"Kecupan itu merupakan penghormatan istimewa, engkau jangan salah paham!" "Ya, Bibi!" Tio Bun Yang mengangguk Ayoh, kita ke dalam!" ajak ibu Cing Cing.
Mereka berjalan ke dalam rumah, lalu duduk di ruang depan.
Para pelayan segera menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman.
"Bun Yang mari minum!" ujar ibu Cing Cing Tio Bun Yang meneguk minumannya.
Monyet bulu putih itu juga tidak mau ketinggalan, langsung meneguk pula, yang tentunya membuat ibu dan ayah Cing Cing tertawa geli.
"Kakak Bun Yang, aku tidak jadi berkabung untukmu," ujar Cing Cing mendadak.
"Eh?" tegur ibu Cing Cing.
"Jangan omong sembarangan!" "Ibu, aku tidak omong sembarangan, melainkan omong sesungguhnya.
Apabila Kakak Bun Yang mati di tiga rintangan itu atau mati di tangan Pahto, maka aku akan berkabung lima tahun." "Nak, engkau...." Ibu Cing Cing menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Bun Yang, aku tidak menyangka kepandaianmu begitu tinggi.
Bolehkah engkau ajarkan kepadaku?" "Itu...." Tio Bun Yang tampak ragu.
"Bun Yang!" Ibu Cing Cing tersenyum.
"Ajari-lah dia!
Sebab dia memang suka belajar ilmu silat." "Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk.
"Terimakasih, Kakak Bun Yang!" ucap Cing Cing sambil tersenyum manis.
Keesokan harinya, Tio Bun Yang mengajar Cing Cing caracara berlatih Giok Li Sin Kang, juga mengajarnya ilmu pedang Lui Tian Kiam Hoat.
Setelah itu, barulah Tio Bun Yang berpamit kembali ke Tionggoan.
-oo0dw0oo- Jilid 5 Bab-21 Berkenalan Lu Hui San putri angkat Lu Thay Kam yang mulai berkelana itu telah tiba di sebuah kota yang cukup besar, ramai dan tampak gedung-gedung mewah.
Ia terus berjalan perlahan sambil menengok kesana ke mari menikmati keindahan kota itu.
Disaat itulah mendadak ia mendengar suara jeritan.
Segeralah ia menoleh, dilihatnya beberapa pengawal pembesar sedang memukuli seorang tua.
"Kalau engkau tidak bayar pajak, kami pasti memukulmu sampai mampus!" bentak kepala pengawal itu.
"Ayoh, cepat bayar pajak!" "Tuan, jangan kata bayar pajak, buat makan pun susah," ujar orang tua itu sambil merintih-rintih.
"Aduuuh!" "Hmm!" dengus kepala pengawal itu.
"Kami tidak mau tahu ada untuk makan atau tidak, yang penting engkau harus bayar pajak!" "Tuan...." Plaaak!
Plaaaak!
Kepala pengawal itu menampar pipi Si orang tua.
"Aduuuh!" jerit orang tua itu dengan mulut mengeluarkan darah.
"Aduuuh!" "Jangan siksa ayahku!
Jangan siksa ayahku!" teriak seorang gadis berusia dua puluhan.
"Nanti akan kami bayar pajak itu!" "Wuaah!" Para pengawal itu terbelalak memandang gadis itu, karena gadis itu cukup cantik.
"Tak disangka orang tua jelek ini mempunyai anak gadis begitu cantik!" "Tuan," ujar gadis itu dengan air mata berderai.
"Jangan siksa ayahku...." "Tapi dia harus membayar pajak!" "Kami minta tempo beberapa hari." "Tidak bisa!
Pokoknya sekarang harus bayar, kalau tidak...." Kepala pengawal itu tertawa dingin.
"Ayahmu akan kami tangkap, lalu kami masukkan ke penjara!" "Tuan, tolonglah kami, berilah kami tempo beberapa hari!" "Itu...." Kepala pengawal itu menatap gadis tersebut, kemudian berbisik.
"Kami bisa memberi tempo beberapa hari, asal...
engkau mau menemani kami." "Tuan, itu tidak bisa." Gadis itu menggelengkan kepala.
"Aku...." "Hmm!" dengus kepal?
pengawal itu.
"Kalau engkau tidak bisa, maka ayahmu harus ditangkap!" "Jangan, Tuan!" Gadis itu terus memohon.
"Tuan, jangan tangkap ayahku...!" "Boleh, asal...." Kepala pengawal itu mendekati si gadis, sekaligus menowel pipinya.
