"Engkau tidak tahu, aku telah ditahan dan dijebloskan dalam kamar tahanan di bawah tanah. Nyaris aku dibunuhnya kalau Si Kakek Muka Singa Sai-cu Lo-mo yang mengaku masih paman kakekku itu tidak membujuk Ketua Thian-liong-pang!"
"Ahhh, jadi begitukah?"
Milana benar-benar terkejut. Baru sekarang dia mendengar bahwa pemuda ini adalah cucu keponakan Sai-cu Lo-mo!
"Nona, agaknya engkau mengenal betul keadaan Thian-liong-pang!"
"Sedikit banyak aku sudah mendengar tentang perkumpulan itu, Twako. Siapakah orangnya yang tidak mendengar tentang Thian-liong-pang yang terkenal? Sudahlah, engkau perlu cepat diobati. Aku mempunyai obat penguat badan, pencuci darah dan penyambung tulang patah. Akan tetapi, racun yang mengancam keselamatan nyawamu tak dapat kuobati, agaknya Ibu akan dapat menolong-mu, akan tetapi...."
Milana menjadi bingung dan sangsi. Betapa mungkin ibunya akan suka menolong pemuda yang sudah memusuhi Thian-liong-pang ini?
"Akan tetapi apa, Nona?"
"Aku.... aku harus mendapatkan air panas untuk mencuci luka-lukamu, dan obatku harus kugodok, maka kita mem-butuhkan alat dapur. Di depan ada sebuah dusun, di sana kau dapat beristirahat, Twako."
Kuda itu dilarikan cepat dan Bun Beng yang tidak dapat melihat wajah gadis yang duduk di belakangnya itu tidak melihat betapa wajah itu penuh kekhawatiran.
Juga keadaannya tidak memungkinkan dia setajam biasa, penglihatan maupun pendengarannya, sehingga dia tidak tahu bahwa mereka berdua dibayangi oleh beberapa orang. Akan tetapi Milana tahu akan hal ini maka gadis itu menjadi gelisah, apalagi karena dari gerakan dan tanda para pengejar itu dia tahu bahwa mereka adalah orang-orang Thian-liong-pang, anak buah ibunya! Dalam keadaan setengah sadar karena menderita luka hebat itu, Bun Beng diturunkan dari atas kuda oleh Milana, dibantu oleh seorang petani yang rumahnya disewa gadis itu, dan dibaringkan di atas sebuah dipan kayu sederhana dalam ruangan rumah yang sederhana pula. Setelah petani itu meninggalkan rumahnya yang telah dibayar sewanya secara royal oleh Milana untuk waktu seminggu,
Milana sibuk memasak obat, kemudian mencuci muka Bun Beng dengan air hangat, membersihkan darah dari pipi dan bibir, menaruh obat luka di tempat yang terobek sepatu Tan-siucai kemudian memberi obat yang telah dimasaknya. Bun Beng menjadi terharu, bukan oleh pertolongan yang dianggapnya wajar karena hal itu dapat ia harapkan dari setiap orang manusia yang masih memiliki kasih sayang di antara manusia. Bukan, bukan pertolongan itu yang mengharukan hatinya, melainkan sentuhan-sentuhan jari tangan yang demikian lembut, pandang mata yang demikian halus, perhatian yang demikian penuh dicurahkan kepada dirinya. Kalau wajah itu tidak demikian cantik jelita dan masih amat muda, tentu dia tidak akan yakin bahwa yang merawatnya itu bukan ibunya! Hanya ibunya sendiri sajalah agaknya yang akan merawat anaknya seperti itu!
"Nah, biarpun obatku tak mungkin mengusir racun dari tubuhmu, setidaknya engkau akan merasa tenang dan tidak begitu menderita nyeri lagi, Twako. Dan obat yang kugosokkan pada lututmu itu, dalam waktu sepekan tentu akan memulihkan kembali sambungan kedua lututmu sehingga engkau akan dapat berjalan lagi."
"Nona Milana.... terima kasih. Engkau....!"
