"Hi-hi-hi, burung yang jelek, jangan rampas korbanku. Serahkan bocah ini kepadaku."
Tubuh Toat-beng Ciu-sian-li melayang turun dan tahu-tahu ia telah berhadapan dengan Han Han. Karena merasa pernah menjadi murid wanita ini, Han Han terkejut sekali dan otomatis ia menjura dengan hormat sambil berkata,
"Subo, harap jangan mencampuri urusan pribadiku."
"Heh-heh-hi-hik, kalian semua telah mendengarnya, kan? Dia adalah muridku dan karena dia telah melakukan dosa melanggar peraturan-peraturan perguruan, maka dia sepenuhnya menjadi hakku."
Sin-tiauw-kwi tertawa.
"Heh-heh, aku bukanlah orang yang suka mencampuri urusan guru dan murid. Toat-beng Ciu-sian-li, muridmu ini sombong dan tidak benar, memang perlu sekali akan pengajaranmu."
Teat-beng Ciu-sian-li menghadapi Han Han sambil menyeringai.
"Bocah iblis murid durhaka. Apakah engkau tidak lekas berlutut minta ampun kepada gurumu?"
Han Han mengerutkan alisnya. Ia melihat cihunya sudah duduk dengan tenang di atas kursi menghadapi meja, juga sepasang Tikus Kuburan sudah mengambil tempat duduk sedangkan Sin-tiauw-kwi sudah berdiri dengan satu kaki, sikap mereka semua seperti orang-orang yang hendak menonton pertunjukan menarik. Han Han menduga bahwa memang dia hendak diadu dengan bekas gurunya ini, atau memang mereka hendak mencelakakannya dalam usaha mereka melindungi enam orang musuh-musuhnya yang hendak ia basmi. Ia menjadi penasaran akan tetapi sedikit pun tidak gentar. Ia menghadapi Ciu-sian-li dan berkata lantang.
"Locianpwe, aku menghormatimu sebagai bekas guru, akan tetapi sekarang aku bukanlah muridmu lagi. Tentang kesalahanku dahulu telah melarikan diri darimu karena aku memang tidak suka menjadi muridmu. Sekarang, karena sedang menghadapi urusan pribadi hendak membasmi musuh-musuh keluargaku, harap kau orang tua suka mengalah dan membiarkan aku membereskan urusan pribadiku. Kalau sudah selesai aku membasmi musuh-musuhku barulah kita bicara tentang urusan kita."
"Eh, Si keparat bocah tak mengenal budi"
Tak usah banyak bicara hayo lekas berlutut di depanku."
Akan tetapi bentakan ini malah mendatangkan rasa penasaran di hati Han Han. Selama ia keluar dari Pulau Es, dia selalu dimusuhi orang, baik oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang disebut golongan putih maupun oleh tokoh-tokoh golongan hitam. Rasa penasaran ini membuat ia marah dan nekat.
"Toat-beng Ciu-sian-li, engkau mempunyai pendirian, aku pun punya"
Aku akan membasmi musuh-musuhku dan siapa pun yang menghalangiku, biar engkau sekalipun, akan kulawan."
"Wah-wah, baru sekarang aku melihat murid lebih galak dari gurunya."
Kata Sin-tiauw-kwi sambil tertawa.
"Tutup mulutmu, Burung Buruk."
Ciu-sian-li membentak.
"Kaukira aku tidak dapat menguasai muridku? Han Han, sekali lagi, engkau tidak mau taat?"
"Terserah kepadamu, aku tidak menganggapmu sebagai guru lagi."
Toat-beng Ciu-sian-li mengeluarkan suara teriakan melengking dan tiba-tiba rantai gelang yang dijadikan anting-anting telinganya itu menyambar dari kanan kiri, yang kiri menyambar kepala Han Han, yang kanan menyambar ke arah dada. Sambaran kedua benda itu cepat dan kuat sekali, mengeluarkan bunyi berdesing dan Han Han yang tidak keburu mengelak, mengerahkan tenaganya dan menghantam ke arah dua ujung rantai gelang itu dengan kedua telapak tangannya.
"Plak-plak."
"Bukkk."
Tanpa disangka-sangka oleh Han Han, pukulan nenek itu sudah menyusul pada saat ia menggerakkan tangan menangkis sehingga dadanya kena didorong oleh tangan kiri nenek itu. Tubuh Han Han roboh bergulingan, dadanya ampek dan napasnya sesak. Akan tetapi ia menahan napas dan meloncat bangun. Juga nenek itu terkejut bukan main karena tangkisan kedua tangan pemuda itu membuat rantai gelangnya kehilangan dua buah mata gelang yang pecah terkena hantaman tangan Han Han.
"Bocah keparat, berani engkau melawan Toat-beng Ciu-sian-li."
Nenek itu memekik dan tubuhnya sudah melayang naik dan meluncur ke arah Han Han dengan terjangan dahsyat sekali. Kedua tangan nenek itu mengirim pukulan-pukulan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa). Hawa pukulan kedua tangannya bercuitan bunyinya dan tercium bau amis sebelum pukulan itu datang. Melihat ini, Han Han maklum bahwa ia menghadapi lawan yang lebih lihai daripada Gak Liat atau Ma-bin Lo-mo, maka ia cepat mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan dan menggunakan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang.
"Wusssss.... plak-plak....."
Dua pasang telapak tangan bertemu dan akibatnya kembali Han Han terjengkang dan bergulingan. Akan tetapi nenek itu berdiri menggigil dan mulutnya berseru berkali-kali,
"Luar biasa.... luar biasa....."
