Adapun kedatanganmu kemari sekedar ingin menyampaikan berita kepadamu." Sigadis terdiam, lalu bertanya dengan perlahan : "Apakah kau sudah ketahui siapa sebenarnya pembunuh ayahmu?" Mendengar pertanyaan yang datangnya seperti halilintar disiang hari bolong itu, mata pemuda kita terbuka lebar.
"Apakah kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaanmu itu" Apakah kau sendiri telah mengetahui siapa gerangan pembunuh ayahku" serunya dengan gemetar." Hay Yan merogo sakunya, lalu dikeluarkannya sebuah benda yang lantas diserahkan kepada Gokhiol.
"Ayahmu binasa karena senjata-rahasia ini!. Sebenarnya ayahmu mengenal baik kepada Im Hian Hong Kie-su.
Bahkan sangat erat sekali pertalian persahabatannya. Tetapi setelah orang itu berhasil mencuri sebotol obat mujarab penyalin rupa didalam goa Cian Hut Tong, maka kelakuannya sudah berobah bagaikan iblis. Orang itu terus-menerus merobah roman mukanya, hingga ayahmu tak dapat mengenalinya." Berhubung disebutnya tentang obat aneh itu, Gokhiol teringat kembali akan peti yang ditemukannya dalam goa batu itu. Adapun diatasnya terdapat tulisan bahwa dalam peti tersebut tersimpan obat-mujarab penyalin rupa dan yowan untuk awet muda. Boleh jadi cerita sigadis bukannya khayalan belaka. lapun berkata : "Hay Siocia, baiklah aku terangkan sesuatu kepadamu. Dahulu ayahku telah meninggalkan sepucuk surat wasiat yang antara lain juga diterangkan bahwa orang yang harus dicarinya itu pada tangan kanannya kehilangan sebuah telunjuk jari. Apakah Im Hian Hong Kie-su kehilangan sebuah jarinya?" "Tepat sekali pertanyaanmu," jawab Hay Yan, "dahulu suhuku telah bertempur dengannya malam2 digunung Ben-See San. Suhuku telah sengaja memancingnya agar dia melakukan pukulan dengan tangannya. Begitu orang itu menyerang, suhuku mengelak dan menyodorkan patung ditangannya. Setelah diperiksanya dengan teliti, maka tampaklah..... tanda pukulan empat jari2-tangan! Maka suhuku segera mengenali bahwa orang itu adalah musuh besarnya. Namun kita harus sangat ber-hati2, karena orang itu sangat licin. Ia telah membuat sebuah telunjuk tangan palsu yang disambungkannya, sehingga dapat mengelabui mata orang. Apabila tidak kebetulan, maka sukarlah untuk mengetahui cacadnya." Tanpa disadari Gokhiai berkata : "Hay Siocia, bagaimana kau dapat tahu bahwa gurumupun bermusuhan pada orang yang sama yang teIah membunuh ayahku?" Hay Yan merasa te!ah terlanjur bercerita, maka iapun menjawab : "Persoalan itu sebaiknya kelak baru kuceritakan kepadamu. Hanya sckarang ingin sekali kuketaltui, apakah kau percaya atau tidak kepadaku?" Gokhiol mengangkat pundaknya.
"Kau mengatakan orang itu bernama Im Hian Hong Kiesu, maka aku juga percaya. Tapi apabila kau ingin mengatakan bahwa dia adalah pembunuh ayahku, hal itu belum berani aku percaya. Kecuali apa bila kau dapat memberikan bukti yang nyata:" Melihat akan keraguan sipemuda, Hay Yanpun. berkata : "Dapatkah kau meninggalkan tempat ini untuk beberapa waktu" Nanti akan kuperlihatkan beberapa bukti kepadamu!" Gokhiol merasa sangsi. Pikirnya ini mungkin suatu tipu muslihat dari sigadis untuk menjebaknya. Walaupun demikian dalam hatinya ia ingin lebih lama melewatkan waktu dengan sicantik itu.
"Kongcu, sekarang kau sudah berhasil menyelami ilmu silat dari Leng Wan Pay," ujar Hay Yan sambil tersenyum, "mengapa kau harus merasa takut seperti dahulu?" Mendengar teguran yang halus itu Gokhiol merasakan mukanya panas, dan sambil tertawa ia menyahut : "Tempat apakah yang kini kita sedang berada, mungkin kau mengetahuinya. Dan nanti dapatkah kau hantarkan aku kembali kemari?" Mendencar pertanyaan tersebut Hay Yan tertawa geli.
