Lama sekali ia mengawasi puteri kita yang cantik jelita, barulah ia membuka suara : "Aku adalah rakyat-jelata yang juga disebut bangsa Kay-pang. Kongcu tak usah mengetahui siapa namaku, hanya aku ingin menyampaikan berita padamu bahwa raja Kim, Wanyen Ping telah mangkat beberapa hari yang lalu. Sedang sekarang sebagai penggantinya yang duduk diatas takhta adalah Wanyen So-cu. Lohu datang,kesini sengaja untuk memberitahukannya kepada Kongcu." Mendengar berita tersebut, Wanyen Hong menjadi pucat. "Apakah kau tidak berjusta" Kau telah merusakkan keretaku, bagaimana aku dapat kembali ke Pian-liang untuk berkabung?" Sipengemis melibatkan ularnya pada pinggangnya, lalu jawabnya : "Lohu mempunyai dua ekor kuda yang bagus.
Kau boleh meminjamnya. Tunggulah sebentar, nanti akan kuambilkan kuda2 itu." Sehabis berkata ia memukulkan tongkatnya ketanah, dan tubuhnya melesat bagaikan seekor burung, terbang, keudara. Dalam sekejap mata saja ia telah menghilang diantara semak2.
Im Hian Hong Kie-su melihat orang berlalu berkata dengan lirih : "Orang itu sangat aneh. Melihat ilmu ringan tubuhnya, ia tidak berada dibawah kita. Mungkin juga ia adalah seorang utusan dari Pian-lang." "Bila kulihat tadi waktu mengutarakan perasaannya, ia menunjukkan rasa sedih yang sungguh2" ujar Wanyen Hong. Baru saja sang puteri habis bicara, tiba2 terdengar suara derapan kaki kuda yang mendatang kearah mereka. Tak lama menyusul dua ekor kuda ber-lari2 menghampiri, sesampainya dihadapan mereka kedua kuda itupun berhenti berlari. Tapi yang mengherankan ialah sipengemis tak kelihatan lagi mata hidungnya! Hay Yan melihat disalah satu pelana kuda itu tergores huruf yang berbunyi : "Kuda ini kuhadiahkan kepada kalian. Sampai berjumpa pula." Tulisan itu menunjukkan jiwa yang bersemangat. Tulisan itu rupanya dibuat dari goresan kuku tangan.
"Ia pasti takkan kembali kesini," ujar Im Hian Hong Kiesu dengan kaget, "siapakah gerangan sipengemis luar biasa itu?" Dengan air mata berlinang Wanyen Hong berkata : "Kalau dilihat begini, maka benarlah saudaraku telah mangkat. Walaupun aku kembali ketanah airku, tak mungkin aku dapat bertemu pula dengannya." "Kongcu tak usah bersedih hati," menghibur Sipenunggu Puncak Gunung Maut Im Hian Hong Kie-su, "ini juga kita dapat sampai di Nie Ho Cun, suatu dusun yang sudah termasuk wilayah Kim. Disana kita dapat ketahui benar tidaknya berita itu." Segera kedua kuda dari kereta tadi dilepaskan dan bersama dua ekor kuda pemberian sipengemis, maka berangkatlah ke-empat tokoh rimba persilatan itu dengan masing2 menunggang seekor kuda. Menjelang petang hari, tibalah mereka didusun Nie-Ho Cun Dusun tersebut termasuk wilayah negeri Kim. Tampak jauh dari dua barisan obor sedang bergerak mendatang kejurusan mereka.
Wanyen Hong terkejut, sedangkan Tai-tai berseru : "Hati2 Didepan banyak serdadu membawa tengloleng undang datang kemari" lm Hian Hong Kie-su melihat bahwa mata Tai-tai sangat tajam sekali, cepat2 bertanya.
