Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 128

Memuat...

Lauw-pangcu dan Sin Lian makin terkejut. Benar-benar makin banyak hal tak terduga-duga dan aneh-aneh mereka dengar dari mulut Lulu.

"Pulau Es yang semenjak puluhan tahun dicari oleh semua tokoh kang-ouw?"

Lulu mengangguk.

"Secara kebetulan saja kami dapat sampai di pulau itu dalam keadaan hampir mati setelah mengalami ancaman maut berkali-kali."

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Han Han ketika menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo sampai terbawa badai dalam perahu rusak sehingga mereka mendarat di Pulau Es,

Menemukan peninggalan kitab-kitab pelajaran penghuni Pulau Es dan belajar ilmu selama enam tahun di tempat itu. Betapa kemudian dengan susah payah mereka dapat meninggalkan tempat itu. Lauw-pangcu dan Sin Llan mendengarkan penuturan itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, merasa seperti mendengarkan dongeng saja. Cerita itu amat mempesona mereka, bukan hanya karena keanehan cerita itu sendiri, melainkan juga karena pandainya Lulu bercerita schingga untuk waktu yang cukup lama kedua orang ini seperti menggantungkan pandang mata mereka kepada bibir tipis merah yang bergerak-gerak manis ketika bercerita.

"Yang berilmu tinggi-tinggi dan berusaha mati-matian mencari Pulau Es, tidak pernah berhasil, dua orang bocah yang tidak mencarinya malah mendapatkan. Ha-ha, inilah yang disebut jodoh yang terjadi atas kehendak Thian. Pantas saja engkau lihai sekali, anakku, kiranya engkau menjadi ahli waris pusaka-pusaka mukjizat yang terdapat di Pulau Es. Sungguh engkau beruntung sekali, anakku."

"Aah, ilmu yang berhasil kumiliki dengan latihan berat tidak ada artinya, Ayah. Aku memang bodoh dan kurang tekun seperti Han-ko. Dibandingkan dengan Han-koko, ilmuku sama sekali tidak ada artinya, dia sepuluh kali lebih lihai daripada aku."

Sin Lian makin kagum kepada Han Han dan diam-diam jantungnya berdebar. Hatinya makin tertarik.

"Sekarang di manakah.... Han Han? Mengapa engkau berpisah darinya?"

Pertanyaan ini biasa saja, akan tetapi begitu menyebut Han Han, muka Sin Lian menjadi merah sekali. Hal ini tidak terlepas dari pandang mata Lulu yang tajam dan pandang mata Lauw-pangcu yang berpengalaman. Akan tetapi karena Lulu diingatkan kepada kakaknya dan hatinya menjadi gelisah, dia tidak ingin menggoda enci angkatnya itu, bahkan lalu menghela napas dan mengerutkan alisnya yang hitam panjang,

"Ah, hal inilah yang menyusahkan hatiku. Ketika kami saling berpisah, aku tertawan oleh si keparat Ouwyang Seng murid Setan Botak, sedangkan kakakku ketika itu dikeroyok dua oleh Setan Botak dan Iblis Muka Kuda."

"Apa? Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee mengeroyok Han Han?"

Lauw-pangcu berteriak dan Sin Lian pun menjadi pucat mukanya. Mereka mengenal siapa dua orang datuk hitam ini, tahu pula akan kehebatan ilmu kepandaian mereka. Seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang amat hebat, bahkan ke tujuh orang sakti, Siauw-lim Chit-kiam ketika menghadapi Setan Botak seorang diri saja hampir kalah. Apalagi kini dua orang datuk hitam itu maju mengeroyok.

"Mana mungkin ia dapat menangkan dua orang datuk hitam itu."

Suara Sin Lian ini terdengar lirih, penuh kengerian dan kekhawatiran karena sembilan bagian perasaannya mengatakan bahwa tentu Han Han tewas kalau dikeroyok dua orang datuk hitam itu, betapapun lihainya Han Han.

"Tidak, kakakku tidak akan kalah."

Lulu berkata.

