"Engkau tidak sudi mengabulkan permintaan ayahku?" "Bukan tidak sudi, melainkan...." "Apa?" "Tidak gampang belajar ilmu silat, lagi pula aku tidak bisa lama-lama di sini, sebab harus meneruskan perjalanan." "Bun Yang," ujar Tan Thiam Song mendesaknya.
"Jangan mengecewakan kami, ajarlah putriku ilmu silat!" "Itu...." Akhirnya Tio Bun Yang mengangguk.
"Baiklah!" "Terima kasih, Bun Yang!" ucap Tan Thiam Song sambil tertawa gelak.
"Terima kasih, Adik Bun Yang!" Wajah Tan Giok Lan berseri-seri, sebab mempunyai banyak kesempatan untuk mendekati pemuda itu.
Keesokan harinya, mulailah Tio Bun Yang mengajar Tan Giok Lan cara-cara bertatih lweekang.
Itu adalah cara berlatih Pan Yok han Thian Sin Kang.
Setelah gadis itu mengerti, barulah Tio Bun Yang mengajarkan Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), kemudian ia pun mengajarnya Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat).
"Kakak Giok Lan, engkau harus terus berlatih lweekang," ujar Tio Bun Yang dan menambahkan.
"Ilmu Pedang Hong Hoang Kiam Hoat adalah ilmu pedang andalan bibiku, maka engkau harus tekun berlatih." "Ya," Tan Giok Lan mengangguk.
"Apabila engkau tidak sanggup melawan orang yang berkepandaian lebih tinggi darimu, pergunakanlah Kiu Kiong San Tian Pou untuk meloloskan diri!" pesan Tio Bun Yang.
"Ya." Tan Giok Lan mengangguk lagi.
Setelah gadis itu berhasil menguasai semua ilmu itu, Tio Bun Yang mohon pamit.
Sudah barang tentu membuat Tan Giok Lan menangis sedih, berat rasanya berpisah dengan pemuda itu.
-oo0dw0oo- Bagian ke Enam belas Malaikat Api Suci Dilembah Hek Bu Kok (Lembah Kabut Hitam) terdapat sebuah bangunan yang amat besar.
Karena siang malam tertutup kabut kehitam-hitaman, maka lembah itu dinamai Lembah Kabut Hitam.
Bangunan besar itu adalah tempat tinggal Seng Hwee Sin Kun (Malaikat Api Suci), yang dua tahun lalu ia membunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.
Hari ini ?a mengundang beberapa tokoh tua golongan hitam ke tempat tinggalnya, guna membahas sesuatu yang sangat penting.
Tokoh-tokoh tua golongan hitam yang diundangnya itu adalah Tok Chiu Ong (Raja Tangan Beracun), Pek Bin Kui (Setan Muka Putih), Hek Sim Popo (Nenek Hati Hitam), Leng Bin Hoatsu (Pendeta Muka Dingin) dan Pat Pie Lo Koay (Siluman Tua Lengan Delapan).
Mereka semua rata-rata sudah berusia tujuh puluhan dan berkepandaian tinggi.
"Ha ha-ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.
"Tahukah kalian kenapa aku mengundang kalian kemari?" "Itu yang kami bingungkan," sahut Hek Sim Popo.
"Tentunya bukan untuk makan-makan, bukan?" "Terus terang," ujar Seng Hwee Sin Kun "Dua tahun lalu aku telah mernbunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin." "Oh?" Para tokoh tua golongan hitam saling memandang, kemudian mereka tertawa terkekeh-kekeh.
"He he he!
Bagus!
Bagus sekali!" "Setelah membunuh mereka berdua...." lanjut Seng Hwee Sin K?n, "Aku pun berangkat ke Kwan Gwa membunuh Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui." "Oh, ya?" para tokoh tua golongan hitam itu terperanjat.
"Engkau mampu membunuh mereka?" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak "Tentu!
Karena aku telah berhasil mempelajari Seng Hwee Sin Kang (Tenaga Sakti Api Suci)?" "Apa"!" Mereka tertegun.
"Engkau telah berhasil mempelajari ilmu itu?" "Betul" Seng Hwee Sin Kun mengangguk, "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mampu m?mbunuh Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, juga menyebut diriku Seng Hwee Sin Kun?" "Selamat!
Selamat!" ucap mereka sambil tertawa gembira.
"Kami tidak menyangka engkau dapat menguasai ilmu itu" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bahak.
