Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 38

Memuat...

"Diluar ada orang!" bisiknya.

Cepat2 Lie Gan menjambret busurnya dan membuka jendeIa kamarnya untuk melihat keluar. Baru saja jendela terbuka atau mendadak desiran angin menyambar masuk.

Pada saat itu juga jeritan mengerikan keluar dari mulut Lie Gan, sekonyong-konyong ia roboh dilantai.

Berbarengan dengan jatuhnya Lie Gan, maka sesosok bayangan hitam muncul dijendela. Ong Hoan terperanjat bukan kepalang. Tanpa berpikir panjang lagi ia mengangkat tangannya, dengan penuh kegusaran ia pukul tamu yang tak diundang itu hingga terpental keluar.

Tetapi sebaliknya ia merasa semacam hawa dingin menyerang tubuhnya. Tanpa ayal Ong Hoan menutupi seluruh jalan-darahnya seraya lompat keIuar melaIui jendela. Tapi baru saja ia sampai diluar atau mendadak kakinya menjadi lemas. Maka dengan mengumpulkan tenaga yang penghabisan ia berteriak : "Cujin ada musuh....!" Suaranya berkumandang keseluruh penjuru angin, dan setelah itu seluruh pandangan ong Hoan menjadi gelap.

Menyusul mana ia roboh.....

Im Hian Hong Kie-su yang sedang bersamadi didalam kamarnya, tergetar hatinya. Pada saat itu juga ia mendengar dua macam gelombang suara desiran angin.

Insaf akan kedatangan musuh2 yang tangguh, ia mengganti pakaiannya dan mengenakan baju wasiat Kilin Hok Sin Kok atau baju lapis pelindung tubuh. Lalu diambilnya pula Biat-hwee Hud-tim atau Pengebut-api yang terbuat daripada bulu jenggot gajah laut. Disisipkannya senjata itu pada ikat pinggangnya, kemudiarn barulah ia mengenakan baju biasanya lagi.

Mendadak dari luar terdengar suara gedebukan dan tampaklah dua buah benda besar menghantam dinding hingga hancur, dan terus melayang masuk kedalam.

Itulah dua ekor babi hutan besar yang beratnya ratusan kati. Babi2 itu sudah mati dan kepalanya pecah berlumuran darah.

Seraya tertawa dingin Im Hian Hong Kie-su menyambut hadiah istimewa tersebut dengan kedua belah tangannya.

"Wan Hwi Sian!, malam ini kau baru datang kemari! Sungguh sudah banyak kejahatan yang telah kau lakukan.

Bagus! Aku justru hendak menyingkap kedok rahasiahmu!' Pada waktu yang bersamaan Wanyen Hong yang datang bersama sama Wan Hwi Sian, sudah menghunus pedang pusaka Mo-hwee-kiam. Tiba2 terdengar ditelinganya orang berbisik.

"Wanyen Hong Kongcu, dengarlah! Orang yang datang bersamamu itu justru adalah musuhmu! Dialah Iblis yang selalu berganti rupa." Wanyen Hong menyadari bahwa penghuni dalam rumah itu tengah berbicara dengannya secara rahasia. Ilmu menyalurkan suara diudara itu mirip dengan ilmu pendeta2 kaum Bit-cong Pay yang bernama Thwan lm Jie-Bie! Ilmu itu menunjukkan tenaga-dalam yang tinggi sekali! Dengan cara demikian, hanya orang yang diajak bicara saja yang dapat mendengar, orang lain tidak. Wanyen Hong sangat terkejut akan apa yang baru didengarnya itu.

Wan Hwi Sian tertawa dingin, "Iblis Im Hian Hong!" ia berteriak mencaci. "LekasIah keluar untuk menerina ajalmu" Kau sudah membunuh Hay An Peng, menculik Hay Yan. Hah!, hari ini tamatlah riwayatmu." Berbareng Wan Hwi Sian menggerakkan tangannya, memukul amat dahsyatnya. Biasanya pukulan angin Wan Hwi Sian dapat membuat rubuh dinding batu, maka sudah semestinya dinding kuil Jie-Liong Bio takkan dapat menahan serangannya. Namun sungguh aneh" Beberapa kali Dewa Kera Terbang memukul, tapi rumah itu tidak roboh, hanya pelahan-lahan terbenam kedalam tanah sehingga rumah itu kini lebih rendah berdirinya dari semula.

Melihat kejadian itu, Wan Hwi Sian berdiri mejublak.

Begitu pula Wanyen Hong melongo keheran-heranan.

Sekonyong-konyong ditelinganya terdengar pula bisikan halus: "Kongcu yang berdiri disisimu itu tidak lain dari pada iblis jahanam yang dulu menyamar menjadi Tio Hoan. Ia mengetahui bahwa aku mengetahui rahasianya, maka ia hendak mempergunakan pedang Mo-hwee-kiammu untuk membinasakan aku. Apabila kau tak percaya, kibaskanlah pedang Mo-hwee-kiam dekat tangan-kanannya dan waktu itu juga telunjuk palsu pada tangan sebelah kanannya akan locot dihadapanmu." Selesai membisikkan Wanyen Hong, Im Hian Hong Kiesu membentak dengan suara mengguntur.

