Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 32

Memuat...

Sudah tentu Thian-ih tidak tinggal diam, dengan kencang ia mengejar sambil berkaok-kaok.

Tanpa merasa terjadilah lomba adu ringan tubuh yang hebat diantara mereka berdua.

Nyo Hway-giok mengenakan pakaian warna putih mulus, meskipun cuaca sangat pekat, namun bayangannya tampak melayang ringan sekali bagai segulung asap mengembang ditengah udara.

Benak Thian-ih penuh kata-kata yang hendak dicurahkan, maka dengan kencang ia mengejar terus tidak kalah pesatnya.

Begitulah kejar mengejar ini terus berlangsung sekian lamanya sampai mereka tiba disebuah pegunungan yang penuh bangunan candi-candi kuno, disinilah bayangan putih Nyo Hway-giok mendadak menyelinap hilang.

Thian-ih tidak hiraukan lagi segala pantangan dan bahaya langsung ia menerjang masuk kedalam.

Dari kegelapan sebelah pojok didepan sana terlihat bayangan putih Nyo Hway-giok berkelebat lantas terdengarlah suaranya berkata: "Ji-chengcu, janganlah kau mendesak aku sedemikian rupa.'' Seru Thian-ih: "Nyokongcu, kejadian dalam kuburan tempo hari kita tahu sama tahu, tak perlu kujelaskan lagi, harap sukalah kau dengar sepatah kataku: Karena mengagumi kau sebagai laki-laki sejati, dalam keadaan yg terpaksa aku tolong menyembuhkan Li Hong-gi hanya untuk kau bukan untuk kepentinganku, terbukti dia kubawa ke kota raja ini untuk kuserahkan kepada kau.

Selama ini kita masih dapat menjaga norma-norma kesusilaan belum pernah terjadi hubungan diluar batas, ketahuilah Hong-gi masih suci murni kupandang dia sebagai adik kandungku sendiri, terserah kau percaya/tidak keteranganku ini, kelak kau sendiri bisa memeriksa dan membuktikan kebenaran ucapanku ini...." Dari tempat gelap sana terdengar sahutan Nyo Hway-giok: "Aku maklum akan semua itu.

Terus terang aku sangat mengagumi dan menghargai sikap dan pribadi saudara.

Tapi aku juga jelas bahwa Li Hong-gi hanya mencintai kau saja, sebagai kesatria aku rela berkorban demi kebahagiaan kalian berdua.'' Thian-ih menjadi gugup, serunya: "Dendam kesumat melibat diriku, bagi orang kelana di Kangouw keselamatan jiwa susah diduga, mana mungkin aku merangkap jodoh dengan Li Hong-gi, kuminta saudara suka berpikir secara mendalam dan maklumilah kesukaranku ini......" sejenak ia merandek, tidak terdengar reaksi Nyo Hway-giok lantas ia menyambung lagi : "Tak lama ini aku harus segera pergi.

Bersama Lim Han kami telah menantang Lo Ka Siangjin dari Hud-kong-si, juga To Bok San serta Sun Kay Ka dan para penjahat lainnya digunung batu diluar kota sebelah barat, kalah atau menang susah diduga.

Sekali lagi kutekankan kuanggap Hong-gi sebagai adikku sendiri, kuingin ada orang menjaga dan melindungi keselamatannya baru legalah rasa hatiku menuju ke medan laga.

Terpaksalah kalau malam ini aku harus mengejar-ngejar kau tak lain hanya untuk memberi tahu pendirianku dalam soal ini.

Waktu datang tadi aku sudah suruh orang mengantar Hong-gi ke gedung rumahmu......" Bayangan Nyo Hway-giok kelihatan sedikit bergerak.

Thian-ih lanjutkan ucapannya: "Kudoakan kalian hidup rukun dan bahagia sampai dihari tua.

Kalau besok aku beruntung masih hidup juga akan segera tinggalkan kota raja untuk selanjutnya jejakku tanpa tujuan yang menentu, janganlah kalian kuatirkan tentang diriku........." Habis kata-katanya begitu memutar tubuh badannya segera melejit tinggi keluar bangunan candi, langsung menemui Lim Han menyerahkan kedua butir mutiara itu kepadanya.

Malam itu juga ia keluar kota kearah barat mencari penginapan dibawah gunung batu.

Malam itu Thian-ih tidak dapat tidur karena banyak pikiran yang merangsang dan berkecamuk dalam benaknya.

Terpikir olehnya bahwa pangkal semua persoalan ini adalah karena gara-gara dirinya.

