Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 52

Memuat...

Dengan cara demikian monyet bulu putih itu berhasil sampai di seberang.

Kini giliran Tio Bun Yang.

Ia melesat ke depan dan melakukan seperti yang dilakukan monyet bulu putih, akhirnya ia pun sampai di seberang.

Monyet bulu putih itu bertepuk tangan, lalu meloncat ke atas bahunya.

"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa gelak.

"Sungguh hebat sekali!

Aku tidak menyangka monyet ini dan engkau mampu menyeberang ke mari.

Itu pertanda ginkang kalian sudah tinggi sekali." Muncul seorang lelaki berusia lima puluhan, yang kemudian berkata dengan bahasa Han sambil menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian.

"Anak muda, kenapa engkau ingin bertemu Pahto?" "Paman," sahut Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku ingin menolong ibu dan ayah Cing Cing." "Oooh!" Lelaki itu manggut-manggut.

"Kalau begitu engkau pasti mempunyai hubungan dengan Tio Cie Hiong." "Dia ayahku." "Syukurlah!" Lelaki itu tertawa gembira.

"Nah, sekarang engkau harus melewati rintangan terakhir yaitu lembah beracun." "Paman kenal ayahku?" "Orang-orang Miauw di sini pasti kenal ayahmu, sebab ayahmu pernah menyelamatkan nyawa ibu Cing Cing." Lelaki itu memberitahukan.

"Sekarang engkau harus melewati lembah beracun itu, setelah itu engkau akan bertemu Pahto.

Hati-hati, kepandaiannya tinggi sekali!" "Terimakasih atas petunjuk Paman!

Oh ya, aku harus menuju ke mana?" "Lurus saja, nanti engkau akan melihat sebuah lembah.

Itulah lembah beracun." "Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang, lalu beri jalan menuju lembah beracun.

Tak seberapa lama kemudian, Tio Bun Yang telah sampai di hadapan lembah beracun itu.

Ia tersenyum, sebab ia memang kebal terhadap racun apa pun.

Tio Cie Hiong, ayahnya dua kali makan buah ajaib Kiu Yap Ling Che, itu membuat ayahnya kebal terhadap racun.

Ia adalah anaknya, otomatis darahnya juga mengandung sari buah ajaib Kiu Yap Ling Che, yang membuatnya kebal pula terhadap berbagai macam racun.

Walau demikian, Tio Bun Yang tetap menelai sebutir pil anti racun.

Bagaimana monyet bulu putih itu" Ternyata monyet bulu putih itu pun kebal terhadap racun apa pun.

Tio Bun Yang mulai melangkah memasuki lembah beracun itu, sedangkan monyet bulu putih itu tetap duduk diam di bahunya.

Tio Bun Yang terus melangkah, berselang beberapa saat kemudian, ia telah melewati tembat itu.

Di saat bersamaan, terdengarlah suara tawa gelak dan muncul seorang lelaki gagah berusia empat puluhan.

Lelaki itu terus menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian.

"Engkau masih muda, tentunya bukan Tio Cie Hiong," ujar lelaki itu dengan bahasa Han.

"Siapa engkau, anak muda?" "Namaku Tio Bun Yang, putera Tio Cie Hiong." "Ha ha ha!" Lelaki itu tertawa gelak lagi.

"Pantas engkau begitu hebat, ternyata putera Tio Cie Hiong yang sangat dikagumi orang-orang Miauw!" "Maaf!

Bolehkah aku tahu siapa Paman?" "Bukankah engkau ingin menemui aku?" sahut lelaki itu.

"Jadi Paman adalah Pahto?" Tio Bun Yang segera memberi hormat.

"Paman Pahto, aku telah melewati tiga rintangan itu." "Aku tahu.

Ha ha ha!" Pahto tertawa terbahak-bahak.

"Aku tidak menyangka engkau sopan sekali." "Paman Pahto!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa Paman mengurung ibu dan ayah Cing Cing?" "Engkau perlu ketahui," sahut Pahto sambil menggelenggelengkan kepala.

"Aku sangat mencintai ibu Cing Cing, tapi dia malah kawin dengan laki lain.

Itu membuatku frustrasi dan kecewa sekali." "Apakah ibu Cing Cing juga mencintai Paman Pahto?" tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Aku pernah bertanya kepadanya, dia menjawab tidak," sahut Pahto jujur.

"Itu membuatku sakit hati, akhirnya dia menikah dengan lelaki itu.