"Asal engkau bersedia menemani kami!" Di saat itulah Lu Hui San mendekati mereka dengan wajah dingin.
Beberapa pengawal sudah melihat akan kehadiran gadis yang cantik.
"Wuaaah, gadis ini lebih cantik!" "Jangan main-main!
Dia membawa pedang, berarti dia gadis rimba persilatan" "Kalian semua pengawal pembesar mana?" tanya Lu Hui San sambil menatap mereka dengan tajam.
Begitu mendengar suara yang merdu itu, kepala pengawal langsung menoleh dan seketika juga matanya berbinar-binar.
"Wuaaah, Nona sungguh cantik!" ujarnya terbelalak.
"Engkau adalah kepala pengawal?" tanya Lu Hui San sambil tersenyum.
"Betul, betul!" Kepala pengawal itu mengangguk.
"Aku adalah kepala pengawal yang gagah." "Gagah terhadap orang tua yang tak berdaya?" tanya Lu Hui San.
"Nona, kami menjalankan tugas," sahut kepala pengawal itu.
"Menjalankan tugas apa?" Lu Hui San mengerutkan kening.
"Menagih pajak para penduduk kota ini." Kepala pengawal memberitahukan.
"Kami adalah pengawal Ma Tayjin (Pembesar Ma)!" "Siapa itu Ma Tayjin?" "Pembesar di kota ini.
Beliau yang menugaskan kami menagih pajak.
Orang tua itu tidak mau bayar pajak...." "Karena itu kalian memukulnya?" "Kalau kami tidak memukulnya, dia pasti tidak mau bayar pajak." "Oh?" Lu Hui San tertawa.
"Orang tua itu sangat miskin, mungkin untuk makan pun susah, kenapa kalian begitu tega memukulnya?" "Eh" Nona...." Kepala pengawal menatapnya.
"Engkau bukan penduduk sini, lebih baik jangan turut campur!
Kami berhak menangkapmu lho!" "Tadi engkau menowel pipi gadis itu?" "Tidak salah." Kepala pengawal itu tertawa.
"Kalau ayahnya tidak bayar pajak, dia pun harus menemani kami!" "Apakah itu merupakan hukum yang berlaku di kota ini?" "Betul." Kepala pengawal itu mengangguk.
"Ma Tayjin sudah berpesan kepada kami, apabila ada orang tidak mau membayar pajak, kalau dia mempunyai anak gadis harus ditangkap untuk dijadikan jaminan." "Oh, ya?" Wajah Lu Hui San berubah dingin sekali.
"Apakah itu merupakan peraturan dari ibu kota?" "Kami tidak tahu." "Begini," ujar Lu Hui San.
"Orang tua itu memang tidak mampu membayar pajak, jadi kalian boleh menangkapku." "Nona...." kepala pengawal itu tertegun.
"Engkau bukan penduduk sini, lagi pula tidak punya salah, bagaimana mungkin kami menangkapmu?" "Oh, begitu!" Lu Hui San tersenyum.
"Baik, aku akan membuat salah agar kalian menangkapku." Mendadak Lu Hui San mengayunkan tangannya, dan terdengarlah suara "Plak Plok" keras sekali.
"Aduh!" Jerit kepata pengawal itu sambil memegang pipinya.
Ternyata Lu Hui San menamparnya.
Gadis itu memandangnya sambil tersenyum-senyum.
"Tadi engkau berani memegang pipi gadis itu, maka aku pun berani menamparmu." "Kurang ajar!" bentak kepala pengawal itu dan sekaligus menyera?gnya dengan sebuah pukulan.
Lu Hui San mengelak, kemudian mendadak mengayunkan kakinya menendang kepala pengawal itu dan tepat mengenai perutnya, sehingga tubuh kepala pengawal itu terpental lalu jatuh.
"Aduh!" jerit kepala pengawal itu, lalu memberi perintah pada para anak buahnya "Cepat kalian serang dia!" Beberapa pengawal langsung menyerang Lu Hui San dengan tangan kosong.
Gadis itu berkelit ke sana ke mari, kemudian balas menyerang.
Plaak!
Ploook!
Plaaak!
Ploook!
"Aduuuh!" Beberapa peng?wal itu sudah tertampar.
Para penduduk yang menyaksikan kejadian segera bersorak sorai, mereka memang benci sekali kepada para pengawal itu.
"Nona!
Hajar mereka, karena mereka selalu bertindak sewenang-wenang dan sering mengganggu anak isteri orang!" seru beberapa penduduk kota itu.
