Sampai pada detik dan keadaan demikian bagaimana juga sikap seorang perempuan yang mudah tersinggung lantas terunjuk dalam lahirnya, karena malu untuk bicara langsung terpaksa ia merengek kepada ayahnya.
Sudah tentu sang ayah juga memaklumi perasaan anaknya, maka segera katanya: "Menantuku yang baik, kalau sedemikian besar tekadmu hendak pergi, biarlah Tong-ing ikut serta sebagai kawan dalam perjalanan.
Memang kau sudah tidak mungkin tinggal terlalu lama disini supaya mereka tidak mencari onar lagi kepadamu, lebih baik kalau kau langsung menuju ke Ho-bwe-pang.
Tong-ing banyak kenal dengan para sahabat dari Ho-bwe-pang.
Usia Tong-ing juga cukup dewasa dan sudah saatnya untuk keluar pintu mencari pengalaman.
Tapi kita harus pulang dulu supaya Tong-ing mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan diperjalanan!" Sebetulnya Hong-gi ingin menolak, tapi kalau secara langsung dikatakan mungkin akan menyinggung perasaan mereka ayah dan anak.
Apalagi seorang diri dalam perjalanan sejauh ini juga cukup sunyi dan menakutkan, kalau ada seorang teman rasanya lebih menggembirakan juga.
Sepanjang perjalanan ini perlahan-lahan mencari kesempatan untuk menjelaskan tentang kedoknya dalam penyamaran ini.
Karena pemikiran ini segera ia manggut-manggut menyetujui.
Sudah tentu Tong-ing kegirangan.
Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Thian-ih yang tengah mengejar bayangan putih perak itu.
Jelas sekali dirinya dijadikan kambing hitam sebagai pembunuh jahat, darah bergolak dan hawa amarah berkobar dalam benaknya, bentuk bayangan yang sudah sangat dikenal dan Ginkang yang luar biasa itu dulu sudah pernah dilihatnya, kalau dulu dirinya kewalahan terang kali ini pengejarannya juga pasti akan sia-sia belaka.
Kejar punya kejar tahu-tahu dari kejauhan didepan sana terlihat bangunan sebuah kota.
Sampai sedemikian jauh Thian-ih juga merasa dahaga dan lelah, perlahan-lahan ia kendorkan larinya, dalam sekejap itu bayangan putih perak didepan sana lantas berkelebat menghilang entah kemana.
Tanpa merasa timbul perasaan giris dan dingin dalam sanubari Thian-ih, bukan saja ilmu kepandaian orang itu bukan menjadi tandingannya, sepak terjang orang yang serba misterius serta ilmu Ginkangnya yang hebat itu betapapun dirinya takkan mungkin dapat mengungkuli.
Alhasil dendam kematian engkohnya serta para sahabatnya yang ikut mati konyol itu bagaimana juga susah dapat terbalas lagi.
Malah sekarang dirinya dicap sebagai pelarian yang mencuri benda-benda pusaka digedung istana raja itu, dalam waktu yang singkat saja pasti berita ini akan tersebar luas di kalangan Kangouw, sampai air laut kering juga takkan dapat mencuci bersih nama baiknya yang sudah ternoda itu.
Thian-ih menjadi putus asa, sebagai murid Kiam-bun It-ho yang sangat kenamaan ilmu kepandaiannya,tapi mengapa setiap kali bergebrak dengan lawan selalu terasa kepandaian sendiri masih terpaut jauh dibanding lawan, apa mungkin gurunya tidak memberi pelajaran sepenuh hati sampai kepandaiannya begitu cetek dan jelek tidak ungkulan dari orang lain, demikianlah hati kecil Thian-ih timbul pertanyaan yang susah terjawab sendiri olehnya.
Sebelum masuk kota Thian-ih istirahat dulu dipinggir hutan, setelah merasa lapar terus masuk kota dan mencari sebuah rumah makan yang paling dekat.
Juragan rumah makan itu seakan sudah kenal Thian-ih saja, dengan hormat dan sopan sekali ia persilahkan Thian-ih duduk, malah tanpa dipesan lagi segera beberapa rupa makanan yang lezat dan enak-enak sudah membanjir keluar diatas meja.
Thian-ih sendiri juga segan membuka mulut, dengan lahap ia sapu habis semua hidangan yang disajikan kini.
Setelah perut terasa kenyang baru dia menerawang tindakan selanjutnya yang harus dilakukan.
Perjalanan ke markas besar Ho-bwe-pang yang terletak di Tam-yang-ouw masih sangat jauh, kalau tidak jadi kesana, sedang sibaju perak sudah menghilang jejaknya, lalu bagaimana dirinya harus mengambil kepastian.
Dalam melayangkan pikirannya itu lantas teringatlah Hong-gi, apakah kekasihnya itu dapat meloloskan diri dari kejaran Yu Liat-bong dan mendapat pertolongan dari Kwi Chun ayah beranak" Bagaimana juga aku harus balik melihatnya, tidak tega rasanya membiarkan dia seorang diri disana, seumpama Kwi Chun dan keluarganya tahu penyamarannya itu dan menjadi gusar bukankah berabe sekali.