"Jika melihat usiamu, kau lebih tua dari padaku, tapi kalau dilihat dari kecerdikanmu .... hi-hi-hi!... tempat kau belajar silat saja tidak kau ketahui!-Bukankah hal itu sangat memalukan?" Sicantik menunjuk kedepan...
"Puncak yang tinggi itu disebut Mo-thian Nia yang letaknya disebelah Utara dari Kiam-bun dan merupakan juga anak cabang dari gunung Bin Gek San. Sekarang bila kau mau ikut denganku, lekaslah kita berangkat!" Demikianlah kedua muda-mudi itu meninggalkan gunung Mo-thian Nia. Disepanjang jalan mereka bercakap-cakap dengan riangnya, dengan sebentar-sebentar diselingi...... senda gurau. Untuk Gokhiol hal ini adalah untuk pertama kalinya bahwa ia berjalan bersama dengan gadis idaman hatinya. Ia menurut saja bagaikan kambing jinak.
Dikala malam hari mereka bermalam dirumah penginapan dan masing2 mengambil sebuah kamar.
Apabila ada yang bertanya, mereka mengaku sebagai kaka beradik. Tak berapa lama kemudian tibalah mereka diluar perbatasan Giok-bun-koan. Setelah sampai disitu, pemuda kita mengenali kembali jalan2an.
Berselang berapa waktu pemuda kita melihat pula daerah gurun pasir dan iapun merasa heran dan kaget.
"Apa kau ingin menipu aku lagi untuk balik ke Kota Hitam?" ia bertanya.
Hay Yan melontarkan senyumnya yang menarik sukma.
"Bila kau merasa curiga, silahkan kembali kepuncak Mo-Thian Nia!" jawabnya, Gokhiol tertawa. Dalam hatinya ia berpikir bahwa gadisnya ini mempunyai tabiat yang jail pula.
Tatkala itu Sang Surya telah condong ke Barat, kedua muda-mudi itu mendaki puncak Beng-See San. Kemudian kedua pendekar muda itu mempergunakan ilmu meringankan tubuh dan berlari dengan kencangnya. Seolah-olah bintang berkilas, tak lama kemudian sampailah mereka pada goa Teng Hong, mereka langsung kekaki gunung.
Itulah tempat dimana dulu Hek Sia Mo-lie bertempur mati2-an dengan Im Hian Hong Kie-su.
Hay Yan mengambil dari semak2 sepotong batu, yang bukan lain adalah sebuah lengan patung.
"Cobalah kau perhatikan. Bekas Telapak tangan ini ada berapa jumlah jarinya?" uyar Hay Yan.
Itulah lengan patung yang dipergunakan sebagai perisai dulu oleh Hek Sia Mo-lie.
Gokhiol memperhatikan bekas telapak tangan itu, dan pada detik itu juga napasnya tersesak. Peras2an dingin menggigilkan sekujur tubuhnya.
"Yang ada .... hanya.... empat jari tangan ?" cetusnya.
"Bukankah yang kurang satu itu adalah telunjuknya?" tanya Hay Yan. Tatkala itu Gokhiol telah meluap-luap kegusarannya, keinginannya untuk membalas dendam bergelora keluar bagaikan air sungai Tiang-kang yang mengamuk menghancurkan bendungan. Tiba2 ia mendongak kelangit dan terdengarlah teriaknya yang mengguntur : "Ayah! Hari ini puteramu telah mengetahui siapa musuh-besarmu! Aku akan menghirup darahnya, aku aku hancurkan tubuhnya sampaikan berkeping-keping!" Begitu selesai bersumpah lalu lengan patung itu diremasnya. Sungguh hebat sekali tenaga Gokhiol! Lengan batu itu hancur dan menjadi debu ditangannya, berterbangan dihembus angin.
Gokhiol telah mempergunakan tenaga yang sepuluh kali lipat dari pada kekuatannya yang dahulu. la sendiri pun tercengang menyaksikan hasil latihannya yang dahsyat ini, "Setahun saja kita berpisah, tak dinyana kepandaian kongcu menjadi demikian tingginya bisik" Hay Yan amat kagumnya.
Gokhiol tak menghiraukan pujian sigadis. la menggumam seorang diri. "Im Hian Hong Kie-su, kau telah menyuruh aku berguru kepada Wan Hwi Totiang. Bukankah hal ini berarti setelah aku berhasil menamatkan pelajaran aku akan mencari kau untuk mengambil jiwamu. Memang roh ayahkulah yang telah mempergaruhi pikiranmu untuk melakukan perbuatan bahaya ini. Kau telah memasang perangkap untuk dirimu sendiri!" Tiba2 ia teringat pula akan pedang pusakanya Ang-liongkiam yang dahulu diselipkan dibawah sebuah batu gunung besar. Dan bahwa kelak setelah tiga tahun ia boleh datang kembali untuk mengambilnya. Hal ini diceritakannya kepada Hay Yan. Sigadis hanya tersenyum. "Kau telah ditipu! Sungguh goblok kau ini, mau mempercayai orang sampai sedemikian rupa. Marilah kita lekas pergi ketempat itu." Tanpa ayal Gokhiol berlari, diikuti oleh Hay Yan.