"Husshhh.... tidurlah, Twako. Aku akan masak bubur dan membuatkan minuman teh...."
Gadis itu menjauhi dipan dan mulai sibuk membuat bubur dan membelakangi Bun Beng karena dia hendak menyembunyikan wajahnya yang penuh kegelisahan. Dia bukan seorang ahli pengobatan, namun sedikit pengetahuan yang dimilikinya cukup membuat dia tahu bahwa pemuda itu menderita luka keracunan yang amat hebat. Biarpun dia tahu ibunya sakti, namun ibunya sendiri pun belum tentu dapat menyembuhkan pemuda itu. Yang membuat dia gelisah bukan main adalah kenyataan bahwa Bun Beng memusuhi Thian-liong-pang! Mungkinkah ibunya suka menolongnya? Bun Beng dapat tidur pulas berkat obat Milana yang agaknya mengandung pula obat tidur.
Hari telah mulai gelap dan Milana menyalakan tiga batang lilin di tempat lilin kuno yang tergantung di sudut ruangan. Beberapa kali dia melihat berkelebatnya bayangan orang di luar rumah dan dia tahu bahwa itu adalah orang-orang Thian-liong-pang, anak buah ibunya. Bahkan dia mengenal pula siapa yang memimpin rombongan delapan orang Thian-liong-pang itu, ialah sepasang kakak beradik kembar yang amat lihai. Dia tahu bahwa dua orang kembar itu, Su Kak Liong dan Su Kak Houw, adalah dua orang kepercayaan ibunya dan sudah sering diutus melakukan hal-hal berbahaya di luar perkumpulan yang selalu dilaksanakan dengan hasil baik. Sejak kecil Milana tidak pernah diberi tahu oleh ibunya akan urusan Thian-liong-pang, namun karena dia digembleng ilmu oleh ibunya sendiri,
Dia tahu bahwa kepandaian dua orang kembar ini hanya bertingkat sedikit di bawah tingkat pembantu-pembantu ibunya seperti Lui-hong Sin-ciang Chie Kang atau Sai-cu Lo-mo sendiri! Apalagi Su Kak Houw, setelah lengan kanannya lumpuh dalam sebuah pertempuran melawan orang pandai, menerima sebuah ilmu pukulan yang amat dahsyat dari ibunya. Ilmu ini didasari latihan khusus pada jari dan telapak tangan kiri dengan pengerahan sin-kang dan gerakan khusus pula, membuat tangan kiri Su Kak Houw ini luar biasa kuatnya, dapat dipakai menangkis senjata-senjata logam yang kuat dan tajam, bahkan tangan itu dapat dipakai membacok seperti sebatang golok tajam. Karena inilah maka dia terkenal sebagai Toat-beng-to (Golok Pencabut Nyawa). Sebuah julukan yang lucu dan aneh karena selamanya tokoh ini tidak pernah menggunakan golok dalam pertandingan, apalagi membunuh orang dengan golok.
Dia hanya menggunakan lengan kirinya, namun lawannya yang terluka atau tewas, roboh dengan luka-luka seperti dibacok sebatang golok besar yang tajam! Biarpun maklum bahwa pondok yang disewanya itu dikurung oleh sedikitnya delapan orang termasuk Si Kembar, Milana bersikap tenang-tenang saja. Dia merasa yakin bahwa selama Bun Beng berada bersamanya, tak ada seorang pun anggauta Thian-liong-pang yang akan berani turun tangan! Maka dia pura-pura tidak tahu akan kehadiran mereka, sungguhpun dia tahu pula bahwa Si Kembar itu sengaja beberapa kali bergerak di depan jendela supaya terlihat oleh Milana dan supaya ditegur oleh puteri Ketua Thian-liong-pang itu. Namun, dia tidak mau menegur mereka dan terus melanjutkan mempersiapkan makan dan minum sederhana untuk Bun Beng dan dia sendiri.
