Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 33

Memuat...

Setelah tiba dihadapan Wanyen Hong, gadis kitapun menjatuhkan dirinya ditanah. Sambil, menangis tersedu-sedu dituturkannya perihal kematian Hay An Peng, yang telah terbunuh oleh Im Hian Hong Kie-su. Diberikan pula senjata rahasia Kui-cu Lui-seng kepada gurunya.

Wanyen Hong gemetar sekujur tubulinya tatkala mendengar semuanya yang diceritakan oleh muridnya, mengenai Gokhiol dan Wan Hwi-Sian.

"Wan Hwi To-tiang yang kau jumpai itu berapa kira2 usianya?" tanya Wanyen Hong dengan nada curiga.

"walaupun sejak dahulu aku belum pernah mendengar tentang orang tua itu, didalam rimba persilatan. Heran! Bagaimana ia dapat mengetahui bahwa aku ini adalah puteri dari negeri kerajaan Kim" Dan selain itu, bagaimana ia dapat mengetahui terlebih dahulu akan kematian Hay An Peng?" "Suhu," jawab Hay Yan, "sebelum mereka pergi aku teiah menanyakan apabiIa; Wan Hwi To-tiang mengetahui.

dimana Im Hian Hong Kie-su berada. Ia katakan bahwa Iblis itu tidak tentu tempat tinggalnia, tapi apabila suhu kelak memerlukan bantuannia, maka dalam waktu sepuluh hari suhu dapat berjumpa dengannya diatas bukit Sai-cu-giam di Kiam Kok" Wanyen Hong mengerutkan keningnya.

"Dibalik ini tentu orangtua itu ada maksud apa2. Yan jie, baiklah akan kutulis sebuah surat rahasia. Kau harus dengan segera pergi kegedung Hu-tim Koan digunung Ciong-Iam San untuk menyerahkan suratku itu kepadai Hian Cin-cu yang menjadi kepala dari kuil disana. Dia adalah murid dari Song Hie Liam yang kini sudah lanjut usianya. Kemudian kau harus lekas2 kembali untuk menyusul aku digunung Kiam Bun dalam jangka waktu delapan hari. Jangan sampai meleset perhitunganmu!" "Muridmu pasti akan menjalankan tugas suhu dengan baik," jawab Hay Yan dengan sungguh2 "Hanya aku belum mengetahui hubungan apa yang ada antara suhu dengan pendeta Hian Cin-cu?" Sambil menulis surat Wanyen Hong menjelaskan kepada muridnya : "Hian Cin-cu berasal dari partai Bu-tong Pay.

Kini ia telah menjadi Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay. Pernah ia menjabat sebagai koksu agama To-Kauw diistana negeri Kim dan menjadi sahabat karib dari guruku.

Nah, kalau nanti dilihatnya suratku ini dengan tanda pengenalku, pasti ia akan bertindak. Ingatlah! Kau harus kembali menurut waktu yang telah kutetapkan, janganlah sampai terlambat." Berbareng dengan selesainya surat itu, Wanyen Hong melepaskan gelang Giok-cwan dari pergelangan tangannya dan kemudian dibungkusnya menjadi satu dengan surat rahasia tadi. Pada saat itu juga Hay Yan meninggalkan Kota Hitam untuk menempuh perjalanan siang dan malam ...

---oo0dw0oo---

MAKA beralihlah kini cerita pada pada pahlawan kita Gokhiol yang tengah mengikuti gurunya Dewa Kera Terbang, melewati gunung Wi-Lian San untuk kembali ke Mo-Thian Nia.

Disepanjang jalan hatinya tidak tenteram, sebab ia telah Melanggar perintah gurunya dan takut dimarahi.

Wan Hwi Sian dapat menangkap pikiran muridnya, iapun mesem. "Muridku, segala yang telah kau perbuat telah kuketahui semuanya. Peruntunganmu masih bagus, kalau tidak niscaya nyawamu sudah melayang." "Suhu!" jawab Gokhiol dengan rasa herannya, "bagaimaha suhu mengetahui bahwa aku telah kena pukulan Telapak Tangan Hijau dari Im Hian Hong Kiesu?" "Aku tidak menyebut tentang kau kena pukulan Lok-moCiang itu, melainkan bahwa Wanyen Hong bermaksud mengambil jiwamu' Mendengar keterangan gurunya itu, pemuda kita makin tidak mengerti. "Apa suhu juga mengetahui bahwa Hek-Sia Mo-lie itu adalah sama orangnya dengan Wanyen Hong" la telah menyembuhkan luka2-ku bagaimana suhu dapat mengatakan bahwa ia ingin mengambil jiwaku?" "Huh!" bentak Wan Hwi Sian dengan suara dihidung.