"Wan Hwi Sian, kau telah menipu Wanyen Hong Kongcu sebagai Tio Hoan. Tepatlah dikatakan bahwa kau berhati serigala dan bernapaskan paru2 anjing ...." Bukan kepalang gusarnya Wan Hwi Sian! Dangan mata menyala-nyala ia berseru kepada Wanyen Hong.

"Kongcu, lblis itu menyemprotkan darah kepada kita.

Apa yang kita nantikan lagi?" Sambil menarik tangan sang puteri, berbareng ia menghantam bertubi-tubi menghancurkan dinding kuil dengan telapak tangannya.

Serempak dengan itu dari dalam rumah berkelebat keluar dua benda yang lantas saja hancur berkeping-keping. Itulah babi2 hutan yang dilemparkan keluar oleh lm Hian Hong Kie-su! Tiba2 angin berkesiur dari dalam rumah dan sesosok bayangan orang muncul keluar.

Wan Hwi Sian mengayunkan tangannya dan bagaikan kilat senjata-gelapnya membeset diudara malam, menyilaukan sinarnya. Im Man Hong Kie-su berdiri tegak dengan Biat-hwee Hud-tim ditangannya Sekali dikibaskan hud-tim itu. maka senjata2 gelap itu lantas menempel pada bulu2 hudtim, indah nampaknya bagaikan perhiasan saja! "Ha-ha-ha! Sungguh suatu timpukan yang jarang tandingannya dari ilmu Liu-seng Yap-cu Piauw!" Demi mendengar teriakan itu, hati Wanyen Hong terkejut! Diawasinya orang yang bersenjatakan Hudtim itu dengan seksama, sibaju hitam! Dikepalanya terdapat sebuah topi yang biasa dipakai oleh seorang sastrawan, jubahnya amat besar, sedangkan lengan bajunya bergoyang-goyang tertiup angin.

Boleh dikata tidak ada perbedaannya dengan sibaju hitam yang biasa ditemui oleh Wanyen Hong..... tetapi...

ada perbedaannya diantara keduanya. Perbedaannya, ialah yang dulu sinar matanya ber-nyala2 seram menakutkan, sebaliknya yang ini dan sekarang berada dihadapannya ....wajahnya jernih dengan sikapnya yang agung.

"Siapakah gerangan orang ini?" pikir Wanyen Hong dalam hatinya.

Seketika itu wajah Wan Hwi Sian menjadi pucat.

"Im Hian Hong Kie-su!" teriaknya dengan gemetar, "Kiu-cu Liu-seng itu adalah milikmu. Semenjak beberapa tahun ini sudah banyak korban yang jatuh akibat tangan jahatmu. Aku hanya membalas dengan cara yang sama, agar kau binasa dengan nasib serupa seperti korban2-mu." "Ah, kiranya begitu!" jawab Im Hian Hong sambil tersenyum, "Hek Yauw Hu-lit Sian! Aku Gak Hong mengucap banyak terima kasih atas pengajaranmu!" Demi Wan Hwi Sian disebut Hu-lit Sian, Wanyen Hong mendadak menjadi pucat air mukanya.

"Apa"! Kau... Gorisan"!" seru Wanyen Hong dengan gemetar seraya menuding kepada Wan Hwi Sian. Adapun gerakan itu seolah-olah Wanyen Hong hendak menyingkap wajah aslinya Wan Hwi Sian! "Kau"!...." Tetapi sampai disitu saja perkataannya, Wan Hwi Sian yang kini bermandikan peluh tertawa dengar suara parau : "Kongcu, kau jangan mendengar obrolannya.

Ia hendak mengadu-dombakan kita. Waspadalah!" Mendadak, mendadak saja Wan Hwi Sian melompat kesamping! Dengan gerakan yang amat pesat, ia menyerang Im Hian Hong Kie-su! Sebagaimana diketahui Wan Hwi Sian mahir menggunakan ilmu meringankan tubuh dari Barat-laut, maka kini dipergunakannya tipu Leng-wan Ya-cong atau Kera-sakti berloncatan dimalam-hari. Gerakannya sangat gesit dan lincah serta cepat bagaikan halilintar! Im Hian Hong Kie-su hanya melihat bayangan berkelebat dan tiba2 saja mukanya kena telapak tangan yang bersinar hijau.

"Plak!" lm Hian Hong Kie-su terhuyung-huyung kebelakang.

Mata Wanyen Hong membelalak. Melihat tanda bekas telapak tangan berwarna hijau dileher orang, hatinya menjadi dingin. Apa yang dilihatnya ialah bahwa bekas telapak tangan itu... berjari empat! Puteri negeri Kim menggigil kedinginan. Nafasnya turun-naik amat sesaknya saking menahan, amarahnya yang bergelora. Terbayang-bayang pula dalam pikiranya perjamuan maut di Kota Hitam.

Im HianHong Kie-su menggeletak di atas tanah bagaikan mayat.

Seraya menjerit bagaikan keranjingan Wan Hwi Sian lompat menerjang pula untuk membunuh lawannya yang kelihatan sudah tak berdaya lagi, yang sedang menunggu kematian saja.

Post a Comment