"Kalau begitu, kita beristirahat dulu sekarang," ujar Seng Hwee Sin Kun.
"Sebab besok kalian harus pergi mengumpulkan para golongan hitam." "Ya!" Yang lain manggut-manggut, lalu pergi beristirahat di kamar yang telah disediakan Seng Hwee Sin Kun.
Keesokan harinya, berangkatlah mereka berlima untuk melaksanakan tugas itu.
-oo0dw0oo- Tiga hari kemudian, mereka telah kembali dan masingmasing membawa belasan orang kaum golongan hitam, sehingga membuat suasana di dalam bangUnan itu menjadi ramai sekali.
"Saudara-saudara sekalian..." ujar Seng Hwee Sin Kun dengan suara lantang.
"Kalian semua terpencar-pencar tidak karuan, maka aku akan mempersatukan kalian!" "Terima kasih!" sahut mereka semua.
"Oleh karena itu, kami berenam ingin mendirikan Seng Hwee Kauw," Seng Hwee Sin Kun menatap mereka.
"Kalian semua boleh bergabung menjadi anggota kami.
Bagaimana, kalian setuju?" "Setuju!" sahut mereka sambil bersorak sorai penuh kegembiraan.
"Akan tetapi...." ujar Seng Hwee Sin Kun serius.
"Kalian semua harus bersumpah setia kepada Seng Hwee Kauw." "Ya!" Mereka semua mengangguk lalu bersumpah setia.
"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gembira.
"Bagus, bagus!
Jadi kalian semua harus tahu, aku sebagai ketua Seng Hwee Kauw.
Leng Bin Hoatsu sebagai wakil, Pek Bin Kui sebagai penasihat, Hek Sim Popo sebagai pelaksana hukum, sedangkan Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong sebagai pelindung hukum.
OIeh karena itu, siapa yang berani berkhianat atau melanggar hukum yang berlaku di Seng Hwee Kauw, maka Hek Sim Popo berhak menghukum kalian." "Ya!" sahut mereka semua.
seru Seng Hwee Sin Kun dengan suara lantang.
"Hari ini kuresmikan Seng Hwee Kauw!" "Hidup Seng Hwee Kauw!
Hidup Seng Hwee Kauw...!" teriak mereka semua dengan penuh semangat.
"Kalian semua pun sudah sah menjadi anggota Seng Hwee Kauw," ujar Seng Hwee Sin Kun dan menambahkan.
"Kalian semua mempunyai seragam Seng Hwee Kauw, yaitu pakaian serba hijau." "Terima kasih Ketua," sahut para anggota Serentak.
"Kalian semua harus ingat, siapa berani berkhianat pasti dihukum mati," ujar Seng Hwee Sin Kun sungguh-sungguh.
"Tapi kalau kalian memperkosa kaum wanita, itu adalah kesenangan kalian, maka tidak di hukum." "Horeee!" seru para anggota girang.
"Sekarang kalian semua boleh beristirahat disini, tapi jangan berisik mengganggu kami yang akan merundingkan sesuatu!" "Ya, Ketua!" Para anggota langsung duduk dan mulai bercakap-cakap dengan wajah berseri-seri.
Sedangkan Seng Hwee Sin Kun mulai berunding dengan Leng Bin Hoatsu dan lainnya.
"Kini kita sudah mempunyai anggota lima puluh orang lebih, maka harus diatur," ujar Seng Hwee Sin Kun.
"Ketua,w"usul Pek Bin Kui.
"Mereka harus jadi beberapa regu, dan setiap regu harus mempunyai seorang kepala "Benar," Leng Bin Hoatsu~ mangut-mangut.
"Aku yakin, tidak lama lagi anggota kita akan bertambah." "Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun mengangguk.
"Karena itu, mereka harus diatur sebaik-baiknya." "Pelaksana hukum!
Siapa yang berkhianat harus dihukum mati!" ujar Leng Bin Hoatsu.
"Ya, Wakil Ketua," Hek Sun Popo mengangguk.
"Bagaimana cara kita memilih kepala regu?" tanya Tok Chiu Ong.
