Dengan gerakan Hek-hauw Tiauw-sim atau Harimauhitam-mencuri-hati Wan Hwi Sian menghantam dada Im Hian Hong Kie-su dengan suara yang menggeletar.
Sedangkan tangannya yang lain siap-sedia memberikan pukalan untuk membinasakan! "Gedebuk!...." Telak sekali pukulan itu mengenai dada Im Hian Hong Kie-su! Sipenunggu Puncak Gunung Maut menjerit dan berkelejetan seperti seekor ikan! Dengan megahnya Wan Hwi Sian mendongak keatas dan tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha.! Ha--ha-ha!.... kau akhirnya mampus juga!" Dia melangkah maju dan melontarkan tendangan geledeknya.
Tapi... sekonyong-konyong... dengar tidak ter-duga2 Im Hian Hong Kie-su mencelat bangun! Sungguh suatu gerakan yang luar biasa cepatnya! Berbareng dengan itu pendekar besar itu mengirimkan pukulan Wan-to Bian-chiu atau tangan-kapas-meraup-selendang yang hebat bukan kepalang. Tepat sekali pukulan itu mengenai mukanya Wan Hwi Sian. Dan Wan Hwi Sian mengerang kesakitan, menyusul mana ia jatuh terguling ketanah.
Selagi Wanyen Hong dengan tegangnya menyaksikan perkelahian yang luar biasa hebatnya itu, bekas tetapak tangan pada leher Im Hian Hong Kie-su lenyap! Sebaliknya kini nampak dipipi Wan Hwi Sian... tanda telapak tangan berwarna hijau segar! Wanyen Hong tak habis berpikir. Memang ia mengetahui bahwa para ahli tenaga-dalam sudah mencapai taraf yang sempurna, memiliki ilmu Khie-kang Han-thwan-tauw atau Mengirim-tenaga-melalui-udara.
Ilmu tersebut selain dapat mematahkan pukulan musuh, juga dapat berbareng mengembalikan pukulan pada lawannya sendiri. Tepat kalau dipakai istilah : Meminjam tenaga lawan untuk menghancurkan lawan itu! Tadi Im Man Hong Kie-su telah terkena pukulan Lokmo-ciang dari Wan Hwi Sian, tapi kini telapak tangan itu dikembalikan pada pipi lblis itu. Hal mana dengan sendirinya telah mengubah serta memunahkan lukanya sendiri! Wanyen Hong tertegun bahna kagumnya.
Sebagaimana diketahui Wan Hwi Sian telah duapuluh tahun lamanya menyakinkan Lok-mo-ciang, ilmu yang menjadi kebanggaannya. Tapi tak disangka kini ia sendiri yang menjadi korban kepandaiannya itu! Tanpa ayal dihisapnya hawa murni untuk melenyapkara tanda telapak tangan pada pipinya itu.
Rupanya Im Hian Hong Kie-su telah menggunakan ilmu Khie-kang Hang-thwan-tauw dan sengaja mandah menerima pukulan dari Wan Hwi Sian itu.
Hal ini ada latar belakangnya, sebab Sipenunggu Puncak Gunung Maut ingin memperlihatkan bahwa telapak tangan Wan Hwi Sian hanya berjari ampat! Dengan demikian sudah menjadi bukti yang tak dapat disangkal lagi bahwa benarlah orang itu adalah musuh besarnya Wanyen Hong! Iblis yang telah lama mempergunakan nama baiknya sehingga ia menjadi korban akibat perbuatan2 jahat itu.
Wanyen Hong segera mengenali musuh besarnya! Hatinya melonjak-lonjak, tubuhnya gemetar. Hanya matanya saja yang ber-api2 menatap Wan Hwi Sian dengan penuh dendam dan kebencian. Melihat pandangan Wanyen Hong itu, mau tak mau hati Wan Hwi Sian gentar juga.
