Seharusnya Liong-gwa-hou-tiang sudah harus tahu diri dan insaf betapa lihay kepandaian Kongcu terpelajar ini.
Dasar pengecut, licik dan berwatak biadab dan kejam serta culas, dianggapnya sifat Nyo Hway-giok yang lemah lembut itu gampang dilayani, maka segera ia siapkan anak buahnya dengan aba-aba: "Semua siap dan serbu, bunuh pelajar tengik ini !" Serempak anak buahnya menerjang serabutan dari kanan kiri dan depan, seketika Nyo Hway-giok dihujani serangan membadai yang merepotkan, sesaat ia terkepung di tengah susah untuk meloloskan diri.
Dasar besar nyalinya, ia berlaku tetap tenang dan sabar, kedua lengan bajunya beterbangan sangat indahnya seperti orang tengah menari-nari menangkis dan menyambuti setiap serangan pengeroyoknya, sedemikian lincah ia bergerak seumpama kupu-kupu terbang diantara rumpun bunga, setiap kali lengan bajunya mengebut pasti salah seorang pengeroyok diberi tanda mata.
Dia tidak mau membunuh, hanya memberi peringatan saja supaya mereka tahu diri dan mundur teratur.
Ibarat naik harimau tak bisa turun, begitulah keadaan Li Ti serta anak buahnya, sedemikian jauh sudah kepalang tanggung bertindak meskipun lawannya tangguh dan susah dirobohkan, namun bukannya mundur mereka malah semakin gencar menyerang mati-matian.
Betapapun kebutan lengan baju Nyo Hway-giok lihay luar biasa, kesiur anginnya saja tak gampang ditembus seumpama sebuah tembok yang kokoh kuat, setindakpun mereka tak kuasa maju.
Saking kewalahan akhirnya timbullah niat jahat dan akal licik Li Ti.
Secara diam-diam ia mundur keluar gelanggang pertempuran terus mencomot segenggam senjata rahasia.
Begitu menjejakkan kaki disaat tubuhnya terapung ditengah udara belum tangannya sempat menyambitkan senjata rahasianya, tiba-tiba punggung sendiri terasa disentuh sebuah benda yang tepat mengenai jalan darah yang melemaskan, kontan rasa nyeri dan kesakitan meresap ketulang sungsum menyergap tubuhnya.
Dengan sendirinya tenaga yang terkerahkan agak lumpuh, maka senjata yang tergenggam itu menjadi kendor sambitannya dan bukan mengenai Nyo Hway giok malah melukai para anak buahnya sendiri yang sedang giat mengeroyok musuhnya.
Maka terdengar keluh kesakitan saling susul berbareng anak buahnya banyak yang bergulingan ditanah sambil berteriak-teriak.
Nyo Hway-giok menjadi kaget dan melengak sekejap saja para musuh yang mengeroyok itu malah berlarian pontang-panting seperti dikejar setan.
Dilihatnya pula Li Ti sudah terkapar tanpa bernyawa lagi.
Keruan semakin heran dan bertanya-tanya, pasti orang yang memberi pertanda adanya bahaya waktu dirinya datang tadi itulah yang telah memberikan pertolongan lagi sekarang ini.
Lekas-lekas ia membungkuk keempat penjuru berseru lantang: "Orang gagah siapakah yang telah sudi menolong jiwa Cayhe" Silakan keluar akan kusampaikan rasa terima kasih yang berlimpah kepada tuan!" berulang kali sudah Nyo Hway-giok berkaok-kaok tanpa mendapat reaksi yang diharapkan, akhirnya ia menggumam seorang diri: "Hanya dua butir mutiara saja sampai mengorbankan sedemikian banyak jiwa manusia.
Dosa, berdosa, ai memang salahku, aku terlalu mementingkan kepentinganku saja demi menyelamatkan tubuh adik Hong-gi.....ai, kalian harus bersabar, tunggulah setelah aku mati, saat mana terserah kalian hendak mengambil mutiara itu.
Setelah aku meram bersama satu liang dengan adik Hong-gi...
Kita tidak akan sayangi kedua benda mestika itu"." Cuaca semakin gelap, tengah malam telah menjelang, dengan tenang Nyo Hway-giok menyapu pandang ke sekelilingnya lalu dengan langkah lebar memasuki kuburan.
Cepat-cepat Thian-ih sembunyi dibelakang gordiyn tempatnya semula, Nyo Hway-giok melangkah dengan tenangnya, setelah melihat tiada perobahan dalam kuburan itu legalah hatinya.
Tiba didepan peti mati ia membungkuk memberi hormat serta katanya: "Adik Hong-gi, lihatlah aku datang mengunjungimu, kuharap arwahmu mendapat tempat yang tenang dialam baka.