Memang ia merasa heran setengah mati mendapat kenyataan betapa kekuatan Im-kang bocah itu lebih hebat daripada Swat-im Sin-ciang Ma-bin Lo-mo sendiri"
"Heh-heh-heh, Dewi Pemabuk"
Apakah engkau kewalahan menghadapi muridmu sendiri?"
Si Burung Hantu mengejek sambil tertawa. Nenek itu melengking tinggi karena marahnya, tubuhnya berkelebat cepat ke depan dan segera Han Han dihujani serangan dengan kedua tangan yang bergantian memukul, kedua kaki yang bergantian menendang, dan sepasang anting-anting raksasa yang menyambar-nyambar dari kiri kanan. Hebat bukan main sepak terjang nenek ini sehingga secara berturut-turut Han Han terdesak, beberapa kali menerima pukulan dan hantaman senjata rantai gelang sehingga ia terguling-guling dan merasa tubuhnya sakit-sakit semua. Sepasang Tikus Kuburan bertepuk-tepuk tangan saking gembira dan memang mereka kagum bukan main.
Sudah lama mereka mendengar nama besar Toat-beng Ciu-sian-li, akan tetapi baru sekarang mereka menyaksikan kelihaian nenek itu. Tadi mereka sudah mengenal kehebatan tenaga bocah itu, kini melihat betapa nenek itu mendesak dan menghimpit, sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada Han Han, tentu saja mereka menjadi kagum sekali. Adapun Giam-ciangkun yang menyaksikan betapa adik isterinya terancam bahaya maut hanya tenang-tenang saja karena sesungguhnya ia menganggap Han Han sebagai ancaman bagi dirinya sendiri. Seperti yang pernah dilakukan oleh Ma-bin Lo-mo dan Gak Liat, nenek ini pun tidak ingin membunuh Han Han karena dia sudah mendengar dari tiga orang muridnya tentang keadaan diri Han Han yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa.
Dia pun diam-diam menduga bahwa Han Han tentu telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es, maka ia ingin memaksa anak muda itu untuk membuka rahasia tentang Pulau Es, ingin menangkapnya dan membawanya pergi. Di samping ini, juga ia ingin memamerkan kepandaiannya kepada para jagoan kerajaan, maka ia sengaja mempermainkan Han Han dan mengeluarkan kepandaiannya yang memang mengagumkan sekali. Kalau ia kehendaki, tentu ia telah dapat membunuh Han Han dengan pukulan-pukulan Toat-beng-tok-ciang yang dikerahkan dengan tenaga sepenuhnya. Untuk ke sekian kalinya, ketika dengan nekat Han Han menubruk, menggunakan pukulan Hwi-yang Sin-ciang dengan tangan kanan dan pukulan Swat-im Sin-ciang dengan tangan kiri, yang amat mengagumkan hati nenek itu,
Toat-beng Ciu-sian-li mencelat ke atas sehingga kedua pukulan itu luput, kemudian dari atas kakinya menendang, mengenai dada Han Han sehingga tubuh pemuda ini terlempar sampai di sudut ruangan itu. Han Han terbanting pada dinding, tangannya meraba kaki meja hiasan tinggi yang menjadi tempat pot bunga. Ia meloncat bangun dan mematahkan kaki meja itu. Seperti juga kursi yang diduduki Giam-ciangkun, kaki meja itu terbuat daripada akar pohon yang bengkak-bengkok dan nyeni, begitu ia patahkan menjadi sebatang tongkat dan dengan senjata sederhana ini Han Han maju lagi menghadapi Si Nenek sakti dengan kemarahan meluap-luap. Ia maklum bahwa kepandaiannya kalah jauh, akan tetapi kemauannya yang keras membuat ia nekat dan pantang menyerah, kalau perlu ia akan mempertaruhkan nyawanya di tangan bekas gurunya ini.
"Ha-ha-ha-ha, biar engkau berubah menjadi tiga orang, tak mungkin engkau dapat menangkap Toat-beng Ciu-sian-li, bocah sombong."
Bhong Lek yang mukanya kaya tikus mengejek.
"Heh-heh, biar dia berkepala tiga dan berlengan enam, takkan mampu menang."
Bhong Poa Sik mengejek pula. Mendengar ini, nenek itu terkekeh.
"Jangankan hanya menjadi tiga, biar menjadi tiga puluh sekalipun aku masih sanggup mempermainkannya."
Han Han makin marah, merasa dianggap rendah sekali. Ia teringat akan kemampuannya yang luar biasa, yang hampir berhasil ketika ia pergunakan dalam menghadapi Setan Botak dan Si Muka Kuda tempo hari. Mendengar itu, ia pun lalu berkata dengan suara lantang, sinar matanya menyambar-nyambar seperti kilatan halilintar dan suaranya yang mengandung khi-kang kuat itu didasari kekuatan kemauan mujijat yang amat berpengaruh.
"Nenek sombong. Lihat, aku sudah menjadi tiga orang. Engkau mau bisa apa?"
Sambil berkata demikian ia menyerang dengan pukulan tongkat kaki meja ke depan dan terbelalaklah semua orang ketika melihat betapa Han Han benar-benar telah menjadi tiga orang. Tiga orang muda berambut riap-riapan, ketiganya memegang tongkat dan menyerang Toat-beng Ciu-sian-li dari tiga jurusan.
"Hehhh....! Mimpikah aku?"
Si Burung Hantu berkata gagap dengan mata makin menjuling.
"Demi segala iblis di neraka."
Si Muka Tikus Bhok Lek berseru dengan mata terbelalak.
"Ajaib.... se.... se.... setan....."
Adiknya juga berseru.
"Ilmu hitam apakah ini....?"
Giam-ciangkun juga berseru, jantungnya seperti berhenti berdetik.
"Ayaaaaa....."