"Itu gampang sekali," sahut Pek Bin Kui sambil tersenyum.
"Kita suruh mereka memperlihatkan kepandaian masingmasing, agar kita bisa menilai kepandaian mereka.
Siapa yang berkepandaian tinggi, dialah yang kita pilih sebagai kepa1a regu." "Kalau begitu, kita harus memilih sepuluh kepala regu," ujar Leng Bin Hoatsu.
"Betul" sahut Pek Bin Kui.
"Sebab pasti masih banyak kaum golongan hitam yang akan bergabung dengan kita." "Ha ha ha?" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak, kalau begitu, nanti kita suruh mereka memperlihatkan kepandaian masing-masing." "Setelah itu...." sambung Pek Bin Kui.
"Kita harus mengadakan pesta untuk merayakan berdirinya Seng Hwee Kauw kita." "Baik," Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.
"Kita pun harus bersulang bersama untuk itu." "Benar," Hek Sim Popo tertawa terkekeh-kekeh.
"Tidak lama lagi, Seng Hwee Kauw akan lahir di rimba persilatan.
He he he...!" "Lalu bagaimana rencana kita?" tanya Tok Chiu Ong.
"Harus turun tangan tethadap pihak mana dulu?" "Terhadap para anggota Kay Pang dan orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Pek Ih Sin Hiap-Tio Cie Hiong," jawab Seng Hwee Sin Kun.
"Ketua, bukankah itu akan memancing Tio Cie Hiong keluar" Kalau dia muncul kembali dalam rimba persilatan, apakah tidak akan merepotkan kita?" "Itu tidak jadi masalah," tegas Seng Hwee Sin Kun dan menambahkan.
"Terus terang, aku sanggup melawannya." "Kalau begitu, legalah hati kami," ujar Leng Bin Hoatsu.
"Apakah kalian ragu akan kepandaianku?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa.
"Kalau kalian ragu, akan kuperlihatkan Seng Hwee Sin Kang." "Itu memang ada baiknya juga," sahut Leng Bin Hoatsu.
"Baik," Seng Hwee Sin Kun manggut-mangut, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan.
Para anggota langsung minggir dan bersorak kegirangan karena akan menyaksikan kepandaian ketua mereka.
Seng Hwee Sin Kun berdiri di tengah-tengah ruang itu, lalu mulai menghimpun Seng Hwee Sin Kang.
"Kalian semua harus lebih jauh lagi Kalau tidak, kalian pasti mati hangus dalam jarak tiga depa," ujar Seng Hwee Sin Kun mengingatkan.
Para anggota yang agak dekat segera minggir,sedangkan Seng Hwee Sin Kun terus menghimpun lweekangnya.
Berselang sesaat, sekujur badannya mulai memancarkan cahaya kehijau-hijauan, sekaligus mengeluarkan hawa yang panas sekali.
Mendadak Seng Hwee Sin Kun membentak keras, lalu mulai memperlihatkan Seng Hwee Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Api Suci).
Seketika terlihat cahaya kehijau-hijauan berkelebat ke sana kemari.
Leng Bin Hoatsu dan lainnya terbelalak.
Mereka sama sekali tidak menyangka Seng Hwee Ciang Hoat begitu hebat.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Seng Hwee Sin Kun berhenti, namun ruang itu masih diliputi hawa panas.
"Hidup Seng Hwee Sin Kun!
Hidup Seng Hwee Kauw.!" teriak para anggota riuh gemuruh.
"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.Ia kembali ke tempat duduknya lalu bertanya.
"Bagaimana ilmuku itu?" "Sungguh hebat sekali," sahut Leng Bin Hoatsu dan lainnya.
"Kami yakin engkau dapat melawan Tio Cie Hiong." "Mungkin malah dapat membunuhnya," sambung Hek Sim Popo.
"Aku memang berniat membunuh Tio Cie Hiong," sahut Seng Hwee Sin Kun.
"Kalau aku berhasil membunuhnya, rimba persilatan pun pasti akan mengakui Seng Hwee Kauw sebagai Bu Lim Beng Cu.
