Sin Ciang Tay-su! Dengan jantung memukul keras dibukanya surat itu dan didapatkan didalamnya... sebutir pil yang berwarna emas, ia membaca surat tersebut : "Muridku yang tercinta.
Kutahu bahwa selama tujuh belas tahun lamanya kau menderita karena malapetaka hebat telah menimpah dirimu. Aku dapat merasakan penderitaaamu, hingga akhirnya kau telah menyepi diri di Kota Hitam. Aku sedang berlatih ilmu Sam Bie Tay-hoat, dan belum sempat membalaskan sakit hatimu, aku masih harus bertapa selama setahun. Setelah itu aku baru dapat bertemu dengan kau.
Bersabarlah dan terimalah nasibmu dengan tawakal.
Setelah selesai membaca suratku maka dalam waktu tiga hari pergilah ke Leng Wan Koan, di gunung es Mo-Thian Nia. Obat pil berwarna emas Pit Jiauw Wan ini kau suruh anak Tio Hoan menelannya. Dialah Gokhiol, anak angkat Jendral Tuli. Setelah itu dengan diam2 kau harus mengangkat kaki pula. Jangan bercakap sedikitpun dengan dia, karena dapat membahayakan jiwanya. Adapun obat itu sangat penting sekali. Dan janganlah sampai kau gagalkan hasratnya menjadi murid Leng Wan Pay. Perhatikanlah pesananku ini! Tiang Pek Lo-ni." Wanyen Hong sangat heran. Bagaimana gurunya Tiang Pek Lo-ni yang sudah duapuluh tahun lamanya tidak jumpai dan sejak itu hingga kini tak pernah diberitahukan tentang keadaannya, sekarang tiba2 saja mengirimkan sepucuk surat kepadanya"! Lagi pula ia diminta untuk memberikan obat kepada orang lain, apakah benar pemuda itu adalah putera dari Tio Hoan" Dan gurunya rupanya mempunyai suatu rencana terhadap pemuda itu.
Setelah merenungkan hal itu beberapa lama, maka ia mulai melaksanakan permintaan gurunya. Segera Tai-tai diajaknya ikut bersama, sedangkan ia sendiri menyamar sampai wajah aslinya menjadi berubah.
---oo0dw0oo---
Mereka menempuh perjalanan yang sangat jauh. Siang dan malam mereka terus berjalan tanpa mengaso. Setelah tiga hari tiga malam, barulah mereka sampai di gunung Mo-thian Nia.
Keadaan disekitar gunung itu sangat-sepi, hanya tertihat tebing es dan puncak2 bersalju disana-sini. Dicarinya gedung Leng-Wan Koan dan pada malam harinyalah mereka baru dapat menemukannya. Adapun letak kuil itu tersembunyi pada goa diantara lamping2 gunung.
Leng Wan Koan bentuknya kecil dan sangat ajaib nampaknya. Tengah mereka memperhatikan keadaan disekitar gedung itu, tiba2 terdengar suara gemuruh dari atas gunung. Tentu ada orang yang sedang. mendatang, pikir Wanyen Hong. Buru2 ia berlari bersembunyi dibalik sebuah bukit, diikuti oleh oleh Tai-tai.
Dengan teralingnya sinar salju yang remang2 maka tampaklah oleh mereka disebelah kejauhan dua sosok tubuh manusia tengah berjumpalitan turun dari atas bukit. Salah seorang dikenali oleh Wanyen Hong sebagai pemuda Gokhiol, sedangkan seorangnya lagi sangatlah aneh romannya. Sedangkan dandanan orang itupun luar biasa.
Bila dikatakan ia seorang hwee-sio, ya bukan. sebaliknya seorang biasapun bukan pula. Tak lama kamudian kedua orang itu sudah masuk kedalam kuil.
Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh istimewa yang disebut Cok-tee Bu-seng atau Menginjak-tanah-tanpa bersuara, Wanyen Hong dan Tai-tai berhasil juga menghampiri tempat Gokhiol berdiam. Ia mengintai keadaan ruangan tidur pemuda itu. dan iapun mendapat suatu akal. Disuruhnya Tai-tai bergelantungan didepan lubang angin, lalu diberikan petunjuk apa2 yang harus dilakuka olehnya. Sebagaimana hasilnya, obat pil itu tertelan oleh Gokhiol.
---oo0dw0oo---
Kembali kisah dilanjutkan tatkala Wanyen Hong melihat Hay Yan bersama-sama Gokhiol menghampirinya di Kota Hitam. Diam2 ia merasa gembira sekali. Disambutnya Gokhiol dengan ramah-tamah dan diajaknya masuk kedalam istana dibawah tanah. Setelah mereka berada dalam ruangan duduk maka mulailah Hay Yan menceritakan tentang pengalaman2nya, tatkala ia bersama Gokhiol bertempur melawan Im Hian Hong Kie-su.
Setelah itu diperlihatkannya kepada Wanyen Hong tanda bekas telapak tangan pada dada Gokhiol. Tanpa terasa lagi Wanyen Hong menggertakkan giginya.
