Dengan hatil berdebar dihampirinya patung Budha untuk melihat lebih jelas. Tiba2 pada wajah sigadis membayang kekagetan... Patung itu bergerak! "Kau manusia atau setan"!" teriak gadis kita dalam ketakutannya.
"Ha-ha-ha....! Ha-ha-ha...! Betul, aku setan... gentayangan, gentayangan yang mencari kau! Ha ha-ha!" Bukan kepalang kagetnya Hay Yan. Serentak ia mencabut pedangnya untuk melawan. Tapi tiba2 sekujur badannya menjadi lemas, padangannya menjadi gelap.
Terhuyung-huyung ...... sigadis jatuh pingsan ...
---oo0dw0oo---
MENDENGAR cerita Ma Tui itu, Wanyen hong menjadi tak sabar untuk lekas mendengarkan akhir penuturan itu. "Lalu bagaimana selanjutnya?" ia membentak "Patung Buddha itu adalah guruku dalam penyamaran Tapi ia menantikan Gorisan, untuk mengambil tindakan selanjutnya terhadap muridmu." "Kemana pedang Ang-liong-kiam yang kau pakai itu?" tanya sang putri. "Gorisan merasa kuatir," jawab Ma Tui, "Bahwa Gokhiol akan mengenali pedangnya, maka tak berani ia membawanya kemana2. Kemarin ia telah menyuruh aku untuk menyimpannya kembali kedalam lembah. Tapi diluar dugaan, aku telah kena ditawan oleh Kie-su." "Ma Tui," ujar Im Hian Hong Kie-su, "Bila kau mau menunjukkan tempat persembunyian pedang itu, nanti setelah Kongcu berhasil membereskan Gorisan, aku akan melepaskan kau!" Ma Tui menjadi girang bukan kepalang, terus ia berlutut menghaturkan terima-kasihnya.
"Kongcu," ujar Im Hian Hong Kie-su. "Setelah pedang itu kembali ditangan kau, kita akan berangkat ke Leng Wan Koan!"
---oo0dw0oo---
Kita kembali dahulu pada jago-muda kita Gokhiol yang mendapat tugas dari gurunya untuk mengantarkan surat kepada Ang-bian Kim-kong di Bu-liong Sie.
Pada waktu itu wilayah See-Cong masih dibawah kekuasaan pengaruh Turfan dan pengaruh agama Buddha sangat kuat. Ang-bian Kim-kong mendapat anugerah dari raja See-Hek Lie Tek Wang untuk menjabat sebagai menteri agama dan kini ia berkedudukan dikuil Bu-liong Sie di Ceng Hay.
Kesanalah Gokhiol pergi dan menyampaikan surat suhunya. Kemudian ia segera berangkat lagi untuk pulang.
Sepanjang jalan ia memikirkan kata2 gurunya yang menceritakan kepadanya bahwa Wanyen Hong dan Hay Yan bermaksud untuk membunuhnya. Hal ini mau tak mau menjadi buah pikirannya, membikinya gundah gulana.
Sebaliknya waktu akhir2 ini Gokhiol memperhatikan sepak terjang gurunya sangat aneh dan dalam hati kecilnya timbul rasa prasangka. Gurunya menjanjikan untuk bantu membunuh Im Hian Hong Kie-su, tapi sebaliknya kenapa Wanyen Hong yang diajaknya dan bukannya ia sendiri" Dan lagi pula para Lhama di Bu-liong Sie itu roman mukanya bengis2 dan sangat menakutkan, tak tahu dari golongan mana mereka sebenarnya. Mengapa gurunya tak pernah menjelaskannya lebih dahulu" Kali ini ia menyuruh aku mengirimkan surat, tentu ada latar belakangnya. Petang harinya Gokhiol menginap disebuah dusun. Adapun dusun itu hanya terdiri dari tiga sampai lima rumah keluarga.
