Matanya menjadi kabur dan semangatnya lenyap. Tapi iapun bukan sembarang orang, buru2 dipusatkan hawa murninya ke Tantian dan mengusir hawa jahat keluar dari tubuhnya. Dengan sendirinya pintu pembuluh darahnya terbuka pula dan darahnya rmengalir seperti biasa pula.
Begitu juga semangatnya kembali pula.
Setelah mengetahui bahwa dirinya diserang secara licik oleh Gorisan, iapun menjadi gusar sekali : "Aku takkan mengampuni kau, jahanam!" Tapi selagi orang baru pulih semangatnya, siiblis menggunakan kesempatan untuk kabur! Hian Cin-cu adalah Ciang bun-jin dari partai Hwee Liong Pay. Kepandaiannya maupun kekuatan bathinnya telah terlatih dengan sempurna. Dengan ilmu "Cu-Hong Pak-Heng" atau ilmu-ringan-mengejar-angin-menangkap-bayangan, ia lari mengejar.
"Hai, murid murtad! Kau mau lari kemana?" Hian Cin cu mengeluarkan kebutannya dan menyapu tubuh Gorisan. Begitu kena pukulan itu siiblis sempoyongan dan untuk menghindarkan mara bahaya, ia berjumpalitan untuk terus kabur! Hian Tiin-cn terus mengejarnya. Kini bulu2 kebutannya menjadi keras bagaikan duri kawat. la mencelat keatas udara dan menyerang dengan hebatnya.
Dalam keadaan krisis ini, Gorisan sempat menggunakan tipu Tiat-Chin Tau atau Sarung-tangan-besi yang menyengkeram laksana kilat menyambar. Ilmu tersebut dapat digunakan untuk merampas senjata tajam dari lawan tanpa ada bahayanya untuk terluka.
Benar saja kebutan Hian Cin-cu dapat terjambret hingga bulu2-nya...... tercabut! Sesaat kemudian hanya tangkainya saja yang tertinggal ditangan Ciang-bun-jin Hwee Liong Pay.
Hian Cin-cu sudah dua puluh tahun lamanya tidak bertemu dengan Gorisan, sehingga ia tidak tahu sampai ditingkat mana orang itu mencapai kepandaian ilmu silatnya. Maka ia berlaku sebat, tidak berani lengah. Buru2 ia keluaran pukulan geledeknya yang disebut Lui-cun-cong, yang telah diyakinkan selama selama dua puluh tahun lamanya. Kedua telapak tangannya dirangkapkan menjadi satu dan dengan cepat bagaikan kilat ia hantamkan pada lawannya ...dan sampai mengeluarkan suara mengguntur memecahkan kesunyian dilembah gunung. Bulu2 yang sudah berada didepan matanya segera beterbangan dan jatuh ketanah. Melihat kepandaian orang yang demikian hebatnya, diam2 Gorisan menjadi keder yuga. Maka satu2nya jalan yang aman adalah ........ kabur.
Tapi Hian Cin-cu tidak tinggal diam, iapun segera mengejar dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang istemewa yaitu "Berjalan-diatas-salju tanpa- meninggalkan-bekas" Pada saat itulah rombongan Im Hian Hong Kie-su tiba, dan berenam mereka berjajar menutupi mulut lembah.
Gorisan benar2 dibuat kewalahan, didepannya ada orang menghadang, sedang dibelakangnya ada Ciang-bun-jin Hwee Liong Pay tengah mengejarnya! Begitulah setelah Gorisan berhasil menyampok pedang Wanyen Hong, ia sudah dapat memperhitungkan bahwa diantara musuhnya yang keenam orang itu, Tai-tailah yang kepandaiannya masih paling rendah. Selain itu iapun menaruh dendam kepada sitolol itu yang telah munusuk kakinya tadi.
Para pendekar bertempur mati2-an melawan Gorisan, "iblis yang menjadi biang kerok" dari segala kekacauan.
