Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 35

Memuat...

Lim Han masuk penjara karena kau, jiwanya terancam dalam waktu dekat, beginikah sikapmu terhadap sahabat baik" Hehehe, sekarang tak perlu banyak mulut, kau ikut kami langsung bicara dengan Lim Han saja !" Thian-ih tak habis mengerti apa yang telah terjadi.

Hwe-poan-koan (pena berapi) Siu Hoa berjingkrak murka tak mau memberi keterangan, maka salah seorang anak buahnya yang memberi penjelasan.

Kiranya persoalan mengenai kedua butir mutiara mestika itu, setelah Thian-ih menyerahkan kepada Lim Han, Lim Han langsung menyerahkan kepada atasannya, namun setelah diperiksa ternyata bahwa kedua mutiara itu palsu, betapapun Lim Han tak dapat main debat lagi, kontan dirinya dihukum masuk penjara dan diperiksa dengan keras.

Siu Hoa ini adalah sejawat dengan Lim Han, dia tahu bahwa kedua mutiara itu adalah penyerahan dari Thian-ih, maka lekas-lekas ia pimpin anak buahnya mencari Thian-ih.

Diam-diam Thian-ih mengeluh dalam hati.

Betapa besar kasiat kedua mutiara itu dapat melindungi tubuh Li Hong-gi selama seratus hari tanpa membusuk, sepanjang perjalanan jauh tidak membuat badan kotor, disimpan begitu rapat dan dia sendiri yang langsung menyerahkan kepada Lim Han, mana mungkin bisa palsu.

Semakin pikir hatinya semakin kesal dibuatnya.

Sipena berapi loncat turun dan atas kuda terus menjambret lengan baju Thian-ih, hardiknya: "Thio Thian-ih, apa lagi yang perlu kau katakan" Ikut saja perintah kami !" Thian-ih mengebas sambil menyingkir kesamping.

Thian-in insaf betapapun dirinya susah memberi penjelasan.

Jejak kelima orang berkedok sudah diketahui, inilah saat dirinya pergi ke Ho-bwe-pang mencari tahu.

Kalau ke kota raja tersaruk kedalam persoalan yang tidak menguntungkan, bukan mustahil dirinya bakal masuk penjara juga.

Kalau kedua mutiara itu tak dapat diketemukan selama hidup ini pasti dirinya hidup dibelakang terali-besi, bagaimana juga persoalan ini sulit diselesaikan dalam waktu singkat, aku harus berusaha membikin terang segala-galanya.

Walaupun Lim Han sedikit menderita tapi takkan dihukum mati.

Lebih baik dirinya mencari kedua mutiara itu untuk menolongnya keluar.

Karena ketetapan pikiran ini segera ia berkata kepada Siu Hoa: "Aku tidak bisa ikut kau......" Belum ucapannya habis, Siu Hoa sudah menggerung gusar sambil melolos golok dipinggangnya, bentaknya: "Thio Thian-ih, kami memperoleh tugas untuk membekukmu, kau berani membangkang pada pemerintah?" Thian-ih menjadi gugup, serunya: "Saudara Siu, dengar dulu penjelasanku." Watak Siu Hoa memang kasar dan kaku, semprotnya: "Tiada yang perlu dijelaskan, ikut aku pergi!" Sembari mengumpat caci, kelima jarinya diulur mengcengkeram dada Thian-ih.

Thian-ih berkelit, namun dengan jurus Lak-pi-hoa-san (membelah gunung Hoa-san) golok Siu Hoa sudah mengancam batok kepalanya.

Ringan sekali Thian-ih loncat menyingkir, terdengar Siu Hoa mencaci: "Beginikah murid Kim-bun-it-ho yang kenamaan itu, tak ubahnya sebagai pencuri picisan.

Tak malu kau angkat diri sebagai seorang kesatria, biar hari ini Siu Hoa belajar kenal dengan kepandaianmu." Karena didesak demikian rupa, jengkel juga Thian-ih akhirnya, untuk membela diri terpaksa ia harus menggerakkan tangannya juga, sekali kebas ia sampok bacokan golok lawan.

Tenaga Siu Hoa ini besar dan serangannya juga berbahaya.

Thian-ih sendiri masih ragu-ragu untuk turun tangan, tenaganya hanya empat lima bagian saja yang terkerahkan, meskipun golok lawan kena disampok, telapak tangan sendiri juga terasa pedas.

