Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 45

Memuat...

Dan yang menjengkelkan dia mengambing-hitamkan aku menjadi pelarian pemerintah yang mencuri dan membunuh petugas hukum.

Apakah ini maksud baiknya?" Sekarang suara Hun-tai Siancu mengandung tegoran langsung: "Seorang muda jangan begitu terburu nafsu menyimpulkan sesuatu sebelum kau sendiri jelas akan duduk perkaranya.

Betapapun urusan ini kelak dapat dibereskan.

Benarkah dan mengapa kelima orang berkedok itu membunuh engkohmu" Bagaimana juga tindakan si baju perak bukan hendak menjebak kau, akhirnya kau tentu akan paham sendiri akan seluk-beluk semua peristiwa ini." Thian-ih tidak berani banyak petingkah lagi, tapi hatinya masih dirundung pertanyaan yang belum terjawab itu, dia minta supaya Hun-tai Siancu memberikan sedikit penerangan dan jalan petunjuk ke arah penyelesaian yang sempurna.

Sekian lama Hun-tai Siancu termangu memandangi wajahnya, sedikit menggelengkan kepala, sorot mata yang penuh kehampaan serta kepiluan hati terlihat lagi.

Ini membuat Thian-ih terkejut dan curiga.

Sang waktu berjalan sangat cepat, sekejap saja beberapa hari telah berlalu.

Selama itu Thian-ih tinggal di Hun-tiong-khek mendapat petuah dan wejangan berharga dari Hun-tai Siancu, hatinya mulai tenang dan pikiran tentram, beberapa hari berikutnya sebagai seorang angkatan lebih tua lazimnya Hun-tai Siancu menguji kepandaiannya dalam sastra maupun ilmu silat.

Akhirnya didapatinya meskipun bakat Thian-ih sangat baik, tapi cara pelajarannya kalang kabut, terutama dalam bidang ilmu silat, setiap kali Thian-ih bersilat berulang kali Hun-tai Siancu menggeleng kepala.

Dikatakan bahwa Kiam-bun it-ho tidak sepenuh hati membimbing muridnya, mungkin apa yang telah dipelajarinya itu masih kalah jauh dibanding Bangau tunggangannya itu.

Ini perlu perbaikan dan latihan dari mula lagi.

Belajar sastra dan memperdalam ilmu silat untuk bekal hidup adalah harapan Thian-ih sejak semula.

Kini mendapat kesempatan diberi petunjuk dari guru silat kenamaan, dibawah ajaran dan didikan Hun-tai Siancu setiap pagi dia belajar sastra sedang sorenya ikut Hun-tai Siancu belajar silat.

Pelajaran ini termasuk ilmu pedang, ilmu pukulan, senjata rahasia dan Ginkang, sudah tentu dalam hal tenaga dalam juga tidak ketinggalan karena Hun-tai Siancu mempunyai ilmu khas dalam bidang ini.

Diam-diam Thian-ih merasa girang dan bersyukur, semakin giat dia belajar tidak mengenal lelah, dari pagi sampai sore dia tekun belajar.

Sekarang Cia In-hun menjadi kawan seperguruannya, setiap saat mereka selalu berduaan belajar bersama bersilat bersama juga.

Karena dia lebih lama belajar dibawah didikan Hun-tai Siancu sudah tentu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Thian-ih, namun sedikitpun dia tidak sombong atau takabur, bukan saja membantu mengoreksi kesalahan Thian-ih malah selalu mengalah pula.

Mungkinlah memang sudah pembawaan sifat perempuan yang tidak senang menang dan berwatak halus.

Lama kelamaan timbul rasa suka dan simpatik dalam benak Thian-ih terhadap gadis pingitan ini.

Pohon Kwi diatas gunung mudai berkembang, dengan riang dan senang Thian ih lewatkan hidupnya diatas gunung, setelah mendapat petunjuk dan penjelasan dari Hun-tai Siancu sekarang dia tidak terburu nafsu hendak menuntut balas atau mencari perkara kepada si baju perak.

Meskipun masih banyak urusan menanti dia untuk diselesaikan, umpamanya mencari jejak kelima orang berkedok itu untuk menuntut balas sakit hati engkohnya, mencari Ciu Hou untuk menyembuhkan penyakit gila Hi Si-ing, menyerahkan kembali kedua mutiara untuk menolong Lim Han keluar dari penjara, membantu terangkapnya perjodohan Li Hong-gi dengan Nyo Hway-giok, meringkus si baju perak untuk dijadikan saksi akan perbuatannya yang keji membunuh Siu Hoa dan Kiu San.