"Belasan tahun lalu, aku berhasil memperoleh Seng Hwee Tan (Pil Api Suci), namun teman baikku justru malah memperoteh Seng Hwee Cin Keng (Kitab Pusaka Api Suci).
Karena itu, aku berusaha merebut kitab pusaka itu.
Dia berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka parah, kemudian ditolong oleh Kam Pek Kian.
Akan tetapi, akhirnya kitab pusaka itu jatuh ketanganku." "Engkau merebutnya dari tangan Kam Pek Kian itu?" tanya Tok Chiu Ong.
"Betul." Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.
"Bahkan aku pun membunuhnya.
Ha ha ha...!" "Kalau begitu...." ujar Pek Bin Kui sambil tertawa.
"Kini sudah saatnya kita bangkit berdiri." "Tidak salah." Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut dan menambahkan.
"Tentunya kalian tahu, Ang Bin Sat Sin adalah kakak seperguruanku, dia dibunuh oleh Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, maka aku membunuh mereka." "Lalu kenapa engkau juga membunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin?" tanya Pat Pie Lo Koay mendadak.
"Karena mereka mempunyai hubungan dengan Pek Ih Sin Hiap-Tio Cie Hiong, maka harus dibunuh," sahut Seng Hwee Sin Kun.
"Oooh!" Pat Pie Lo Koay manggut-manggut.
"Bagus!" ujar Hek Sim Popo.
"Pokoknya siapa yang mempunyai hubungan dengan Pek Ih Sin Hiap, harus dibantai habis!" "Betul," sambung Leng Bin Hoatsu.
"Sebab tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lainnya telah mengakuinya sebagai Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan)." "Tapi...." Pat Pie Lo Koay menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian Pek Ih Sin Hiap tinggi sekali, mampu membunuh Bu Lim Sam Mo." "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.
"Kini kita tidak perlu takut kepadanya, sebab aku menguasai Seng Hwee Sin Kang, Seng Hwee Kiam Hoat dan Seng Hwee Ciang Hoat.
Ilmuku itu dapat menandinginya, lagi pula kalian pun telah memperdalam ilmu masing-masing, bukan?" "Betul," Hek Sim Popo mengangguk.
"Lantaran memperdalam ilmu, maka kita semua tiada kesempatan bergabung dengan Bu Lim Sam Mo." "Namun kita mempunyai kesempatan lain," ujar Seng Hwee Sin Kun serius.
"Inilah yang akan kurundingkan bersama kalian semua." "Mengenai apa?" tanya Tok Chiu Ong tertarik.
"Tentunya mengenai kita," Seng Hwee Sin Kun tertawa.
"Oh ya, kalian dapat mengumpulkan berapa banyak kaum golongan hitam?" "Kalau dijumlahkan, mungkin diatas lima puluh," jawab Hek Sim Popo memberitahukan.
"Bagus, bagus!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gembira.
"Kini di dalam rimba persilatan sudah tiada It Ceng, Ji Khie dan Sam Mo lagi.
Bahkan Bu Tek Pay juga telah bubar sekian lama oleh karena itu kita harus mendirikan suatu partai baru.
Kalian setuju7" "Setuju!" sahut mereka semua,dengan serentak.
"Kalau begitu, aku ingin mendirikan Seng Hwee Kauw (Agama Api Suci).
Bagaimana menurut kalian" Seng Hwee Sin Kun memandang mereka.
"Tentunya kami tidak berkeberatan," sahut Hek Sim Popo.
"Sebab kepandaianmu lebih tinggi dari kami, maka kami harus menurut." "Bagus!
Ha ha ha...." Seng Hwee Sin Kun tertawa gembira sambil melanjutkan dengan suara lantang.
"Dalam Seng Hwee Kauw harus ada ketua, wakil ketua, penasihat dan pelindung hukum.
Oleh karena itu, kita harus menyusunnya atas kesepakatan kita bersama." "Betul," Leng Bin Hoatsu manggut-manggut.
"Kepandaianmu paling tinggi, maka engkau harus menjadi ketua." "Setuju!" sahut yang lain.
"Terima kasih!" ucap Seng Hwee Sin Kun sambil tersenyum.
"Lalu siapa yang menjadi wakil ketua?" "Menurutku...." ujar Tok Chiu Ong.
"Leng Bin Hoatsu harus menjadi wakil ketua." "Setuju!" sahut yang lain.
"Kalau begitu...." Wajah Seng Hwee Sin Kun tampak serius.
"Mulai sekarang Leng Bin Hoatsu sebagai wakil ketua." "Terima kasih!" ucap Leng Bin Hoatsu.