Dilihatnya Hian cin-cu sudah mendekatinya, maka iapun segera merogoh kantongnya. Tampaklah ditangannya segenggam Kiu-cu Lui-Seng yang sangat beracun. lapun berpura2 melemparkannya kearah Wanyen Hong sambil membentak : "Perempuan iblis, sambutlah senjataku!" Diluar dugaan mereka mendadak siiblis berbalik menimpukan senjata2 rahasianya kearah Tai-tai! Liu Bie terperanjat, sedangkan sitolol dalam keadaan maut itu masih bertanya : "Gorisan, kau hendak bermain apa" "Aku hendak mencabut nyawamu" Pada detik itu juga Tai-tai membuka baju luarnya.
Tampaklah cahaya putih memancar dari dadanya dan dalam sekejap mata saja Kiu-cu Lui-seng jatuh di tanah! Sebaliknya Gorisan yang berpikir bahwa sitolol akan roboh, segera lompat menubruk. Pasti aku dapat meloloskan diri pikirnya dengan girang.
Tapi tiba2 matanya silau dan tak dapat melihat apa2 Sedangkan Tai-tai sendiri melihat ancaman dihapannya tanpa ayal menjatuhkan diri dengan gerakan "merebah diatas es" sambil menangkap ikan". Dengan sendirinya Gorisan menubruk tempat kosong. Kini Tai-tai tidak tolol lagi. Begitu melihat kesempatan baik, ia menyapu dengan kakinya sekuat tenaga sehigga musuhnya terpental diudara.
kiranya Wanyen Hong sudah menduga bahwa Gorisan akan menurunkan tangan jahatnya terhadap Tai-tai. Maka dengan diam2 ia telah berikan mutiara ajaib Ya Kong Cu kepadanya. Tak heranlah Gorisan jatuh ditangan sitolol! Hian Cin-cu berlari datang, tubuh Gorisan diinjaknya.
Kaki Ciang-bun Jin itu seolah2 seperti gunung beratnya! Pendekar2 lain2nya sudah ikut maju dan berdiri mengurung. Mati kutulah siiblis! Gokhiol dan Wanyen Hong tanpa ayal lagi mengangkat pedangnya, untuk -memberi tikaman terakhir. Gokhiol hendak membalas sakit hati ayahnya, sedangkan Wanyen Hong hendak membaIas sakit hatinya berhubung kesuciannya telah dicemarkan. Tapi belum lagi pedang2 mereka menemui sasaran atau Hian Cin cu sudah menahan pedang mereka berdua dengan gagang hudtimnya, seraya berseru dengan suara yang halus : "Harap jie-wie sabar. Perkenankanlah aku untuk berkata sepatah kata dua kata dahulu".
Kemudian dengan gagang hudtimnya sipendeta menotok pundak Gorisan yang lantas saja berteriak kesakitan. Siiblis pun jatuh pingsan! Wanyen Hong yang masih penasaran hatinya menjadi mendongkol, "Hian Cin Su-siok, dengan kematiannya bagaiman inipun belum cukup untuk menebus dosanya.
Kenapa masih harus dikasihani?" "Apa yang Kongcu katakan memang benar." Jawab Hian Cin-cu, "Pinto teringat akan kematiannya Tio Hoan su-tit yang meninggal secara aneh. Biarkan untuk sementara Gorisan kubawa hidup-hidup ke Ciong lam San untuk diselidiki dan mengorek keterangan dari padanya. Setelah itu barulah kita akan mengambil jiwanya." Selesai menjelaskan, pendeta itu menoleh pada Gokhiol seraya katanya pula : "Peng-jie, aku masih ingat pada tujuh belas tahun yang lampau ibumu telah menyuruh orang mengirim surat untukku. Dalam surat itu diterangkan tentang rencana untuk memindahkan jenazah ayahmu.
