Sitolol menjadi bingung dan tanpa pikir panjang lagi buru2 ia mendekati siiblis itu dan dengan pedangnya ia menusuk kaki orang! "Hai!, ujar Wanyen Hong seraya memuji, "kalian berempat tak ada seorangpun yang berhasil menjatuhkannya. Sebaliknya dengan tak di-sangka2 Tai-tai inilah yang berhasil menusuk kaki orang!" "Tapi!" Ujar Wanyen Hong seterusnya, "Kalau kita membunuh seekor ular sampai tidak mati, akhirnya kita sendiri yang akan digigit. Baiklah kita turun kebawah untuk memeriksa, dan jangan sampai ia dapat meloloskan diri lagi." Gokhiol melongok kebawah jurang yang nampaknya dalam sekali, sedangkan kabut2 yang terapung diantaranya tak memungkinkan untuk orang melihat kedasar lembah.
"Baiklah aku dahulu yang turun untuk melihatnya," Demikian Gokhiol mengajukan usul.
Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Leng-Wan Pay yang telah dipelajarinya dari Wan Hwi Sian alias Gorisan, pemuda kita melayang-layang turun kekaki gunung, Im Hian Hong Kie su dan yang lain2 menyusulnya dari belakang. Walaupun bagaimana pandainya ilmu meringankan tubuh Gokhiol, namun untuk turun dari puncak gunung itu yang jaraknya masih ribuan tumbak, dan jalannya ber-liku2, maka tak dapat dikatakan pekerjaan yang ringan.
---oo0dw0oo---
SETELAH beberapa waktu berlari, Gokhiol melihat dihadapannya sebuah sungai yang airnya telah membeku jadi es, sesampainya disitu, maka dilihatnya diatas permukaan es itu terdapat bekas2 telapak kaki orang.
Sedangkan disana-sini masih tertinggal tetesan darah segar yang sangat menyolok sekali! Buru2 ia memberi isyarat kepada pengikut2nya untuk datang ketempat sungai itu.
"Celaka," seru Im Hian Hong Kie-su, setelah melihat bekas2 dipermukaan es itu, "Kalau begitu jahanam itu belum mati. Darah itu menunjukkan bahwa ia hanya terluka." Tiba2 Wanyen Hong, berseru tertahan, perasaan kaget membayang dimukanya. "Hei! Disini ada dua macam telapak kaki!" teriaknya.
Belum Im Hian Hong kie-su menjawab, atau Liu Bie berseru : "Lekas tengok kemari!" Dengan berbareng mereka menoleh ketempat yang ditunjukkan oleh Liu Bie. Tampak seperti rambut dari senjata Hoed Tim yang tersebar diatas salju.
"Iih, inilah rambut senjata Thian-cin Hoed!" ujar Wanyen Hong dengan suara lirih.
"Baiklah kita kejar" kata sipenunggu Puncak Gunung Maut. Rupanya barusan Gorisan telah bertempur dengan orang ditempat ini. Kukira ia belum begitu jauh perginya!" Gokhiol memimpin jalan menyusuri sungai es itu.
Mo-thian Nia dikelilingi gunung2 yang jalan2nya berliku2 sukar dilewati. Tatkala mereka sampai dimulut lembah, terdengarlah seperti ada ombak air yang memukul pantai. Disana ada orang yang sedang bertempur! Berenam mereka memanjat ketempat yang agak tinggi, dan nampaklah tidak seberapa jauh ...... seorang pendeta tua berjubah putih sedang mengejar Gorisan sambil ber-tubi2 mengirim pukulan. Pukulan itu hebat sekali! Meskipun Gorisan pincang sebelah kakinya, tapi kegesitannya tak beda seperti biasa saat ia dalam keadaan sehat. Pendeta itu memukul dengan kedua telapak tangannya dibarengi suara menggelegar keras yang membisingkan kuping. Badan Gorisan ber-goyang2 kena angin pukulan2 tersebut. Untuk menghindarkan diri, terpaksa ia berjumpalitan melarikan diri.
Hay Yan sangat awas, segera dikenalinya siapa Pendeta tua itu.
"Tak salah" ujarnya. "Pendeta itu Hian Cin Cu dari gunung Ciong Lam San. Dialah orangnya yang suhu suruh aku menyampaikan surat kepadanya." "Kau benar" ujar Wanyen Hong. "marilah kita bantu Totiang!" Berbareng mereka turun ketempat orang sedang bertempur. Tiba2 Gorisan berhenti berlari dengan ditangannya terhunus sebilah pedang. "Jahanam!" teriak puteri Negeri Kim, "jangan kau lari!" Wanyen Hong memotong jalanan Orang dan dengan pedang Mo-Hwee Kiam ia menyerang, sinar berkilauan menyambar. Gorisan tak menganggap remeh akan kelihayan pedang sang Puter. Segera ia berjongkok dan mengibaskan tangannya.
Maka segumpalan angin menyapu batu2 kearah Wanyen Hong! Wanyen Hong berkelit, tiba2 dari belakang Im Hian Hong Kie-su memburu datang, dengan bajunya dikibaskan, sehingga batu2 beterbangan dan berjatuhan kembali ketanah. Saat itu Hian Cin-cu melompat keudara seraya membentak "Hei, murid murtad! Bila kau masih mencoba kabur, akan kuambil jiwamu dengan Hwee-liong Piau.!" Tadi Hian Cin-cn baru datang dibawah gunung.
Didengarnya suara orang berteriak jatuh terguling dari atas.
Ketika diawasinya orang itu, ternyata dandanannya sebagai imam. Diam2 Hian Cin-cu merasa heran. Buru2 ia bersembunyi dibalik batu, dilihatnya pada kaki orang masih tertancap sebilah pedang, sedangkan darah segar mengalir terus dari lukanya.
Begitulah setibanya dibawah, imam itu menyembunyikan diri dibalik gundukan batu2. Setelah Hian Cin-cu mengawasi orang itu lebih tegas, hatinya menjadi terkejut! Orang itu menyingkapkan kedoknya, hingga tampak wajah aslinya yang sangat menyeramkan.
Kiranya orang itu bukan lain adalah ... Gorisan adik seperguruannya.
Mengingat surat Wanyen Hong yang telah minta pertolongan kepadanya untuk menyelidiki asal-usul Wan Hwi Sian, kini tak dinyana bahwa manusia yang mencemarkan nama baik murid turunan ketiga dari Hwee Liong Pay adalah ... simurid murtad itu! Begitulah Hian Cin-cu melangkah kedepan seraya menegur: "Gorisan Su-tee, apa kau masih mengenali aku" Benar saja siiblis masih mengenali saudara seperguruannya, maka iapun berkata dengan semangat : "Su-heng, lekas tolonglah aku. Gak Hong telah melukai aku dan ia hendak menurunkan tangan jahat! "Gak Hong sudah lama mengasingkan dirinya di JieLiong San. Selama duapuluh tahun ia tak pernah turun gunung. Sekarang ia muncul kembali. Tentunya kau yang telah menyerang dia dahulu. Kalau tidak, bagaimana ia bisa melontarkan kau kedalam jurang?" Gorisan mengambil kesempatan orang tengah Iengah tiba2 bagaikan kilat ia lompat maju. Dengan tipu Cin-Hong Tiam-Hiat atau ilrmu totok jalan darah pengejar angin dari It Yang Cie atau yang disebut juga Telunjuk positip, ia menyerang Hian Cin-cu! Hian Cin-cu tiba2 merasakan jidatnya seperti ditusuk.