Hay Yan menambahkan kayu. pada perapian yang telah tersedia dalam ruangan itu dan menyediakan tempat.
duduk. Merekapun saling duduk ber-hadap2an.
"Waktu dahulu aku pernah masuk kedalam Kota Hitam," pemuda kita membuka percakapan, "disana kulihat seorang wanita sedang tidur, apakala ia itu gurumu ?" Hay Yan mengangguk. "Tak salah. Guruku adalah Hek Sio Mo-lie." "Tapi," tanya Gokhiol dengan heran. Ketika aku melihatnya didalam goa Cian Hut Tong, romannya buruk sekali dan menakutkan, tapi sebaliknya waktu kulihat ia sedang tidur, alangkah cantiknya." Sebuah senyuman tersungging pada mulut Hay Yan, lalu ia mengisahkan tentang hal ikhwalnya Wanyen Hong, puteri negeri Kim yang telah hilang. selama tujuhbelas tahun lamanya. Juga diceritakan bahwa gurunya telah menelan obat pengawet muda sehinga oleh karena kasiatnya obat tersebut, maka Wanyen. Hong harus bersilih ganti tidur satu bulan dan melek satu bulan. Sebab itulah maka wajahnya tetap muda dan tidak menjadi layu, walaupun lanjut usianya! Dan apabila ia keluar untuk mencari selalu ia berkedok, guna mengelabui mata sipenjahat itu." "Sekarang dimana adanya Iblis jahanam itu?" tiba2 Gokhiol menegurnya, "apakah kau sudah mendengar berita?" Baru saja Hay Yan ingin menjawab atau sekonyongkonyong terdengar suara yang sangat menyeramkan.
"Hai! Kamu berdua anak liar! Kalau sampai dibiarkan hidup, niscaya kamu hanya menanam bibit penyakit saja.
Lebih baik aku matikan saja!" Terkesiap Gokhiol mengenali suara.... Im Hian Hong Kie-su! Sambil menghunus pedangnya, pemuda kita meloncat keatas dinding tembok. Setibanya diatas genteng ia mengawasi sekelilingnya. Benar saja! Tidak beberapa jauh dari situ berdiri.... sibaju hitam! Seketika itu juga rasa amarahnya meluap timbul.
"Anjing tua! Benar2 kau licin sekali, untung aku tidak terdiebak oleh akal bulusmu! Kiranya kaulah yang telah membunuh ayahku!" Gokhiol merasakan dadanya sesak saking gusarnya, dengan mata berkilat-kilat ia mengangkat padangnya.
"Kau telah mengelabui mataku agar aku bertengkar dengan Wanyen Hong dan muridnya. Untung hari ini juga rahasiamu telah tersingkap!" Dengan teriakan mengguntur diputarnya pedangnya, yang lantas lenyap menjadi gumpalan sinar putih, menyusul ujung pedang menikam kearah kepala lawannya.
Buru2 sibaju hitam menyingkirkan diri dari tikaman ang dahsyat itu. Lalu dari dalam lengan bajunya ia keluarkan sebilah pedang yang bercahaya merah.
Pemuda kita segera mengenali pedang pusaka Ang-liongkiam yang menjadi kepunyaannya sendiri!. Maka bukan main rasa marahnya, sekali lagi ia maju menyerang.
Kali ini sibaju hitam tidak berkelit, sebaliknya tampak sinar pedangnya berkelebat bukan main cepatnya. Tahu2 Gokhiol merasakan tangannya gemetar, sedangkan pedangnya terhisap oleh suatu tenaga yang tersembunyi.
Dengan sekuat tenaga ia menarik kembali pedangnya.
Cahaya merah berkilauan menyerang dengan hebatnya dan.... Lok-mo-ciang.... menyambar mukanya! Keringat mengucur disekujur tubuh Gokhiol. la insaf akan bahaya yang sedang mengancam dirinya. Tetapi pada saat yang genting itu tiba2 terdengar suara berdesiran dua kali dan cepat2 sibaju hitam membungkuk kebawah sambil menangkap sesuatu. Setelah ia berdiri kembali, maka ditangannya tergenggam dua buat senjata-rahasia berupa anak panah yang terbuat dari emas.