Tapi setelah lewat dua hari, sedang upacara pemindahan belum dilangsungkan, jenazah ayahmu telah Ienyap! Dan hal ini sampai saat ini masih menjadi tanda tanda tanya dalam ingatanku. Itulah sebabnya aku ingin bawa Gorisan kembali untuk mengorek keterangan darinya. Kaupun tak perlu terburu-buru membunuh dia dengan maksud untuk membalas dendam." IM Hian Hong Kie-su sudah dapat mengerti dengan jelas akan maksud Hian Cin-cu. Bahwa Gorisan dahulunya adalah murid dari Bu Tong Pay, kemudian ia kabur ke See-hek dan menceburkan diri sebagai murid baru Hwee Liong Pay. Sebab itulah sebelum perihal ini menjadi jelas, Hian Cin-cu tak menginginkan Gorisan mati dalam tangannya sendiri dan akibatnya akan timbul salah pengertian dan rasa permusuhan antara partai Bu Tong Pay dan Hwee Liong Pay. "Apa yang To-tiang katakan adalah tepat," ujar Si Penunggu Puncak Gunung Maut. "Dan aku yakin bahwa Wanyen Hong dan Tio Peng tit-jie maklum adanya. Tentu mereka akan menyetujui segala maksud To-tiang hanya ... " "Kie-su masih ada pendapat yang lain?" Tanya Hian Cin-cu dengan mengernyitkan keningnya.
"Aku yang rendah tak berani memberi pendapat lain." jawab Im Hian Hong Kie-su. "Tapi ingin kuberitahu bahwa Gorisan ini banyak akal-bulusnya. Bila To-tiang hendak membawa pulang ke Ciong lam San. baiknya terlebih dahulu seluruh kepandaian orang ini dimusaahkan sehingga ia tak dapat melarikan diri lagi." Im Hian Hong Kie-su, bermaksud baik, tetapi oleh Hian Cin-cu telah salah diterima, sehingga yang terakhir ini merasa tersinggung. Lagi pula pada dua puluh tahun yang lampau, Im Hian Hong Kie-su telah mengalahkan tokoh-tokoh dari tujuh partai persilatan yang ternama dalam suatu pie-bu. diantaranya adalah...." Hian Cin cu sendiri. Jadi menurut sangkaannya, Im Hian Hong Kie-su bermaksud sengacja mengejek orang bahwa dirinya tak mampu menguasai Gorisan. Segera Hian Cin-cu menjawab dengan nada kurang senang : "Pinto mempunyai rencana tersendiri, maka bila ia dapat kabur, akan kutebus dengan nyawaku sendiri. " Im Hian Hong Kie-su yang tahu bahwa orang telah salah tangkap maksudnya, maka iapun diam tidak berkata apa-apa lagi. Tapi Sebaliknya Tai-tai yang lancang mulutnya segera nyeletuk : "To-tiang, apa kau berani jamin yang si iblis ini tidak bakalan kabur" Bukankah barusan bulu-bulu hudtim To-tiang telah kena dicabut sampai gundul!" Wajahnya Hian Cin-cu berubah merah mendengar sindiran halusnya Tai-tai, "Aku kurung dia dibawah tmenara yang berlapiskan baja sembilan lembar, sedangkan kaki-tangannya akan kuborgol dengan rantai. Selain itu pintu masuk kurapatkan dengan cairan besi panas! Bukankah dengan demikian kau akan merasa puas?" Mengingat gurunya masih mempunyai hubungan baik dengan Hian Cin-cu, maka Wanyen Hong menarik lengan baju Tai-tai. "Susiok, tempo hari siawtit pernah minta pertolongan untuk menyelidiki hal ikhwal Wan Hwi San. Tak dinyana bahwa orang itu adalah saudara misanku sendiri Gorisan.
Dengan ini siauwtit ingin bertanya, dia itu mempunyai sangkut paut apa dengan Hwee Liong Pay?" Hian cin-cu mulai reda marahnya.