Ha-ha-ha...!" "Benar!" sahut Leng Bin Hoatsu dan lainnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Setelah itu, Leng Bin Hoatsu perintah para anggota agar memperlihatkan kepandaian masing-masing.
Maka terpilihlah sepuluh kepala regu, kemudian pesta pun dimulai dengan semarak sekali.
-oo0dw0o- Bagian ke Tujuh belas Orang Penebus Dosa Sementara itu, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling terus melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Lie Ai Ling berbicara dengan wajah cerah ceria.
"Hi-hi-hi...!" Gadis itu mendadak tertawa geli.
"Ai Ling, kenapa engkau tertawa geli" Apa yang menggelikanmu?" tanya Siang Koan Goat Nio dengan rasa heran.
"Tentu saja menggelikan," sahut Lie Ai Ling memberitahukan.
"Sebab kini aku adaiah Hong Hoang Lihiap, sedangkan engkau adalah Kim Siauw Siancu." "Engkau memang mengada-ada," Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan "Karena itu, justru akan timbul masalah" "Masalah?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Apakah kita salah menolong Tan Tayjin yang baik hati itu?" "Tidak salah, cuma...." "Cuma kenapa?" "Itu akan menyeret kita ke dalam masalah," Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Sebab pihak Hiat Ih Hwe pasti tidak akan tinggal diam." "Kalau mereka muncul, kita hajar saja mereka...." Ketika Lie Ai Ling baru usai berkata demikian, terdengarlah suara tawa yang memekakkan telinga, dan tak lama kemudian muncullah belasan orang berpakaian merah.
"Nona," ujar salah seorang berpakaian merah.
"Tadi engkau bilang mau menghajar kami.
Nah, kami telah muncul, silakan menghajar kami!" "Apakah kalian para anggota Hiat Ih Hwe?" tanya Lie Ai Ling sambil menghunus pedang pusakanya, sedangkan Siang Koan Goat Nio mengeluarkan suling emasnya sambil menatap mereka.
"Betul!" sahut orang berpakalan merah itu.
"Aku adalah kepala regu ini.
Kami kemari khususnya untuk membunuh kalian!" "Oh?" Lie Ai Ling tertawa dingin.
"Kalian kira kami patung yang tak bisa melawan?" "Ha ha ha!" Kepala regu Hiat Ih Hwe itu tertawa gelak.
"Kalian berdua sungguh cantik!
Kalau bersedia menemaniku bersenang-senang, aku pasti mengampuni nyawa kalian!" "Diam!"bentak Lie Ai Ling gusar.
"Sebetulnya aku tidak mau membunub kalian, tapi karena engkau begitu kurang ajar, maka aku terpaksa mencabut nyawamu!"~ "Oh, ya?" Kepala regu Hiat Ih Hwe tertawa gelak, kemudian memberikan perintah kepada para anak buahnya.
"Serang mereka!" Seketika para anak buah itu menyerang Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio dengan berbagai macam senjata.
Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berkelit, lalu balas menyerang.
Lie Ai Ling menggunakan Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), sedangkan Siang Koan Goat Nio menggunakan Cap Pwee Kim Siauw Ciang Hoat (Delapan Belas Jurus Maut Suling Emas)..
Terjadilah pertarungan sengit.
Sementara kepala regu Hiat Ih Hwe itu cuma berdiri menonton.
Walau diserang belasan orang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling masih mampu melawan.
Akan tetapi, kedua gadis itu kurang berpengalaman dalam hal bertarung Karena itu, mereka mulai berada di bawah angin.
"Goat Nio ujar Lie Ai Ling "Kita mulai terdesak, terpaksa narus menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling)?" "Ya!" Siang Koan Goat Nio mengangguk.
Akan tetapi, ketika mereka baru mau menggunakan ilmu pedang tersebut, mendadak melayang turun seseorang bertopeng, yang langsung menyerang kepala regu Hiat Ih Hwe yang berdiri menonton itu.
"Aaaakh...!" Kepala regu Hiat Ih Hwe itu menjerit menyayat hati, kemudian roboh dengan mulut menyemburkan darah segar.