Pemuda kita duduk didepan rumah penginapan sambil melepaskan pandangannya kearah jalanan dihadapannya.
Hembusan angin sepoi2 meng-goyang2 daun2 hijau diatas pohon yang berjajar dikedua tepi jalan.
Se-konyong2 kesunyian dikejutkan oleh datangnya seorang penunggang kuda, yang kemudian berhenti didepan penginapan. Penunggang kuda itu lompat turun dan melangkah masuk seraya berteriak : "Hei, pelayan! Lekas sediakan aku makan!" Gokhiol memperhatihan orang itu dengan diam2.
Tampak orang itu menggendong sebuah buntalan dipunggungnya, lalu dilihatnya kedua kaki orang itu sangat panjang seperti cengcorang. "Ma twaya, kau perlu apa lagi?" tanya sipemilik penginapan dengan hormatnya, " Hari sudah hampir gelap apa twaya masih ingin meneruskan perjalanan." Orang itu mengeringkan cawannya dan tidak menyahut.
Setelah meletakkan kembali gelasnya diatas meja, barulah ia menjawab : "Guruku menyuruh aku pergi ke Jie-Liong San, tahukah kau jalan mana yang paling dekat?" "Twaya adalah Ma Tui si Kaki Terbang. Adapun jalan yang Iebih dekat untuk sampai di Jie-Long San, adalah jalan melintang Batu im Peng. Tapi jalanan itu berbahaya..." Belum sipemilik penginapan habis berkata, Ma Tui telah menjangkau buntalannya.
"Harap kau catat saja hutangku, nanti kalau aku kembali akan kubayar semuanya." "Tak usah, biarkan saja," jawab pemilik penginapan dengan hormatnya.
Baru saya Ma Tui! keluar pintu atau tiba2 ia balik seolah2 ada sesuatu yang terlupakannya.
"Haya!" ujarnya, "Hampir saja aku lupa karena ter-buru2. Sun Lotia, guruku Ang-bian Kim-kong besok pagi akan pergi ke Mo-Thian Nia. Adapun guruku orangnya berbadan tinggi besar, harap kau ingatkan untuk menyediakan seekor unta. Dan sebelum tengah hari kau harus menjemputnya di Bu Liong Sie. Jangan sampai kau lupa!" Sun Lotia manggut dengan tersenyum.
"Twaya tak usah kuatir. Koksuya akan kusampar." Gokhiol terkejut. Kiranya Ma Tui itu dari Bu liong Sie! Dan dia hendak pergi ke Jie Long San, tempat kediaman Im Hian Hong Kie-su. Dan Ang bian Kim-kong hendak pergi pula ke Mo-Thian Nia. Mungkinkah Lhama itu begitu menerima surat lantas berangkat untuk menjumpai suhunya" Tapi tak mungkin! Gurunya telah pergi bersama Wanyen Hong dan ia sendiri disuruh kembali ke Leng Wan Koan untuk menanti berita. Ah, tentunya Ang-bian Kimkong telah mengetahui bahwa suhunya tidak berada ditempat. Tapi mengapa ia juga hendak pergi ke Mo -Thian Nia" Ke Leng Wan Koan" Diawasinya Ma Tui yang menghilang diantara gelapnya sang malam. Tiba2 terdengar sipemilik penginapan ini menggerutu sendirian : "Ah, sial sial! Dia makan dengan Cuma2, malahan besok masih harus kucarikan unta untuk Ang-liong Kim-kong, rugi!, rugi!..." Seorang tamu yang sedang minum arak, tertawa terbahak-bahrk. "Ha ha ha! untuk menyokong sedikit rasanya tidak ada halangannya. Sedangkan orang lain sampaikan menyembah-nyembah untuk dapat bertemu dengan Ang-bian Kim-kong. Mengapa kau berpikiran demikian tolol, seorang Koksu dari kerajaan See-Hek yang sangat agung kau tak mau mengambil hatinya" Kemungkinan besar kau akan kecipratan jasa baiknya!" Sun Lotia terdiam, merah mukanya.