"Kongcu, janganlah kau sampai dikelabui akal bulus si Iblis!" Wan Hwi San berteriak, mencoba ingin membela dirinya. "Tangan kananku jari2nya lengkap lima buah, lihatlah! Dia sengaja menghilangkan telunjukku agar kelihatannya hanya ada empat jari2 saja! Dia hendak membingungkan kau agar mengira aku adalah musuh besarmu. Maka dengan jalan ini, dia ingin meminjam tenaga Kongcu untuk membunuh aku." Ketika Wan Hwi Sian sedang berbicara, telinga Wanyen Hong pada saat bersamaan menangkap suara Im Hian Hong Kie-su yang dikirim melalui udara : "Kongcu, dialah saudara misanm sendiri ....Gorisan! Bunuhlah dia! Jangan kasih lolos!" Sekonyong-konyong bagaikan gila Wanyen Hong menuding kepada Wan Hwi Sian serta menjerit bagaikan gila.
"Gorisan! Kau manusia yang berjiwa binatang! Tak kusangka bahwa musuhku yang sudah tujuhbelas tahun lamanya kucari-cari adalah kau.... Kau, saudara misanku sendiri! Kau!"." Bagaikan halilintar pedangnya menyambar, namun Wan Hwi Sian tidak kalah tangkasnya. Ia merandek, berbareng tangannya mengebut. Begitu kebutan tangan itu mengenai pedang Mo-hwee-kiam, senjata itu kena kesamppk.
"Kongcu, jangan ladeni hasutannya. Dia justa!" berteriak Wan Hwi Sian alias Gorisan.
Pedang pusaka bergetar ditangan puteri negeri Kim.
Matanya mengawasi Wan Hwi Sian dengan panah kebencian yang menggila! Tampak olehnya samar2 pada muka orang itu ada sesuatu yang tidak beres. Kulit muka orang itu telah merekah dan terbeset sedikit. Kini Wanyen Hong menyadari bahwa orang telah mengenakan ... sebuah kedok! Gorisan belum mengetahui bahwa sebagian dari kedoknya telah rusak. Melihat sang puteri tengah memandang dirinya dengan mata berkilat-kilat, tanpa ayal ia lompat menubruk deengan tipu Leng-wan Tie-kauw atau KeraSakti-memetik-buah. Tahu2 ia berada disamping puteri negeri Kim! Dengan tangan kirinya diluruskan kaku, Gorisan menotok pergelangan tangan sang puteri yang halus-putih, sedangkan tangan kanannya bergerak mencengkeram.
Tapi pada detik yang gawat itu, Im Hian Hong Kie-su mencelat kedepan, berbareng ia sampok lengan Gorisan.
Hebat sekali pukulannya! Tapi Gorisan pun bukan sembarang orang. Laksana ular bermain, jari2nya menyambar untuk menyerang.
Hawa dingin menyambar diudara, terkesiap Im Hian Hong Kie-su menarik kembali tangannya. Bila terlambat, pasti hawa dingin itu akan merembes kejantungnya dan itu berarti ... kematian! Itulah bukan lain daripada tipu Thian-kwan Kay-in atau Malaikat kayangan mencapkan tanda.
"Gorisan, kau adalah manusia anjing yang tidak mengenal budi!" tiba2 Wanyen Hong berteriak, disusul dengan serangan pedangnya yang dahsyat laksana halilintar. Gorisan terkejut! la menginsyafi dirinya dalam ancaman bahaya menghadapi dua lawan tangguh, maka iapun buru2 melompat keluar dari gelanggang pertarungan.
Dibakar kebencian yang membara, Wanyen Hong melesat kedepan sambil menikam dengan pedang Mo-hweekiam! Mendadak Gorisan membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan Ci-ju Tiauw-swie atau Kodok-bangkong-meloncat-kedalam-air ia menyerang dengan Lok-mo-ciang kearah sang puteri" Begitu kesampok, pedang Wanyen Hong balik membal keudara. Dengan gusar Wanyen Hong menggetarkan pedangnya dan asap putih mulai mengepul menyelubungi pedang pusakanya.