"Sebenarnya asal usulnya Kongcu lebih mengetahi jelas, sebab dia adalah saudara misanmu. Dan sedari kecil dia telah berguru pada Bu-Tong Pay. Juga boleh dikatakan dengan Tio Hoan pun dia masih terhitung saudara seperguruan. Aku masih ingat tatkala Gorisan kembali kenegeri Kim, ia telah mencuri sejilid kitab See-Hok Bu-Cong, yaitu kitab sumber keilmuan dari dari daerah Barat yang disimpan didalam menara".
"Kitab itu dari Hoat Lian dijaman dinasty Tong, yang telah menyalinnya dari negeri Hindustan. Huruf Cong berarti aliran atau partai. Sedangkan dalam kitab itu terisi sumber2 ilmu silat dari segala aliran partai. Adapun kitab itu dianggapnya kurang penting, maka waktu itu dia tidak mengadakan penyelidikan. Sebaliknya dia mengandung akal busuk, yaitu hendak mencuri kitab aneh Ku Bok Kie-su dari gurumu Tiang Pek Lo-nie, tapi untunglah tidak berhasil. Maka ia pura2 mengambil alasan untuk menyerang kota Tong kwan. Disana iapun telah berpura2 gugur dalam pertempuran. Tapi diam2 ia melarikan diri kedaerah Barat untuk berguru kepada orang2 aneh yang berkepandaian tinggi. Sebab itulah sepak terjangnya dikemudian hari tak seorangpun yang mengetahuinya" Wanyen Hong mengerutkan keningnya : Pada waktu itu seluruh warga istana negara Kim menyangka bahwa Gorisan telah gugur dalam peperangan.
Siauwtitpun takkan berpikir dikemudian hari bahwa Wan Hwi Sian itu adalah dia! Tujubelas tahun lamanya aku gila mencari-cari orang yang telah mencelakakan diriku. Untung Im Hian Hong Kie-su telah berhasil menyingkap kedok rahasia iblis itu!" Lewat beberapa saat Hian Cin-cu tak berkata lagi" Akhirnya ia mohon diri kepada para pendekar. Gorisan diborgolnya, lalu didukungnya pergi. Sekejap mata saja ia telah menyelinap hilang diantara bukit2.
Setelah itu Kim Gan Bie Liu Bie memberi hormat pada kakak seperguruannya Wanyen Hong. Lantas dikeluarkannya dari dalam sakunya sepucuk surat dari gurunya untuk disampaikan, kepada sang putri.
Dalam surat itu diberitahukan bahwa setelah delapan belas tahun gurunya telah berhasil menyakinkan ilmu Kimkong Put-hway Kang dari ajaran Buddha.
Selain itu dipesankan agar sang putri segera kembali kenegeri Kim. Disana ia harus memulihkan hubungan dengan negeri Song di Tiong-goan, Dan bersama melawan.... bangsa Monggol! Segera setelah Wanyen Hong membaca itu, disimpannya kedalam sakunya. la kuatir kalau2 rahasianya akan diketahui oleh Gokhiol yang berdiri dekatnya.
Liu Bie yang sedari tadi memperhatikan sikap Wanyen Hong, merasa kagum dalam hatinya. Sang puteri ini sudah lewat empat puluh tahun usianya, namun parasnya tetap elok dan ayu. Bahkan kelakuannya seperti masih gadis remaja.
"Su-cie," ujar Liu Bie sambil tertawa. "Sungguh mujarab obat pengawet muda yang kau telan itu. Katanya kalu sucie sekali tidur, lamanya kurang lebih tigapuluh hari. Tapi bagi sucie rasanya seperti satu malam saja. Pantaslah selama tujuhbelas tahun ini sedikitpun tak ada perobahan. Su-cie tetap muda belia " Sang puteri tersenyum kecil, tapi mendadak timbul rasa ngantuknya.
"Wah celaka!" jeritnya dengan kaget, "aku harus tidur, bagaimana baiknya sekarang?" Suhu!" tiba2 Hay Yan berseru, "hampir2 muridmu lupa, untung obat pemunah ngantuk ini tidak hilang! Hay Yan mengeluarkan sehelai saputangan terbungkus.
