Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 38

Memuat...

Ia memang mengerti tentang jebakan, sebab Tio Cie Hiong, ayahnya pernah memberitahukan kepadanya.

Mendadak ia mendengar suara seruan yang sambung menyambung.

"Giok Siauw Sin Hiap telah tiba!

Giok Siauw Sin Hiap telah tiba!

Giok Siauw Sin Hiap telah tiba!" Kemudian muncul beberapa orang tua, yang kemudian menyambut Tio Bun Yang dengan hormat.

"Silakan masuk, Giok Siauw Sin Hiap!" ujar mereka serentak.

"Terima kasih!" Tio Bun Yang melangkah kedalam Ketika sampai di ruang tengah, ia melihat seorang wanita duduk di situ ia terbelalak dan berseru tak tertahan.

"Bibi Suan Hiang!" "Bun Yang." Yo Suan Hiang segera mendekatinya, "Giok Siauw Sin Hiap ternyata adalah engkau, bahkan engkau pun pernah menolong belasan anggotaku pula" "Tidak salah dugaan kakekku," ujar Tio Bun Yang, "Ketua Tiong Ngie Pay adalah Bibi" "Bun Yang!" Yo Suan Hiang menatapnya dengan rasa kagum "Tujuh tahun lebih bibi tidak melihatmu, sungguh tak disangka kini engkau telah besar dan sangat tampan pula." "Bibi "Wajah Tio Bun Yang kemerah-merahan "Kauw-heng," tanya Yo Suan Hiang kepada monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Bun Yang, "Apa kabar" Baik-baik saja, bukan?" Monyet bulu putih bercuit tiga kali sambil manggutmangggut.

"Oooh!

Kauw-heng baik-baik saja!" ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum, kemudian memperkenalkan orangorangnya kepada Tio Bun Yang, "Mereka adalah Tan Ju Liang wakil ketua Lim Cin An pelaksana hukum dan Cu Tiang Him kepala para anggota Tiong Ngie Pay" "Oooh!" Tio Bun Yang segera memberi hormat kepada mereka, dan seketika mereka pun balas memberi hormat kepadanya.

"Perlu kalian ketahui, Bun Yang adalah putra kesayangan Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong, sedangkan ibunya adalah putri kesayangan Lim Peng Hang, ketua Kay Pang." Yo Suan Hiang memberitahukan.

Betapa terkejutnya Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him, dan mereka memandang Tio Bun Yang dengan mata terbelalak.

"Oh ya!

Kalian pun harus memanggil Kauw-heng kepada monyet bulu putih itu." Yo Suan Hiang memberitahukan lagi.

"Kauw heng telah berusia tiga ratusan tahun lho!" "Haaah?" Mereka tersentak dengan mulut ternganga lebar.

"Monyet bulu putih itu sudah berusia tiga ratusan tahun?" Monyet bulu putih segera manggut-manggut, tentunya mencengangkan mereka.

"Ketua!

Apakah Kauw-heng mengerti bahasa manusia?" "Mengerti." Yo Suan Hiang mengangguk.

"Bahkan kepandaiannya pun sangat tinggi." "Oh?" Mereka bertiga kelihatan kurang percaya.

"Aku tidak bohong," ujar Yo Suan Hiang sungguh-sungguh dan menambahkan.

"Kalian bertiga tidak mampu melawannya." "Benarkah begitu?" tanya Lim Cin An.

"Benar." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bibi Suan Hiang tidak bohong, kauw-heng memang berkepandaian tinggi." "Bukan main!" Lim Cin An menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya!" Yo Suan Hiang memandang Tio Bun Yang dengan penuh perhatian seraya bertanya.

"Bun Yang, bagaimana kepandaianmu" tentunya sudah tinggi sekali, bukan?" "Lumayan," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum dan memberitahukan.

"Aku berlatih lweekang dua tahun di Gunung Thian San bersama kauw-heng." "Kalau begitu, lweekangmu pasti sudab mencapai tingkat tinggi, bukan?" tanya Yo Suan Hiang.

"Cukup lumayan," jawab Tio Bun Yang merendah.

"Bun Yang!" Yo Suan Hiang tersenyum.

"Agar mereka bertiga tidak merasa ragu, sudikah engkau mempertunjukkan sedikit kepandaianmu?" "Bun Yang," desak Yo Suan Hiang.

"Jangan menolak!" "Baiklah," Tio Bun Yang mengangguk.

"Kauw-heng, engkau turun dulu!

Aku terpaksa harus mempertunjukkan sedikit kepandaianku." Monyet bulu putih manggut-manggut, lalu meloncat ke atas meja.

Sedangkan Tio Bun Yang berjalan ke tengah-tengah ruangan, kemudian duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Itu membuat Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him saling memandang.

Sedangkan Yo Suan Hiang tersenyumsenyum.

karena tahu Tio Bun Yang akan mempertunjukkan lweekangnya.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak badan Tio Bun Yang melambung ke atas dalam keadaan bersila.

Itu sungguh mengejutkan Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him.

Yo Suan Hiang pun terbelalak menyaksikannya, karena sama sekali tidak menyangka kalau lweekang Tio Bun Yang telah mencapai tingkat yang begitu tinggi.

Sementara monyet bulu putih pun menyaksikannya dengan penuh perhatian, setelah itu ia mengambil dua buah cangkir dan atas meja, lalu disambitnya ke arah Tio Bun Yang.

Perbuatan monyet bulu putih itu tentunya mengejutkan Semua orang.

Yo Suan Hiang ingin mencegah, tapi sudah terlambat.

Dua buah cangkir itu meluncur secepat kilat ke arah Tio Bun Yang yang berhenti di udara, akan tetapi terjadilah suatu keanehan.

