O, jadi begitu, demikian batin Thian-ih.
Belum lama mereka berada diatas puncak cuaca sudah hampir petang, matahari kebetulan hampir tenggelam di peraduannya dengan memancarkan sinar kuning keemasan yang mempesonakan.
Thian-ih sampai kesima melihat pemandangan yang sedemikian indah.
Terdengar Cia In-hun mendesak di belakangnya: "Engkoh Thian-ih, mari kita pulang, lambat sedikit waktu saja mungkin kita tak dapat melihat jalan.
Kalau terlambat pulang pasti Suhu Melihat cuaca memang hampir petang Thian-ih juga tidak berani tinggal terlalu lama lagi, cepat-cepat mereka berlari turun gunung sambil mengembangkan ilmu ringan tubuh supaya secepatnya tiba di Hun-tiong-khek.
Betapapun cepat lari mereka karena jarak terlalu jauh, baru sampai dibawah gunung cuaca sudah petang dan tidak dapat melihat jalan lagi.
Angin gunung menghembus dengan kerasnya menderu-deru, daun pohon berkeresekan dihembus angin, seakan-akan ada orang mengejar di belakang mereka.
Diam-diam Thian-ih dan Cia In-hun mengeluh, mereka tidak membawa bahan api terpaksa harus maju menggeremet didalam dasar jurang yang gelap pekat.
Seumpama berkepandaian setinggi langit juga dalam keadaan yang begini tak berguna lagi, terpaksa mereka bergandengan tangan terus menggeremet maju.
Umumnya hati seorang perempuan lebih penakut, tangan yang tergenggam oleh Thian-ih itu terasa gemetar dan berkeringat.
Sedikit meleng hampir saja kaki Thian-ih terjerumus dan terjungkal ke dalam jurang.
Karena tidak melihat tegas keadaan sekelilingnya mereka tak berani sembarangan maju dan bergerak.
Kata Thian-ih akhirnya: "Adik Hun, terang kita terlambat untuk pulang, terpaksa mencari sebuah tempat untuk menginap saja disini." Apa boleh buat, Cia In-hun mengiakan setuju.
Pelan-pelan Thian-ih manjat ke lamping gunung mendapatkan sebuah gua, untung keadaan dalam gua ini kering dan bersih.
Thian-ih mengundang Cia In-hun masuk ke dalam, dengan daun-daun kering ditebar di atas tanah sebagai kasuran mereka bersiap untuk bermalam di tempat ini.
Gua itu tidak begitu besar cukup untuk rebahan seorang saja.
Begitu Cia In-hun berbaring, mengingat adat istiadat yang melarang persentuhan badan muda mudi, sekuatnya Thian-ih tahan rasa kantuknya berjaga dimulut gua, dengan bersenjatakan sebuah dahan pohon ia mondar mandir di depan gua.
Sungguh celaka pada tengah malam mendadak terbit angin badai membawa hujan lebat.
Terpaksa Thian-ih harus berdiri ditimpah hujan sampai badannya basah kuyup.
Untung Cia In-hun terkejut bangun dari tidurnya, berulang kali ia minta Thian-ih masuk gua.
Tapi Thian-ih berpikir, toh sudah basah kuyup, kehujanan lagi beberapa jam apa halangannya.
Memang mulutnya mengiakan tapi kakinya tidak bergerak, saking gugup akhirnya Cia In-hun yang berlari keluar dan menyeretnya masuk ke dalam gua.
Dalam kegelapan terasa tangan Cia In-hun tengah meraba-aba badannya, didapatinya seluruh tubuh Thian-ih basah kuyup, seakan baru keluar dari sungai, maka omelnya: "Engkoh Thian-ih, mengapa kau menyiksa dirimu sendiri.
Beginikah pambek seorang kesatria kalangan persilatan, mengapa kau begitu sungkan dan malu-malu !" lalu berulang kali ia mendesak Thian-ih menanggalkan pakaian luarnya supaya tidak sakit kedinginan.
Sudah tentu Thian-ih tidak mau mencopot pakaiannya.
Tapi sikap Cia In-hun justru sangat polos dan terbuka, segera diulurkan tangannya hendak membukakan baju orang.