Gokhiol mengulum senyumnya.....
Pada keesokan harinya, pagi2 benar Gokhiol berangkat dan melarikan kudanya kearah padang pasir yang luas, menuju Hay-Kee-Cun Matahari bersinar amat teriknya tapi angin menghembus sejuk sekali. Hati pemuda kita besar sekali, maka dua hari kemudian sampailah ia ditempat tujuannya. Dusun Hay-Kee-Cun tenang seperti biasa. Empang yang terdapat didepan pekarangan jernih airnya bagaikan cermin.
Gokhiol lompat turun dari kudanya.
"Tio Kongcu, kebetulan sekali! Ada surat penting sekali untukmu." Tiba2 terdengar suara dari atas pohon.
Terperanjat Gokhiol mengangkat kepalanya dan melihat Tai-Tai yang sedang duduk diatas tangkai pohon.
"Hei!, Tai Tai! Ada surat apa" Hayuh!, lekas turun dan berikan padaku." Tai-Tai segera turun dari atas pohon. Kemudian dikeluarkannya sepucuk surat dari dalam sakunya dan berkata : "Kemarin ada seorang gadis cantik menunggang kuda lewat disini. la memberikan aku sekantong buah Toh dan menitipkan sepucuk surat kepadaku. Katanya hari ini kau akan datang. Surat itu harus kusampaikan kepadamu dan menyangkut keselamatan jiwa siociaku. la memesan wanti2 agar jangan sampai surat ini jatuh ketangan yang salah. Sebab itulah aku pagi2 benar memanjat pohon ini untuk menunggu kedatanganmu. Ah, aku takut sekali kau tidak datang." Gokhiol menerima surat itu dan melihat pada sampulnya tertulis sebagai berikut : Dihaturkan kepada yang terhormat Tio Peng.
Dalam surat itu tertulis : Lekas kembali ke Leng-WanKoan untuk menolongi Hay Yan. Jangan terlambat! Akan ada orang yang diam2 membantu kau.
Dibawah surat itu terlukis sepasang alis mata.
Gokhiol merasa heran sekali. Siapakah pengirim surat itu" Dan bagaimana mungkin Hay Yan berada di Leng-WanKoan" "Siocia menghantarkan surat kegunung Ciong-Lam-San atas perintah gurunya. Tapi sampai sekarang belum pulang.
Aku kuatir, Tio Kong-cu." Gokhiol bercekad hatinya. Jiwa gadis yang dicintainya berada dalam bahaya! "Dapatkah kau lukiskan bagaimana romannya gadis yang sampaikan surat ini kepadamu?" ia bertanya.
"Aih, dia cantik sekali seperti Siociaku, tapi yang ganjil adalah sepasang alis matanya. Warnanya hijau seperti dua helai daun liu yang malekat diatas matanya yang jelita" Mendengar tentang warna alis itu, Gokhiol teringat pula akan kata2 Hay Yan dahulu yang pernah menceritakan kepadanya bahwa gurunya Wanyen Hong, Tiang Pek Lo-ni telah menerima seorang murid baru yang mendapatkan julukan Kim Can Bie. Tentulah gadis itu yang dimaksudkan oleh Tai-tai.
Dengan sekali lompat Gokhiol mencemplak pula kudanya. "Nonamu jatuh ketangan Ang-bian Kim-kong. Aku akan pergi ke Leng-Wan-Kian untuk menolonginya." Tapi Tai-tai menahan tali-kekang kudanya serta memaksa agar ia diajak serta.
"Tio Kongcu! Aku mau ikut, tunggulah sebentar." Tergesa-gesa Tai-tai berlari kedalam untuk bersalin pakaian, tapi begitu ia keluar, Gokhiol sudah tak kelihatan lagi mata-hidungnya.