Tampak diatas anglo mengepul asap yang menyebarkan bau harum. Begitu Hay Yan mengangkat tutup panci, maka dilihatnya daging menjangan yang hampir matang.
Disamping anglo terdapat sepanci bak-pauw, seguci arak.
Mereka jadi girang sekali.
"Inilah hidangan yang telah disediakan oleg Ang-bian Kim-Kong untuk menjamu Gorisan. Kini mari kita makan saja hidangan yang lezat ini, "berkata Gokhiol dengan tersenyum.
Setelah melihat disekitar tempat itu tiada orang lain Hay Yan lalu memandang pemuda kita dengan penuh arti serta sungguh2.
"Koko, tadi ibuku telah mengucapkan kata2 yang kurang enak didengarnya. Aku harap kau jangan menjadi kecil hati. Janganlah kau ladeni dia berdebat yang tak ada gunanya," kata Hay Yan dengan nada yang memohon dimaafkan.
"Sebagai ibumu, tak semestinya ia menyakiti hatimu.
Gokhiol menjawab dengan adem.
"Aku tahu, ibuku selamanya membenci orang Monggol.
Dia kurang senang melihat kau sebagai anak angkatnya Jendral Tuli. Maka bagaimana kalau mulai sekarang kau gunakan nama pemberian ayahmu?" kata Hay Yan.
Gokhiol tidak menyahut dan tiba2 dari luar terdengar suara orang berkata, "Sio-cia, dia busuk hatinya. Dia pakai nama Gokhiol sedangkan nama sebenarnya adalah Tio Peng. Tapi, eh!... ah!..., dia..... dia cinta padmu, Sio-cia." Kedua muda-mudi itu terkejut, dengan cepat mereka menoleh asal suara itu dan tampak Tai-tai sedang menyemat bak-pauw dari luar jendela yang lantas saja disesapkan kedalam mulutnya.
"Tai-tai!" bentak Hay Yan dengan muka yang merah, "Kembali kau mencuri! Lekas bantukan aku menyediakan barang santapan." "Ah, aku mengganggu kalian saja, jawabnya sambil memainkan matanya.
---oo0dw0oo---
MALAM itu ke-enam pendekar makan-minum dipendopo, sedangkan pembicaraan mereka berkisar tentang Tai-tai yang telah menyumbangkan jasanya yang patut dihargai.
"Dikemudian hari Tai-tai akan menjadi pendekar wanita besar" kata Im Hian Hong Kie-su, "Tetapi sayang......" la, batalkan niatnya yang ingin mengatakan bahwa Tai-tai itu seorang agak tolol sedikit. Sedangkan Tai-tai yang mendengar orang ramai memuji dirinya, ia mencibirkan bibirnya saja.
Melihat kelakuan Tai-tai yang lucu itu, para pendekar jadi tertawa dengan ramainya, tetapi sekonyong-konyong Wanyen Hong mengucurkan air mata. "Itulah semua karena salahku. Sedangkan sekarang sudah terlambat." katanya dengan terisak-isak.
Im Hian Hong Kie-su samar-samar dapat menerka bahwa kata2 sang puteri mengandung sesuatu yang tersembunyi, maka ia bertanya, "Kong-cu, apakah gerangan maksud perkataanmu itu ?" "Dulu ketika Tai-tai dilahirkan, bakatnya kecerdasannya melebihi dari anak kecil lainnya." menerangkan Wanyen Hong, "Maka karena aku merasa takut kalau2 kelak ia sudah besar, rahasiaku akan menjadi bocor oleh-nya tanpa sengaja. Oleh sebab takut dengan hal itu, aku telah berunding dengan Hay An Peng, ayahnya Tai-tai. Hasil perundingan itu ialah : Kami menutup urat syarafnya Tai-tai dibagian jalan darah Leng-su-hiat, yaitu jalan darah kecerdasannya. itulah sebabnya mengapa Tai-tai tampaknya jadi ketolol tololan, aku sungguh berdosa, aku sungguh berdosa..... " "Su-ci." memotong Liu-Bie dengan cepat, "Mengapa kau tidak pulihkan kembali jalan darahnya?" "Itu memang telah aku lakukan beberapa kali," sahut Wanyen Hong, "Namun selalu tidak berhasil. " "Bila Kong-cu tidak merasa keberatan." berkata Im Hian Hong Kie-su, "Baiklah kini aku akan mencoba untuk membuka jalan darahnya yang telah tertutup itu, tapi entah bagaimana dengan hasilnya, ini terserah pada Thian yang maha kuasa saja....." Mendengar ini Wanyen Hong menjadi girang, tergesagesa ia menghaturkan terima kasihnya pada Pendekar Si Penunggu Puncak Gunung Maut itu.