Memang kedatanganku ini sangat lancang dan mungkin kau tertawakan tindakanku yang bodoh ini.
Adik Hong-gi selama ini kita belum pernah bertemu muka, namun sejak lama kudengar betapa harum nama dan agungnya istriku itu bukan saja cantik rupawan luhur budi serta cerdik cendekia pula.
Sekarang kita telah bertemu aku sangat senang dan lega.
Selama ini aku terlalu rajin belajar dan memperdalam ilmu silat, bukan karena tidak ingin menemuimu sebenarnya aku takut sekali kita bersua akan membuatku terkenang selalu dan rindu sepanjang masa sehingga mungkin mengganggu pelajaranku itu.
Lagi pula musim semi yang akan datang kita sudah akan melangsungkan pernikahan.
Saat mana kita akan selalu bersanding dan takkan berpisah untuk selamanya, betapa gembira dan bahagia hidup kita.....Siapa tahu kabar jelekmu membuat aku hampir-hampir pingsan dan lenyaplah seluruh harapan yang telah kucita-citakan itu.
Meskipun secepatnya aku menyusul tiba mana kala kau sudah tak dapat bicara lagi denganku, sepasang matamu bak bintang kejora sudah terpejamkan untuk selama-lamanya.
Kau takkan dapat melihat lagi, kini aku telah datang, kita takkan berpisah lagi, biar kututup pintu itu dari dalam kita bisa berdampingan untuk sepanjang masa." Sinar pelita dalam kuburan semakin redup dan guram, tubuh Nyo Hway-giok semampai diatas peti mati sambil sesenggukan dengan suara serak, menggumam lalu menangis dan menangis serta menggumam lagi, saking terharu tanpa merasa Thian-ih juga ikut berduka dan mengalirkan airmata.
Dari ucapannya terang bahwa Nyo Hway-giok hendak bunuh diri untuk menyusul istrinya dialam baka, ,besar niatnya untuk mencegah perbuatan bodoh yang nekad ini, namun keadaan dirinya saat itu tidak mengijinkan dia berbuat begitu, siapa tahu kalau perbuatan baiknya ini malah akan menimbulkan salah paham dan curiga orang, akhirnya terpikirkan untuk tinggal pergi secara diam-diam, dipikir memang gampang namun prakteknya sangat sulit.
Meskipun Nyo Hway-giok tengah menangis dengan sedihnya, betapapun Lwekangnya sudah mencapai taraf yang tertinggi, sedikit bertindak salah bukan mustahil akan menimbulkan kerepotan yang susah dilerai.
Maka terpaksa Thian-ih berlaku sabar dan menanti perkembangan selanjutnya.
Nyo Hway-giok menghentikan tangisnya, matanya mendelong terlongong memandangi wajah Li Hong-gi lalu gumamnya lagi: "Adik Hong-gi, ketahuilah kedua mutiara disisi tubuhmu itu adalah Hwe-ki-cu dan Pek-seng-cu.
Pasti Gak-hu tidak tahu akan hal ini, bahwa kedua butir mutiara mestika itu adalah sebagian benda-benda berharga dari gudang istana raja yang telah hilang dicuri simaling terbang yang menggemparkan itu.
Siapakah orang aneh yang menyerahkan kedua mutiara ini" Darimana pula ia peroleh kedua mutiara ini untuk melindungi tubuhmu sehingga tidak membusuk " Aku harus berterima kasih kepada orang itu, namun nama dan jejaknya tidak menentu kemana pula aku harus mencarinya " Adik Hong-gi kalau kalangan pemerintahan mengetahui perihal kedua butir mutiara mestika ini, pasti celakalah, ai dosa tak terampun mungkin membawa kemusnahan bagi kedua keluarga kita." Thian-ih terperanjat.
Tak tersangka olehnya bahwa dua butir mutiara itu ternyata adalah sebagian harta benda berharga yang tercuri dari gudang istana raja itu, entah adakah hubungan dan sangkut pautnya dengan sibaju perak, kalau benar perbuatan sibaju perak kejadian ini semakin aneh lagi.
Dengan sengaja dia sudah meracuni Li Hong-gi hingga mati, lalu mengapa pula ia berikan kedua butir mutiara mestika ini untuk melindungi raganya supaya tidak membusuk" Terdengar Nyo Hway-giok tengah berkata lagi: "Adik Hong-gi, sayang kau tak dapat bicara lagi, tahukah kau apa yang hendak kutanyakan kepadamu" Ingin aku tahu apakah kau suka kalau aku memangku jabatan dalam pemerintahan" Apa kau dapat menyelami isi hatiku" Ketahuilah meskipun aku keturunan seorang berpangkat, tapi aku benci segala jabatan, aku lebih senang bebas dan kelana tanpa rintangan dan belenggu yang mengekang.