Sikap jantan Lim Han dengan pambeknya yang besar memang harus dipuji, kalau besok pihaknya tidak mempunyai pegangan untuk menang maka sulitlah dapat mempertahankan kedua butir mutiara itu, ada lebih baik aku seorang diri menyerbu ke Hud-kong-si menempur Lo Ka Siangjin, demi setia kawan aku harus berani berkorban untuk kepentingan umum.

Karena ketetapan hatinya ini bergegas ia bangun dan bersiap berangkat.

Malam sudah berlarut setelah siap sekadarnya Thian-ih melompat keluar dari jendela kamarnya.

Sekonyong-konyong sayup-sayup terdengar dentingan beradunya senjata dari puncak gunung batu sana.

Thian-ih menjadi heran dan terperanjat, tanpa berayal lagi secepat terbang ia berlari kencang menuju ke puncak, dengan Ginkangnya yang hebat sebentar saja ia sudah sampai.

Dalam keremangan cuaca cahaya bintang, terlihat Lo ka Siangjin, Sia-si bersaudara, Kiu Keng-po, Sun Kay-ka, Pau Kok-tam dan To Bok-san bertujuh semua hadir.

Kalau To Bok-san, Lo Ka Siangjin dan Sun Kay-ka hanya menonton saja di pinggiran adalah keempat kawannya itu tengah bertempur sengit mengeroyok seorang berkedok hitam.

Orang berkedok hitam itu bersenjata pedang panjang, meskipun dibawah gencetan empat senjata musuh yang merangsak begitu hebat namun gerak pedang si orang berkedok masih tampak lincah dan garang sekali, begitu lincahnya seumpama naga menari ditengah udara, banyak menyerang dari pada membela diri.

Thian-ih menyangka orang berkedok itu adalah Lim Han, tanpa ragu-ragu lagi segera ia menerjang masuk ke tengah gelanggang.

Dengan jurus Loh-jit-hui-ko (surya tenggelam setinggi genter), kedua tongkat pendeknya menjojoh dan menyerampang ke pinggang Pau Kok-tam, karena tidak menyangka ada serangan datang secara tiba-tiba Pau Kok-tam tak keburu berkelit lagi sambil menjerit kesakitan tubuhnya tersungkur jatuh dan luka berat.

Serentak To Bok-san dan Sun Kay-ka segera maju merintangi, begitu berhadapan To Bok-san langsung dorong kedua telapak tangannya ke depan, sementara Sun Kay-ka mengayun ruyung lemasnya, sebelum senjatanya tiba angin keras sudah menyamber lebih dulu.

Thian-ih tidak berani gegabah, kedua tongkatnya juga tidak tinggal diam, ditarikan sehebat mungkin untuk menghadapi serangan musuh.

Ilmu ruyung Sun Kay-ka memang merupakan kepandaian cukup hebat yang sudah terlatih sempurna, bukan saja tenaganya besar jurus tipunya juga beraneka ragam.

Maka Thian-ih harus bermain cerdik tak mau menyambuti secara kekerasan, apalagi setiap ada kesempatan To Bok-san ikut menyergap dari samping, memang cara permainan ini sangat licik dan serangan juga ganas dan telengas pula, besar hasratnya hendak menuntut balas bagi kematian adik angkatnya sikupu jelita Go Hong.

Menghadapi kedua lawan berat ini terpaksa Thian-ih harus boyong keluar kepandaian ajaran Suhunya, untung Ginkangnya lebih unggul, tapi untuk sementara waktu sukar juga untuk dapat merobohkan lawan berat ini.

Dalam gelanggang sebelah sana siorang berkedok melayani keroyokan Sia-si bersaudara dan Kiu Keng-po, sejak Pau Kok-tam roboh terluka siorang berkedok lebih leluasa pula menggerakkan senjatanya, serangannya semakin gencar, lambat laun dia berada diatas angin.

Dalam pertempuran yang sengit itu mendadak terdengar jeritan yang mengerikan, sikala jengking Sia Hui-kong terluka berat oleh tusukan pedang siorang berkedok, Lo-han-kun Sia Hwi-i menyerbu mati-matian hendak menolong saudaranya hampir saja jiwa sendiri juga amblas.

Terdengar siorang berkedok bergelak panjang suaranya bagai keluhan naga, mendadak permainan pedang panjangnya semakin gencar terus merangsak dengan serangan berantai, keruan dua musuh yang ketinggalan didesak kerepotan.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan pihaknya ini, segera Lo Ka Siangjin menggerung gusar sambil menggentakkan tongkat besinya, bentaknya: "Bocah keparat, biarlah aku menghadapimu!" "Wut" kencang sekali tongkat besarnya itu menyambar dengan deras mengarah pinggang.