Ketika dibuka, didalamnya terdapat sebutir obat pulung yang harum baunya.
Obat ini adalah pemberian dari Hian Cin-cu, tatkala sigadis menghantarkan surat ke gunung Ciong-Lam San.
Wanyen Hong segera menelan pil itu. la berkata sambil berguyon : "Aku belum tahu apakah obat ini dapat membuat aku hidup sampaikan dunia kiamat." Gokhiol yang kini merasa simpatik pada puteri negeri Kim, mengulum senyumnya : "Hari sudah hampir gelap, baiklah kita kembali ke Leng Wan Koan untuk bermalam disana. Besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan." Ujarnya seraya memandang keatas.
"Tio koko kini berlagak menjadi tuan rumah." Hay Yan memotong sambil tertawa, "Benar-benar ini apa yang dikatakan pepatah : Si harimau pergi, si rase jadi raja! Wan Hwi Sian berlalu, kini koko yang menggantikan singasananya. Ha!...Ha...! Ha...!" Wanyen Hong yang mendengar Hay Yan berguyon dengan Gokhiol, lalu meletakkan sepasang matanya yang indah dan berkata : "Bila pada suatu hari Peng-jie berhasil duduk diatas kursi kerajaannya, apakah kau mau dijadikan selirnya?" tanyanya dengan tersenyum manis Memang Wanyen Hong tidak menaruh dendam terhadap Gokhiol tapi karena pemuda kita mengakui Jenderal Tuli. Panglima Angkatan Perang Monggolia sebagai ayah angkatnya, ia menjadi kuatir. Sebab pikirnya dikemudian hari Gokhiol tentu akan menyumbangkan jiwa-raganya kepada fihak Monggol, fihak musuhnya! Kini tak disangkanya bahwa puterinya sendiri, Hay Yan telah berhubungan akrab dengan Gokhiol. Itulah sebabnya mengapa ia sampai mengluarkan kata-kata yang mengejek.
Disamping itu kebanyakan sifat wanita tak terkecuali Wanyen Hong berpemandangan cupat. Wanyen. Hong menganggap bahwa Lok Gok dahulu telah merampas kekasihnya Tio Hoan Yang mengawininya. Karena itu yuga dalam hatinya timbul rasa cemburu, untuk kemudian menjadi dendam! Mendengar ajakkan Wanyen Hong ini, Hay Yan jadi kemalu2-an. la menundukkan kepalanya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Sebaliknya Gokhiol merasa kurang senang dan dengan suara dingin ia berkata, "Aku bukannya turunan bangsawan dan juga bukan seorang pangeran. Namun sekalipun aku menjadi raja, Hay Yan akan menjadi permaisuriku, bukannya selir!" "Kau bukannya turunan bangsawan?" tanya Wanyen Hong dengan cukup dingin pula, "Kau adalah anak Jenderal Tuli yang agung dari Monggolia. Disamping itupun kau adalah turunan pangeran dari kerajaan Song, tapi siapa saugka kau telah mengangkat musuh ...." Im Hian Hong Kie-su tahu bahwa sang puteri hendak mengatakan "mengangkat musuh sebagai ayahmu". Diam-diam ia melirik kearah pemuda kita yang air mukanya telah berubah menjadi merah padam. Maka lekas2 ia berkata : "Saudara-saudara, hari sudah malam. Bila kalian ingin bersenda gurau, sebaiknya diadakan didalam kuil saja." Liu Bie adalah seorang gadis yang cerdik, melihat gelagat kurang baik ini, segera menarik tangannya Wanyen Hong seraya membisik dengan perlahan, "Su-ci, mari kita kembali ke Leng Wan Koan. Aku masih ada omongan yang hendak dikatakan padamu." katanya.
"Peng-ji" ujar Im Hian Hong Kie su, "Kau adalah tuan rumah, baiklah kau pimpin kami." Berenam mereka lalu kembali ke Leng Wan Koan.
Sampai disana, Gokhiol bersama Hay Yan pergi kedapur.