Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 37

Memuat...

Tapi mutiara mestika sedemikian ..........ai!" Tanpa merasa Thian-ih dan Hong-gi saling pandang, sungguh tak nyana didunia ini ada urusan yang sedemikian kebetulan, bukankah Le-hwe-po-cu yang dikatakan itu kebetulan berada pada Hong-gi.

Terdengar Kwi Chun berkata lagi: "Kupernah dengar cerita orang katanya di istana raja ada sebutir mutiara mestika itu, selain butir itu kemana pula harus dicari.

Gadisku itu tahun ini berumur delapanbelas belum ditunangkan, siapa nyana terserang penyakit jahat begitu, kelihatannya tiada harapan lagi......

Tuhan, oh, Tuhan.

Aku Kwi Chun selamanya berlaku lurus dan bijaksana, mengapa pada hari tuaku ini mendapat pembalasan yang tidak adil ini?" Tak tertahan lagi Thi-piat-kim-liong yang sudah tua ini menangis sesenggukan terbawa oleh perasaannya yang sedih dan pilu.

Sekilas Hong-gi melirik kearah Thian-ih, Thian-ih sedikit mengangguk, Hong-gi lantas berkata lantang: "Paman Kwi tak perlu susah, kebetulan siautit juga membawa serta Le-hwe-pocu, kalau memang manjur marilah kita coba-coba." Meskipun berpakaian laki-laki namun suara Hong-gi masih kecil melengking, Kwi Chun menyangka pendengarannya yang salah, cepat-cepat ia bertanya: "Apa, dimana Le-hwe-pocu itu?" "Paman," sahut Thian-ih, "Mungkin sudah takdir, Cu-hiante kebetulan membawa mutiara yang diperlukan itu, kalau memang manjur kasiatnya lekaslah dicoba saja." Saking kegirangan Kwi Chun sampai berjingkrak, serunya sambil menggenggam tangan Hong-gi: "Cu-hiantit, apa betul kau punya mutiara itu?" matanya berlinang-linang sambil menatap wajah Hong-gi.

Hong-gi merasa tangannya kesakitan, tersipu-sipu ia manggut-manggut.

Kwi Chun tertawa keras, teriaknya sambil menarik Hong-gi: "Cu-hiantit marilah kau tolong jiwa gadisku, lekas ikut aku." Thian-ih tetap tinggal dalam ruangan itu ditemani pembantu rumah tangga Kwi Chun.

Sementara itu Hong-gi terus ditarik masuk keruang belakang, sambil berjalan Kwi Chun berkaok-kaok : "Kabar baik, kabar baik, tuan penolong sudah datang, lekas beritahukan kepada Hujin!" Saking keras dan cepat tarikan Kwi Chun, Hong-gi sampai terseret megap-megap masuk ke sebuah kamar, para pelayan perempuan segera menyingkir mengundurkan diri.

Mereka tiba dalam sebuah kamar yang berdampingan dengan kamar yang lain, diambang pintu mereka bertemu dengan seorang nyonya setengah umur, segera Kwi Chun memperkenalkan.

Kiranya nyonya ini adalah istri Kwi Chun sendiri, cepat-cepat Hong-gi membungkuk tubuh memberi hormat sambil menyebutnya bibi.

Sepasang mata Kwi-hujin mendelong mengawasi wajah Hong-gi, terang dia terpesona akan kecakapan dan gantengnya wajah yang putih halus ini.

Hong-gi sampai kemalu-maluan diawasi sedemikian rupa.

Dari dalam bajunya Hong-gi keluarkan mutiara mestika itu terus diserahkan kepada Kwi Chun katanya: "Mutiara yang terporot diatas anting-anting ini adalah Le-hwe-cu, bagaimana caranya penyembuhan ini, maaf Siautit tidak dapat mengerjakan.

Sampai disini saja Siautit minta diri, biar kutunggu hasilnya nanti diruang depan sana." habis memberi hormat terus hendak mengundurkan diri.