Pergi ke So-keh-pang menyambangi So-si Hengmoay, semua urusan ini meskipun menanti dia untuk dikerjakan, tapi sekarang Thian-ih merasa yang terpenting adalah memperdalam ilmu kepandaian sendiri untuk bekal dalam menunaikan semua tugas yang harus dilaksanakan itu.

Tentang persoalannya dengan sibaju perak pernah beberapa kali lagi ia tanyakan kepada Hun-tai Siancu, malah Cia In-hun juga tidak ketinggalan dikorek keterangannya, tapi mereka selalu menghindarkan pembicaraan ke soal pokok ini, hanya dikatakan bahwa kelak pasti dirinya akan paham sendiri akan duduknya perkara ini.

Thian-ih menjadi gemes dan dongkol, betapapun Hun-tai Siancu hendak membela dia, kalau toh dia sedemikian keterlaluan sudah mempermainkan dirinya beserta Hong-gi, menganiaya Ciu Hou lagi dan membunuh beberapa orang sahabatnya, semua ini adalah kenyataan.

Bukan mustahil pencurian harta pusaka dari gudang istana juga perbuatannya.

Biar nanti kalau pelajaran silatnya sudah sempurna dan lulus, aku harus meringkusnya hidup-hidup dan memaksanya menyerahkan Ciu Hou keluar serta mengembalikan harta pusaka yang telah dicurinya itu.

Lalu dihadapkan sekian banyak kesatuan Bhayangkari, menelanjangi perbuatan jahatnya yang terkutuk itu.

Andaikan dirinya tidak membunuhnya, pasti para kerabat dari kesatuan Bhayangkari atau handai taulan sang korban akan membuat perhitungan dengan dia.

Teringat Hong-gi tanpa merasa perasaan Thian-ih menjadi hampa dan risau.

Apakah kelak dirinya harus menikah dengan dia " Ataukah merangkapkan perjodohannya dengan Nyo Hway-giok" Nyo Hway-giok adalah seorang pemuda yang paling dipuji dan dikaguminya sedang Li Hong-gi adalah gadis yang paling dicintai, dia tidak tahu bagaimana dirinya harus mengambil sikap atau tindakan" Seumpama pernikahan Hong-gi dengan Nyo Hway-giok betul-betul terangkap, lalu Thian-ih harus mencari jodoh yang mana" Su Hoankah, gadis jelita yg pertama kali mengetuk hatinya ini adalah cerdik dan pandai bekerja, tapi dia masih kalah dibanding dengan Hong-gi.

Atau mencari Sip Yan-hun dari Ciong-lam-san itu " Meskipun sudah bertemu beberapa kali, tapi Thian-ih tahu bahwa pihak sana memang ada jatuh hati terhadap dirinya, tapi bila terhalang akan wajah Hong-gi yang ayu jelita serta suaranya yang merdu terkiang dipinggir telinganya, kalau Sip Yan-hun dibandingkan seumpama kunang-kunang dibanding sinar rembulan.

Bayangan Cia In-hun tiba-tiba terlintas didepan matanya, setiap hari dia menemani dirinya seorang gadis sedemikian cantik, lemah lembut, cerdik cendekia dan cekatan lagi, bukan saja ilmu silatnya tinggi kepandaian sastranya juga diatas lebih tinggi dari dirinya, apalagi dia sedemikian rendah hati, seolah-olah dalam maksud Hun-tai Siancu sudah setuju serta mengharap akan terangkap perjodohan ini.

Setiap kali mereka berduaan selalu Thian-ih merasa selalu gadis ayu ini memandangi dirinya, semua tingkahnya ini tak perlu diragukan lagi bahwa hatinya mulai mekar dan dihinggapi penyakit asmara yang mulai bersemi dalam sanubarinya.

Namun demikian betapa juga Thian-ih sukar dapat melupakan Hong-gi lagi, bukan saja wajahnya yang molek bak bidadari serta potongan tubuh yang menggiurkan itu, wataknya juga lincah dan riang gembira penuh optimistis, pengalaman selama dalam perjalanan yang pahit getir, siapa lagi yang kuat menderita semacam itu.

Ini dapat dimaklumi oleh Thian-ih sendiri.

Sekarang mereka berpisah jauh sekali, tapi Thian-ih percaya pasti Hong-gi tengah mengenangkan dirinya, bagaimana juga rasa cinta ini sulitlah untuk ditampik.

Lama kelamaan Thian-ih dihinggapi penyakit mala rindu, badannya semakin kurus dan pucat, berat rasanya meninggalkan Hun-tai-san karena dia harus memperdalam kepandaiannya disini, tapi kenangannya akan Li Hong-gi selalu mengganggu konsentrasi dalam pelajarannya.

Ingin rasanya dapat terbang untuk berkumpul dengan sang kekasih, bertemuan yang penuh keharuan dan mesra, untuk menceritakan pengalaman selama berpisah ini, sumpah sehidup semati takkan berpisah lagi untuk selama-lamanya.