"Apakah kau kira aku tidak mengetahui segala-nya" Wanyen Hong bukannya orang baik2. la telah mengetahui bahwa kau tak sudi mengingkari Jenderal Tuli ayah angkatmu dan kelak kau pasti akan menyumbangtan tenagamu demi kepentingan bangsa Monggol, sebab itulah ia bermaksud memusnahkan bibit penyakit yang akan merugikan terhadap kepentingannya negeri Kim." Sejenak Wan Hwi Sian berhenti, kemudian meneruskan.

"Oleh karena itulah ia telah membujuk Hay Yan untuk menurunkan tangan jahat terhadapmu. Mengenai luka didadamu, sekalipun tidak diobati, kau takkan binasa oleh karenanya. Bukankah kau mengetahui sendiri bahwa selama setahun ini kau sudah berlatih ilmu Sui Hwee To yang tak mempan air dan api" Mana dapat racun Lok-mo-ciang masuk kedalam tubuhmu?" Gokhiol mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Suhu," tiba2 ia berseru, "kau telah menjanjikan kepada Wanyen Hong untuk berjumpa denganmu di Kiam Kok, agakah benar2 kau ingin membantunya untuk membunuh Im Hian Hong Kie-su?" "Benar," jawab Wan Hwi Sian, "Im Hian Hong Kie-su kepandaiannya tinggi sekali, tetapi sebaliknya terhadap pedang Mo-Hwee-Kiam ia gentar menghadapinya. Nah, begitulah rencanaku! Apabila Im Hian Hong Kie-su sampai dapat ditaklukan, barulah aku membekuk Hek Sia Mo-lie dan kemudian akan kubawa mereka ke Holim untuk memperoleh hadiah dari ayah angkatmu Jenderal Tuli.

Dengan jasaku yang besar ini beliau pasti akan gembira sekali. Selain itu kaupun dapat membalas Sakit hatimu dan dihadapan ayah angkatmu kau akan meyakinkan kepercayaan lebih teguh terhadap dirimu. Nah, bukankah kau tidak sia2 mempunyai aku sebagai guru?" Mendengar ucapan gurunya itu, bukan main besar hatinya pemuda kita. Lekaslah ia berlutut dihadapan sang guru untuk menyatakan terima kasihnya. Tiba2 ia teringat akan nasib Hay Yan.

"Suhu, adapun murid Wanyen Hong yang bernama Hay Yan itu, orangnya baik sekali." Sebuah senyuman tersungging pada bibir Dewa Kera Terbang tatkala ia berkata : "Hm, kau sudah terpikat oleh gadis cantik itu" Hati2lah, ia selama ini telah mempergunakan tipu Bie-jin-kee terhadapmu. Dahulu tatkala kau baru saja meninggalkan Holim dan berada dilembah Ban-Coa-Kok, bukankah kau telah diserang oleh dua orang See-hek" Sebenarnya yang berada dibelakang peristiwa itu adalah... Hay Yan sendiri! Kemudian karena usahanya gagal, ia telah muncul sendiri untuk merebut pedang pusakamu Ang-liong kiam. Apakah dengan kejadian tersebut kau masih berpendapat bahwa Hay Yan itu hatinya baik?" Gokhiol tak sependapat dengan apa yang diuraikan oleh gurunya terhadap Hay Yan, namun hal itu disimpannya saja dalam hatinya. "Suhu, sekarang kita kemana?" ia bertanya.

"Muridku, kau harus benar2 menurut perintahku. Dua hari lagi kita akan tiba didaerah Ceng-hay. Kau harus menyampaikan suratku kekuil Bu-liong Sie yang letaknya dibawah gunung Siok-kit San." "Tapi, suhu." Gokhiol menegurnya dengan heran.