"Tai-tai, apakah pada tengloleng itu tertulis huruf2 berwarna merah?" "Tidak," sahut Tai-tai, ".... semuanya ditulis dengan huruf hitam!" "Celaka!" seru Sipenunggu Puncak Gunung Maut "Kongcu benar2 telah mangkat. " Tak tahan lagi, Wanyen Hong menekap mukanya seraya menangis menggerung-gerung.
Kini rombongan sudah tiba. Mereka berbaris menjadi dua buah jalur. Dari antara rombongan keluarlah seorang nenek tua, dialah Tang Seng ibu inang sang puteri. Disusul oleh pengawal istana Tahasan dan beberapa dayang2 serta penjabat2 istana.
Dibawah sinar terangnya obor, mereka menyaksikan wajah sang puteri yang tetap elok tak ubahnya seperti waktu ia masih remaja. Segera mereka berlutut untuk memberi hormat. Salah seorang wakil istana mengucapkan kata2 selamat datang kepada Wanyen Hong yang berdiri tegak bagaikan patung.
"Kami sekalian budak datang untuk menjemput Kongcu." Sedangkan ibu inang sang puteri memeluk kaki Wanyen Hong. Yang terakhir ini merangkul inangnya, dengan hati terharunya.
"Aku telah meninggalkan negeriku tujuhbelas tahun lamanya," ujar Wanyen Hong," tapi hari ini aku datang tak dapat bertemu pula dengan saudaraku Sri baginda.
Sedangkan ibukota kinipun telah berpindah kebagian selatan. Bagaimana hatiku tidak menjadi sedih?" Para penyambut setelah mendengar ucapan sang puteri, terdiam dan menundukkan kepalanya.
Malam itu mereka menginap didusun Nie-Ho Cun.
Keesokan harinya Im Hian Hong Kie-su mohon berpamitan diri. Mengetahui bahwa orang segan untuk mengikut keistana. Wanyen Hong tak menolaknya. Setelah menghaturkan terima kasihnya, sang puteri masih bertanya : "Kalau Kie-su hendak kembali, dapatkah kiranya mampir ke Ciong Lam San. Tolonglah sampaikan salamku kepada Hian Cin-cu dan sekalian lihat Gorisan yang ditawan disana." "Memang akupun hendak pergi kesana, " jawab Datuk Rimba-hijau itu, "sebab akupun merasa kuatir. Gorisan mempunyai banyak tipu muslihat. Aku takut kalau2 Hian Cin-cu kena ditipunya." Baru saja ia ingin pergi. Wanyen Hong menahannya.
"Harap Kie-su tunggu sebentar......" Im Hian Hong Kie-su mengetahui bahwa sang puteri.
bermaksud mengutarakan sesuatu yang tak mudah di ucapkannya. "Ah, aku tahu. Kongcu menginginkan agar aku mau selidiki apakah Gorisan yang telah mencelakakan Tio Hoan dahulu bukan?" Wanyen Hong manggut. "Dugaan Kie-su tepat. Dahulu Tio Hoan binasa, tapi mayatnya hilang secara rahasia." "Tapi" jawab Sipenunggu Puncak Gunung Maut, "bukankah waktu itu isteri Tio Hoan, Lu Giok berserta Tiang Jun telah menemukan mayatnya?" "Kudengar bahwa mayat itu telah koyak2 dimakan oleh binatang2 liar, sehingga sukar dikenali. Sebab itu Lu Giok pun tak berani memastikan bahwa mayat itu adalah Tio Hoan. Ketika mereka kembali, didapatkannya mayat itu telah hilang. Hal itulah yang membuat aku sampai kini merasa gundah-gulanah." "Dengan kata lain, kalau begitu Kongcu beranggapan bahwa Tio Hoan sampai saat ini ... masih hidup ?" Sang puteri mengangguk.
"Tapi apabila ia belum mati selama tujuhbelas tahun ini kemana ia pergi ?" gumamnya perlahan. "Aku hanya......." Belum selesai ia berkata, atau airmata Wanyen Hong sudah ber-linang2 turun membasahi pipinya. Ternyata cinta-murni sang puteri tidak lumer sepanjang masa.