Agaknya Cia In-hun dapat menyelami kerisauan hati Thian-ih, sore itu setelah latihan selesai dan mendapat persetujuan dari Hun-tai Siancu mereka keluar berjalan-jalan mencari angin.

Setelah berjalan sekian lama mendadak Thian-ih menunjuk puncak didepan Hun-tiong-khek sana dan bertanya: "Belakang Hun-tai-san ini terdapat dua puncak, pemandangan dipuncak sebelah kanan sana bagaimana?" Sahut Cia In-hun: "Puncak didepan itu lebih tinggi, pemandangannya juga menakjupkan!" Tergeraklah keinginan Thian-ih hendak bertamasya sepuas hati, katanya kepada Cia In-hun: "Adik Hun, mari kita dolan ke sebelah sana, sekaligus kita coba Ginkang yang baru kupelajari itu!" Agaknya Cia In-hun sangat terpaksa, namun juga segan menolak permintaan orang, akhirnya ia mengangguk setuju.

Setelah menuruni undakan batu mereka sampai dimana tempo hari Thian-ih hampir terjungkal kedalam jurang dari atas jembatan tambang.

Sekarang Ginkang Thian-ih mengalami kemajuan pesat setelah digembleng oleh Hun-tai Siancu, dengan memberanikan diri beruntun berapa kali loncatan saja dengan enteng sekali dia sudah sampai di sebrang dengan selamat.

Hatinya senang sekali.

Dengan mengembangkan Ginkang mereka berlarian di atas semak belukar dari rumpun pohon yang penuh duri itu dan sampailah ditempat pertemuan pertama dengan Cia In-hun tempo hari.

Disini jiwanya hampir melayang dijebak Ban Ai-ling.

Dengan Cia In-hun sebagai penunjuk jalan, mereka membelok memasuki sebuah jalan pengkolan yang berlika-liku, beruntun mereka melewati lembah dan melompati sungai akhirnya mereka sampai di atas sebuah puncak.

Sekarang terlihat Hun-tiong-khek menjulang tinggi di hadapan mereka.

Jadi tempat di mana sekarang berdiri adalah puncak sebelah kanan dari belakang Hun-tai-san itu.

Angin menghembus sepoi-sepoi membawa harumnya bunga Kwi, terbangkitlah semangat Thian-ih.

Tanyanya kepada Cia In-hun: "Adik Hun, puncak disebelah samping ini seolah-olah lebih baik dari Hun-tiong-khek, tak tahu adakah orang kosen yang mengasingkan diri ditempat ini?" "Ada sih ada, hanya belum bisa terhitung sebagai orang kosen." Thian-ih menjadi heran, tanyanya: "Siapakah dia?" "Mereka bukan lain adalah Ban Ai-ling yang hendak mencelakai kau tempo hari dengan gurunya Pak-ko-seng, mereka kebetulan berdiam dipuncak ini !" Teringat oleh Thian-ih pemuda baju hitam Ban Ai-ling itu, memang adalah seorang rendah yang jahat dan telengas, entah bagaimana martabat Pak-ko-seng itu, dimintanya Cia In-hun memberikan penjelasan.

Cia In-hun memberi tahu bahwa Pak-ko-seng ini sebelumnya berdiam di Pak-ko-san yang membelakangi laut sebelah timur sana.

Ilmu silat Pak-ko-seng sangat tinggi dan sudah sempurna betul, dalam hal sastra umpamanya memetik harpa bermain catur serta seni lukis juga sangat mahir, apalagi pandai pentangan dan mengobati orang boleh dikata dia seorang tokoh yang serba pandai dan luas pengalaman, pergaulannya juga luas dan pandai bicara lagi.

Lima tahun yang lalu sebab mengagumi kepandaian Hun tai Siancu sengaja mereka pindah dari Pak-ko-san ke puncak kanan ini.

Katanya dengan tetangga yang dekat dan berilmu tinggi mereka dapat selalu tukar pikiran dalam segala bidang.

Tapi menurut Hun-tai Siancu bahwa mereka guru dan murid bukan orang baik-baik, sikapnya dingin dan kurang menghargai mereka.

Justru Pak-ko-seng ini tebal muka, sering dia datang merecoki Suhu di Hun-tiong-khek bermain catur atau ngobrol panjang lebar.

Hun-tai Siancu segan menolak, tapi dikasih hati mereka malah menjadi tuman, terutama muridnya yang bernama Ban Ai-ling itu, hatinya jahat, kekejiannya melebihi gurunya, sering juga dia ikut datang untuk mendekati Cia In-hun, membuatnya sangat muak dan benci.

Post a Comment