"Baik!" Lu Hui San mengangguk.
"Aku akan menghajar mereka lagi!" Gadis itu mengayunkan kakinya menendang ke sana ke mari.
Para pengawal itu tertendang hingga terpental jatuh, dan mereka merintih-rintih kesakitan.
"Horeee!" sorak para penduduk kota, termasuk orang tua dan putrinya "Rasakan!
Hari ini giliran kalian dihajar" "Ampun Nona, ampun . . . .!" Kepala pengawal itu memohonmohon.
"Kami cuma menjalankan tugas.
Ampun...!" "Aku ingin bertanya, kalian harus menjawab secara jujur!
Kalau tidak, kalian akan kuhajar lagi!" "Ya, ya.
Kami pasti menjawab secara jujur." "Apakah pembesar kota ini selalu menaikkan pajak tanpa persetujuan dan ibu kota?" "Betul.
Pembesar itu sering melakukan tindak korupsi," jawab para pengawal itu serentak.
"Betulkah dia sering menyuruh kalian menangkap kaum gadis, yang orang tuanya tidak mampu membayar pajak?" "Betul." "Kalian juga ikut-ikutan berbuat begitu?" "Kami...." Kepala pengawal itu menundukkan kepala.
"Pembesar kami boleh berbuat begitu, maka sudah barang tentu kami pun mengikutinya." "Jadi pembesar kalian dan kalian telah membuat sengsara para penduduk kota ini, maka sekarang juga aku harus menghukum kalian." "Ampun ampun..!" "Para penduduk kota ini!" seru Lu Hui San.
"Siapa yang ingin menghajar para pengawal itu, silakan!" Para penduduk kota itu diam, namun kemudian muncul beberapa lelaki menghampiri Lu Hui San.
"Kami mau menghajar mereka.
Sebab mereka pernah menyita ayam dagangan kami sehingga membuat kami bangkrut," ujar beberapa lelaki itu.
"Betulkah kalian pernah menyita ayam dagangan mereka?" tanya Lu Hui San kepada kepala pengawal itu.
"Nona, ampunilah kami!" "Aku akan mengampuni kalian, tapi kalian semua harus tengkurap.
Karena beberapa lelaki itu ingin menghajar kalian!" "Jangan, jangan.!" Kepala pengawal itu ketakutan.
"Kami...
kami bersedia mengganti rugi." "Baik.
Cepatlah kalian ganti rugi!" "Ya, ya...." Kepala pengawal itu dan beberapa anak buahnya langsung mengeluarkan uang masing-masing, lalu diserahkan pada lelaki itu.
Beberapa lelaki itu menghitung uang perak tersebut, kemudian berkata pada Lu Hui San.
"Nona, uang ini lebih banyak!" "Lebihnya diberikan pada paman tua itu!" Lu Hui San menunjuk orang tua yang dipukul kepala pengawal itu.
"Ya!" Beberapa lelaki itu segera memberikan uang perak pada orang tua tersebut.
"Terima kasih Nona!
Terimakasih...." Ucap orang tua itu terharu.
Lu Hui San tersenyum, kemudian memandang kepala pengawal itu dan berkata dengan nada dingin.
"Sekarang kalian harus mengantarku menemui pembesar itu, aku akan menghajarnya." "Haaah?" Kepala pengawal itu terbelalak.
"Nona . . . " "Kalian harus mengaku menangkapku, karena aku ingin lihat bagaimana reaksi pembesar Itu." "Ya...." Kepala pengawal itu mengangguk.
"Mari ikut kami, Nona!" Lu Hui San mengikuti mereka menuju kantor pembesar Ma.
Para penduduk kota itu pun tidak mau ketinggalan, mereka juga ikut ke kantor itu.
Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di kantor Ma Tayjin.
Seperti biasa, kalau ada kasus, kepala pengawal itu pasti memukul tambur yang di sudut ruang kantor itu.
Dung!
Dung!
Dung!
Terdengar suara tambur itu.
Sesaat kemudian terdengar pula suara seruan dari dalam.
"Ma Tayjin akan memeriksa kasus!
Ma Tayjin akan memeriksa kasus..!" "Ooooohhh!" Kepala pengawal dan para anak buahnya langsung berseru.
Tak lama muncullah beberapa petugas yang lalu berbaris.
Setelah itu, muncullah Ma Tayjin bersama penasihatnya.
"Ada kasus apa?" tanya Ma Tayjin setelah duduk.