"Thio Thian-ih," Siu Hoa berkaok-kaok, "Kau ini pokrol bambu, berani kau membangkang, betapapun hari kau harus diringkus." "Wut, wut, wut." beruntun tiga kali ia lancarkan serangan berantai mengarah tempat-tempat vital yang membahayakan jiwa Thian-ih.

Terpaksa Thian-ih harus berloncatan menghindar.

Melihat lawan mendesak sedemikian rupa tanpa mau dengar penjelasannya memaki lagi nama baik perguruan, timbullah amarahnya.

Begitulah waktu Siu Hoa mengayun goloknya menyerang lagi, jurus ini dinamakan Gu-kak-kut-su (buku tergantung ditanduk kerbau), tenaganya besar membacok sambil menendang.

Apa boleh buat, kali ini Thian-ih harus membalas.

Kedua jarinya dirangkapkan dengan jurus Hoan-te-hoan-lian (membalik bunga teratai dari bawah), tangan menutuk jalan darah, kakinya juga tidak tinggal diam menggeser kedudukan hanya terpaut serambut saja serangan golok Siu Hoa mengenai tempat kosong.

Sekejap saja mereka sudah bergebrak puluhan jurus, mendadak sipena berapi berpaling sambil membentak: "Kalian masuk, geledah seluruh rumah adakah gadis she Li itu, ringkus dia sekalian!" Para anak buahnya serentak mengiakan terus menerjang sambil menenteng senjata.

Thian-ih menguatirkan keselamatan Hong-gi, hatinya menjadi gugup, pikirnya bagaimanapun mereka harus dicegah untuk bertindak sembrono.

Maka teriaknya: "Saudara Siu, lekas berhenti, dengarkan penjelasanku !" sambil berteriak ia melesat menghadang di depan pintu.

Melihat orang agaknya sudah nekad untuk melawan, Siu Hoa angkat tangan menghentikan kawan-kawannya, jengeknya dingin: "Thio Thian-ih, kalau kau seorang laki, kau harus menolong Lim Han dari penderitaan dalam penjara, lekas ikut aku !" Seru Thian-ih gugup: "Kedua mutiara itu betul-betul tak berada di tanganku, ikut kalian juga tiada gunanya.

Jalan yang paling tepat biarlah aku mencari kedua mutiara itu dulu untuk menolong Lim-toako dikota raja !" Siu Hoa menghardik keras: "Kentut, terang kau takut dihukum dan hendak melarikan diri, tuan besarmu ini masa begitu gampang kau apusi !'' Mengayun senjata dengan garang ia menyerang serabutan.

Terpaksa Thian-ih harus melayani lagi.

Sipena berapi Siu Hoa terkenal akan ilmu goloknya yang bernama Ban-seng-to-hoat, Lim Han sangat mengagumi kepandaiannya ini maka menariknya menjadi pembantunya yang sangat diandalkan.

Ilmu goloknya ini berjumlah tiga puluh enam jurus, jurus demi jurus mengalun berantai saling sambung, ditambah tenaga pembawaannya memang luar biasa, maka goloknya itu dapat diputar dan dipermainkan secepat kitiran.

Sekarang melihat ilmu silat Thian-ih ternyata juga cukup lihay, diketahui pula adalah murid Kiam-bun-it-ho yang disegani oleh kalangan persilatan, maka tanpa ayal lagi ia permainkan ilmu golok Ban-seng-to-hoat yang dibanggakan itu.

Sedemikian lancar dan tangkas sekali permainan Siu Hoa ini sambung menyambung tiada putusnya perbawanya menjadi hebat sekali.

Thian-ih hanya melayani dengan tangan kosong paling-aling hanya dapat mengimbangi saja.

Thian-ih tahu jurus ilmu golok musuh ini yang paling lihay adalah tiga jurus yang terakhir, yaitu Tay-beng-han-cau (Garuda pulang sarang), Ping-hiat-ho-coan (sungai es mengalir deras), Wi-siu-lam-thian (berpaling melihat langit selatan).

Ketiga jurus lihay ini dilancarkan secara berantai pula sekaligus, jarang ada musuh yang bisa lolos atau selamat dari serangan goloknya ini.

Tengah hatinya merancang cara bagaimana dirinya harus memecahkan serangan musuh ini, disamping itu juga tidak sampai melukai musuh, supaya dia tahu diri dan mundur teratur.