"Daerah itu termasuk wilayah See-Hek. Sedangkan suhu sendiri mengetahui bahwa kaum See-Hek itu adalah musuh besar dari Monggolia." "Aku tahu," jawab Wan Hwi Sian, "Tapi aku hanya menyuruhmu pergi kekui! Bu-liong Sie untuk menemui Ang-bian Kim-kong disana. Bagaimana orang2 See-Hek dapat megetahui tentang asal-usulmu" Setelah selesai melakukan tugasmu, kau harus lekas kembali ke Leng-Wan Koan dan menunggu berita selanjutnya dariku." "Mengapa suhu tidak membiarkan teecu mengikuti suhu saja untuk ber-sama2 mencari Im Hian Hong Kie-su?" tanya pemuda kita dengan nada tidak puas.

"Apa kau ingin menghantarkan jiwamu dengan konyol"' jawab Wan Hwi Sian dengan gusar. "Kelak, apabila aku berhasil membekuk Im Hian Hong Kie-su, maka dengan sendirinya kau dapat kesempatan untuk menuntut balas terhadapnya." Gokhiol terdiam. Dua hari kemudian tibalah guru dan murid itu digunung Siauw-cek San dan dikejauhan nampaklah pegunungan Siok-kit San. Wan Hwi Sian menyerahkan sepucuk surat kepada Gokhiol dan mengulangi lagi pesanannya, setelah itu merekapun saling berpisah.

---oo0dw0oo---

Cerita beralih pada Hay Yan yang tengah membawa surat rahasia dari Wanyen Hong yang harus disampaikan kepada Hian-Cin-cu digunung Ciong-lam San.

Adapun Ciong-lam San merupakan anak cabang dari pegunungan Cin Nia didaerah wilayah Siam-lam (daerah propinsi Siam-say bagian selatan yang beberapa ratus lie panjangnya).

Tatkala Hay Yan sampai dikaki bukit ia menanyakan letak tempatnya Hu-tim Koan kepada penduduk yang berdiam disekitar daerah itu. Setelah mendapat beberapa petunjuk, iapun meneruskan perjalanannya mendaki gunung. Adapun kuil Hu-tim Koan letaknya dilembah In-bu Hoan, bentuknya sangat mewah dan mentereng pada pilar pintu gerbang besar terukir kata2 : Sin Sian In Kong Kwat.

Gadis kita melewati pintu gerbang itu dan ia terus disambut oleh petugas penerima tamu, yaitu Tie Tek Tosu.

Melihat Hay yan yang masih sangat muda dan ingin menemui Ciang-bun-jin, maka Tie Tek Tosu merasa heran".

"Siauw niocu datang dari Mana" Couw-su kami sudah lama tidak menerima orang luar. Siauw niocu mempunyai urusan apa dengan beliau" Nanti biarlah siauw-te yang menyampaikannya." Hay Yan tak sabar hatinya, surat rahasia yang harus disampaikan sendiri kepada Hian Cin To-tiang. Harap kau memberitahukan kepada beliau dengan lekas" Mendengar sigadis mempunyai urusan penting, Tie Tek Tosu tergerak hatinya. "Silahkan Siauw nioicu masuk dan tunggulah dikamar tamu. Biarlah siauw-te memberitahukannya kepada Couw-su Ya." Hay Yan diantarkan keruangg tetamu. Setelah melewati beberapa lapis rumah dan pekarangan, maka sampailah mereka pada sebuah ruangan kecil. Disitu ada seorang To-tong keci1 menyajikan teh. Tie Tek Tosu meninggalkan gadis kita diruangan itu.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Tie Tek Tosu masih belum muncul juga. Hay Yan menjadi gelisah, ia keluar dari ruangan tamu untuk berjalan dipelataran rumah.

Begitulah tanpa disengaja sampailah ia pada tempat dimana tertanam banyak pepohonan dengan sebuah jalan kecil Yang terbuat dari batu2 menuju kesebuah bukit. Diatasnya berdiri sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Keadaan disekitarnya sangat sunyi, nampaklah Tie Tek Tosu tengah berdiri tegak didepan rumah bambu itu.

Hay Yan menjadi mengkel. Mengapa tosu itu berdiam saja disitu dan tidak masuk kedalam rumah". Sungguh kelakuan mereka itu sangat tolol kelihatannya. Hay Yan berlari menanjak bukit, gesit sekali seperti kijang. Begitu sigadis datang, Tie Tek Tosu lantas membentak.

Post a Comment