"Siauw niocu jangan sembarang masuk" Couw-su sedang tidur siang dan tidak boleh dibangunkan" "Urusanku sangat penting, harap bangunkan saja "Couw-sumu," ujar gadis kita.
Tie Tek Tosu menyilangkan tangannya.
"Siauw niocu" Jangan kau coba berbuat lancang! Tunggu dibawah?" Mendengar bentakan tosu itu, Hay Yan menjadi mendongkol, maka didorongnya Tie Tek Tosu hingga terpental kebelakang. Tapi pada saat itu juga terdengarlah orang berseru dari dalam.
"Biarkan gadis kecil itu masuk, Tie Tek! Surat yang dibawanya telah kubaca!" Suara itu bergema dikeempat penjuru angin, menandakan tenaga dalam yang sempurna sekali. Tie Tek Tosu tersenyum getir.
"Siauw niocu, silahkan masuk," ujarnya.
Hay Yan dengan hati berdebar masuk kedalam rumah bambu itu dan nampak dihadapannya sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu marmer putih. Seorang Tosu yang lanjut usianya sedang duduk bersila diatas pembaringan itu.
Ditangannya, ia masih memegang sepucuk surat dan diatas meja kecil menggeletak... batu Giok-Cwan! Terperanjat Hay Yan merabah saku bajunya dan... benar saja. Surat rahasia sudah berpindah tangan tanpa disadarinya sedikitpun juga. Ia mengawasi dengan terbengong-bengong, kepandaian tosu tua itu sungguh hebat luar biasa. Penuh hikmat ia berlutut dihadapan Hian Cincu.
"Lo-sin Sian," ujarnya "Tit-lie yang rendah bersujud kepadamu. Surat itu adalah dari suhuku untuk disampaikan kepada Couw-su Ya." Hian Cin-cu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata : "Pinto sudah mengetahui semuanya. Sungguh tidak kusangka bahwa Wanyen Hong Kongcu masih hidup didunia. Kini kau pulanglah dan sampaikan salamku kepadanya." Hay Yan membelalak matanya.
"Tapi..., tapi, apakah Couw-su hanya dapat memberikan jawaban itu saja?" "Aku sekarang belum dapat menjawabnya dengan segera. Tapi obat Oil yang gurumu minta akan kuserahkan, tapi kau harus ber-hati2 membawanya dan simpanlah dengan baik2 dalam baju dalammu." "Couw-su," tanya Hay Yan pula, "obat apakah itu?" "Nanti, gurumu akan beritahukan padamu sendiri," jawab Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay.
Setelah menghaturkan terima-kasihnya, maka Hay Yan meninggalkan gunung Ciong-lam San dan menempuh perjalanan siang dan malam tanpa berhenti. Begitulah ia sampai dibukit Kiam-Bu Nia, yang merupakan daerah penting untuk memasuki propinsi Su-Cwan. Disitu hanya terdapat jalanan batu pasangan yang berjajar menanjak keatas bukit.
Gadis kita meng-hitung2 dan baru diketahuinya bahwa ia telah berjalan selama tujuh hari lamanya. Iapun berpikir apakah gurunya sudah sampai atau belum" Sedang asyiknya berjalan, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melompat turun dari puncak gunung. Tapi ayal ia bersiap dalam sikap tempur dan nampak olehnya kini orang itu sudah berdiri dihadapannya! "Yan-jie, gurumu sedang menantikan kau," kata orang.
Itulah gurunya Gokhiol, Wan Hwi Sian" "Gurumu sudah bertemu denganku pagi ini," kata Wan Hwi Sian dengan suara tenang, "kami telah berjumpa dibukit Sai-cu Giam. Ia takut kalau2 ia sampai dikenali orang, sedangkan tempat ini letaknya tidak jauh dari Mo-Thian Nia. Oleh karena itu untuk sementara ia bersama Gokhiol bersembunyi di Leng-Wan-Koan. la telah memberitahukan bahwa hari ini kau akan tiba kesini, maka ia telah minta pertolonganku untuk memberitahukanmu." Hay Yan setengah tidak percaya akan ucapan itu dan iapun berkata penuh kesangsian : "Tapi suhu telah menyuruh aku berjurnpa denangnya disini, mengapa sekarang ia sudab pergi lebih dahulu sebelum menemui aku?" "Suhumu hendak mencari tahu tempat dimana Im Hian Hong Kie-su sedang bersembunyi," jawab Wan Hwi Sian dengan wajah sungguh2. "Setelah diketahuinya, barulah bersama pinto akan pergi menuntut balas" Nah, oleh karena itu ia menunggu kedatanganmu di Leng-Wan-Koan. Nah, sampai bertemu pula." Dengan sekali berkelebat Dewa Kera Terbang meninggalkan tempat itu. Hay Yan menghela napas panjang, tapi tak urung daIam hatinya ia merasa cemas dan kuatir. Sebaiknya malam itu juga ia pergi ke Leng-Wan-Koan untuk melihat keadaan sesungguhnya.
