Toat-beng Ciu-sian-li menjadi bingung dan menjerit, punggungnya terkena hantaman tongkat. Akan tetapi tubuhnya kebal dan sungguhpun ia merasa punggungnya nyeri, namun ia tidak terluka dan kembali ia melengking nyaring, tubuhnya mencelat ke atas dan ia menghindarkan pukulan tangan kanan kedua orang "Han Han"
Yang berada di belakangnya sambil menggerakkan rantai gelang telinga kanannya menyerang ke arah dada Han Han yang bergerak ke depannya.
"Pranggg....."
Dengan telapak tangan kanannya Han Han menampar ujung rantai itu sehingga dua buah gelang pecah-pecah sambil memegang tongkat dengan tangan kiri. Dalam pandang mata empat orang yang menjadi penonton, dua orang "Han Han"
Yang lain juga memindahkan tongkat ke tangan kiri dan mereka menerjang berbareng.
"Eh.... hiiihhhhh....."
Toat-beng Ciu-sian-li selama hidupnya belum pernah mengalami hal seperti itu. Ia kembali meloncat ke atas untuk menghindarkan diri dan tiba-tiba ia menggerakkan tangan. Kiranya ia sudah melolos tiga buah gelang rantainya dan melontarkannya ke arah tiga orang lawannya. Memang anting-anting luar biasa itu selain menjadi "perhiasan"
Dan senjata ampuh, juga dapat ia pergunakan sebagai senjata rahasia, yaitu dengan cara melolos gelang-gelangan rantainya. Han Han cepat mengelak sambil menangkis dengan tongkatnya.
"Trakkk."
Tongkatnya patah dan remuk dan ternyata bahwa tongkat kedua orang "bayangannya"
Juga patah dan remuk. Kini dia dan bayangan-bayangannya itu mengeroyok dengan tangan kosong. Melihat ini Giam-ciangkun segera berseru,
"Ilmu sihir. Dia hanya seorang, yang dua hanyalah bayangan."
Toat-beng Ciu-sian-li bukan seorang bodoh. Dia seorang datuk golongan hitam yang sakti. Maka ia segera sadar bahwa tidak mungkin ada manusia yang dapat mengubah diri menjadi tiga orang, maka ia mengerahkan kekuatan batinnya dan seketika pandangannya menjadi terang. Lawannya hanya seorang saja, bekas muridnya yang telah memperoleh kemajuan luar biasa sekali, terutama telah memiliki tenaga sin-kang yang mentakjubkan.
Akan tetapi rasa gentar dan bingung tadi dipergunakan baik-baik oleh Han Han. Selagi lawannya bingung, ia mengerahkan tenaganya di kedua tangan dan begitu tubuh nenek itu turun, ia menubruk ke depan, memukul dengan dorongan dahsyat. Kini ia menggunakan inti tenaga Im-kang yang ia latih selama bertahun-tahun di Pulau Es, menurut petunjuk kitab-kitab Ma-bin Lo-mo dan kitab-kitab Sepasang Pedang Iblis dan dengan pukulan seperti itu Han Han mampu memukul air menjadi beku dan menjadi sebongkah salju sebesar kerbau"
"Ihhhhh....."
Toat-beng Ciu-sian-li merasa betapa hebatnya hawa pukulan yang amat dingin itu. Baru terkena hawanya saja, ia merasa semua darah di tubuhnya seperti membeku, maka maklumlah nenek ini bahwa kalau ia terkena pukulan itu, tentu ia tidak akan kuat menahan dan akan tewas. Maka ia mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba tubuhnya lenyap. Pukulan Han Han mengenai lantai di belakang tempat nenek itu tadi berdiri, membuat lantai itu bergetar dan semua perabot yang berada di belakangnya hancur semua. Kiranya nenek itu mempergunakan tenaganya yang mujijat dan tubuhnya telah amblas ke lantai. Dia selamat, akan tetapi ketika ia meloncat keluar dari lantai yang mencetak tubuhnya merupakan lubang sedalam satu kaki, ia kelihatan pucat dan dari ujung bibirnya menetes darah. Ia hanya kena serempet saja, namun cukup membuat nenek ini terluka.
"Ha-ha-ha, nenek setan arak, biar kubantu engkau."
Tiba-tiba terdengar seruan keras dan tahu-tahu Gak Liat Si Setan Botak telah berada di belakang Han Han, lalu secepat kilat ia memukul punggung Han Han dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Han Han merasa betapa hawa panas menyambarnya dari belakang. Ia mengerahkan sin-kang melindungi tubuhnya sambil membalik, namun terlambat. Pukulan ampuh mengenai punggungnya dan biarpun tubuhnya dilindungi sin-kang yang kuat, tidak urung ia terlempar juga dan roboh pingsan di depan kaki Toat-beng Ciu-sian-li.
