Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 126

Memuat...

Kakek itu memandangnya dan tersenyum melihat gadis yang berpakaian pria itu tersenyum, kaget dan kagumlah dia.

"Wah, engkau memiliki daya tahan yang hebat. Hal ini membuktikan bahwa engkau telah mempelajari sin-kang yang luar biasa."

"Eh, jangan pura-pura tidak mendengar omonganku dan mengeluarkan puji-pujian kosong, locianpwe. Aku telah hutang satu nyawa kepadamu karena aku tentu telah mati kalau locianpwe tidak datang menolong."

Kakek itu menyelesaikan pekerjaannya membalut luka-luka di tubuh Lulu, kemudian berkata sungguh-sungguh,

"Nona, saling bantu di antara kita segolongan adalah wajar, bahkan saling menolong di antara manusia sudah semestinya, sama sekali tidak dapat dikatakan hutang-berhutang. Apalagi kalau kita bersama menghadapi orang-orang Mancu yang amat jahatnya. Ah, bukan semata-mata orangnya yang jahat, karena orang Mancu pun manusia seperti kita. Yang jahat adalah pimpinan mereka yang mengatur penjajahan dan menimbulkan perang. Perang adalah jahat dan kejam, membuat manusia-manusia seperti kita menjadi binatang-binatang buas. Aku sungguh amat membenci perang, akan tetapi lebih membenci orang-orang Mancu yang menimbulkan perang."

Hati Lulu tertarik sekali. Ucapan kakek ini benar-benar memiliki arti yang dalam, apalagi terdengar oleh telinganya, telinga seorang gadis Mancu.

"Locianpwe, apakah engkau demikian membenci orang Mancu? Engkau sendiri mengatakan tadi bahwa orang Mancu juga manusia seperti kita, mengapa locianpwe amat membenci mereka?"

"Mengapa tidak? Karena merekalah maka orang-orang seperti aku menjadi binatang-binatang buas yang membunuhi manusia lain tanpa berkedip. Dahulu, sebelum ada perang, manusia mengenal prikemanusiaan dan aku akan merasa bangga kalau dapat menyelamatkan nyawa seorang manusia lain daripada ancaman bahaya maut. Dahulu, nyawa manusia amat dihargai sehingga sebuah pembunuhan akan menggegetkan dan pembunuhnya akan dikutuk manusia lain. Akan tetapi sekarang? Ah, dalam keadaan perang, manusia menjadi makhluk sejahat-jahatnya. Betapa banyaknya nyawa manusia melayang oleh per buatanku, dan kedua tanganku yang berlumuran darah ini telah membunuh entah berapa banyak manusia lain."

Lulu makin tertarik. Kakek itu mengucapan kata-kata penuh semangat dan kesungguhan, dan wajah yang keriputan itu tampak berduka sekali.

"Akan tetapi yang Locianwe lakukan adalah demi perjuangan. Locianpwe berjuang demi negara dan bangsa, dan Locianpwe membunuh musuh bangsa. Bukankah hal itu merupakan perbuatan mulia?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Lulu berdiri. Kelihatannya saja tertawa, akan tetapi nadanya seperti orang menangis.

"Ha-ha-ha, Inilah yang menyedihkan. Manusia menganggap penyembelihan sesama manusia ini sebagai perbuatan mulia, Makin banyak menyembelih manusia, makin banyak merenggut nyawa sesama manusia, akan gagah perkasa, makin mulia dan disebut pahlawan. Memang perjuangan membela nusa bangsa, membela tanah air adalah sebuah tugas yang mulia, akan tetapi penyembelihan sesama manusia, sungguhpun berlainan bangsa, yang dianggap mulia oleh manusia itu, apakah juga mulia dalam pandangan Thian? Apakah Thian akan bersenang hati menyaksikan manusia ciptaan-Nya saling bunuh hanya karena memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi. Tidak, Nona. Aku yakin bahwa Thian tidak menghendaki manusia berbunuh-bunuhan, dan aku yakin bahwa penyembelihan antara manusia yang oleh masing-masing golongan manusia disebut mulia dan dipuji-puji ini dikutuk Thian."

Lulu menjadi terharu. Ia dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, dan tentu saja bagi dia, seorang gadis Mancu, ucapan itu berkesan amat dalam.

