Tanpa tertahan lagi Gokhiol merasa pening dan matanya menjadi berkunang-kunang.
Kiranya sungai es itu berakhir pada sebuah jurang gunung dimana kedua belah sisinya merupakan lamping yang sangat berbahaya. Lamping itu menegak lurus bagaikan dinding tembok, terdiri dari es menjulang keangkasa. Terdengarlah Wan Hwi Sian berseru : "Kita sudah sampai !" Tubuh Gokhiol terguling-guling dan ia dapatkan dirinya sudah jatuh kebawah lamping gunung. Kiranya muara sungai berada diantara tebing batu dan merupakan sumber air terjun. Sepanjang tahun es itu tidak mencair, maka muara itu seperti bukit es yang miring letaknya.
"Rupanya aku tadi terguling jatuh dari bukit es itu," pilkir Gokhiol seorang diri.
Pemuda kita mengawasi lebih jauh keadaan sekitar tempat itu dan tampak diihadapannya terbentang sebuah bangunan ibadah kaum Too-kauw. Besar dan mentereng sekali bentuk kuil itu dan ketika Gokhiol menghampiri lebih dekat, maka kelihatnya pada gerbang pintu tertera tulisan.
"LENG WAN KOAN" atau Rumah lbadah Kera Sakti.
Lebih tepat dikatakan kuil itu didirikan me!ekat pada dinding tehing yang curam, sebab bagian belakang bangunan itu tembus kedalam goa gunung yang lalu buntu.
Sedangkan jalan tembusan tidak ada, yang terdapat hanya secbuah panggung batu yang tingginya belasan tombak.
Wan Hwi Sian mengajak Gokhiol masuk kedalam rumah ibadah itu, lalu ia menuding pada sebuah patung yang berjanggut merah, yang berdiri diatas meja sambil berseru : "Muridku, patung ini ialah Couw-su-kongmu (datuk guru)! Lekaslah bersujud dihadapannya !" Gokhiol melihat pada kepala patung itu terdapat sebuah topi Peng-Thian-Koan, sedangkan pakaiannya adalah dari kaum Sui-Hwee To-Bauw. Yang mengherankan adalah muka patung itu! Tak ubahnya seperti manusia hidup saja! Itulah patung Hwee Liong Cinjin! Segera pemuda kita berlutut dihadapannya sambil mengguk beberapa kali, dengan hikmatnya.
Wan Hwi Sian membawanya kedalam sebuah kamar dan disuruhnya pemuda kita untuk tidur. Pintupun ditutup dengan suara keras.
Gokhiol melihat keadaan dalam kamar itu. Seluruh dinding terbuat dari batu dan diatas terdapat sebuah lobang angin. Besar lubang itu hanya sampai kepala orang saja.
Gokhiol memanjat keatas dan melongok keluar. Tampak dimukanya gunung yang tinggi puncaknya. Sedangkan dibawahnya terbentang lautan es yang meluas tiada terlihat batasnya. Melihai pemandangan yang dahsyat itu, hati sipemuda merasa kecil. Akhirnya ia turun dan merebahkan diri diatas pembaringan.
Menjelang fajar, Gokhiol samar2 mendengar orang berbisik memanggilnya. "Tio Kongcu! Tio Kongcu!" Dalam keadaan setengah mimpi ia melihat Hay Yan sedang mendekatinya. Pakaian sigadis serba-putih dan ditangannya tergenggam Mo-hwee-kiam.
"Apakah kau ingin menangkap aku lagi?" demikian Gokhiol berteriak dengan suara gusar.
"Kongcu, bangunlah!" Pemuda kita terkejut dan bangun sebab dahinya kena sesuatu. Tatkala dibukanya matanya lebar2, ia mendapatkan dirinya masih tetap rebah dalam pembaringan didalam kamar. Dari lubang angin sinar yang lemah menerobos masuk kedalam kamar. Rupanya fajar akan segera menyingsing. DiIihatnya sesosok tubuh manusia tengah bergantungan terbalik dan berbisik dengan pelahan : "Kongcu, aku menengokmu!" Gokhiol tercengang. Suara itu suara perempuan! Nampaklah kepala perempuan itu yang bundar dengan dua kepang terbalik kebawah. Siapa lagi yang mengenakan rambut secara demikian kalau bukannya ....Tai-tai" Pemuda kita cepat2 lompat dari pembaringanya, lalu memanjat kelubang angin. Keadaan diluar masih diliputi halimun, tak kelihatan apa2. Yang nampak hanyalah Tai-tai yang bergaya seperti capung gelantungan (To-Su Ceng-Teng), kakinya mengngait atap rumah. "Tai-tai"! Bagaimana kau dapat kemari?" tanya Gokhiol dengan keheranan.