Apalagi kuda dan perbekalannya masih berada disana......
teringat akan perbekalan dia lantas tersentak kaget, bukankah perak dan uangnya juga tersimpan dalam buntalannya itu, sekarang dirinya tidak membekal sepeser uangpun jua, waktu merogoh kantong benar juga kosong melompong, apapun tidak dibekalnya.
Kota ini kira-kira tigapuluhan li jauhnya dari tempat pertempurannya itu, tangan Thian-ih yang terulur masuk kantong jadi susah dikeluarkan, sekian lama dia duduk melongo entah bagaimana cara penyelesaiannya ini.
Juragan rumah makan itu dipanggilnya, sambil berseri tawa bertanya si juragan rumah makan itu: "Tuan, sudah selesai makan" Perlu tambah apa lagi ?" Thian-ih merasa tidak enak hati, sekian lama dia susah membuka mulut: "Kau sebagai juragan rumah makan ini aku ada sedikit urusan hendak bicara dengan kau tentang uang makan..." Tak duga sebelum selesai perkataannya, si juragan rumah makan sudah menukasnya: "Maksud tuan tentang ongkos makan ini bukan" Siang-siang sudah dipesan dan dibayar lunas!" Thian-ih terperanjat, cepat ia bertanya siapakah yang telah bayar.
Sahut juragan rumah makan; "Seorang tuan yang mengenakan pakaian baju perak, dialah yang pesan dan minta disediakan makanan untuk tuan.
Malah dia juga suruh kami menyampaikan pesannya bahwa dia melanjutkan perjalanan menuju ke timur suruh tuan segera mengejarnya, juga sudah disediakan seekor kuda untuk tuan!" Thian-ih bungkam seribu basa.
Sementara itu pelayan rumah makan telah menuntun keluar seekor kuda yang serba lengkap, pelana dan pedalnya masih baru gres.
Sepak terjang baju perak ini betul-betul sangat misterius, belum jauh dia meninggalkan Thian-ih, tapi dalam waktu sedemikian singkat sudah dapat menyelesaikan urusan sedemikian banyak.
Thian-ih berpikir, tindakannya yang demikian cekatan dan rapi, tapi dia lupa satu hal.
Mana dia dapat menyelami isi hatiku yang tengah merindukan Hong-gi disebelah belakang setelah kenyang gegares hidangannya, dengan menunggang kuda yang baru dibelikan ini terus bukan menuju ke timur, tapi malah putar balik biar dia kecele.
Setelah berada diatas kuda baru saja hendak dilarikan ke arah barat, tiba-tiba dilihatnya secarik kertas terselip dibawah pelana, kertas itu penuh tulisan yang berbunyi: "Tak usah terkenang akan Hong-gi, adikmu itu selamat tak kurang suatu apa.
Cepat-cepatlah menuju ke laut timur, disana kau akan menemukan yang menguntungkan." tulisannya indah dan kuat berlekak-lekuk sangat jelas, inilah tulisan Si baju perak berpedang emas itu.
Sungguh Thian-ih tidak habis paham apa gerangan yang tengah diaturnya ini" Sudah terang kalau dirinya dipihak yang bermusuhan, sekali angkat tangan atau tendang saja cukup untuk membuat dirinya mampus.
Tapi selama ini dia tidak pernah turun tangan terhadap Thian-ih, hanya para sahabatnya saja yang konyol menjadi korban, tinggal dia seorang diri.
Perjalanan yang jauh dan melelahkan, rasa dongkol dan keki berkecamuk dalam benaknya.
Semua ini bukan saja tidak dihiraukan oleh lawan malah memberi petunjuk untuk menuju ke timur dengan pengalaman aneh yang menguntungkan apa segala.
Setelah sekian lama direnungkan akhirnya dia ambil kepastian untuk melanjutkan ke timur seperti petunjuk dalam carik kertas itu.
Meskipun kuda dan pelananya serba baru, namun selama perjalanan ini sepeserpun Thian-ih tidak membekal uang.
Akan tetapi lawannya sibaju perak itu sepanjang jalan telah mengatur segala keperluannya dengan rapi dan beres.
Setiap tiba disebuah kota tentu menginap disebuah hotel terbesar dan mewah, hidangan paling lezat dan enak adalah makanannya, tidur dihotel serba mewah dengan gratis.
Sampai pakaian luar dalam yang diperlukan juga sudah disediakan dalam hotel-hotel yang dikunjunginya.
Sepanjang jalan ini meskipun sibaju perak meninggalkan segala keperluan ini itu, tapi selama ini tak pernah meninggalkan uang.
Thian-ih tahu pasti dia kuatir begitu dirinya mengantongi uang segera memutar balik lagi.
Entah apa maksud tujuannya memancing dirinya menuju ke laut timur" Hari itu tiba juga disebuah kota besar dipinggiran lautan timur, disini sibaju perak meninggalkan sepucuk surat yang berbunyi : "Besok tengah hari pergilah panjat Hun-tai diatas puncak akan ada orang menyambut kau!" Ternyata ia menjanjikan Thian-ih bertemu di Hun-tai-san, tapi entahlah apakah dia sendiri yang menantikan disana.
Hun-tai-san terletak sebelah timur keresidenan Tang-hay, gunung ini terbagi depan dan belakang Hun-tai-san.
Thian-ih tidak tahu entah gunung yang mana yang ditunjuk dan dimaksud oleh sibaju perak.