"Ha-ha-ha!.... siluman kecil," berteriak sibaju hitam "sampaikan ayahmu sendiri berani kau serang secara gelap." Sambil mempergunakan kesempatan musuhnya sedang lengah sebentar, pemuda kita tak alal lagi menarik kembali pedangnya dan melompat mundur.
Hay Yan melompat tinggi keudara untuk kemudian turun menyerang dengan pedangnya sambil berseru : "Sambulah pedangku, tua bangka yang tak kenal malu!" Tiba2 saja kedua tangan sibaju hitam terbentang, deagan sebelah tangan ia menikam dengan pedangnya dengan gerakan Heng-kek Kim-liong atau Menyanggah-belanga emas secara-melintang untuk menangkis pedang sigadis.
Sedangkan sebelah tangannya lagi menimpukkan dua buah anak-panah emas tadi yang ditangkapnya itu kearah muka Gokhiol. Begitu senjata2-rahasia tersebut membeset udara dengan kecepatan antara kelihatan dan tidak, tangannya sudah lantas menyerang Hay Yan! Gadis kita yang sedang menangkis pedang musuhnya mau tak mau harus mengosongkan pembelaan pada bagian bawah. Dan hal itu tidak dilewatkan lagi oleh sibaju hitam,... telapak tangannya menyambar kearah mukanya.
Gokhiol kaget sekali. Secepat kilat ia maju kedepan sambil menggerakkan pedangnya.
"Trang! Trang!" Kedua anak-panah itu jatuh terpental.
Melihat serangannya digagalkan oleh pemuda kita.
sibaju hitam lompat kesamping, gesit luar biasa. Berbareng pedangnya menangkis keatas, hebat sekali! Terdengarlah suara logam beradu amat kerasnya dan terpentallah pedang Gokhiol.
Ilmu pedang sibaju hitam bukan saja ganas, tapi gerakannya dan mengambill kedudukannya sangat tepat dan terkendalikan. Sedikitpun tak mempelihatkan kelemahan. Kini dia merobah serangannya. dengan tangan! Tiba2 Gokhiol menjadi terkejut! Adapun Ciang Hoat itu adalah merupakan ilmu silat yang tiada bandingannya dikolong langit ini, yang bukan lain daripada Kim-kong Put-hway-kang atau Tenaga Pengawal Buddha! IImu tersebut hanya terdapat dikalangan perguruan kaum Buddha saja. Serupa dengan ilmu Goa-to Hian-kong yang sudah dipelajarinya, maka Gokhiolpun sangat heran dan terperanjat.
Teringatlah ia akan kata2 gurunya, bahwa setelah setahun ia berlatih dengan tekun, maka hasilnya tenaga dalamnya dapat menahan serangan golok dan pedang.
Terdengar Hay Yan berteriak dengan gusarnya dan pedangnya dibolang-balingkan. Pada detik itu menyusul uap putih mengepul keluar dari ujung pedangnya, pedang mustika Mo-hwee-kiam! Im Hian Hong Kie-su tertawa dengan nada mengejek : "Siluman kecil, ayahmu pun memiliki sebilah pedang pusaka. Heh-heh-heh!" Menyusul dua bilah pedang saling beradu keras diudara, lalu berkubetan.
Melihat gelagat yang baik. Gokhiol mempergunakan kesempatannya untuk cepat2 memungut pedangnya, lain seraya berteriak keras ia sampok pedang Ang-liong-kiam.
Tapi tak dinyana pedangnya begitu menyentuh pedang Ang-liong-kiam, tiba2 terasa olehnya adanya hawa panas menyerang ketangannya! Tahu2 pedangnya keluar asap dan melumer dalam waktu sekejap mata saja.
Sibaju hitam tertawa terbahak-bahak. Dengan gaya tipu In-liong Chut-siu atau Naga-dalam-awan-keluar-darilobang-gunung, ia membalikkan diri. Berbareng tangannya menyambar laksana ular berbisa memagut dan sinar hijau menyerang dada Gokhiol.