"Hi-hi-hi Kongcu juga datang," jawab si tolol sambil mesem, "kalau Kongcu boleh datang, kenapa aku tidak boleh" Diam2 pemuda kilta mulai sadar bahwa Tai-tai pun memiliki kepandaian yang tinggi.
"Apa Siociamu juga datang?" "Huh, kau sigenit hanya mencari nonaku saja. Apa kau tidak mengingat sedikit kepadaku?" Tai-tai mengolok sipemuda sambil menyipiti matanya.
"Rupanya kalian telah membuntuti aku," kata Gokhiol, "aku baru saja kemarin malam tiba, kini kalian sudah menemui jejakku sampai disini. Apakah kalian tidak takut kalau nanti dilihat oleh suhuku?" Tai-tai tak menghiraukan perkataan sipemuda bahkan sebaliknya sambil cemberut ia mendesis.
"Memang orang selalu salah menangkap apabila ingin berbuat baik. Nonaku telah menyuruh aku mengirim surat untukmu. tapi sebaliknya kau kini menuduh kami telah menguntit dirimu!" Dalam hati Sanubarinya pemuda kita memang rindukan Hay Yan. Kini mendengar Tai-tai mengatakan bahwa ia membawakan surat, iapun merasa girang.
"Tai-tai yang baik, mana surat itu ?" Tai-tai merogoh kedalam kantong bajunya. Tiba2 ia berkata : "Kongcu, terlebih dahulu kau harus memejamkan kedua matamu, sesudah itu barulah akan kuberikan surat itu kepadamu!" Gokhiol menuruti permintaan gila itu, dipejamkannya matanya. Tanpa disengaja mulutnya terbuka. Pada saat itulah mendadak saja Tai-tai memasukkan secara paksa sebutir pil kedalam mulutnya! Berbareng mukanya digampar dengan kerasnya sehingga pil itu tertelan masuk melalui lehernya.
Pemuda kita jatuh terguling saking kagetnya, tapi piI sudah masuk kedalam perutnya. Barulah sekarang ia sadar bahwa dirinya tengah dipermainkan oleh Tai-tai! "Hi-hi-hi! Maafkan aku, Kongcu!" tertawa sitolol seraya meninggalkan kamar dengan gerakan Hai-hong Jut-yauw atau Burung-walet-keluar-dari-sarang dan terus lompat turun.
Gokhiol lompat pula kelubang angin, tapi karena keadaan cuaca yang masih diliputi oleh halimun, maka tak kelihatan apa2 lagi dari bayangan Tai-tai.
Dengan hati mendcngkol Gokhiol meraba Iehernya dan memandang keluar. Tampak sinar matahari mulai muncul dari balik bukit, hawa segar masuk kedalam hidungnya, badannya nyaman sekali. Apakah ia bermimpi, pikirannya dengan ragu2.
la tertawa getir dan kembali turun. Tapi baru saja ia tiba dekat pembaringan atau disamping bantalnya ia melihat secarik kertas. Diambilnya kertas itu dan dibukanya dengan hati berdebar-debar. Beginilah tulisannya : "Suhumu hendak melenyapkan seluruh kepandaian silatmu pada hari ini, sebab itu aku telah berikan padamu sebuah pil melalui Tai-tai, yang dinamakan PIT JIAUW WAN atau Pil penutup jalan-darah. Pil tersebut untuk sementara dapat menutupi kepandaian silatmu. Ingatlah! Jangan sampai ada orang yang mengetahuinya, kalau sampai ketahuan rahasia ini, niscaya kau akan ... binasa!" Kejadian yang demikian cepatnya membuat Gokhiol sungguh merasa heran. Masih teringat olehnya dahinya kena sesuatu. Rupanya. kertas itulah yang telah disentilkan kepadanya oleh Tai-tai. Tapi bagaimana Hay Yan sampai dapat mengetahui bahwa pada hari ini, suhunya hendak melenyapkan seluruh kepandaiannya" Tiba2 dari luar terdengar suara tindakan kaki. Tergesa gesa Gokhiol melemparkan carikan kertas tersebut keluar melalui lobang angin. Baru saja ia melemparkan kertas itu, atau pintu kamar sudah dibuka oleh ... Wan Hwi Sian. la menatap sebentar dengan curiga kepada Gokhiol, Ialu berkata : "Muridku, hari ini kau mulai dengan pelajaranmu.