Lekas-lekas Kwi Chun menariknya, katanya: "Cu-hiantit, nanti dulu!" lalu ia berbisik-bisik sekian lama dengan Hujin.

Hong-gi tidak tahu apa yang tengah mereka rundingkan.

Hanya dilihatnya Kwi Hujin manggut berulang-ulang.

Kwi Chun mengembalikan mutiara itu ke tangan Hong-gi serta katanya: "Hiantit, menurut keterangan tabib, Mutiara mestika ini cukup diputar-putar sekitar luka bisul itu pasti racunnya segera lenyap, cara ini sangat gampang, tabib juga menambahkan lebih baik kalau yang mengerjakan penyembuhan ini adalah orang muda, maka kami memberanikan diri minta Hiantit suka merepotkan diri." tanpa menanti jawaban Hong-gi terus ditariknya masuk kedalam kamar.

Dua pelayan dalam kamar itu segera mengundurkan diri, pintu ditutup dari luar.

Dibawah penerangan sinar pelita tampak diatas ranjang celentang seorang gadis remaja yang bernapas empas-empis tinggal menunggu waktu saja.

Hong-gi maju mendekat, dilihatnya kedua pipi gadis ini merah membara, matanya dipejamkan, wajahnya cukup cantik jelita, mungkin karena menahan kesakitan keningnya terkerut dalam, keadaannya diantara sadar dan tiada.

Hong-gi kewalahan, sampai sedemikian jauh terpaksa dia harus turun tangan, pelan-pelan ia menyingkap kemul terus membuka pakaiannya, diperiksanya luka bisul dibawah pusernya, bisul sebesar mata uang itu sudah pecah dan mengalirkan darah hitam, sekitarnya merah dan melepuh, keadaan ini memang sangat menguatirkan.

Sesaat sebelum turun tangan, segera Hong-gi yang cerdik ini paham segala-galanya tentang maksud Kwi Chun suami istri, mengapa sedemikian besar kepercayaan mereka menyuruh dirinya yang turun tangan.

Setelah bimbang sekian lama akhirnya ia mulai bekerja, memutar-mutar mutiara mestika itu disekitar luka bisul sampai beberapa kali.

Benar juga warna merah disekitar bisul itu segera lenyap dan kembali berwarna putih seperti sedia kala.

Hong-gi bekerja semakin hati-hati, putarannya semakin diperkecil disekitar bisul itu.

Mutiara penahan api ini memang benar-benar sangat mujarab kasiatnya, pelan-pelan tapi pasti warna merah yang melepuh itu mulai kempes dan hilang, darah hitam mengalir semakin banyak, bisul berbisa itu juga rada kempes.

Napas sigadis mulai teratur dan normal kembali.

Sampai putaran yang terakhir darah hitam sudah terkuras semua.

Bisul itu juga sudah sembuh kembali, terdengar ia mulai mengeluh dan menggerakkan badan, cepat-cepat Hong-gi membersihkan noda-noda darah, mengancingkan baju dan menutupi tubuhnya dengan kemul lagi.

Pada saat itu juga kebetulan nona Kwi telah siuman begitu kedua pasang mata saling pandang, Hong-gi melihat sorot matanya itu mengandung rasa terima kasih tak terhingga, tapi tampak rada-rada malu.

Hong-gi segera mundur mengetok pintu, panggilnya: "Paman dan bibi Kwi, penyakit nona sudah dapat disembuhkan, harap bukakan pintu, aku mau keluar." Hari kedua cuaca mendadak menjadi mendung dan hujan lebat.

Ini malah kebetulan bagi Kwi Chun untuk menahan tamu-tamunya menginap semalam lagi dirumahnya.

Sedemikian ramah dan kasih sayang pelayanannya terhadap Thian-ih berdua seakan anak kandung sendiri.

Keruan Thian-ih berdua merasa risi dan tak enak hati, lambat laun mereka menyadari adanya sesuatu yang ganjil dibelakang tabir pelayanan yang istimewa ini.

Diam-diam Hong-gi berkata kepada Thian-ih: "Kalau kita tidak segera berangkat nanti pasti timbul urusan yang menyulitkan.