---oo0dw0oo---
Kembali pada kisah Wanyen Hong, yang telah menyuruh muridnya pergi kegunung Ciong-lam San untuk minta obat Cie-sui Wan (Pil penghenti rasa ngantuk) kepada Hian Cin-cu, serta untuk menyelidiki asal-usul tentang diri... Wan Hwi Sian. Karena Wanyen Hong merasa curiga terhadap munculnya Wan Hwi Sian didalam dunia persilatan. Lagipula kekuatiran timbul ia harus tidur kembali, dan keadaan sangat gawat.
Begitulah sejak Hay Yan berangkat, sang waktu berjalan amat pesatnya. Pada hari kedelapan, pagi2 sekali puteri kita telah berdiri menanti dibawah bukit Salju Giam. Tapi setelah ditunggu sampai petang, Hay Yan masih juga belum kunjung tiba. la menjadi gelisah.
Menjelang magib, tiba2 terdengar olehnya suara senjata saling beradu dibawa angin. Rupanya ada orang sedang bertempur. Dengan cepat ia lompat kebalik bukit dan memandang kelembah. Tampak olehnya dua bayangan manusia yang sedang bertempur diancara berkelebatnya sinar2 pedang yang berkilauan. Tatkala itu sang surya yang berwarna kemerahan sudah lambat2 menyelinap dibalik gunung. Didalam lembah sudah menjadi gelap. Wanyen Hong mempergunakan ilmunya untuk melihat dalam jarak jauh. Maka tampak olehnya salah seorang mengenakan pakaian berwarna hijau, sedangkan seorangnya lagi mengenakan pakaian berwarna hitam. Walaupun jaraknya jauh, ia dapat melihat bahwa pedang sibaju hitam mengeluarkan sinar merah. Itulah Ang-liong-kiam! Sayup2 terdengar orang berseru : "Hai, iblis Im Hian Hong! Apakah ganjalan sakit hatimu terhadap gadis kecil itu" Mengapa kau menurunkan tangan kejammu?" Itulah suara Wan Hwi Sian! "Huh," jawab orang yang berbaju hitam itu. "Hay Yan adalah puteriku. Aku bawa ia pulang, itulah urusanku.
Mengapa kau ingin turut campur urusan orang" Kalau kau belum kenal gelagat janganlah kau salahkan bahwa pedang pusaka Ang-liong-kiam tidak mempunyai mata!" Mendengar ucapan sibaju hitam itu. Wanyen Hong timbullah kegusarannya. Sekali cabut pedang Mo-HweeKiam terhunus ditangannya dan bagaikan macan betina ia, melompat turun kedalam lembah dimana dua orang tadi tengah bertempur. "Wan Hwi To-iang! Jangan lepaskan iblis jahanam itu." teriaknya. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang tandingannya, maka cepat sekali puteri kita sudah sampai dibawah lembah. Ia lompati batu2 gunung yang terjal bagaikan seekor burung walet saja yang sedang melayang turun dari angkasa.
Begitu mendengar seruan Wanyen Hong, sibaju hitam Menangkis pedang Wan Hwi Sian. Kemudian menyusul pukulan Telapak Tangan Hijau dan segera pasir serta lelatu kecil berhamburan bagaikan dihembus badai. Sesaat kemudian sibaju hitam melesat keatas, tebing lamping gunung. Hal itu tepat terjadi pada ketika Wanyen Hong sampai dibawah lembah! Bagaikan setan sibaju hitam menghilang tanpa diketahui arahnya lagi.
Wanyen Hong berhadapan dengan Wan Hwi Sian. Ia melihat pada baju tosu itu terdapat bekas telapak tangan berwarna hijau. Sedangkan yang kelihatan hanyalah empat jari! Wan Hwi Sian bermandikan peluh. Begitu melihat Wanyen Hong ia menyapanya dengan nada menyesal.
"Kalau Kongcu datang sedikit lebih cepat pasti Iblis itu takkan lolos dari kematian." Wanyen Hong tak menghiraukan ucapan orang itu, sebalikanya ia bertanya dengan kuatir.
"To-tiang, dimanakah muridku Hay Yan ?" Wan Hwi Sian berubah suram.