Makanlah dahulu sebentar." Hari pertama kedua kaki Gokhiol diikat oleh Wan Hwi Sian, lalu digantung-dengan kepala kebawah. Setelah aliran darahnya turun, sekonyong2 ubun2 kepalanya ditepuk oleh Wan Hwi Sian. Tubuhnya bagaikan disambar kilat! Kedua tangan kakinya lantas menjadi kejang dan ototnya seperti putus! Saking sakitnya, pemuda kita menjerit keras dan meronta dengan sekuat tenaga. Tali yang menggantung tubuhnya putus, ia jatuh ketanah! Gokhiol pingsan ....
Setelah siuman kembali ia sudah berada diatas pembaringan. Rasa lelah yang luar biasa melemaskan sekujur tubuhnya. la menoleh dan tampak Dewa Kera Terbang berdiri mengawasinya, sambil tersenyum kecil.
"Hari ini aku telah melenyapkan seluruh kepandaian silatmu." ujar Wan Hwi Sian. "Sejak hari ini kau adalah murid dari partai Leng-Wan Pay." Gokhiol bangkit dengan gemetar, lalu berIutut.
"Suhu telah sudi menerima teecu sebagai murid, maka sejak ini dan seterusnya, seluruh jiwa-raga akan kupersembahkan sebagai milik suhu. Dan untuk seumur hidup, teecu akan mentaati perintah suhu!" Mendengar ucapan sang murid, wajah Wan Hwi Sian berseri-seri. Ia meng-usap2 kumisnya dan tertawa terkekeh-kekeh.
Pada hari2 selanjutnya Wan Hwi Sian mengajak Gokhiol kepuncak yang penuh salju. Disana ia diajarkan bersamadhi dan melatih pernapasan. Dengan kepandaian menyalurkan hawa murni dari telapak-tangannya, Wan Hwi Sian menambah tenaga-dalam muridnya. Hawa Cinkhie meresap kedalam tubuh Gokhiol, terus kejantung dan membuka seluruh jalan2-darah.
Dibagian Tan-tian timbul hawa Soen-Yang, yang mengalir dan ber-putar2 keseluruh bagian dari tubuhnya.
Setelah mengikuti perputaran menurut alam sejumlah tiga ratus enampuluh kali, maka lewat empat puluh sembilan hari Gokhiol telah berhasil menyelami kepandaian berlatih iImu pernapasan Leng-Wan Pay. Tubuhnya menjadi ringan sekali, sedangkan pernapasannya lebih kuat dari sebelum ia datang ketempat itu. Bukan kepalang girangnya hati pemuda kita! Diluar dugaan Wan Hwi Sian sebetulnya sedang melaksanakan percobaan ilmu yang baru kepada sipemuda dengan maksud tertentu. Adapun ilmu GOA-TO- HIANKONG, yaitu sejenis ilmu kebal yang diberi nama Sui Hee To (Jalan air dan api), hanya dapat dijalankan pada tubuh seorang jaka yang masih suci bersih.
Ilmu ajaib ini jika dilatih secara kaum Buddha, sedikitnya harus bertapa selama delapan belas tahun lamanya. Sama halnya dengan Kim-Kong Put-Hway-Kang atau Tenaga Pengawal Buddha yang tersohor itu.
Kini Wan Hwi Sian mendapatkan suatu cara belajar yang lebih singkat dan cepat, yang dipelajarinya dari kitab To-Ke Pit-Kip, suatu kitab rahasia dari kaum Too-kauw.
Apabila seorang berhasil dengan ilmu tersebut, maka daya dan khasiatnya tidak ada bedanya seperti menguasai Kim-Kong Put-Hway-Kang.
Wan Hwi Sian memberikan ilmu tersebut kepada Gokhiol adalah tidak lain karena ia sendiri telah berusia lanjut dan syarat mutlaknya adalah bahwa orang itu harus masih perjaka suci. Demikianlah Gokhiol telah diperalat sebagai percobaan! Apabila kelak berhasil dengan baik, maka dia dapat menitahkannya untuk membasmi lawan2nya! Pada hari berikutnya Gokhiol ditanggalkan bajunya, lalu digantung dalam sebuah kamar pengolahan obat2an.
Dibawahnya dinyalakan api yang besar sehingga tubuhnya terasa bagaikan dipanggang! Makin lama kulitnya mulai hitam tambus dan keringat tak henti2nya mengucur bagaikan air hujan. Mulutnya menjadi kering sekali dan matanya menjadi merah berdarah. Sambil meleletkan lidahnya, ia berseru dengan napas tersengal-sengal : "Su. .. .
Suhu, tee ... teecu ... . tidak tahan lagi!" "Anak yang baik." terdengar suara Wan Hwi Sian dengan nada yang dalam, "tahanlah sedikit lagi akan penderitaanmu ini. Tahanlah untuk beberapa saat pula.