Im Hian Hong Kiesu melihat orang bersedih hati, iapun tak mengucap sepatah kata lagi. Diam2 ia mengundurkan diri
---oo0dw0oo---
IM HIAN HONG KIE-SU sepanjang jalan menikmati keindahan alam semesta. Karena itulah berselang sebulan lamanya, barulah ia sampai dipegunungan Ciong-Lam San.
Hari itu ia merasa letih sekali. Didepan tampak olehnya sebuah dusun yang bernama Lan-kiauw Cun. la memasuki sebuah warung untuk melepaskan Ielahnya, sambil menceguk beberapa cangkir arak.
Tak beberapa lama ia duduk disana atau sekonyongkonyong terdengar derapan kaki kuda mendatang dan berhenti dimuka warung. Tak lama kemudian tampaklah penunggang kuda itu yang berjumlah dua orang.
Diam2 ia memperhatikan mereka. Satu diantaranya adalah seorang nie-kouw yang usianya kira2 empat puluh tahun. Kawan satunya lagi adalah seorang Lhama dari daerah barat. la memakai tudung pertapaan yang berbentuk kukusan. Jubahnya berwarna merah. Yang sangat aneh adalah alis orang itu yang panjang menurun kebawah.
Yang lebih menarik perhatian ialah bahwa seorang niekouw bersama seorang Lhama berjalan ber-sama2 sungguh menertawakan. Begitu mereka hampir dekat, Datuk Rimba-hijau kita buru2 mengalihkan pandangannya ketempat lain untuk menghindari bentrokan mata mereka.
Kedua orang itu hanya berhenti dimuka warung dan tidak turun dari kudanya. Sejenak kemudian dari dalam warung muncul keluar seorang laki2 kate berlari menghampiri si nie-kouw dan membisikkan sesuatu kepadanya. Im Hian Hong Kie-su waktu itu ber-pura2 seperti orang sedang mabok. la merebahkan dirinya dengan mukanya dibaringkan diatas meja. Diam2 ia memasang kupingnya uniuk mendengarkan pembicaraan orang.
Terdengarlah dengan jelas sikate tadi berbisik : "Barang itu sudah kita peroleh. Suheng tak berani pulang ke Butong. la sedang menunggu dimulut lembah "ya-Ba Kok." "Aku kuatir ia takkan berhasil." jawab si nie-kouw.
"kambing tua itu malam ini juga akan menemui ajalnya." "Huh, pukulan Sam Im Ciangku, meskipun pihak HweeLiong Pay mengundang orang2 pandai dikolong langit ini takkan berhasil untuk menolongi jiwanya itu." ujarnya dengan nada yang sombong.
Habis berkata tanpa memberi pamitan pula, kedua orang tadi berlalu meninggalkan warung.
Si-laki2 kate kembali masuk kedalam warung. Setelah melirik kesana kemari menyapu tamu2 lainnya dalam warung itu, iapun segera membayar kepada pemilik warung dan meninggalkan tempat itu.
Im Hian Hong Kie-su menunggu sampai orang itu berlalu. barulah ia mengangkat kepalanya pula. Ia berpikir dalam hatinya, walaupun barusan ia tidak lihat jelas muka nie-kouw itu tapi mengingat ia berjalan bersama seoranga lhma tentu mereka adalah Im Yang Jie-yauw.
Apabila benar mereka orangnya, dapatlah dipastikan bahwa. mereka baru saja melakukaan perbuatan. yang tidak baik. Im Hian Hong Kie-su masih ingat kata2 nie-kouw tadi yang menyebut nama Hwee-Liong Pay.
"Celaka." ia berpikir seorang diri. "Hian Cin-cu tentu dalam kesukaran. Aku harus segera pergi menolong." Sang pelayan yang melihat pada muka Im Hian Hong Kie-su membayang kegemasan segera menegur.
