Memang Lwekangnya kalah jauh dibanding lawan, tongkat musuh juga berat dan susah dilayani pula, berulang kali sudah jiwanya terancam elmaut.
Sementara itu, keadaan Thian ih juga tidak lebih menguntungkan.
Mendadak Lo Ka Siangjin membentak keras: "Kena !" tongkat besar dan berat itu tiba-tiba menyelonong tiba menjojoh dengan kecepatan luar biasa.
Tiada lain jalan terpaksa siorang berkedok harus menangkis, "trang", benturan hebat ini menyebabkan pedang panjang siorang berkedok terpental terbang ketengah udara entah kemana.
Untuk menyelamatkan diri tangkas sekali ia jumpalitan menyingkir kesamping.
Namun Lo Ka Siangjin juga telah memburu tiba sambil menggenjot dada dengan tangan kanannya.
Siorang berkedok mendakkan tubuh untuk menyingkir tak urung pundaknya juga sudah keserempet angin pukulan yang hebat ini, seketika tubuhnya terhuyung roboh.
Betapa Thian-ih takkan terkejut, sedikit perhatian terpecah hampir saja ia harus membayar mahal akan kelalaiannya ini.
Senjata Sia Hwi-i hampir saja mematahkan tulang dadanya, untung dia masih sempat menyampok.
Karena desakan serangan berantai yang bekerja sama secara ketat ini terpaksa Thian-ih harus himpun semangat dan tenaga demi keselamatan sendiri.
Dalam pada itu, sekali melangkah maju tongkat Lo Ka Siangjin langsung mengepruk ke batok kepala siorang berkedok, tiada jalan lain lagi siorang berkedok mandah pasrah nasib saja sambil meramkan mata menunggu ajal.
Serentak pada saat yang gawat itu, Thian-ih menggerung bagai banteng ketaton sambil mengayun sepasang tongkatnya tubuhnyapun berputar seperti gangsingan, karena perbuatan yang nekad ini pundak kirinya tergantol bolong oleh senjata gantolan Kiu Keng-po, darah segar membasahi seluruh tubuhnya.
Tapi Thian-ih tidak rasakan sakit dan tak hiraukan lukanya sendiri, ternyata tidaklah sia-sia pengorbanannya karena ia berhasil juga membobol kepungan musuh.
Langsung menubruk kearah Lo Ka Siangjin.
Sebelum tubuhnya meluncur sampai, sekonyong-konyong dilihatnya secarik sinar perak berkelebat dari tengah udara, dari atas sebuah pohon melesat turun bayangan seseorang laksana malaikat dewata terus mengebutkan lengan bajunya.
Serangkum angin deras kontan menerjang ke arah Kiu Keng-po bertiga sampai mereka terpental jungkir balik.
Bayangan itu membekal pedang panjang yang berkilau kuning keemasan, sedikit menutul diatas tongkat Lo Ka Siangjin, tongkat besi yang besar dan berat itu kontan terbang ketengah udara dan jatuh melesak kedalam tanah.
Sekilas Lo Ka Siangjin melirik kearah orang yang baru tiba ini serta melihat seorang tua berambut dan berjenggot uban bertubuh tinggi mengenakan jubah panjang warna abu-abu, sikapnya tenang berwajah welas asih tengah tersenyum kepadanya.
Lo Ka Siangjin beramai kenal siapakah siorang tua beruban ini.
Saking ketakutan mereka lari lintang pukang turun gunung seperti dikejar setan sampai senjata sendiri juga tidak dihiraukan.
Tanpa membuka suara siorang tua beruban itu memayang tubuh siorang berkedok terus dipanggulnya, sebelum pergi ia tersenyum memandang kepada Thian-ih yang sedang terlongong tak bergerak, begitu memutar tubuhnya terus melayang pergi bagai seekor bangau terbang sekejap saja bayangannya telah menghilang dari pandangan mata.
Thian-ih termangu sekian lama diatas gunung.
Siapakah siorang tua ubanan berjenggot panjang ini, bukan saja Lwekangnya sedemikian hebat, ilmu ringan tubuhnya naga-naganya dapat menandingi gurunya Kiam-bun-it-ho.
Sayang tadi tak sempat menanyakan nama Locianpwe itu untuk berkenalan.
Dengan hati risau dan kesal Thian-ih turun gunung, belum jauh jalan yang ditempuhnya, terdengar derap langkah kuda yang gemuruh tengah mendatangi dengan cepat, sekejap saja delapan ekor kuda telah mencongklang datang, waktu ditegasi kiranya adalah kawanan dari Bhayangkara yang dipimpin oleh Lim Han sendiri.
Begitu melihat Thian-ih, Lim Han lantas bertanya: "Apa kau tidak terluka " Bagaimana keadaan Nyo-kongcu ?" "Nyo Hway-giok maksudmu" Aku tidak melihatnya, hanya ada seorang berkedok, dia terluka dan sudah ditolong oleh seorang tua beruban berjenggot panjang.'' Lim Han turun dari atas kuda, Thian-ih lantas menuturkan peristiwa yang baru terjadi diatas gunung.
Lim Han membanting kaki, katanya gegetun: "Orang berkedok itu adalah Hway-giok.
Dia rela berkorban demi terangkap perjodohanmu dengan Li Hong-gi, seorang diri ia mendahului menantang Lo Ka Siangjin dan kawan-kawannya untuk bertempur diatas gunung.
Sayang aku terlambat mendapat kabar ini." Thian-ih menguatirkan keadaan Li Hong-gi, tanyanya gugup: "Lim-heng, apakah Hong-gi sudah diantar tiba dirumah keluarga Nyo"'' "Ai, urusan malah semakin runyam, mendengar maksudmu hendak menyerahkan dia kepada keluarga Nyo, nona Li lantas marah-marah dan menangis tergerung-gerung.
