"Ha-ha-ha. Beraninya hanya sama lalat."
Setan Botak tertawa dan menggerakkan tangannya mendorong ke arah lalat yang beterbangan berputaran itu. Lalat itu jatuh dan.... hangus.
"Huh."
Si Burung Hantu mendengus.
"Hwi-yang Sin-ciang boleh jadi dapat menghanguskan seekor lalat, akan tetapi aku tidak takut."
Katanya menentang. Melihat ini, Giam-ciangkun lalu bangkit berdiri dan menengahi mereka, hatinya kesal menyaksikan ulah kedua orang sakti yang aneh, seperti kanak-kanak yang saling tidak mau mengalah.
"Sudahlah, harap ji-wi locianpwe suka menghentikan main-main yang berbahaya ini. Gak-locianpwe, bagaimanakah dengan hasil perjalanan locianpwe?"
"Seperti ciangkun telah melihat sendiri, Toat-beng Ciu-sian-li sudah menyanggupi untuk membantu kita. Biarpun omongan nenek tua bangka itu belum tentu dapat dipegang, akan tetapi saya yakin, bahwa dia tidak akan sudi membantu kaum pemberontak. Tentang Ma-bin Lo-mo, memang Si Muka Kuda yang menjemukan itu sukar sekali diurus. Akan tetapi saya mempunyai daya upaya untuk membubarkan murid-muridnya yang selalu dia tanamkan bibit kebencian kepada pemerintah baru dalam hati mereka. Hemmm, Si Muka Kuda itu mengira bahwa tidak ada orang mengetahui rahasianya. Dia lupa bahwa tidak mudah orang menyembunyikan rahasia dari Kang-thouw-kwi, heh-heh."
"Bagus! Rahasia apakah itu locianpwe? Murid-murid Ma-bin Lo-mo sudah banyak mendatangkan banyak kepusingan pada para penjaga di perbatasan. Kalau kita dapat menundukkan mereka, berarti semua tenaga anti pemberontakan dapat dikerahkan menghadapi Se-cuan saja."
"Rahasia besar Ma-bin Lo-mo, rahasia busuk, ha-ha-ha."
Gak Liat tertawa, menyambar guci arak di atas meja lalu minum arak sampai terdengar bunyi mengelogok di tenggorokannya.
"Setiap orang muridnya adalah putera-puteri keluarga yang terbasmi habis. Semua muridnya percaya dan mengira bahwa keluarga mereka terbasmi oleh pasukan Mancu. Padahal tidak seorang pun keluarga mereka terbasmi oleh pasukan Mancu. Yang membunuh keluarga mereka adalah Ma-bin Lo-mo sendiri. Ha-ha-ha."
Sepasang Tikus Kuburan terkejut. Mereka juga mengenal siapa adanya Ma-bin Lo-mo, seorang bekas menteri Kerajaan Beng-tiauw yang tentu saja anti Kerajaan Mancu. Mereka mendengar betapa di In-kok-san, di puncak Pegunungan Tai-hang-san, kakek itu melatih puluhan orang murid yang kini telah menjadi orang-orang muda berilmu yang di mana-mana memusingkan petugas kerajaan karena mereka itu selalu melakukan kekacauan. Mereka ini mendengar bahwa para murid In-kok-san memusuhi Kerajaan Mancu karena mereka adalah keturunan para keluarga yang terbasmi oleh pasukan Mancu dalam perang.
"Eh, Gak-locianpwe. Benarkah itu?"
Kang-thouw-kwi melototkan matanya kepada kedua orang saudara Bhong ini.
"Mengapa tidak benar? Orang lain boleh ditipu, akan tetapi aku tidak"
Aku mengetahui rahasia Ma-bin Lo-mo. Dia memilih calon murid, laki-laki atau perempuan yang memiliki tulang dan bakat baik, kemudian ia membasmi keluarga calon murid itu, mengatakan bahwa yang membasmi adalah orang-orang Mancu dan ia membawa murid itu ke In-kok-san dan selain memberi kepandaian, juga menanamkan kebencian terhadap pemerintah Ceng. Dalam usahanya membentuk barisan orang-orang muda yang membenci pemerintah baru itu ia dibantu oleh Si Muka Tengkorak Swi Coan, Si Muka Bopeng Ouw Kian dan Kek Bu Hwesio. Kalau murid-murid itu tahu akan tipu muslihat guru mereka, ha-ha-ha, hendak kulihat apa yang akan dapat dilakukan Si Muka Kuda. Ha-ha-ha."
"Akan tetapi, betapa mungkin dapat menginsafkan para muridnya, locianpwe?"
"Hal itu memang sukar, akan tetapi saya rasa Puteri Nirahai akan dapat mencari akalnya. Tentang siasat, sebaiknya kita serahkan kepada Sang Puteri yang seratus kali lebih cerdik daripada saya si tua bangka. Dan tentang gadis Mancu yang menjadi adik angkat Han Han, agaknya Ciangkun tentu sudah mendengar dari murid saya Ouwyang-kongcu."
"Ouwyang-kongcu memang sudah pulang bersama Lulu, akan tetapi gadis itu hanya menimbulkan keributan saja. Dia telah diterima di istana, bahkan telah diangkat menjadi siuli, akan tetapi baru beberapa hari saja dia sudah minggat entah ke mana. Kini Ouwyang-kongcu sedang berusaha mencarinya dan belum pulang."
"Wah, sungguh merepotkan. Dan Puteri Nirahai, apakah sudah pulang?"
"Belum,"
Jawab Giam-ciangkun.
"Marilah kita kembali ke kota raja. Kita harus memberi laporan kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok, dan aku sendiri masih menghadapi kesukaran. Hemmm.... tak tahu aku bagaimana harus menyampaikan kepada isteriku tentang adiknya."
Giam Kok Ma berkata,
"Sebaiknya kalau dikatakan bahwa Adik iparmu itu pergi tanpa pamit mencari Lulu. Bukankah alasan itu yang paling baik?"
Giam Cu mengangguk-angguk.
"Hemm, agaknya benar begitu. Memang tidak ada alasan lain."
Kembalilah mereka beramai ke kota raja. Giam Kok Ma menjadi girang bukan main dan baru pada malam hari itu ia dapat tidur setelah beberapa malam semenjak diberi tahu Giam Cu bahwa dia dan rekan-rekannya diancam oleh Han Han ia sama sekali tidak dapat tidur nyenyak tidak dapat makan enak.
Di dalam kempitan seorang sakti seperti Toat-beng Ciu-sian-li, apalagi dua jalan darahnya telah ditotok, biarpun sudah sadar Han Han tidak mampu berbuat apa-apa. Melihat dirinya dikempit dan dibawa lari cepat sekali, Han Han berkata.
"Toat-beng Ciu-sian-li, setelah aku kalah, mengapa susah payah membawa aku pergi? Lebih baik kau bunuh sajalah aku, habis perkara."
Mendengar ini, Toat-beng Ciu-sian-li melemparkan tubuh Han Han ke atas tanah lalu berkata.
"Enak saja membunuhmu. Engkau telah berdosa, telah melanggar peraturan di In-kok-san. Engkau harus dihukum. Ataukah engkau dapat bicara sesuatu untuk meringankan hukumanmu?"
Han Han tersenyum pahit.
"Aku tahu isi hatimu, Ciu-sian-li. Engkau telah menyaksikan kelihaianku dan engkau menghendaki agar supaya aku bicara tentang Pulau Es, bukan?"
"Benar, benar....."