"Apakah Lo-ya kehilangan sesuatu?" Pendekar tua kita sadar bahwa karena ia terlalu dalam ketegangan, hingga lupa akan keadaan sekitarnya. Tapi begitu melihat tamu2 lain semuanya terdiri dari kaum saudagar. ia merasa lega pula. lapun menjawab : "Oh, tidak hanya badanku rasanya kurang enak." Ta membayar uanar.ya. Disepanjang jalan ia teringat akan perbuatan2. Gorisan dimasa lampau. Ia mempercepat perjalanannya.
Pada dua puluh tahun yang lalu. Gorisan mencuri kitab "See-hek Bu-cong" dari Bu Tong-pay. Kitab itu berisikan sumber2 llinu sakti dari segala aliran Ilmu persilatan.
Gorisan kemudian melarikan diri ke Ceng-cong.
Disana akhirnya ia memasuki partai Lhama pay.
Bila ditilik lebih jauh. Gorisan kemungkinan besar adalah seperguruan dengan lm Yang Jie-yauw. Tentulah jiwa Hian Cin-cu sedang terancam bahaya basar.
Begitulah tak putusnya Im Hian Hong Kie-su berpikir disepanjang jalan. Akhirnya tibalah ia digunung Ciong Lam San.
Ia mengambil sebuah jalanan kecil. Ketika mendaki sampai dipertengahan kaki gunung tampak olehnya beberapa pendeta sedang berlari datang. Sikap mereka seolah2 dalam keadaan bingung.
Tanpa ayal pendekar tua kita menyongsong mereka seraya memberi hormat : "Apakah Hian Cin To-tiang berada dikuil?" ia bertanya. Pendeta2 tersebut saling melirik, salah seorang menjawab : "Harap Sie-cu suka maafkan, Coun-su hari ini tak dapat menerima tetamu.
Harap lain kali saja datang." Mereka lalu ingin meneruskan perjalanannya, tapi Im Hian Hong Kie-su setelah melihat disekitarnya tiada lain orang, berkata dengan perlahan : "Aku mendapat pesan dari puteri Negeri Kim Wanyen Hong Kongcu. Adapun maksud kedatanganktt adalah untuk mendengar kabar berita. Telah kudengar Couw-sumu dilukai orang, Betulkah"!" Pendeta yang satunya lagi malihat bahwa Im Hian Hong Kie-su bukanlah seorang penjahat dari golongan hitam, segera mengajukan pertanyaan : "Sie-cu siapa" Bagaimana sampai dapat mengetahui bahwa Couw-su kami telah dilukai orang?" Pendekar tua kita memperkenalkan dirinya.
"Pada dua hari ini apakah ada sepasang Lhama dan niekouw yang datang kegunung ini?" Pendeta yang barusan bertanya adalah orang yang dahulu menghaatar Hay Yan untuk bertemu dengan Hian Cin-cu. lapun segera mengetahui bahwa Gak Hong adalah nama lainnya dari Im Hian Hong Kiesu yang terkenal kosennya. Tanpa ayal ia memberi hormat serta berkata : "Sukur sekali. Atas kedatangan Kie-su. Couw-su kami akan tertolong. Memang benar pada tiga hari yang lalu kami telah kedatangan seorang nie-kouw. Couw-su tidak mau menemuinya. Tapi dengan lancang nie-kouw itu telah menerobos masuk kedalam kamar Couw-su dan berbicara dengannya. Kemudian pagi2 sekali Couw-su sudah keluar.
Tak diduga waktu pulang, ia tidak dapat berbicara lagi.
Lalu ia menulis dengan telunjuknya sebagai berikut : "Aku terluka oleh pukulan Sam-Im Ciang. Lekas kau cari orang pandai yang dapat menolongiku" Im Hian Hong Kiesu kaget sekali mendengar kabar itu.
"Setelah itu iapun tak sadarkan diri lagi. Kami menjadi bingung. Kami tak tak tahu siapa yang harus kami cari.