"Tidak mungkin Han-ko sampai kalah. Dia sakti dan cerdik, tentu dapat mengatasi dua orang kakek iblis itu. Akan tetapi, entah ke mana perginya. Aku sedang mencarinya sehingga tiba di sini dan bertemu dengan Ayah. Sekarang aku akan pergi mencarinya lagi sampai bertemu."

"Lulu, anakku yang baik. Jangan engkau pergi dulu. Setelah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau, mana boleh engkau lalu pergi lagi begitu saja? Engkau telah memiliki sin-kang yang luar biasa, melebihi aku sendiri, bahkan mungkin sin-kangmu lebih hebat daripada Sin Lian. Akan tetapi ilmu silatmu belum matang, dan sementara ini engkau tinggallah di sini bersamaku agar dapat kau perdalam ilmu silatmu. Aku yang akan menggemblengmu sehingga kalau ilmu silatmu sudah matang, kiranya aku sendiri sama sekali tidak akan dapat melawanmu, engkau tidak membutuhkan waktu lama untuk mematangkan ilmu silatmu. Juga Encimu dapat membantumu. Adapun tentang Han Han, aku akan mengerahkan anak buahku untuk membantumu mencari kabar tentang Kakakmu itu. Kiranya akan lebih berhasil daripada kalau engkau pergi mencari sendiri."

"Ucapan Ayah benar sekali, Adik Lulu. Sebagai murid Siauw-lim-pai, tentu saja aku tidak boleh mengajarkan ilmu silat Siauw-lim-pai kepada orang lain bukan murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi agaknya sedikit banyak aku akan dapat membantumu untuk mematangkan ilmu silatmu sendiri yang hebat."

Dibujuk oleh ayah dan enci angkat yang amat disukainya itu, akhirnya Lulu menurut dan demikianlah, mulai hari itu Lulu digembleng ilmu silat oleh Lauw-pangcu dan Sin Lian. Di bawah bimbingan Lauw-pangcu yang berpengalaman, benar saja Lulu dapat mematangkan ilmu silatnya dan Sin Lian sendiri terheran-heran menyaksikan kehebatan sin-kang adik angkatnya itu yang benar-benar lebih kuat dari dia sendiri, juga ilmu silat yang dimainkan Lulu selain aneh, juga indah dan amat kuat. Benar pula seperti yang diramalkan Lauw-pangcu, setelah ilmu silatnya dimatangkan di bawah petunjuk Lauw-pangcu yang berpengalaman dan Sin Lian yang berilmu tinggi, Lulu memperoleh kemajuan hebat sekali sehingga kalau menghadapi lawan, kiranya dia lebih berbahaya daripada Lauw-pangcu, bahkan lebih sukar dilawan daripada Sin Lian sendiri.

Hal ini adalah karena ilmu silatnya tidak dikenal orang, berbeda dengan ilmu silat Sin Lian yang merupakan ilmu aseli dari Siauw-lim-pai. Semenjak pertemuannya dengan Lulu dan mengangkat Lulu sebagai anak, semangat Lauw-pangcu dalam perjuangan menentang bangsa Mancu menurun secara menyolok sekali. Biarpun ia tidak pernah melarang anak buah Pek-lian Kai-pang melanjutkan perjuangan mereka menentang pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu), namun ia sendiri tidak aktif bergerak, bahkan lalu mengundurkan diri kembali ke sarang Pek-lian Kai-pang di lembah Sungai Huang-ho sebelah selatan di mana ia bersama Sin Lian setiap hari berlatih silat dengan Lulu.

Hubungan antara Lulu dan Sin Lian makin akrab dan mereka saling mencinta seperti adik dan kakak kandung. Lulu memang memiliki sifat periang jenaka dan lincah sehingga mendatangkan rasa suka kepada siapa saja. Juga ia jujur, polos terbuka di samping memiliki kecerdikan dan wawasan yang tajam. Pada suatu hari, beberapa bulan setelah mereka tinggal di lembah Huang-ho, Lulu dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan oleh Sin Lian tentang diri Han Han. Diam-diam Lulu mentertawakan encinya ini, akan tetapi secara cerdik dan nakal ia malah bercerita tentang Han Han secara berlebihan. Dipuji-pujinya kakaknya itu setinggi langit, dipuji kegagahannya, ketampanannya, kebaikan budinya dan kepandaiannya.