Sekarang dia entah menghilang kemana, coba kau pikir bagaimana kita harus bertindak?" Tanpa banyak kata lagi Thian-lh bergegas pulang, benar juga memang kamar Li Hong-gi sudah kosong, keluarga familinya memberi tahu dengan wajah merengut: bahwa setelah tahu Thian-ih sengaja tidak mau menemui malah hendak menyerahkan dirinya kepada keluarga Nyo, gusarnya bukan kepalang, pintu kamarnya ditutup kencang dan menangis seharian tak mau keluar meskipun sudah digedor berulang-kali.
Sebetulnya famili Thian-ih tidak setuju akan tindakan Thian-ih ini, mereka sudah mempersiapkan kereta dan hendak membujuk Thian-ih kalau dia pulang.
Siapa tahu waktu sorenya hendak mengantar makanan baru diketahui pintu kamarnya ternyata sudah terpentang, orangnya juga telah menghilang entah kemana" Keruan gugup Thian-ih bukan main seperti semut dalam kuali panas.
Sedemikian besar kota raja ini kemana pula harus mencari jejaknya.
Apalagi pergi seorang diri tanpa membekal sepeser uang, wajahnya begitu ayu molek lagi, bukan mustahil bisa terjadi sesuatu yang membahayakan jiwanya, bukankah menambah kapiran, menyesal juga sudah kasep.
Untung pengaruh Lim Han dikota raja sangat besar dan banyak kenalan lagi, segera anak-buahnya disebar untuk menyirapi kemana-mana.
Hari kedua baru didapat kabar bahwa Li Hong-gi sudah menyewa sebuah kereta, seorang diri melakukan perjalanan kearah timur.
Tanpa sangsi lagi Thian-ih minta diri pada Lim Han terus cemplak kudanya mengejar kearah timur.
Karena risau dan tak tentram Thian-ih jadi banyak berpikir ditengah jalan, kalau menurut petunjuk arah timur yang ditempuh Li Hong-gi ini pasti tujuannya adalah Kilam.
Tapi Kilam berada diselatan mengapa dia menuju ke timur, bukan mustahil kusir kereta telah menipunya.
Berpikir begitu hatinya semakin tak enak kudanya dipacu secepat terbang, selama perjalanan ini, entah berapa kuda sudah dikorbankan, tapi dia sendiri tidak mengenai lelah.
Setiap kali menemui kereta tertutup ditengah jalan tanpa bertanya langsung ia singkap tenda kereta dengan cambuk ditangannya, sudah tentu perbuatan kasar ini menimbulkan banyak kegaduhan yang tak diinginkan, tapi Thian-ih tak peduli akan semua itu, yang dipikirkan hanya Li Hong-gi namun sebegitu jauh jejaknya belum diketemukan.
Beberapa hari kemudian Thian-ih memasuki daerah Shoa-tang dan sampai di karesidenan Samho dimana letak kampung halamannya.
Thian-ih berpikir apakah perlu dirinya mampir dulu kerumah, sudah berapa lama ini ia tinggalkan rumahnya sejak wafatnya engkohnya tempo hari.
Rumah sebesar itu hanya didiami enso dan beberapa bujang laki perempuan.
Teringat olehnya betapa besar kasih sayang enso (istri Thian-ki) kepadanya, tak tega dan sedih rasa hatinya.
Tanpa merasa ia belokkan kudanya menuju kearah rumahnya.
Waktu sampai didepan rumah, keadaan sekitar rumahnya sunyi sepi, keadaan ini jauh berbeda waktu engkohnya masih hidup dulu, terasa pilu dan pedih perasaannya.
Melihat kedatangan Thian-ih ini penjaga pintu berjingkrak girang seperti ketiban rejeki nomplok, sambil berkaok-kaok ia berlari kedalam rumah.
Seisi rumah menjadi ribut dan berlari keluar semua menyambut kedatangannya sambil unjuk hormat dan memberi selamat kepadanya.
Thian-ih garuk-garuk kepala keheranan seperti menyongsong kedatangan mempelai saja lagaknya dirinya dibimbing masuk kedalam rumah.
Tak lama kemudian dibawah bimbingan seorang dayang Liu-si ensonya juga keluar, cepat-cepat Thian-ih maju menyapa serta menanyakan kesehatan orang.
Wajah pucat ensonya tampak berseri girang, tak ketinggalan ensonya ini juga mengucapkan selamat dan bahagia kepadanya.
Lebih besar rasa heran dan tak mengerti Thian-ih "selamat'' apa dan darimana" Liu-si menghela napas panjang, katanya: "Semasa hidup engkohmu, aku tidak punya keturunan.
Harapan kita hanya kau seorang.
Kini dia telah meninggal, hatikupun sudah membeku, menyembah Budha, sucikan diri, besar harapanku kau lekas berkeluarga supaya lekas tercapai keinginanku.
Bila kau sudah menikah dan punya keturunan berarti selesailah tugasku ini, hatikupun akan sangat gembira......" sejenak ia berdiam diri, lalu sambungnya lagi sambil tersenyum penuh arti: "Pergilah ke kamarmu melihat sendiri !" Thian-ih terperanjat, adakah sesuatu apa yang tengah menanti didalam kamarku" Tiba-tiba tergerak hatinya, tidak sempat membersihkan badan dan ganti pakaian bergegas ia berlari ke kamarnya.
Sambil tertawa cekikikan seorang dayang menyingkap kerai membuka pintu.