"Ha-ha-ha. Aku sudah membantumu. Engkau pun harus membantu kami, membantu kerajaan, Toat-beng Ciu-sian-li."
Kata pula Gak Liat. Nenek itu memandang tubuh yang tergolek pingsan di depan kakinya, mengusap darah dari ujung bibirnya dan menarik napas panjang.
"Sebetulnya aku tidak membutuhkan bantuanmu, Setan Botak. Akan tetapi aku memang sudah berjanji untuk membantu kalian asal Kaisar dapat menghargai tenaga orang. Sekarang aku ada urusan pribadi dengan bocah ini. Sampai jumpa. Lain kali aku datang lagi."
Ia mengempit tubuh Han Han yang lemas dan hendak pergi.
"Ha-ha-ha, takkan ada gunanya kau membujuk dia untuk bicara tentang Pulau Es, Ciu-sian-li. Dia keras kepala, engkau takkan berhasil."
Kata pula Gak Liat. Toat-beng Ciu-sian-li menengok dan berkata, suaranya dingin,
"Siapa hendak bicara tentang Pulau Es? Dia bekas muridku yang durhaka, harus diberi hukuman untuk memberi contoh kepada murid-murid lain."
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyap. Giam-ciangkun bernapas lega, merasa seolah-olah sebuah batu berat yang selalu menekan di dalam dadanya telah ikut terbawa pergi oleh nenek sakti itu.
"Aaahhhhh, sungguh berbahaya...."
Katanya sambil menyapu peluh yang membasahi lehernya. Pintu terbuka dan munculiah Giam Kok Ma, mukanya yang kuning kini berubah putih dan ia bertanya terengah-engah,
"Be.... betulkah apa yang kulihat tadi? Dia.... iblis cilik itu.... berubah menjadi tiga? Celaka.... jangan-jangan hanya satu yang dibawa pergi, yang dua lagi...."
Panglima muka kuning ini memandang ke seluruh ruangan dengan mata jelilatan, takut kalau-kalau ia akan menemukan dua orang Han Han lagi di tempat itu, yang pasti akan membunuhnya. Kang-thouw-kwi Gak Liat tertawa, lalu duduk di atas kursi dan berkata.
"Ciangkun, tidak usah khawatir. Dia memang memiliki sedikit ilmu sihir. Bukan tubuhnya berubah menjadi tiga, hanya dia mempengaruhi pandangan dan kemauan kita sehingga kita melihatnya seperti tiga orang. Setan cilik itu betul-betul amat berbahaya kalau dibiarkan hidup. Dia memiliki banyak ilmu yang aneh-aneh. Untung dia telah tertawan oleh Toat-beng Ciu-sian-li dan aku mengenal betul siapa Ciu-sian-li. Iblis cilik itu pasti tidak akan hidup lagi. Ha-ha-ha."
"Syukurlah kalau begitu,"
Kata Giam Cu dan Giam Kok Ma dengan hati lega.
"Tenaga sin-kangnya tidak lumrah manusia,"
Kata kedua orang Saudara Bhong. Gak Liat hanya tertawa, tidak mau bicara banyak karena dia sendiri masih ngeri kalau mengingat betapa dia dengan Ma-bin Lo-mo sampai terluka ketika melawan bocah itu, dan lebih-lebih lagi, ketika hendak membunuhnya tiba-tiba muncul tokoh yang paling disegani, paling dihormati, juga paling ditakuti di dunia ini. Koai-lojin.
"Ehmmm.... sayang sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk menghajar bocah sombong itu."
Tiba-tiba Sin-tiauw-kwi berkata sambil menggoyang senjata sabit di tangannya.
"Ha-ha-ha, Sin-tiauw-kwi burung jelek. Percuma menyesal, dia tentu akan mampus di tangan Ciu-sian-li. Kalau kau ingin memperlihatkan kepandaianmu, boleh kau coba-coba dengan aku."
"Boleh, Sekarang pun boleh."
Kata Si Burung Hantu dan ia menggerakkan tangan kirinya ke arah seekor lalat yang selalu banyak beterbangan di sekitar tubuhnya yang mungkin karena tertarik baunya yang apek dan penguk. Begitu ia memutar-mutar tangannya, ada angin berpusingan keras dan betapapun lalat itu hendak terbang, ia tidak mampu keluar dari pusingan angin itu dan hanya terbang bingung berputar-putar di depannya. Demonstrasi sin-kang yang seperti main-main ini sesungguhnya hebat, memperlihatkan betapa Si Burung Hantu sudah menguasai sin-kang sampai cukup tinggi sehingga mampu menggunakan tenaga yang dibikin halus seperti itu.