Ternyata Cu Bing telah melanggar hukum, tidak heran ia tidak berani tinggal terlalu lama di rumahnya, meninggalkan gelang batu giok dan menolak perjodohan dengan putrinya, ini tidak lain supaya urusan hukum negara tidak merembet kepada perkampungannya.
Haha, biar sekali ini dia tahu diri bahwa bapak mertuanya ini karena urusan bakal mantunya juga berani menghadapi setiap rintangan dan tantangan, seumpama langit bakal ambruk juga tidak peduli lagi.
Maka segera bentaknya: "Bedebah, mantuku ini melanggar hukum apa " Berani kau menuduhnya sebagai pelarian.
Kau sangka setelah aku menutup pedang lantas tidak berani turun tangan " Haha !
Mari maju bersama biar kalian kenal kepandaian asliku meskipun tidak menggunakan sepasang pedangku, mengandal sebatang pecut kecil ini rasanya cukup berlebihan menghadapi kalian bangsa kurcaci !" "Serr !" tanpa menanti reaksi orang segera pecutnya diayun menyerang ke arah Yu Liat-bong.
Belum sempat mendengar jelas perkataan orang tahu-tahu dirinya diserang, keruan Yu Liat-bong dan Lu Cau berjingkrak gusar.
Tanpa sungkan-sungkan lagi Yu Liat-bong menangkis dan balas menyerang dengan sepasang kepalannya.
Sementara Lu Cau melolos senjatanya yang berupa sepasang tombak pendek bergigi, berbareng mereka maju merangsak dan menyerang.
Kwi Chun juga melompat turun dari atas kudanya, lama sudah tidak pernah berkelahi maka terbangkitlah semangat dan darah mudanya.
Bagai seekor harimau galak dengan garang ia gerakkan pecutnya terus menerjang menghadapi rangsakan Yu dan Lu berdua.
Melihat usia musuhnya ini sudah agak lanjut Yu Liat-bong agak memandang enteng lawan sedikit mengerut alis segera ia berkata pada Lu Cau: "Saudara Lu !
Kau seret saja perempuan itu !
Segera aku menyusul !" Sambil menjinjing tombak pendeknya Lu Cau menghampiri kearah Hong-gi yang sedang menggelendot di haribaan Kwi Tong-ing.
Mereka tengah berunding cara bagaimana harus meloloskan diri.
Mendengar orang berteriak hendak menyeret perempuannya saja, bukankah yang dimaksud ini adalah dirinya, demikian pikir Tong-ing, sudah tentu hatinya menjadi dongkol katanya tersenyum kepada Hong-gi: "Kongcu, kau rebah saja istirahat, biar aku beri pelajaran pada orang kurangajar ini !" Hong-gi manggut-manggut, tapi kuatir melukai orang dan urusan bakal berlarut tiada habisnya segera ia berpesan: "Cici, jangan melukai mereka, diusir saja sudah cukup !" Mendengar suara kekasihnya sedemikian nyaring lantang agak serak-serak basah, girang hati Kwi Tong-ing, sahutnya tertawa: "Baiklah kuturuti permintaanmu." Melompat bangun terus memapak maju menghadapi Lu Cau.
Mendadak Lu Cau merasa pandangannya agak kabur sebuah bayangan putih berkelebat di depan matanya sebelum ia melihat tegas tiba-tiba "Plak" pipi kirinya tahu-tahu kena digampar dengan kerasnya.
Lantas terdengar makian Tong-ing: "Kunyuk, kalau kau tahu diri lekas menggelinding pergi, jangan kau tunggu nonamu ini benar-benar turun tangan." Lu Cau menjadi murka, kedua senjatanya bergerak sambil membentak: "Kau cari mati !" dari atas dan bawah tombaknya itu masing-masing mengarah pundak dan lambung lawan.
Seperti ayahnya Tong-ing sendiri juga tidak membekal senjata, cepat-cepat ia melompat mundur meluputkan diri, sesuai dengan nama julukannya siwalet putih memang Gin-kangnya luar biasa, sekali loncat dua tombak tingginya, begitu meraba badannya untung juga dia membekal beberapa batang senjata rahasia mata uang emas, maka dirogohnya sebatang dipersiapkan ditangannya.