Pemuda kita baru ingin lompat mundur atau kedua kakinya menjadi lemas, terhuyung-huyunglah tubuhnya.
Sementera itu pedang Hay Yan masih melekat berkutetan dengan pedang Ang-liong-kiam. Bukan kepalang rasa cemas hati sigadis.
Pada detik2 yang sangat krisis itu, tiba2 terdengar suara gemuruh yang datangnya tidak jauh dari bukit yang letaknya miring itu! Tampak sebuah benda hitam bergelinding turun kebwah dengan kecepatan yang luar biasa_. Dalam keadaan yang gelap yang kelihatan dari benda tersebut adalah sepasang mata yang menyala-nyala mencoreng kearah sibaju hitam. Benda itu terus menghantam pedang sibaju hitam hingga tersampok kesamping, namun tak telepas.
Cepat Hay Yan menarik Gokhiol keluar dari gelanggang pertempuran. Benda itu adalah sebuah guci arak yang besar, yang tadinya tersimpan didalam rumah Hay Yan! Bukan kepalang gusarnya sibaju hitam, baru saja ia ingin menendang guci itu, atau tiba2 dari dalamnya muncuI sebuah kepala orang yang berambut kepang dua sedang meleletkan lidahnya. Dialah..... Tai-tai! "Hai, bangsat tua! Sambutlah mustika jimatmu'." demikian teriaknya. Berbareng itu pula melesatlah sebuah senjata gelap yang berputar-putar dengan cepatnya.
Sibaju hitam tidak memandang sebelah mata, senjatagelap itu ditangkapnya dengan tangannya. Tapi seketika itu juga ia menggeram kesakitan.
Kiranya senjata-rahasia itu tidak lain adalah Kui Ci Liu Seng! Ujung jarinya keserempet juga dan suatu aliran hawa panas menyerang masuk kebadannya. Bukan main gusar hatinya. Seraya melompat ia mengangkat tangan kanannya dan menyusul mana sinar hijau menyambar diudara.
Gokhiol dan Hay Yan serentak maju menyerang. "Iblis! kau jangan coba menurunkan tangan jahatmu, lagi!" Berbareng pegang Mo-hwee-kiam kepunyaan Hay Yan yang mengandung gelombang hawa panas menusuk bagaikan halilintar cepatnya! Sedang Gokhiol sendiri menghantam dengan telapak-tangannya, hebat sekali pukulannya, bagaikan hendak mengaduk lautan dan merobohkan gunung. Sibaju hitam yang telah kena racun Kui-cu LuiSeng, merasa tak sanggup untuk terus melayani. Dengan suatu gerakan kilat tahu2 ia mencelat mundur, dan berlari pergi.
Tai-tai menggeliat keluar dari dalam guci. la tertawa ha-ha-hi-hi.
Pemuda kita mendapatkan pada bagian atas guci itu dua buah lobang kecil untuk melihat. Ada pun lobang itu dicat putih, sehingga seolah2 lobang mata itu berkedap-kedip.
Tiba2 Gokhiol berteriak! Didapatkannya pada bagian dadanya sebuah bekas tanda telapak tangan-hijau. Tatkala ia mengungkapkan bajunya, seketika itu juga kainnya menjadi hancur. Sedangkan pada kulit tubuhnya membekas tanda telapak-tangan hijau! "Ah," seru Hay Yan dengan kagetnya, kau telah kena pukulan maut Lok-Mo-Ciang! Bagaimana baiknya sekarang?" Tampak wajah sigadis berubah pucat bahna cemasnya, Gokhiol dengan tenang memeriksa lukanya dan dilihatnya bahwa tanda telapak tangan itu.... berjari empat! Telunjuknya tak ada! "Tanda bekas telapak tangan ini sama seperti yang kulihat digoa Cian Hut Tong," ujarnya, "hal ini membuktikan bahwa Im Hian Hong Kie-su yang telah membunuh ayahku!" "Kini kau baru sadar sendiri, Tio Kongcu," jawab Hay Yan. "Namun kau terluka oleh tangan-jahatnya, racun Lok-Mo-Ciang merembes kedalam tubuhmu, niscaya jiwamu melayang." Mata sigadis menjadi basah.