Sepemakan nasi kemudian sampailah mereka ditempat penyimpanan pedang Ang-liong-kiam.
Karena amarahnya telah meluap amat hebatnya, tanpa banyak bicara lagi pemuda kita mendorong batu gunung! itu. Batu gunung yang besar itu, yang beratnya ribuan kati mulai ber-goyang2. Sedangkan kedua kaki Gokhiol melesak kedalam tanah! Sekonyong2 batu raksasa itu terangkat dari atas tanah dan menggelinding jatuh kebawah jurang, disusul oleh suara menggelegar yang seperti guntur kerasnya.
Tapi lubang dibawahnya.... sudah kosong! Pedang pusaka Ang-liong-kiam sudah hilang tak berkesan, seolah-olah ditelan bumi.
Pemuda kita menahan amarahnya, ia mengawasi gadis disebelahnya. "Kali ini apabila bukanya kau yang menunjukkan kepadaku, niscaya rahasia pembunuhan ayahku akan tersembunyi terus. Sungguh tak kusangka bahwa lm Hian Hong Kie-su itulah pembunuh ayahku! Tahukah kau kini di mana tempat kediamannya?" Perlahan-lahan Hay Yan menarik tangan sipemuda untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Sekarang baru kau mengerti. Bukankah perjalanan kita jauh2 ini tidak sia2 belaka" Maka sebab itulah aku telah bersusah payah untuk bertemu denganmu dan kuharap pula agar kau suka maafkan perbuatan2ku waktu yang lalu." Sicantik berhenti sebentar dan menundukkan kepalanya.
"Tempat ini letaknya tidak jauh dari kediamanku, sedangkan haripun sudah mulai gelap. Maka lebih baik kita pergi kerumahku untuk bermalam disana. Nanti akan kuceritakan segala rahasia yang kuketahui kepadamu!" Tadinya Gokhiol masih mempunyai perasaan curiga terhadap Hay Yan, tapi kini tersapu bersihlah kecurigaan itu.
Pemuda kita memandang tersenyum dan kebetulan sekali Hay Yan tengah mengawasinya dengan sepasang matanya yang bening merayu! Hay Yan menantikan jawaban sipemuda dengan perasaan malu : "Apabila kau tidak menyuruh Tai-tai memalangkan pintu pula" jawah Gokhiol sambil bergurau, "maka undanganmu ini bagaikan. karunia dari langit ketujuh." Kedua pipi Hay Yan menjadi merah, sambil mencubit sipemuda ia meniahut : "Sebaiknya hal tersebut jangan kita ungkap2 lagi. Nanti aku tinggalkan kau!" Ber-sama2 kedua muda-mudi itu melomoat turun dari atas tebing. Bagaikan sepasang burung- walet, mereka melayang turun dibawah sinar remang2. Sebentar saja mereka sudah tiba dilembah.
---oo0dw0oo---
Keadaan di Hay-kee-cun telah malam. Permukaan air danau mencerminkan kilauannya bintanq2 ditangit, amat indahnya. Kadang2 tertiup oleh angin sepoi2 permukaan air menunjukkan gelombang berirama yang sedap dipandang.
Hay Yan mengajak Gokhiol mengitari rumahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun juga. Setiba pada sebuah gundukan tanah, ia melompat naik keatas. Kiranya dari atas gundukan itu terlihat pemandangan sekitar taman yang terpelihara dengan indah sekali. Tampak pohon Liu yang berjajar dalam dua baris menghiasi beranda. Mereka kemudian masuk kedalam ruang-tengah.
Tiba2 terdengar suara orang berseru : "Siocia datang!" Pada saat itu juga tirai tersingkap dan Tai-tai berjalan keluar. Tatkala Gokhiol menoleh kepadanya, Tai-tai mencibirkan bibirnya. "Eh, Tio Kongcu. Kau ketimpa rejeki apa" Tempat ini adalah untuk siociaku tidur, sedangkan kaulah laki pertama yang pernah memasuki ruang ini." Hay Yan lantas membentak.
"Hei, Tai-tai! Jangan kau berani berlaku kurang ajar terhadap kongcu! Lekas ambilkan teh." Terbirit-birit Tai-tai berlalu.