Waktu Lu Cau menyerang lagi dengan senjatanya, sekali berkelebat Tong-ing menggeser kedudukan ke samping kanan sambil membentak: "Lihat senjata rahasia !" Dimana sinar emas berkelebat maka terdengarlah Lu Cau berteriak kesakitan.
Sitangan penembus awan Yu Liat-bong lantas sadar siapakah orang yg tengah dihadapinya ini, maka cepat-cepat ia mundur dan menghentikan pertempuran serta serunya: "Bukankah tuan adalah Thi-pi-kim-liong Locianpwe?" Semangat tempur Kwi Chun sedang mencapai puncaknya melihat orang mundur dan menghentikan perkelahian ini hatinya menjadi dongkol, jengeknya dingin: "Bagaimana!
Sangkamu setelah aku menutup pedang lantas tidak berani berkelahi" Hehe!
Kalian berani menyakiti menantuku.
Kalau tidak kugebah kalian ini siapa lagi yang harus kupukul?" Kali ini Yu Liat-bong sudah mendengar jelas, tanyanya terheran: "Menantumu" Siapakah menantumu"'' Takut orang membongkar kedok penyamarannya segera Hong-gi menimbrung: "Lopek, kawan-kawannya masih mengepung Thio-toako disebelah belakang sana, mereka bukan orang baik-baik, jangan kau dengar obrolan mereka!" Melihat menantunya tidak kurang suatu apa, girang hati Kwi Chun, serta mendengar Thian-ih tengah terkepung hatinya menjadi gusar lagi, bentaknya : "Masih pura-pura pelo" Tidak lekas pergi, apa masih mau merasakan pecutanku ini !" sambil mengancam ia mengayun tangan "tar" pecutnya berbunyi nyaring ditengah udara.
Yu Liat-bong ialah paham bahwa yang dimaksud menantunya itu adalah Thian-ih adanya.
Sungguh sebal dan runyam demikian pikirnya.
Ternyata Thio Thian-ih adalah bakal menantu dari keluarga Kwi ini, naga-naganya urusan ini bakal susah diselesaikan.
Tengah ia merenung dan hendak memberi penjelasan sekadarnya, Kwi Chun sudah mengayun pecutnya sambil menerjang maju lagi, terpaksa ia gerakkan kedua tangannya untuk melawan.
Dilain pihak Lu Cau sudah terluka parah, untung Tong-ing tidak mendesaknya lagi hanya menjaga keselamatan Hong-gi.
Sebaliknya Hong-gi menguatirkan keselamatan Thian-ih: "Cici, lekaslah kau pergi menolong Thio-toako.
Dia sedang dikeroyok dua orang disebelah depan sana.......
lekas..........lekaslah pergi!" Kwi Tong-ing menjadi heran dan membatin.
Sedemikian baik hubungannya dengan orang she Thio ini sampai keselamatan sendiri juga tidak dihiraukan lagi, malah mendesak aku pergi menolong sahabatnya itu.
Tengah ia hendak berangkat terasa keadaan disini tidak mengijinkan.
Betapapun parah luka dipundak Lu Cau itu masih dapat membuatnya bergerak, sedang ayahnya juga sedang asyik bertempur, kalau dirinya tinggal pergi lalu bagaimana dengan bakal suaminya yang lemah, keselamatannya tiada orang yang menjamin.
Tengah hatinya bimbang dan ragu-ragu, mendadak terdengar derap langkah kuda mendatangi dengan cepat, orang diatas kuda lantas berteriak: "Yu-toako, Kiu San sudah terbokong dan mati dibunuh oleh bocah keparat itu dengan senjata rahasia berbisanya lagi !" Bercekat hati Yu Liat-bong, cepat tanyanya: "Mana Thian-ih?" Pendatang ini adalah sitombak sakti Khu Gi-liong, sahutnya: "Dia sudah lari, sudah kukejar tidak kecandak, cepat juga lari bocah keparat itu." Mendengar percakapan itu Hong-gi yang rebah diatas tanah menjadi girang dan kuatir, girangnya bahwa Thian-ih ternyata tidak kurang suatu apa, kuatirnya bahwa dia telah membunuh lagi salah seorang anggota kesatuan Bhayangkari, urusan ini selanjutnya semakin runyam dan susah dibereskan.
Dan yang terpenting sejak saat ini dia harus berpisah dengan dirinya, mungkin dia terus melanjutkan perjalanan menuju Ho-bwe-pang, betapapun aku harus mengejarnya kesana.