Sekejap saja tiga puluh enam jurus Ban-seng-to-hoat sudah dilancarkan sampai jurus-jurus terakhir.

Benar juga sipena berapi Siu Hoa lancarkan ketiga jurus berantai itu.

Kilat golok menyambar dari samping.

Thian-ih ulurkan kedua jarinya seperti jepitan tanpa berkelit atau menyingkir dengan jurus Seng-kong-sam-siok (sinar bintang kelap-kelip), secepat kilat ia mendahului menutuk jalan darah Tiong-ting-hiat di dada Siu Hoa.

Jalan darah ini penting dan mematikan, serangan Thian-ih cukup ganas lagi, mau tak mau Siu Hoa pasti menarik pulang goloknya dan berganti jurus dengan Peng-hiat-ho-coan, lalu bersama dengan itu dirinya menarik kedua jarinya dirobah dengan pukulan telapak tangan untuk memunahkan jurus berantai ketiga yaitu Wi-siu-lam-thian.

Maka gebrak terakhir ini pasti dapat diakhiri dengan sama-sama selamat tanpa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Perhitungan Thian-ih ini sebetulnya sudah matang, begitu kedua jarinya ditutukkan, siapa tahu diluar perhitungannya Siu Hoa ternyata tidak berobah permainannya, malah tubuh dan goloknya itu menubruk maju bersamaan.

Keruan kejut Thian-ih bukan kepalang, untuk menyingkir dan membatalkan serangan sendiri sudah tak mungkin pula, dalam saat yang gawat itu ia mendakan tubuh.

Golok Siu Hoa hanya memapas jatuh topi Thian-ih, sebaliknya kedua jarinya itu tepat sekali menembusi dada Siu Hoa.

Terdengar sipena api Siu Hoa melolong tinggi terus roboh terkulai.

Para anak buah sipena berapi segera menerjang maju sambil memaki: "Bocah keparat, kau berani membangkang dan membunuh petugas hukum, kau sudah tak ingin hidup lagi"'' Seketika Thian-ih dihujani berbagai serangan senjata.

Tahu bahwa tak mungkin lagi memberi penjelasan secara damai, Thian-ih bergerak tidak kepalang tanggung lagi, telapak tangannya bergerak cepat angin pukulannya cukup menyampok dan menangkis serangan senjata para musuh, disamping itu jari tangannya juga tidak tinggal diam.

Di antara pendatang ini selain Siu Hoa seorang tiada seorang pun yang berkepandaian tinggi, melihat Thian-ih mulai berlaku garang, mereka insaf kalau bukan tandingnya, terpaksa kali ini harus mengalah dan mundur teratur.

Begitulah sambil memayang tubuh sipena berapi Siu Hoa segera mereka mengundurkan diri.

Salah seorang diantara mereka berseru dengan penuh kebencian: "Thio Thian-ih, kau berani membangkang dan membunuh petugas hukum, lari ke ujung langit pun kesatuan dari Bhayangkara akan mengejar dan meringkusmu.

Betapapun kau harus menebus jiwa Siu-toako, tunggulah saatnya." habis berkata terus tinggal pergi naik kuda.

Thian-ih tahu kalau para Bhayangkara itu paling menjunjung tinggi gengsi kesatuannya, setiap kali menangkap orang boleh sesuka hatinya tanpa memberitahu dulu kepada petugas setempat.

Tanpa sengaja dirinya telah melukai Siu Hoa, pasti mereka akan meluruk datang lagi dengan bala bantuan yang lebih tinggi kepandaiannya.

Tujuan utama mereka adalah dirinya, mungkin bisa menyangkut pribadi Li Hong-gi.

Kini kesalahan telah terjadi selain menyerahkan diri menebus dosa, hanya melarikan diri dan mengembara satu-satunya jalan untuk selamatkan diri.

Betapa susah hatinya ini, waktu ia membalikkan tubuh tampak Li Hong-gi tengah menuntun dua ekor kuda yang sudah lengkap dengan pelana dan perlengkapan seperlunya, tidak ketinggalan pula membawa pedang.

Kiranya Hong-gi sudah tahu akan terjadinya keributan yang mengakibatkan tewasnya Siu Hoa itu, urusan sudah berlarut sedemikian rupa selain melarikan diri tiada jalan lain lagi untuk menyelamatkan diri.

Waktu Thian-ih tengah bertempur seru tadi, diam-diam ia menyiapkan kedua ekor kuda untuk melarikan diri bersama.

Post a Comment