Kiranya usaha yang mulia dari Im Hian Hong Kie-su berhasil dengan sempurna. Bila dikemudian hari kita berjumpa pula dengan Tai-tai, maka sikapnya telah berobah seperti gadis remaja biasa saja.
Pada malam harinya Gokhiol tidur didalam kamarnya, Ketika ia hendak pulas, tiba-tiba terdengar ada suara orang memanggil namanya. la membuka matanya dan melihat kearah jendela. Pemuda kita masih ingat ketika tahun yang lalu Tai-tai pernah muncul dijendela itu dan melontarkan Pil Hwee Wan kedalam mulutnya. Dan berkat obat mustajab itu kepandaiannya sampai tidak menjadi musnah oleh perbuatan Gorisan. Begitulah Gokhiol menyangka bahw a Tai-tailah yang datang menjenguknya pula. la bangkit berdiri dan mememasang lilin diatas meja.
"Gie koko, akulah yang datang menjengukmu." Terdengar suara dari arah jendela.
Bagaikan kilat Gokhiol mencelat kearah jendela, sebab ia mengenali bahwa itulah suara adik angkatnya Pato, ia menjadi heran, maka dengan suara hampir berbisik ia berkata : "Adikku bagaimana kau bisa sampai kesini?" Pato tonjolkan kepalanya dari luar jendela, "Ada sesuatu urusan yang sangat penting, ibumu telah menyuruhku datang mencari kau." ia berkata sambil melompati jendela untuk masuk kedalam kamarnya Gokhiol. Kedua saudara ini yang telah lama tidak bertemu lalu saling rangkul dengan mesranya.
"Gie koko," bisik Pato, "Im Hian Hong Kie-su sangat lihay sekali kepandaiannya, maka kau jangan keras2 bicara." "Bagaimana kau tahu bahwa mereka berada disini ?" tanya Gokhiol dengan keheranan.
"Baiklah kuterangkan padamu." jawab pangeran Monggol ini, "Pada tahun yang lalu, aku pernah turut Yalut Sang untuk menyambangi Im Hian Hong Kie-su. Dia telah membantu Wanyen Hong dan kau untuk menyingkapkan tabir rahasia Gorisan. Hal ini telah kuketahui semuanya." "Rupanya kau telak mengetahui seluruhnya. Hanya sayang aku belum sempat membalas sakit hatiku!" jawab Gokhiol.
"Siapa suruh kalian ditipu oleh Hian Cin-cu" Gie koko, kau sekarang juga mesti turut aku pulang ke Holim. " "Ada urusan apa?" tanya Gokhiol dengan kaget.
"Kha-khan yang agung telah jatuh sakit, para tabib tak berdaya untuk berbuat apa-apa lagi. Kini keluarga didalam istana telah bersepakat untuk mengangkat ayah kita sebagai gantinya. Tapi Tiohodai dan Bee-cin Onghouw Cin-sie tak menyetujuinya dan secara diam2 bersepakat pula untuk mengangkat puteranya yang bernama Kubisu. Sebaliknya mereka merasa jeri terhadap putera2 ayah yang berjumlah tujuh itu ....." "Eh! Gie-hoe hanya berputera enam orang, kenapa kau katakan ada tujuh?" menanya Gokhiol dengan heran.
"Apa kau bukannya putera ayahku?" berkata Pato dengan bangga, "Rupanya kau masih belum tahu bahwa sejak kau meninggalkan Holim, ayahku telah mengumumkan dihadapan para tetua istana bahwa kau bukannya anak-angkatnya lagi. Melainkan anak kandungnya sendiri. Sudahlah, sekarang jangan kau tanyakan lagi yang melit-meIit padaku. Baiklah kau dengarkan penuturanku yang penting ini." Berbagai perasaan berkecamuk didalam benaknya Gokhiol, ketika ia mendengar yang saudara angkatnya bakal menuturkan suatu hal yang penting sekali baginya.
"Ong-hauw merasa takut kepada kita bersaudara, Sepuluh hari yang lalu ia telah memanggil kami urtuk datang menghadap, tapi ini kiranya adalah suatu jebakan saja dan.... kami kena dikurung. Lima saudara kita kena ditawan, yang berhasil melarikan, diri hanyalah aku seorang saja. Disepanjang jalan banyak aku menemui rintangan serta bahaya, namun semuanya itu dapat aku atasi dan akhirnya- aku dapat bertemu dengan kau, saudaraku yang sejati." Mendengar berita ini Gokhioi menjadi pucat bahna terkejutnya, sebab ia tidalk mengira yang diistana Mongol sedang bergolak dengan ramainya untuk merebut takhta kerajaan! Kemudian Pato menyambung pula ceritanya "Ayah kini sedang membawa pasukannya untuk menggempur kota Ciyung-koan, hingga aku tak dapat menghubungi beliau.