"Kata-kata locianpwe benar-benar mengejutkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin sekali mendengar maksud ucapan locianpwe tadi bahwa perang antara manusia hanya memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi. Apakah yang locianpwe maksudkan?"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Maksudku, tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak menganggap bahwa perang yang dilakukannya berdasarkan kebenaran. Lihat contohnya perang yang dikobarkan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tiongkok. Bangsa Mancu menyerbu ke selatan dan mereka merasa benar karena mereka menganggap bahwa mereka semenjak dahulu direndahkan, dan menganggap bahwa mereka itu datang untuk membebaskan rakyat Tiongkok daripada cengkeraman pemerintahan yang tidak baik. Mereka berperang dengan dasar kebenaran mereka, karena hanya kalau mereka berkuasa di sinilah maka rakyat akan dapat hidup makmur, terbebas daripada penindasan kaisar dan pembesar-pembesar Kerajaan Beng yang lemah dan jahat dalam pandangan mereka. Jelaslah bahwa bangsa Mancu berperang dengan dasar kebenaran mereka, kebenaran palsu. Di lain pihak, Kerajaan Beng berikut semua pejuang yang melawan mereka, termasuk aku, mendasarkan perjuangan dengan kebenaran kita sendiri, kebenaran orang mempertahankan tanah airnya, kebenaran negara mempertahankan hak dan kedaulatannya. Padahal, yang diperebutkan adalah kemenangan, dan sesungguhnyalah bahwa kemenangan yang akan mendatangkan kemuliaan duniawi kepada mereka yang menang. Kalau perang hanya terbatas kepada mereka yang bercita-cita, baik para pembesar yang memperebutkan kedudukan, maupun para perajurit yang berperang karena menerima upah, atau pejuang yang berperang karena dorongan cita-cita, masih tidak mengapa. Mereka sudah sengaja ingin terjun ke dalam kancah perang yang isinya menang atau kalah, hidup atau mati. Celakanya, rakyat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban keganasan perang."

Kakek itu menarik napas panjang, kemudian memandang Lulu tajam-tajam dan melanjutkan kata-katanya.

"Jahat sekali perang ini akibatnya. Pertengkaran pribadi hanya menimbulkan kebencian, akan tetapi perang menimbulkan kebendaan antara bangsa. Tidak ada lagi pertimbangan antara baik dan buruk, bangsa yang dibencinya karena perang, dianggapnya semua jahat dan semua harus dibasmi. Sungguh menyedihkan sekali karena baru dalam hal inilah ada persamaan pendapat antara orang baik dan orang jahat. Pendeta-pendeta dan perampok-perampok dapat bekerja sama menghadapi musuh. Dalam perang antar bangsa, biar dia perampok yang sekejam-kejamnya kalau sebangsa, dianggap sekutu. Biar sama-sama pendeta kalau menjadi bangsa yang dibenci dianggap lawan yang harus dibunuh. Dan maut yang disebar tidak memandang bulu, tidak mengenal prikemanusiaan lagi. Kebencian melanda dan menguasai hati nurani manusia sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang kejamnya melebihi srigala. Membunuh dan menyiksa dianggap perbuatan yang baik dan gagah perkasa. Semua karena gara-gara perang dan andaikata bangsa Mancu tidak mengobarkan perang lebih dulu, tidak akan terjadi segala kekejaman itu. Karena itu, aku membenci orang-orang Mancu yang menimbulkan perang, membenci mereka yang telah membuat aku sekarang menjadi seorang pembunuh berdarah dingin."

Kembali kakek itu menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali.

"Locianpwe, bukan hanya engkau yang menderita, bukan hanya rakyat Tiongkok yang menderita akibat perang. Juga bangsa Mancu sendiri banyak yang menderita akibat perang ini, perang yang dicetuskan oleh para pimpinan dengan mengorbankan banyak rakyat. Rakyat Mancu yang dipaksa menjadi perajurit, mati di sini tanpa diketahui keluarganya. Betapa banyaknya pula rumah tangga para perwira yang hancur akibat perang, terbasmi oleh musuh mereka yang oleh mereka disebut dan dianggap para pemberontak."

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian mengangkat muka memandang.

"Eh, Nona, bagaimana Nona bisa tahu akan keadaan bangsa Mancu?"

Lulu memandang tajam dan menjawab tenang,

"Tentu saja aku tahu, locianpwe, karena aku sendiri adalah seorang Mancu."

"Ahhh....."

Kakek itu benar-benar kaget mendengar ini dan ia memandang wajah Lulu dengan sikap tegang.

"Aku adalah seorang gadis Mancu yang menjadi korban perang ini, locianpwe. Ayahku seorang perwira yang terbunuh bersama seluruh keluarganya oleh segerombolan pemberon.... eh, pejuang yang dipimpin oleh seorang bernama Lauw-pangcu. Hanya aku yang dibiarkan hidup, dirampas pakaianku, diberi pakaian gembel dan aku dilepas sebagai seorang anak gembel yang hidup terlantar....."

"Ya Tuhan....."

Kakek itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak memandang Lulu dengan mata terbelalak. Teringatlah ia peristiwa tujuh tahun yang lalu dan ia berkata lirih penuh getaran perasaan,

"Akulah Lauw-pangcu kini teringat olehku akulah yang memimpin teman-teman menyerbu perwira dan membunuh mereka sekeluarga. Karena engkau mengingatkan aku akan puteriku yang hampir sebaya, aku tidak membolehkan mereka membunuhmu.... ah, Nona, engkaukah kiranya anak itu? Akan tetapi mengapa engkau sekarang membantu kaum pejuang memusuhi bangsa Mancu sendiri?"

Post a Comment