Dugaan Milana tepat sekali. Kedua orang kembar she Su itu memimpin enam orang anggauta Thian-liong-pang tingkat pertengahan, bertugas melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap Gak Bun Beng yang berhasil lolos dari tempat tahanan di bawah tanah. Dapat dibayangkan betapa heran dan terkejut hati mereka ketika melihat pemuda itu dalam keadaan luka berat, naik kuda bersama puteri Ketua mereka! Tentu saja hal ini membuat mereka bingung dan tidak bergerak turun tangan, bahkan menegur saja mereka tidak berani! Mereka merasa ngeri memikirkan kemungkinan hukuman yang akan dijatuhkan Ketua Thian-liong-pang terhadap mereka kalau mereka mengganggu Milana! Sampai lama mereka memancing agar ditegur lebih dulu oleh Milana sehingga mereka dapat melapor akan tugas yang mereka terima dari Ketua Thian-liong-pang,
Akan tetapi sungguh membuat mereka makin bingung ketika dara itu sama sekali tidak peduli seolah-olah tidak melihat mereka. Akhirnya, kedua orang saudara kembar itu mengambil keputusan untuk memasuki pondok dan langsung menghadap Milana! Ketika dua orang laki-laki yang mukanya menyeramkan, rambutnya awut-awutan itu muncul dari pintu pondok pada keesokan harinya, Bun Beng sudah bangun dari tidurnya, merasa tubuhnya tidak begitu tersiksa lagi oleh rasa nyeri, sungguhpun kedua kakinya masih lumpuh tak dapat digerakkan. Tidur semalam dengan nyenyak memulihkan tenaga di tubuh bagian atas. Tampak olehnya Milana sedang memasak air di sudut pondok. Bun Beng menarik napas panjang dan hal ini terdengar oleh dara itu yang segera menoleh memandang dan tersenyum manis.
"Engkau sudah bangun? Bagaimana tubuhmu?"
Sejenak Bun Beng tak mampu menjawab, lehernya seperti tercekik. Sejak malam tadi, Milana kelihatan sibuk terus mengurus dan merawat dirinya. Apakah tidak tidur semalam? Dan melihat gadis itu di pagi hari ini, membuat Bun Beng terpesona. Belum pernah dia melihat wajah secantik itu. Bukan main! Meremehkan segala kecantikan yang pernah dilihat sebelumnya. Milana memiliki kecantikan yang aneh, tidak seperti biasa dan mengadung sesuatu khas yang takkan terdapat pada wajah selaksa orang gadis cantik lainnya.
"Aihh, kenapa engkau diam saja, Twako?"
Bun Beng menjadi gugup dan kedua pipinya merah sekali.
"Maaf.... eh, aku.... aku sedang memikirkan bahwa sesungguhnya tidak perlu engkau bersusah payah untuk aku, Nona. Engkau terlalu baik dan aku merasa tidak layak menerima kebaikan yang berlebihan ini, membuat aku berhutang budi dan.... bagaimana aku akan mampu membalasmu?"
Milana tersenyum lebar.
"Ya jangan dibalas karena aku tidak menghutangkan apa-apa!"
Sebelum pemuda itu menjawab, Milana mendahului dengan sikap dan suara bersungguh-sungguh.
"Gak-twako, mengapa engkau masih saja memperlihatkan sikap sungkan? Bukankah kita berdua telah mengenal sejak kecil dahulu? Kalau seandainya aku yang tertimpa bencana seperti engkau sekarang ini dan bertemu denganmu, apakah engkau tidak akan sudi menolongku?"
"Ah, tentu saja!"
Jawab Bun Beng cepat.
"Kalau melihat engkau sungkan-sungkan seperti ini, agaknya engkau pun tentu akan segan dan sungkan menolongku."
"Demi Tuhan! Tidak, Nona. Aku akan melaksanakan apa saja, kalau perlu mengorbankan nyawa untuk menolongmu!"
Milana tersenyum lagi dan membungkuk.
"Terima kasih, Twako. Nah, kalau begitu kita sama-sama, bukan? Tidak ada hutang-pihutang budi, yang ada hanya kebetulan saja engkau yang membutuhkan pertolongan dan aku yang dapat menolongmu dan.... ohhhh!"