Keruan Thian-ih menjadi gugup sendiri: "Ya, ya biar aku copot sendiri !" Tanpa merasa jantung Thian-ih berdebur sangat keras, teringat pengalaman dalam gua ini tidak seberapa besar bedanya dengan pengalamannya dalam kuburan waktu menolong Hong-gi tempo hari.
Kelak kalau tidak diketahui orang itulah baik, kalau tidak ini merupakan dosa yang susah dapat ditebus dengan apa juga.
Mendadak dilihatnya tidak jauh di sebelah samping sana sinar api berkelap kelip, hatinya bersorak girang, cepat ia berlari keluar mencarinya.
Itulah di sebuah rimba kecil ditengah rimba ini terdapat sebuah rumah batu, dari dalam rumah batu inilah mencorong keluar sinar pelita itu.
Diam-diam Thian-ih merambat maju, maksudnya hendak mengetok pintu dan minta api.
Tapi waktu langkahnya semakin dekat mendadak terdengar suara keriyat-keriyut yang aneh, waktu ia mengintip melalui lobang jendela, dia menjadi kaget dan gusar.
Dari sinar pelita keadaan dalam ruang dalam terlihat sangat jelas, diatas dua dipan kayu terlihat dua laki-laki dan dua perempuan tengah melakukan adegan yang sangat memalukan.
Waktu ditegasi begitu melihat salah seorang laki-laki yang berada dekat jendela ini Thian-ih lebih terkejut lagi.
Kiranya orang ini bukan lain adalah Ban Ai-ling.
Sedikit meleng karena terkejut tubuh Thian-ih menumbuk dinding sampai mengeluarkan suara.
Ban Ai-ling yang dekat jendela mendengar suara yang mencurigakan segera melompat keluar begitu mereka berhadapan, melihat orang di depannya ini adalah Thian-ih mendadak Ban Ai-ling bergelak tertawa: "Haha, ternyata adalah saudara Thian-ih.
Selamat bertemu, hari ini entah angin apa yang membawamu ke tempat ini !
mari, kita bersalaman..............." mengulur tangan dia terus menarik Thian-ih.
Thian-ih muak dan benci melihat tampang orang kotor ini, tanpa membuka mulut dia putar tubuh terus hendak tinggal pergi.
Ban Ai-ling segera mendesak maju mencegat didepannya, jengeknya dingin: "Begini gampang kau hendak tinggal pergi, kurasa tidak sedemikian mudah" marilah kita bermain-main dulu, coba kulihat adakah sundel cantik itu akan datang menolongmu lagi ?" Mendadak ia turun tangan menyerang dengan tipu Hwi-ing-cu-lip (elang terbang menutul pari) menutuk pundak Thian-ih tepat di jalan darah Cian-kin-hiat.
Thian-ih tidak berkelit atau menyingkir, dengan jurus Heng-gan-siang-hong (memandang kepuncak) tubuh sedikit mendak kedua tangannya terus didorong ke depan mengarah perut dan dada lawan, jurus serangan ini menggunakan delapan bagian tenaganya, tujuannya supaya lawan tahu diri dan cepat-cepat menarik kembali serangannya.
Untuk selamatkan diri benar juga Ban Ai-ling berkelebat ke samping terus mengirim lagi sebuah pukulan.
Thian-ih himpun tenaganya menyambut pukulan lawan.
"Blang", ternyata Ban Ai-ling tidak kuat menahan tangkisan tenaga Thian-ih yang dilandasi kegusaran sampai tubuhnya sempoyongan, mulutnya berseru tertahan menyatakan keheranannya.
Sungguh diluar sangkanya, pemuda yang tempo hari terjungkal di tangannya, baru berpisah berapa lama saja sudah bertambah pesat kepandaiannya.
Ban Ai-ling menginsyafi bahwa Lwekang lawan sudah lebih unggul dari dirinya.
Hatinya menjadi takut tak keruan paran, tiba-tiba ia berteriak ke arah batu rumah: "Suhu, lekas keluar." Yang benar Thian-ih sudah kerahkan seluruh tenaganya baru sedikit unggul saja.
Begitu mendengar orang berteriak, hatinya sedikit terkejut, apakah seorang pria lain dalam rumah itu adalah gurunya Pak ko-seng" Kalau dia ikut turun tangan, mana dirinya menjadi tandingan orang, lantas teringat Pak-ko-seng dan muridnya ini adalah bangsa rendah yang tidak tahu malu, tanpa merasa timbul hawa amarah dalam benaknya, ingin rasanya segera menghancur-leburkan tubuh kedua guru dan murid ini.