Gorisan berkali-kali melepaskan pukulan-mautnya yang dahyat, namun satupun tak ada yang dapat menembusi kepulan asap putih. Sebaliknya dia sendiri menjadi kepanasan hingga mendadak saja telunjuknya terlocot! Kiranya telunjuknya adalah palsu! Tak salah lagi! Gorisan adalah si Iblis! Dialah yang telah mencemarkan puteri negeri Kim! Dialah yang menimbulkan kegegeran dan mala-petaka! "Gorisan!" Wanyen Hong berteriak sambil tertawa menyeramkan, "akhirnya tersingkap juga kepalsuanmu! Malam ini adalah malam kematianmu!" Wanyen Hong membuka baju luarnya! Menyusul mana cahaya putih menyorot dari mutiara pada kaca tembaganya.
Cahaya putih itu menyilaukan sekali.
Gorisan memejamkan maianya dan se-konyong2 tubuhnya berjumpalitan membubung keatas, sambil bersiul panjang memekakkan telinga ia sudah hinggap diatas tebing gunung. Begitu kakinya menyentuh batu. Sekali sepak saja batu dihadapannya jatuh menggelinding kebawah dengan suara gemuruh.
"Pengecut! Jangan lari!" Im Hian Hong Kie-su berteriak dengan suara mengguntur. Dengan tak gentar sedikitpun ia mengangkat tangannya menangkap batu besar itu dan bagaikan menyambut daun yang rontok, maka dilemparkannya kembali keatas. Tetapi Gorisan sudah menyingkirlan diri dan menghilang ditempat yang gelap. Sayup2 dari kejauhan berkumandang suaranya.
"Ha-ha-ha! Wanyen Hong, puterimu Hay Yan masih berada ditanganku! Ingatlah!" Muka puteri negeri Kim menjadi pucat.
"Da menculik Hay Yan. Marilah kita susul!" serunya dengan gemetar.
Tetapi lm Hian Hong Kie-su mencegahnya.
"Kongcu," katanya dengan sabar. "Ada peribahasa yang mengatakan : binatang kawa2 matipun tidak kaku. Dia telah meyakinkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali. Tak mungkin kita menyandaknya. Lebih baik kita bersabar dulu. Puterimu Hay Yan tidak terancam jiwanya." "Kie-su" jawab sang puteri, "walaupun Yan-jie adalah keturunan jahanam itu, tapi aku tetap kuatir akan keselamatannya." Laksana butir2 permata yang putih airmata puteri kita berlinang turun.
"Kongcu, janganlah bersusah hati," Im Hian Hong Kiesu menghibur. "Kini Gorisan dapat meloloskan diri. Tapi kalau kelak ia kembali ke Mo-Thian Nia, pasti ia akan masuk perangkap adik-seperguruanmu Liu Bie." Kemalu-maluan Wanyen Hong mengusap matanya.
"Kie-su, bagaimana kau ketahui bahwa adik seperguruanku bernama Liu Bie" Sedangkan aku sendiri belum mengetahuinya," jawabnya dengan heran.
"Dialah murid gurumu Tiang Pek Lo-ni yang terakhir.
Liu Bie lah yang mengirimkan surat gurumu kepadamu." sahut Sipenunggu Puncak Gunung Maut.
Wanyen Hong kini baru mengerti segalanya. Maka ia bertanya pula: "Bagaimanakah Kie-su mengetahui bahwa puteriku Hay Yan tertawan oleh Gorisan!" Im Hian Hong Kie-su menceritakan bagaimana Gorisan telah berhasil menipu Hay Yan untuk disuruh pergi ke Leng-Wan-Koan. Dan disitulah sigadis telah tertawan oleh para Lhama." "Ada hubungan apakah antara kaum Lhama, dengan Gorisan?" tanya Wanyen Hong dengan heran.