Maka aku lalu meninggalkan daerah Miauw ini." "Paman Pahto, semua itu telah berlalu.

Kenapa Paman kemari lagi dan menangkap mereka" Itu merupakan perbuatan yang tak terpuji, Paman." "Ha ha ha!" Pahto tertawa.

"Aku harus melampiaskan rasa sakit hatiku.

Sudah bagus aku tidak membunuh mereka." "Berarti Paman masih mempunyai rasa peri kemanusiaan.

Oleh karena itu, aku mohon Paman melepaskan mereka." "Boleh." Pahto mengangguk.

"Tapi engkau harus dapat mengalahkan aku, barulah aku melepaskan mereka." "Kenapa hati Paman begitu jahat?" Tio Bu Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku berhati jahat?" Patho tertawa.

"Kali aku berhati jahat, aku sudah membunuh Cing Cing.

Buktinya dia bisa ke Tionggoan dan mengajakmu ke mari." "Paman Pahto!" Tio Bun Yang menghela nafas.

"Cinta tidak bisa dipaksa, lagi pula kini Cing Cing sudah besar.

Jangan memperbesar masalah jangan merusak rumah tangga orang, itu tidak baik." "Ha ha ha!" Pahto tertawa.

"Engkau masih kecil tapi berani menasihati aku?" "Karena hati Paman telah tertutup oleh rasa kebencian dan sakit hati itu, maka aku harus berusaha menyadarkan Paman." "Aku akan sadar apabila engkau mampu mengalahkan aku.

Aku dengar Tio Cie Hiong berkepandaian tinggi sekali.

Engkau adalah anaknya, tentunya tidak akan mempermalukan orang tuamu, kan?" "Jadi Paman ingin bertanding denganku?" "Itu kalau engkau menghendaki ibu dan ayah Cing Cing bebas." "Kalau begitu...." Tio Bun Yang mengangguk.

'Baiklah.

Maafkan kelancanganku berani bertanding dengan Paman!" "Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak.

"Engkau memang anak baik, aku terkesan baik terhadapmu." "Terimakasih Paman." "Jadi kita bertanding secara praktis saja," ujar Pahto.

"Aku akan menyerangmu tiga jurus, engkau boleh balas dan menangkis.

Apabila engkau sanggup menahan tiga jurus pukulanku, aku pasti membebaskan ibu dan ayah Cing Cing." "Terimakasih Paman!" "Nah, engkau harus berhati-hati." Pahto mengikutkannya.

"Sebab pukulanku lihay sekali." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk, kemudian berkata kepada monyet bulu putih.

"Kauw heng, turunlah!" Monyet bulu putih langsung meloncat turun.

Tio Bun Yang dan Pahto berdiri berhadapan.

Tio Bun Yang mulai menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kang, sedangkan Pahto sudah menghimpun Iweekangnya.

"Jurus pertama!" seru Pahto sambil menyerangnya.

Tio Bun Yang segera berkelit menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou.

Itu sungguh mengejutkan Pahto.

"Ha ha ha!

Sungguh gesit engkau!

Nah, ini jurus kedua!" Pahto langsung menyerang ke belan kang.

Ternyata lelaki itu tahu Tio Bun Yang berdiri di belakangnya.

Tio Bun Yang berkelit lagi menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou.

Akan tetapi, di saat itu pula Pahto menyerangnya lagi secepat kilat dan dahsyai bukan main.

"Jurus ketiga!" serunya.

Tio Bun Yang tidak sempat berkelit.

Karera itu ia terpaksa mengerahkan empat bagian Iwee kang Kan Kun Taylo Sin Kang untuk menangkis dan mengeluarkan jurus Kan Kun Taylo Bu Piej (Alam Semesta Tiada Batas).

Daaaar!

Terdengar seperti suara ledakan dahsyat.

Tio Bun Yang tetap berdiri tegak di tempat, sedangkan Pahto terpental tiga langkah dengan wajah pucat.

Setelah berdiri diam, ia menatap Tio Bun Yang dengan mata terbelalak.

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak.

"Engkau sungguh hebat, anak muda!

Aku kagum dan mengaku kalah." "Terimakasih atas kemurahan hati Paman yang lelah mengalah kepadaku," ucap Tio Bun Yang.

"Terimakasih!" "Engkau memang hebat!" ujar Pahto sungguh-sungguh.