Melihat Ban Ai-ling sudah ketakutan, Thian-ih bergerak semakin cepat dengan serangan yang gencar, sampai musuhnya kelabakan mencak-mencak, jurus-jurus yang dilancarkan adalah ilmu yang dipelajari dari Hun-tai Siancu.
Namun sebelum ia berhasil merobohkan musuh keji ini, dari dalam rumah berkelebat keluar sebuah bayangan, dimana terlihat lengan bajunya dikebutkan, sebuah jalur angin kencang segera menerjang kearah Thian-ih.
Sontak Thian-ih merasa dadanya seperti ditindih batu besar sampai susah bernapas, darah hampir menyembur keluar sampai ditenggorokannya.
Tahu dirinya terancam bahaya cepat-cepat ia melesat mundur.
Gerakan Pak-ko-seng sungguh cepat dan lincah sekali, sekejap saja mendadak ia mendesak tiba disamping Thian-ih sambil perdengarkan gelak tawanya yang bergelombang seperti suara kokok-beluk.
Sekuat tenaga Thian-ih lompat menyingkir, tapi angin pukulan lawan mengekang dirinya seumpama dinding kokohnya, sehingga sia-sialah usahanya hendak menjebol keluar.
Pak-ko-seng hanya menarikan kedua lengan bajunya tanpa turun tangan lebih lanjut, tapi hanya angin pukulannya itu sudah cukup mengekang Thian-ih dalam kurungannya.
Melihat Thian-ih berlarian kian kemari tumbuk sana terjang sini selalu terpental balik dengan sempoyongan, seperti tikus dipermainkan kucing saja, pak-ko-seng tertawa gelak-gelak menikmati hasil karyanya yang sangat dibanggakan selama ini.
Terdengar Ban Ai-ling berteriak dari samping: "Suhu, tutuk dia, aku hendak bertanya pada dia!" Benar juga dengan dua jari tangan kanannya Pak-ko-seng menutuk jalan darah pelemas ditubuh Thian-ih.
Dengan mendelik Thian-ih awasi wajah orang, tapi tak mampu berontak atau bergerak lagi, begitu kiok-ti-hiat terasa linu dia lantas tersuruk jatuh.
Bentak Ban Ai-ling: "Kau datang bersama Cia In-hun bukan" Dimana dia sekarang?" Thian-ih berpikir, kalau Cia In-hun masih belum bangun, kalau sampai terbekuk oleh mereka guru dan murid akibatnya tentu susah dibayangkan.
Maka pejamkan mata tanpa bersuara.
Ban Ai-ling terloroh-loroh, bentaknya lagi: "Thio Thian-ih, kau masih berani tidak buka suara" Biarlah kau merasakan kenikmatan tutukanku ini." disertai dengan ancamannya itu kedua jarinya segera menutuk jalan darah dibawah ketiaknya.
Seketika Thian-ih merasa seakan-akan seluruh tulang dan otot-ototnya lumer dan copot semua, laksana ribuan semut sedang merambat diseluruh tubuhnya, saking kesakitan ia menggigit gigi sekencang-kencangnya sampai mengeluh kesakitan tanpa tertahan.
Ban Ai-ling tersenyum ejek, desaknya lagi: "Katakan tidak" Rasakan kelihayan tutukanku ini!
Lekas katakan, dimana dia sekarang?" Sungguh tidak memalukan watak Thian-ih sebagai seorang kesatria yang kuat menahan segala uji.
Dia tahu kalau dirinya sedang disiksa dengan semacam ilmu membagi urat mencopot tulang, sakitnya bukan buatan, tapi dia masih berusaha tidak membuka mulut.
Tak lama kemudian sambil melihat cuaca segera Pak-ko-seng membuka suara: "Anak Ling cepat kau cari sendiri, waktu dia datang kan ada jejak kakinya, sekarang hujan sudah reda, pasti jejak kakinya masih jelas terlihat....'' Baru sekarang Ban Ai-ling sadar, serunya kegirangan: "Suhu pikiranmu ini tepat sekali.