Teringatlah kembali olehnya bahwa Im Man Hong Kiesu itu masih, terhitung kemenakan murid dari gurunya Tiang Pek Loni. Duapuluh tahun yang lalu bersama-sama Tio Hoan, lm Hian Hong Kie-su ber-sama2 bekerja didalam istana raja dari kerajaan Song. Sedangkan hubungan antara kedua orang itu demikian eratnya, se-olah2 bagaikan kakak beradik saja. Tapi apa mau dikata, hati orang tak dapat diterka. Maka yang telah datang ingin merampas mustika yang tersimpan secara rahasia itu bukan lain dari pada Im Hian Hong Kie-su, juga yang mencemarkan dirinya.
Tidaklah heran orang itu telah menutupi mukanya dengan sepotong kain hitam. Rupanya, supaya orang tidak mengenali rupanya yang asli! Demikianlah kejadian2 yang selama tujuh belas tahun dialaminya, kini ter-bayang2 pula dialam pikiran Wanyen Hong. Tiba2 ia tersadar kembali setelah mendengar suara Hay Yan "Suhu! Lekaslah kau tolong lenyapkan racun Lok-Mo Ciang dari tubuh Tio Kongcu. Kalau terlambat aku kuatir ia akan binasa." Semangat Wan Yen Hongt bangkit kembali, diawasinya wajah sipemuda yang tak ubahnya mirip seperti wajah ayahnya Tio Hoan, bekas kekasihnya! Bukan kepalang rasa pilu hatinya, iapun akhirnya berkata dengan suara perlahan.
"Hian-tit. Apakah kau sudah mengetahui tentang hubungan antara ayahmu dengan aku?" "Kongcu," jawab Gokhiol dengan tersenyum, siauwtit pernah mendengarnya dari ibuku, bahwa ayahku dahulu menjadi kepala ksatrya dari istana kerajaan Kim. Bahwa ia ber-sama2 Kongcu pergi untuk menunaikan tugas perdamaian" "Benar," ujar Wan Yen Hong, "jika kehidupanku tidak sampai dirusakkan Im Hian Hong Kie-su, aku... aku sudah menikah dengan ayahmu...." Tak sampai habis pengakuan yang mengharukan itu atau air mata mengalir dengan deras dikedua belah pipi puteri negeri Kim. Kemudian diambilnya dari dalam sakunya, sebuah cermin tembaga yang pada bagian tengahnya tersisip sebutir mutiara bersinar putih cemerlang. Gokhiol disuruh mendekatinya dan cermin itu disorotkan pada luka akibat pukulan Lok-Mo-Ciang pada dada Gokhiol.
Kira2 sepemakan nasi lamanya maka mulai kelihatan bekas telapak tangan yang berwarna hijau lambat laun mulai lenyap... Sedangkan rasa sesak dalam dadannyapun kini sudah tidak terasa lagi. Gokhiol merasa gembira, iapun segera berlutut dihadapan Wanyen Hong untuk menyatakan rasa terima kasihnya.
Tiba2 pemuda kita teringat pula akan pesan gurunya.
Tanpa perkenan gurunya, ia telah meninggalkan Leng Wan Koan dan apabila gurunya sampai mengetahuinya, niscaya ia akan mendapat teguran. Maka seketika itu juga ia mohon diri kepada Wanyen Hong.
Wanyen Hong mengerutkan keningnya.
"Siauwtit, kau hendak kemana?" tanyanya.
"Aku ingin kembali ke Leng Wan Pay untuk berlatih dengan tekun selama setahun lagi. Kelak, apabila telah tinggi kepandaianku, aku akan mencari Im Hian Hong Kiesu untuk mengadakan perhitungan jiwa!" jawab Gokhiol dengan penuh semangat.
Sambil me-manggut2kan kepalanya Wanyen Hong berkata pula : "Benarlah kata2-mu itu. Hanya, kau harus.
senantiasa ingat bahwa kau adalah keturunan dari bangsawan kerajaan Song. Kau masih berdarah dan berdaging bangsa Han yang mempunyai nama keturunan Tio. Bahwa dahulu karena aku telah melenyapkan diri, ayahmu telah memutuskan diri untuk menetap di Monggolla. Dan disanalah ia telah menikah dengan ibumu, Lok Giok. Kini kau sudah dewasa, maka sudah kewajibanmu untuk memulihkan martabat nama keluarga she Tio itu dan memakai namamu Tio Peng, namamu yang sebenarnya. Tak boleh kau menjadi anak-angkat Tuli, musuh dari negara dan bangsa kita." Sungguh tak disangka-sangka oleh pemuda kita bahwa Wanyen Hong akan mengungkap persoalan tersebut. Maka iapun segera menjawab : "Kongcu, maafkanlah aku sebelumnya, tapi aku kira Monggolia letaknya sangat jauh dengan negeri Song dan diantaranya masih terpisahkan oleh negeri Kim, negeri Kongcu. Bahwa selama beberapa puluh tahun ini kerajaan Song kerapkali mengerahkan tentara dan mengangkat senjata untuk berperang dengan negara Kim.
Maka jika berbicara tentang musuh negeriku, Iebih tepat jika dikatakan musuh itu adalah negeri Kim. Dan bagi diriku yang diperlakukan oleh Jendral Tuli sebagai anaknya sendiri, sudah selayaknya berlaku sebagai ksatrya Monggolia" Wanyen Hong menjadi gusar bukan kepalang.