Milana cepat membalikkan tubuh memandang kepada dua orang pembantu ibunya yang memasuki pondok itu dengan sikap takut-takut. Bun Beng juga bangkit duduk di atas dipan, memandang kepada dua orang itu, sikapnya tenang.
"Kalian mau apa?"
Milana yang merasa khawatir itu segera membentak. Dia tidak khawatir kalau orang-orang Thian-liong-pang ini menyerang Bun Beng, tentu tidak akan berani selama dia menjaga pemuda itu. Akan tetapi dia lebih khawatir kalau munculnya orang-orang itu akan membuka rahasianya, yaitu bahwa dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, bahwa ibunya yang sudah dikenal Bun Beng sebagai isteri Pendekar Super Sakti itulah sesungguhnya Ketua Thian-liong-pang! Kedua orang itu cepat menjura dengan penuh kehormatan kepada Milana kemudian Su Kak Liong, yang tertua di antara mereka, tentu saja hanya lebih tua beberapa jam daripada Su Kak Houw, berkata hormat.
"Harap Siocia (nona) sudi memaafkan kami yang lancang. Akan tetapi, karena kami melaksanakan perintah Pangcu terpaksa...."
"Cukup! Pergilah, aku tidak mau diganggu!"
Milana membentak marah dan kedua orang itu menjadi pucat, saling memandang dengan bingung. Yang lebih bingung lagi adalah Bun Beng. Kini dia mengenal kedua orang itu yang hadir ketika dia berada di Thian-liong-pang. Tak salah lagi, mereka adalah dua orang tokoh Thian-liong-pang dan agaknya utusan dari Ketua Thian-liong-pang, akan tetapi mengapa mereka bersikap begitu hormat dan takut-takut terhadap Milana? Su Kak Liong mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya, memperlihatkannya kepada Milana yang seketika menjadi pucat. Dara itu menutup mulut dengan jari tangan seolah-olah hendak menahan jeritnya, matanya terbelalak memandang ke arah benda kecil di atas telapak tangan Su Kak Liong yang ternyata adalah sebuah benda besi hitam berbentuk tengkorak kecil sekali.
"Ohhh.... tidak....!"
Milana berseru lirih.
"Siocia maklum apa artinya perintah ini. Kami harus membunuh dan menghadapi rintangan apa pun, karena kegagalan kami harus kami tebus dengan nyawa. Sekali lagi, harap sudi memaafkan kelancangan kami yang hanya kami lakukan dengan terpaksa sekali, untuk melaksanakan perintah Pangcu. Houw-te (Adik Houw), bunuh dia!"
Su Kak Houw sudah siap sejak tadi. Si Lengan Buntung ini pun maklum bahwa sekali kakaknya mengeluarkan tanda perintah membunuh dari Ketua mereka, tentu puteri ketua ini sekalipun tidak akan berani menghalangi tugas mereka. Maka, begitu mendengar perintah kakaknya sebagai pemegang tanda perintah itu, dia cepat melompat mendekati pembaringan Bun Beng, dilanjutkan dengan terjangannya yang dahsyat,
Sekalipun menggunakan tangan kirinya membacok dengan gerakan dan pengerahan tenaga sakti. Bacokan tangan miring yang dapat membacok putus baja dan besi, yang membuat dia dijuluki Toat-beng-to karena seolah-olah tangan kirinya berubah menjadi sebuah golok pusaka yang luar biasa ampuhnya! Menghadapi serangan yang amat dahsyat ini, Bun Beng kehabisan akal dan biarpun dia mengambil keputusan untuk melawan dan tidak menyerahkan nyawanya begitu saja, namun ia maklum bahwa dia terancam bahaya maut. Akan tetapi, angin pukulan yang amat hebat itu mengingatkan dia akan suara angin ketika dia bersama kakek muka kuning Pulau Neraka naik layang-layang dan di serang badai. Teringat ia akan pelajaran dari kakek itu cara menghadapi serangan badai dan cara menyelamatkan layang-layang berikut dirinya.