"Belasan tahun aku belajar ilmu silat kepada seorang pertapa sakti di Gunung Hima-laya, namun masih kalah melawanmu.

Guruku pernah bilang, di atas gunung masih ada gunung.

Ternyata benar.

Baiklah.

Tunggu sebentar, aku akan pergi membebaskan ibu dan ayah Cing Cing." "Terimakasih, Paman!" ucap Tio Bun Yang.

Pahto melesat pergi, dan Tio Bun Yang ber-diri termangumangu.

Ia juga tidak menyangka kalau Pahto berkepandaian begitu tinggi.

Berselang beberapa saat kemudian, Pahto sudah kembali bersama ibu dan ayah Cing Cing.

"Anak muda, mereka adalah ibu dan ayah Cing Cing," ujar Pahto memberitahukan.

"Mereka berdua tidak kurang suatu apa pun, kan?" "Terimakasih, Paman!" Pahto memandang kedua orang tua Cing Cing, kemudian mereka bertiga berbicara dengan bahasa Miauw.

Tio Bun Yang sama sekali tidak mengerti, apa yang mereka katakan, maka ia diam saja.

"Anak muda!" Pahto menatapnya seraya bertanya.

"Bolehkah engkau memberitahukan pada ku, ilmu apa yang engkau gunakan tadi?" "Itu adalah ilmu Kan Kun Taylo Sin Kang." Tio Bun Yang memberitahukan dengan jujur.

"Terimakasih, anak muda!

Mudah-mudahar kita akan berjumpa lagi kelak!" ujar Pahto dai melesat pergi.

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala sementara ibu Cing Cing terus menatapnya dengan penuh perhatian.

"Engkau pasti putera Tio Cie Hiong," ujarnya kemudian.

"Engkau mirip dia, tapi...

engkau lebih tampan." "Bibi, Paman!" Tio Bun Yang segera memberi hormat.

"Aku memang putera Tio Cie Hiong!" "Bagus, bagus!" Ibu Cing Cing tertawa gembira.

"Bibi, Paman Pahto bukan orang jahat," ujar Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Hanya saja dia sakit hati terhadap Bibi." "Benar." Ibu Cing Cing manggut-manggi "Karena aku menikah dengan dia." Ibu Cing Cing menunjuk suaminya.

Ayah Cing Cing manggut-manggut seraya berkata, "Dia memang bukan orang jahat.

Sesunggu nya dia teman baikku.

Setelah ayahmu meninggalkan daerah Miauw, kami berdua sama-sama jatuh cinta kepada ibu Cing Cing.

Ternyata ibu Cing Cing mencintaiku.

Itulah yang membuat teman baikku itu jadi sakit hati, lalu meninggalkan daerah Miauw.

Beberapa bulan yang lalu, dia muncul...." "Cing Cing telah menceritakan itu kepadaku," ujar Tio Bun Yang.

"Oh ya, kenapa ayahmu tidak ke mari?" tanya ibu Cing Cing mendadak.

"Ayahku tinggal di Pulau Hong Hoang To, sedangkan aku mengembara di Tionggoan." Tio Hun Yang memberitahukan.

"Kebetulan aku bertemu Cing Cing...." "Kalian memang berjodoh." Ibu Cing Cing tertawa gembira.

"Bisa bertemu begitu kebetulan." "Bibi..." Wajah Tio Bun Yang memerah.

"Oh ya, kami belum tahu namamu," ujar ibu Cing Cing.

"Namaku Tio Bun Yang." "Bun Yang, mari ke tempat tinggal kami!" njak ibu Cing Cing.

Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti ibu dan ayah Cing Cing ke tempat tinggal mereka, berselang beberapa saat kemudian, sampailah mereka di tempat tersebut.

Para pengawal di situ langsung bersorak-sorak penuh kegembiraan.

Pada saat bersamaan, tampak seorang gadis cantik berlarilari menghampiri mereka, yaitul Cing Cing.

"Ayah, Ibu!" serunya dengan wajah berseri-seri dan langsung mendekap di dada ibunya.

"Nak...." Ibunya membelainya dengan penuh kasih sayang, ayannya juga membelainya.

Setelah itu, Cing Cing segera mendekati Tio Bun Yang, dan mendadak mengecup pipinya.

"Eeeh...?" Wajah Tio Bun Yang langsung memerah.

Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, kelihatannya gembira sekali.

"Bun Yang," ujar ibu Cing Cing sambil tersenyum.

Post a Comment