Gesit sekali siorang berkedok melompat menyingkir, tapi tak urung pedangnya kena terserempet sampai terpental miring.

Dalam gebrak pertama saja posisinya sudah tidak menguntungkan, seketika ia terdesak dibawah angin.

Bukan kepalang kejut Thian-ih melihat keadaan siorang berkedok yang berbahaya itu, pikirnya kalau tidak diberi bantuan pasti celakalah siorang berkedok dibawah tongkat musuh.

Berpikir memang gampang, tapi To Bok-san dan Sun Kay-ka yang dihadapi ini juga bukan lawan lemah, melepaskan diri dari kerubutan mereka saja sukar apalagi merobohkan satu persatu.

Waktu matanya melirik dilihatnya siorang berkedok sudah berganti siasat bertempur menggunakan keunggulan Ginkangnya dia bermain petak berlari dan berloncatan mengitari Lo Ka Siangjin.

Untung begitu Lo Ka Siangjin turun gelanggang Sia Hwi-i dan Kiu Keng-po segera mengundurkan diri, maka siorang berkedok lebih leluasa unjukkan kegesitan tubuhnya, dalam waktu singkat agaknya masih kuat bertahan.

Lambat laun permainan Thian-ih juga semakin mantep dan semangatpun dapat terhimpun, kini gerak permainan tongkatnya berubah menggunakan ajaran tunggal perguruan Kiam-bun-it-ho, disamping itu dia juga amati dengan seksama permainan dan lobang kelemahan musuh.

Akhirnya dapatlah diketahui bahwa Lwekang To Bok-san agak lemah dari kawannya, mungkin karena lukanya tempo hari masih belum sembuh betul, semakin lama bertempur lukanya menjadi kambuh dan permainannya menjadi semakin lamban sebaliknya napas memburu ngos-ngosan.

Thian-ih insaf bahwa ilmu weduk orang memang sangat ampuh sampai tidak mempan senjata, hanya pusarnyalah satu-satunya tempat kelemahannya.

Diam-diam hatinya berkeputusan hendak menyerempet bahaya untuk memperoleh kemenangan, begitu tetap pikirannya segera ia bergerak melaksanakan rencananya itu.

Begitulah secara mendadak kedua tongkatnya dipentang kedua jurusan, tongkat kanan menyampok ruyung Sun Kay-ka berbareng tubuhnya berjongkok terus bergulingan ditanah kebawah kaki To Bok-san.

Sebelum To Bok-san menginsafi dirinya tengah terancam bahaya, dengan jurus Tam-liong-ki-cu (naga meraih mutiara), tongkat kiri Thian-ih tepat menjojoh pada pusarnya, seketika ia melolong seram sambil menyemprotkan darah segar.

Sungguh diluar dugaan setelah terluka berat itu tubuh To Bok-san yang tinggi besar itu masih kuat berdiri sambil meringis, melotot matanya sebesar jengkol.

Menyedot hawa dalam perlahan-lahan ia angkat kedua tangannya terus didorong ke arah Thian-ih.

Sebat sekali Thian-ih lompat menyingkir, tapi ruyung Sun Kay-ka juga telah membayangi tubuhnya, untung masih sempat ia menangkis.

Sementara itu pukulan To Bok-san tadi agaknya merupakan himpunan seluruh sisa tenaganya, maka begitu pukulannya mengenai tempat kosong segera tubuhnya yang besar itu jatuh tersungkur dan tak bangun lagi.

Hasil tipu yang dilancarkan Thian-ih ini benar merupakan tipu ajaran gurunya yang lihay haruslah dibanggakan kemenangan yang gilang gemilang ini.

Karena meninggalnya To Bok-san, Sun Kay-ka sendiri menjadi kerepotan menghadapi Thian-ih, maka cepat-cepat Kiu Keng-po dan Sia Hwi-i menubruk maju untuk membantu.

Sekarang Thian-ih dikerubut dari tiga jurusan.

Betapapun ilmu ruyung Sun Kay-ka lebih lihay dari permainan senjata kawan-kawannya.

Ruyung lemasnya itu merupakan ancaman yang paling bahaya.

Terpaksa Thian-ih harus curahkan semua perhatian dan kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya baru dapat mengatasi cercahan serangan musuh yang dahsyat ini.

Begitu To Bok-san menemui ajalnya, segera serangan Lo Ka Siangjin tambah diperhebat, keruan siorang berkedok semakin keripuhan terdesak dibawah angin.

Post a Comment