"Siapa yang cocok untuk menjadi penasihat?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil memandang mereka.
"Pek Bin Kui," sahut Tok Chiu Ong.
"Sebab Pek Bin Kui sangat licik dan banyak akal, dia memang cocok untuk menjadi penasihat." "Bagaimana?" tanya Seng Hwee Sin Kun.
"Kalian setuju?" "Setuju!" Terdengar suara sahutan.
"Baik." Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut sambil tersenyum.
"Mulai sekarang, Pek Bin Kui sebagai penasihat Seng Hwee Kauw.
"Terima kasih!" ucap Pek Bin Kui.
"Sekarang harus pilih seorang pelaksana hukum," ujar Seng Hwee Sin Kun.
"Siapa yang pantas menjadi pelaksana hukum?" "Hek Sim Popo," sahut Leng Bin Hoatsu.
"Sebab dia berhati kejam, maka pantas menjadi pelaksana hukum." "Balk," Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.
"Hek Sim Popo, mulai sekarang engkau Sebagai pelaksana hukum Seng Hwee Kauw." "Terima kasih!" ucap Hek Sim Popo sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Terakhir adalah Pat Pie La Koay dan Tok Chiu Ong, otomatis mereka berdua sebagai pelindung hukum," ujar Seng Hwee Sin Kun.
"Terima kasih!" ucap Pat Pie La Koay dan Tok Chiu Ong.
"Nah!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.
"Kini telah usai penyusunan pengurus, maka besok kalian harus pergi mengumpulkan kaum golongan hitam, tetapi harus kembali tiga hari kemudian." "Ya," sahut mereka serentak.
"Kini di dalam rimba persilatan te1ah muncul Hiat Ih Hwe dan Tiong Ngie Pay, yang kedua-duanya cukup kuat.
Tapi...." Seng Hwee Sin Kun memberitahukan sambil tertawa terbahakbahak.
"Kedua perkumpulan itu justru saling membunuh.
Maka kita tidak perlu mengusik kedua perkumpulan itu.
Biar mereka terus saling membunuh, akhirnya kita yang akan mengeruk keuntungan." "Benar," sahut Pek Bin Kui sambil tertawa.
"Setelah itu, barulah kita taklukkan kedua perkumpulan itu." "Tidak salah," Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.
"Bagaimana menurutmu mengenai tujuh partai besar" Perlukah kita menaklukkan partai-partai itu?" "Untuk sementara tidak perlu," sahut Pek Bin Kui.
"Yang perlu kita taklukkan justru Kay Pang.
Sebab Kay Pang sangat kuat, lagi pula mempunyai hubungan erat.
dengan Pek Ih Sin Hiap-Tio Cie Hiong." "Memang benar apa yang dikatakan Pek Bin Kui," ujar Leng Bin Hoatsu.
"Tapi...." "Aku tahu maksudmu," Pek Bin Kui tertaw?.
"Sebelum Seng Hwee Kauw kita memiliki kekuatan yang cukup, jangan mengusik Kay Pang.
Ya, kan?" "Betul," Leng Bin Hoatsu manggut-manggut.
"Itu sudah dalam perhitunganku," Pek Bin Kui tertawa dan menambahkan.
"Namun kita boleh bergerak secara gelap untuk membantai para anggotanya." "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.
"Ide yang tepat, bahkan kita pun harus membunuh orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Tio Cie Hiong!" "Tidak salah," Leng Bin Hoatsu mengangguk.
"Setelah itu, barulah kita mengarah pada tujuh partai besar." "Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut.
"Ingat, kita harus mempersatukan semua kaum golongan hitam, dan memecah belahkan golongan putih!" "Ha ha ha!" Pek Bin Kui tertawa gelak.
"Tentunya aku mempunyai akal untuk memecah belahkan partai-partai golongan putih." "Bagus!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.
"Itu memang tugasmu." "Oh ya!" Tiba-tiba Leng Bin Hoatsu mengerutkan kening.
"Kalau kita memusuhi Pek Ih Sin Hiap-Tio Cie Hiong, sudah barang tentu akan menghadapi pihak pulau Hong Hoang To.
Karena itu, kita harus berpikir matang." "Akan kita rundingkan lagi nanti, sehab sekarang Seng Hwee Kauw belum resmi berdiri," sahut Seng Hwee Sin Kun dan menambahkan.
"Pokoknya ada masalah apa pun, kita berenam harus berunding bersama demi kemajuan Seng Hwee Kauw kita." "Ya!" sahut yang lain serentak.