Kuyakin Kwi-lothau pasti minta kau menjadi comblang." Thian-ih sengaja menggoda: "Baik sekali.

Betapa gagah dan ganteng adikku ini, setelah semalam kau tolong jiwa nona Kwi, kalian sudah bersentuhan badan, sudah tentu harus minta aku menjadi comblang, biarlah nona Kwi itu dinikahkan dengan adik angkatku ini.

Dan ini memang kebetulan, sanguku di perjalanan sudah habis, Kwi-loya ini kaya raya pasti persennya padaku tidak sedikit nilainya." habis berkata ia bergelak tertawa sepuas-puasnya.

Hong-gi merengut sambil membanting kakinya, omelnya: "Hatiku tengah gugup dan pepat, sebaliknya kau senang mempermainkan orang." Tengah mereka ribut berkelakar, seorang pelayan mengetuk pintu melaporkan bahwa majikannya minta Thio-kongcu keluar menemuinya.

Thian-ih bangun sambil tertawa-tawa, ujarnya: "Bagaimana" Betul tidak, adegan ini sudah akan dimulai, tunggulah kedatanganku, tanggung ada kabar gembira bagimu." Saking jengkel dan gugup Hong-gi memburu hendak memukulnya sambil tertawa, dengan tenang saja Thian-ih membetulkan letak bajunya terus berlari keluar kamar, mengikuti pelayan itu menemui majikannya.

Naga mas berpunggung besi sudah menanti kedatangannya di ruang tamu.

Melihat Thian-ih datang, sambil tertawa berseri ia bangkit dan mengajak ngobrol sekadarnya, lambat laun mereka bicara ke persoalan pokok, mencari tahu riwayat hidup Cu Bing serta keadaan keluarganya.

Thian-ih tertawa geli dalam hati, dengan wajar dan samar-samar saja ia menerangkan.

Agaknya Kwi Chun sangat puas dengan pembicaraan tahap pertama ini, apalagi diketahui dari keterangan Thian-ih tadi bahwa Cu Bing belum pernah nikah dan belum punya tunangan, puaslah hatinya, akhirnya dengan menghela napas lega Kwi Chun bicara ke persoalan yang pokok: "Beruntung ada mutiara mestika yang dibawa Cu-hiantit itu baru anak gadisku dapat disembuhkan.

Mutiara mestika itu betul-betul mujarab, begitu penyakitnya sembuh pagi ini dia sudah bisa makan bubur, baru saja Lohu pergi melihatnya, semangatnya sudah pulih kembali.

Sejak kecil ia sudah belajar silat dan karena kesukaannya mengenakan pakaian putih, maka di kalangan Kangouw orang memberi julukan Pek-yan Kwi Tong-ing.

Budak kecil ini sangat tinggi hati, orang biasa tidak akan masuk kedalam perhatiannya, maka meskipun ayu remaja sampai sekarang belum dapat menemukan jodohnya.

Memang Tuhan sungguh Maha Pengasih dan sudah mengatur jalan hidup seseorang, secara kebetulan bertemu dengan Cu-hiantit..............." Naga mas punggung besi ini berwatak jujur dan polos, secara terang-terangan ia curahkan isi hatinya kepada Thian-ih.

Bahwa penyakit bisul beracun Kwi Tong-ing itu tumbuh dibawah pusarnya, mendengar Cu Bing membawa mutiara yang dibutuhkan itu, pula melihat pribadi Cu Bing yang ganteng dan kenal sopan santun, timbullah keinginan mereka untuk mengambilnya sebagai menantu, maka sengaja menyuruh dia turun tangan sendiri menyembuhkan penyakit itu.

Kenyataan sekarang penyakit anaknya sudah sembuh seluruhnya, jiwa raga anaknya bagaimana juga sudah menjadi milik Cu Bing.

Anak gadisnya juga sudah setuju akan perjodohan ini, agaknya pasangan ini memang sangat cocok satu sama lain, maka diharap Thian-ih suka tolong merangkapkan perjodohan ini.

Post a Comment