"Kongcu," jawab lm Hian Hong Kie-su "Ketahuilah bahwa Gorisan pada akhir2 ini telah bersekongkol dengan pihak See-Hek dan berteman dengan Ang-bian Kim-kong dari kuil Bu-liong Sie cabang Ceng-hay. Dialah yang baru diangkat menjadi menteri agama oleh raja dari negeri See-Hek." Wayen Hong terdiam, mendengar dengan penuh perhatian. "Adapun tugasnya yang terutama ialah memimpin agama Too sedangkan yang lainnya untuk mengurus agama Buddha. Beberapa hari yang lalu, Gorisan telah menyuruh Gokhiol untuk mengirim surat ke Bu-liong Sie dengan maksud mengundang datang Ang-bian Kim-kong ke LengWan-Koan untuk menangkap Hay Yan!" "Jadi puteriku tertawan oleh mereka"!" tanya sang puteri dengan cemas. "Aku harus segera ke Mo-Thian Nia untuk menolonginya." "Kongcu," ujar Sipenunggu Puncak Gunung Maut.
"Gurumu Tiang Pek Loni memesan agar kita jangan bertindak ter-gesa2. Hati kita boleh panas, namun pikiran haruslah dingin." lm Him Hong Kie-su mengajak sang puteri berjalan, tak beberapa lama kemudian sampailah mereka pada sebuah goa yang tertutup oleh batu besar.
Sipenunggu Puncak Gunung Maut mendorong batu tersebut dan dari dalamnya terhuyung-huyung keluar seorang yang berpakaian baju hitam. Orang itu serupa benar dengan Im Hian Hong Kie-su, bagaikan pinang dibelah dua saja. "Kie-su, siapakah gerangan dia"!" seru Wanyen Hong bahna kagetnya.
"Dia adalah murid Ang-bian Kim-kong dari Bu-liong Sie, namanya Ma Tui si Kaki Terbang. Dialah yang kau lihat telah menyamar seperti aku dan ber-pura2 bertempur dengan Gorisan." Wanyen Hong begitu melihat orang itu, segera timbul pula amarahnya. "Plak ! Plok ?" Tangannya mampir dipipi Ma Tui, yang lantas jatuh terguling. "Sabarlah, Kongcu; dia hanya alat-boneka saja," ujar Im Hian Hong Kie-su, kuatir sang puteri membunuh si Kaki Terbang.
"Hei, Ma Tui! Dimana Hay Yan" Lekaslah beritahukan sebelum Kongcu mengambil jiwamu." Ma Tui melihat kepada Wanyen Hong yang tengah mengawasinya dengan mata me-nyala2, menjadi ketakutan sekali. Lekas2 ia ceritakan apa yang diketahuinya "Nona Hay Yan telah ditipu oleh Gorisan yang telah menyuruhnya pergi untuk berjumpa dengan Koncu di Leng Wan-Koan. la masuk kedalam kuil, tetapi tidak ada orang.
Samar2 terhendus olehnya bau wewangian yang aneh, yang seolah-olah membetot dirinya untuk berjalan, berjalan menghampiri wewangian itu.
la melewati tiga pintu, lalu tiba pada sebuah ruangan yang ditengah-tengahnya berdiri sebuah patung Buddha sebesar manusia, jubahnyapun merah tua.
Hati gadis kita bercekad! Patung itu mirip sekaii seperti...
manusia hidup! Se-olah2 orang hidup dalam keadaan mabuk. Tiba2 hidungnya mencium pula wewangian aneh, kini lebih keras, sehingga kepalanya menjadi pening. Kiranya diatas meja sembahyang ada sebuah anglo terbuat dari tembaga yang mengepulkan asap Hay Yan merasakan ada sesuatu yang kurang beres.