Sebaliknya Kwi Tong-ing berjingkrak girang, batinnya; sahabatmu itu telah lari setelah membunuh orang, hendak kulihat kemana pula kau hendak mencarinya, seorang pelajar lemah seperti kau ini bagaimana mungkin melakukan perjalanan sedemikian jauh seorang diri, jalan yang tepat tinggal dirumah menjadi menantu bapakku.
Karena pikirannya ini wajahnya lantas berseri-seri.
Tapi melihat pihak lawan kini tambah seorang lagi cepat-cepat ia melindungi didepan Hong-gi.
Berkatalah Yu Liat-bong: "Kwi-loyacu adalah seorang gagah yang kenamaan, kami sekalian adalah kesatuan Bhayangkari dari istana raja.
Hari ini kita terjungkal dibawah tangan Kwi-lo-enghiong tidak perlu dibuat malu.
Tapi entah mengapa Lo-enghiong malah melindungi pelarian yang harus kita bekuk?" Naga emas berpunggung besi juga bukan orang goblok, dari menghadapi para Bhayangkari ini lantas dia teringat akan mutiara mestika yang menyembuhkan putrinya itu.
Bukan mustahil bakal mantunya ini dan Thio Thian-ih yang telah mencuri barang-barang mustika milik raja.
Tapi jelas kalau Cu Bing ini seorang pelajar yang lemah tak pandai silat, betapapun susah dipercaya dia berani menjadi pencuri.
Pasti Thio Thian-ih itulah yang berbuat.
Maka segera ia membuka kata: "Kalian sudah salah mencari orang.
Hakikatnya dia tidak pandai main silat, bagaimana mungkin melanggar hukum apa segala.
Apa lagi mencuri" Bukankah obrolan yang menggelikan saja " Sudah tidak perlu banyak bacot lagi, lekas kalian pergi, sejak saat ini jangan kalian kemari mencari perkara!" Kata Yu Liat-bong penuh kebencian: "Thio Thian-ih itu kita akan kirim orang untuk mengejar dan mencari jejaknya, tentang Li......" dia menunjuk kearah Hong-gi.
Hong-gi menjadi kuatir, segera dampratnya: "Bedebah untuk apa kau main tuding dan tunjuk aku?" Kata Yu Liat-bong: "Cepat atau lambat kita juga harus menyeretmu pergi kekota raja untuk menjadi saksi, tentang mutiara itu....." Siwalet putih Kwi Tong-ing juga tahu yang diminta mereka itu adalah mutiara mestika yang telah menolong jiwanya itu, bagaimana juga mestika itu tidak bisa diserahkan, karena merasa sayang; kuatir ayahnya menyanggupi untuk dikembalikan cepat-cepat ia membentak: "Lekas pergi, jangan sesalkan nanti nonamu tidak memberi ampun pada kalian!" sambil mengancam dirogohnya senjata rahasia, mata uang yang berkilauan ditimpali sinar surya.
Yu Liat-bong dan Khu Gi-long bergegas mengangkat Lu Cau keatas kuda terus dibawa pergi.
Hong-gi masih belum lega, beramai-ramai mereka juga naik kuda membuntuti dibelakangnya setelah melihat mereka benar-benar mengangkut jenazah Kiu San baru mereka menghela napas panjang.
Disebelah sana terlihat kuda tunggangan Thian-ih tengah makan rumput, perbekalannya masih utuh.
Sekian lama Hong-gi berdiri termangu, besar harapannya dia akan kembali lagi, tapi nanti punya nanti setengah harian sudah lewat tanpa terlihat bayangannya.
Terdengar Naga mas berpunggung besi membujuk: "Jikalau Ji-chengcu tidak sampai meninggal atau terluka, pasti kepergiannya ini ada urusan penting yang perlu diselesaikan, marilah kita kembali dulu kerumah!" Namun Hong-gi agaknya sudah bertekad bulat, segera barang perbekalan Thian-ih dipindah keatas punggung kudanya, lalu katanya kepada Kwi Chun ayah beranak: "Aku sudah berjanji dengannya melakukan perjalanan menuju ke Ho-bwe-pang, mungkin dia sudah mendahului aku, betapa juga aku harus mengejarnya." Kecut dan mendelu perasaan Tong-ing dilihatnya orang sedikitpun tiada perhatian terhadap dirinya.