"Di waktu kecil dahulu, dia adalah sahabatku,"

Kata Sin Lian perlahan dengan pandang mata melamun, terkenang akan masa lalu

"Ya, dia pernah bercerita tentang dirimu, Enci Lian."

"Betulkah? Apa yang ia katakan tentang aku?"

Tanya Sin Lian, wajahnya berseri.

Lulu tersenyum.

"Ia pernah mengatakan bahwa engkau adalah seorang yang amat baik budinya."

Wajah Sin Lian menjadi merah, akan tetapi matanya bersinar-sinar.

"Ah, dahulu aku bersikap galak kepadanya, mana baik budi?"

"Akan tetapi, dia betul-betul memujimu, agaknya dia senang akan kegalakanmu, Enci Lian. Kakakku memang sabar dan suka mengalah, hal ini di samping segala kebaikannya membuat banyak gadis jatuh hati kepadanya. Di sepanjang perjalanan kami kulihat banyak wanita jatuh cinta kepadanya."

Sin Lian menengok dan memandang dengan gerakan cepat.

"Hemmm, bagaimana engkau bisa tahu, Adikku?"

"Hi-hik, Bagaimana aku tidak tahu? Pandang mata mereka itu. Pandang mata yang mereka tujukan kepada Han-ko terlalu jelas, tampak sinar-sinar cinta kasih memancar dari mata mereka dan Dewi Asmara mengintai dari balik senyum mereka."

"Ihhh, genit kau."

Sin Lian mencela dan mencubit lengan adiknya.

"Aduh."

Lulu menggosok-gosok kulit lengan yang dicubit encinya.

"Tanganmu mencubit aku, akan tetapi pikiranmu mencubit Han-ko, bukankah begitu, Enci Lian?"

"Idiiih. Engkau benar-benar centil, Adik Lulu"

Sudan, jangan menggoda orang, ceritakan yang betul."

"Aku sudah bercerita sebenarnya, masa aku membohong? Bahkan murid Im-yang Seng-cu, Hoa-san Kiam-li Lu Soan Li yang cantik jelita dan gagah perkasa, juga jatuh cinta kepada Kakak Han Han. Baru berkenalan beberapa hari saja mereka sudah begitu akrab, pendekar wanita itu seperti menjadi bayangan tubuh Han-ko, tidak mau berpisah lagi, setiap gerak-geriknya jelas menunjukkan cinta kasih yang mendalam."

Lulu menghentikan kata-katanya ketika melihat betapa wajah Sin Lian yang tadinya merah itu kini berubah agak pucat dan sinar mata yang tadinya berseri itu menjadi agak muram. Ia merasa kasihan dan cepat-cepat ia menyambung.

"Akan tetapi, Hoa-san Kiam-li itu akan kecelik kalau mengira bahwa Han-koko mudah saja terjebak panah asmara. Wah, sama sekali tidak. Han-koko terlalu murni dan bersih, tidak pernah mengingat tentang asmara, apalagi bicara tentang itu. Han-koko adalah seorang pemuda perkasa yang belum pernah diusik panah asmara, masih bersih dan mulus seperti mutiara belum digosok."

Senang sekali hati Lulu melihat betapa kata-katanya mengembalikan warna merah di kedua pipi enci angkatnya.

"Dan lagi Han-koko tentu akan merundingkan soal jodohnya dengan aku, kalau sudah tiba saatnya, karena di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa kecuali aku yang menjadi adiknya. Dan aku tentu tidak akan menyetujui dia berjodoh dengan Hoa-san Kiam-li atau gadis manapun juga, biar puteri kaisar sendiri."

Dengan wajah heran akan tetapi tidak keruh lagi pandang matanya, Sin Lian memandang Lulu dan bertanya,

"Mengapa tidak setuju, Adikku?"

Post a Comment