"Iblis itu telah menangkap muridmu. Pinto mengejarnya dari belakang tapi tengah kukejar tak di-sangka2 muncul kalian yang lantas mengambil muridmu dan melarikan diri." "Celaka!" Wanyen Hong berseru bahna kagetnya, "aku harus, menolong Yan-jie. Apakah totiang dapat membantu aku untuk mencarinya?" "Memang aku bermaksud mengajak Kongcu untuk bersama pergi kegunung Jie-Liong San untuk membuat perhitungan dengan jahanam Im Hian Hong Kie-su," jawab Wan Hwi Sian dengan penuh semangat, "jika Kongcu tidak gentar untuk menyatroni sarang harimau, maka dengan menggabung tenaga kita berdua menjadi satu, pasti kita dapat membunuh penjahat itu!" Wanyen Hong memberi hormat kepada Dewa Kera Terbang, yang lekas2 mundur seraya mengulapkan tangannya. "Jangan Kongcu mengucap terima kasih terhadapku.
Sudah selayaknya kita harus bantu membantu dalam menumpas kebathilan. Dengan menggunakan pedang MoHwee-Kiam Im Hian Hong pasti akan dapat dibinasakan oleh Kongcu." "Mula2 aku kira Wan Hwi Sian adalah orang jahat.
Sungguh keterlaluan, hampir saja aku memusuhi seorang sahabat rimba persilatan," demikianlah pikir puteri kita dalam hatinya.
Begitulah malam hari itu juga bersama Wan Hwi Sian, Wanyen Hong menempuh perjalanan kegunung Jie-Liong San. Bagaikan bayangan saja kedua petualangan itu melesat secepat angin dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah hilang dikegelapan malam ...
---oo0dw0oo---
Kembali kisah dilanjutkan tatkala Wanyen Hong melihat Hay Yan bersama-sama Gokhiol menghampirinya di Kota Hitam. Diam2 ia merasa gembira sekali. Disambutnya Gokhiol dengan ramah-tamah dan diajaknya masuk kedalam istana dibawah tanah. Setelah mereka berada dalam ruangan duduk maka mulailah Hay Yan menceritakan tentang pengalaman2nya, tatkala ia bersama Gokhiol bertempur melawan Im Hian Hong Kie-su.
Setelah itu diperlihatkannya kepada Wanyen Hong tanda bekas telapak tangan pada dada Gokhiol. Tanpa terasa lagi Wanyen Hong menggertakkan giginya.
Teringatlah kembali olehnya bahwa Im Man Hong Kiesu itu masih, terhitung kemenakan murid dari gurunya Tiang Pek Loni. Duapuluh tahun yang lalu bersama-sama Tio Hoan, lm Hian Hong Kie-su ber-sama2 bekerja didalam istana raja dari kerajaan Song. Sedangkan hubungan antara kedua orang itu demikian eratnya, se-olah2 bagaikan kakak beradik saja. Tapi apa mau dikata, hati orang tak dapat diterka. Maka yang telah datang ingin merampas mustika yang tersimpan secara rahasia itu bukan lain dari pada Im Hian Hong Kie-su, juga yang mencemarkan dirinya.
Tidaklah heran orang itu telah menutupi mukanya dengan sepotong kain hitam. Rupanya, supaya orang tidak mengenali rupanya yang asli! Demikianlah kejadian2 yang selama tujuh belas tahun dialaminya, kini ter-bayang2 pula dialam pikiran Wanyen Hong. Tiba2 ia tersadar kembali setelah mendengar suara Hay Yan "Suhu! Lekaslah kau tolong lenyapkan racun Lok-Mo Ciang dari tubuh Tio Kongcu. Kalau terlambat aku kuatir ia akan binasa." Semangat Wan Yen Hongt bangkit kembali, diawasinya wajah sipemuda yang tak ubahnya mirip seperti wajah ayahnya Tio Hoan, bekas kekasihnya! Bukan kepalang rasa pilu hatinya, iapun akhirnya berkata dengan suara perlahan.
"Hian-tit. Apakah kau sudah mengetahui tentang hubungan antara ayahmu dengan aku?" "Kongcu," jawab Gokhiol dengan tersenyum, siauwtit pernah mendengarnya dari ibuku, bahwa ayahku dahulu menjadi kepala ksatrya dari istana kerajaan Kim. Bahwa ia ber-sama2 Kongcu pergi untuk menunaikan tugas perdamaian" "Benar," ujar Wan Yen Hong, "jika kehidupanku tidak sampai dirusakkan Im Hian Hong Kie-su, aku... aku sudah menikah dengan ayahmu...." Tak sampai habis pengakuan yang mengharukan itu atau air mata mengalir dengan deras dikedua belah pipi puteri negeri Kim. Kemudian diambilnya dari dalam sakunya, sebuah cermin tembaga yang pada bagian tengahnya tersisip sebutir mutiara bersinar putih cemerlang. Gokhiol disuruh mendekatinya dan cermin itu disorotkan pada luka akibat pukulan Lok-Mo-Ciang pada dada Gokhiol.