Mendadak kedua buah cangkir itu berhenti, lalu berbalik menyambar ke arah monyet bulu putih.

Segeralah monyet bulu putih menangkap kedua buah cangkir itu, sekaligus ditaruhnya di atas meja, kemudian bertepuk-tepuk tangan.

Apa yang terjadi barusan, sungguh membuat kagum yang menyaksikannya.

Yo Suan Hiang pun terbelalak, karena tidak menyangka lweekang Tio Bun Yang telah menyamai lweekang ayahnya, Tio Cie Hiong.

Tiba-tiba badan Tio Bun Yang berputar, dan makin lama makin cepat sehingga membuat mata semua orang jadi berkunang-kunang.

Bahkan mereka pun mendengar suara yang menderu-deru.

Berselang sesaat, badan Tio Bun Yang berhenti berputar, lalu, melayang turun dalam keadaan tetap bersila.

Setelah menyentuh lantai, barulah Tio Bun Yang membuka matanya, dan kemudian sambil tersenyum ia kembali ke tempat duduknya.

Suasana di ruangan itu berubah menjadi hening seketika.

Mulut Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him ternganga lebar saking kagumnya, dan mereka pun tidak tahu harus bagaimana memujinya.

"Bun Yang...." Yo Suan Hiang menatapnya terbelalak.

"Bibi tidak menyangka lweekangmu telah mencapai tingkat setinggi itu?" "Itu berkat latihanku di Gunung Thian San," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Bahkan aku pun telah memakan buah ajaib pemberian kauw-heng." "Oooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Kalau begitu, buah ajaib itu pasti berkhasiat menambah lweekangmu!" "Ya," Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya!" tanya Yo Suan Hiang.

"Bagaimana keadaan di Hong Hoang To?" "Bibi Suan Hiang," j?wab Tio Bun Yang.

"Aku belum pulang ke sana, namun...

tujuh tahun yang lalu Paman Man Chiu meninggalkan anak isterinya." "Apa?" Bukan main terkejutnya Yo Suan Hiang.

"Kenapa Man Chiu meninggalkan anak isterinya?" "Kata ayah, dia ingin mengangkat namanya dirimba persilatan," Tio Bun Yang memberitahukan dan bertanya.

"Apakah Bibi pernah mendengar tentang dirinya?" "Tidak pernah," Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.

"Heran!" gumam Tio Bun Yang."Paman Man Chiu berada di mana" Kenapa tiada kabar beritanya sama sekali?" "Mungkinkah dia tidak datang di Tionggoan?" sahut Yo Suan Hiang.

"Tidak mungkin." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Sebab Paman Man Chiu berambisi mengangkat namanya di rimba persilatan, tentunya harus berada di Tionggoan." "Benar," Yo Suan Hiang manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.

"Sungguh tak disangka, hanya karena ingin mengangkat nama, Man Chiu begitu tega meninggalkan anak isterinya!

Padahal dia murid Tayli Lo Ceng yang sakti, namun...." "Bibi Suan Hiang!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Murid dewa pun masih bisa berubah jahat, itu bergantung pada sifat dan watak seseorang, jadi tiada kaitannya dengan guru?" "Ngmm!" Yo Suan Hiang manggut-manggut lagi.

"Benar juga apa yang kau katakan.

Seandainya engkau berubah jahat, itu pun tiada kaitannya dengan kedua orang tuamu" "Benar." Tio Bun Yang tersenyum, kemudian teringat akan suatu hal.

"Oh ya!

Mungkin Bibi belum tahu, kalau Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin telah mati." "Apa"!" Betapa terkejutnya Yo Suan Hiang.

"Bagaimana mereka mati" Apakah...." "Mereka mati dibunuh." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kakek yang menceritakan kepadaku, karena anggota Kay Pang yang menemukan mayat mereka," "Siapa yang membunuh mereka?" "Aku justru sedang menyelidiknya.

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati dengan sekujur badan hangus.

Itu bukan dibakar, melainkan terkena semacam ilmu pukulan yang mengandung api?" "Siapa yang memiliki ilmu pukulan itu?" gumam Yo Suan Hiang.

"Padahal Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin berkepandaian tinggi, tidak gampang membunuh mereka berdua?" "Itu membuktikan bahwa kepandaian pembunuh itu sangat tinggi," ujar Tio Bun Yang dan bertanya.

"Apakah Bibi tahu mengenai pukulan itu?" "Sama sekali tidak tahu" Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.

"Bun Yang, mungkin agak sulit menyelidiki pembunuh itu." "Aku yakin, pembunuh itu pasti akan muncul," ujar Tio Bun Yang "Oh ya, kakek Gouw memberitahukan bahwa putera Paman Toan dan putri Paman Lam Kiong telah diangkat murid oleh Tayli Lo Ceng" "Oh" Kalau begitu sungguh beruntung putra Toan Wie Kie dan putri Lam Kiong The Liong itu?" "Ya," Tio Bun Yang mengangguk "Mereka memang beruntung Bibi Suan Hiang, sudah berapa lama Tiong Ngie Pay ini didirikan?" "Kurang lebih tujuh tahun." "Bagaimana keadaannya sekarang" Apakah sudah maju pesat?" "Memang telah maju." Yo Suan Hiang tersenyum, "Ketika baru berdiri, Tiong Ngie Pay ini cuma beranggotakan dua puluhan orang, tetapi kini sudah mencapai hampir seratus, dan setiap orang yang ingin bergabung jadi anggota, pasti diseleksi dan diselidiki asal-usulnya." "Oh!

Mema?g harus begitu." "Tapi "Yo Suan Hiang menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum lama ini telah terjadi sesuatu dalam Tiong Ngie Pay." "Apa yang tel?h terjadi" tanya Tio Bun Yang heran.

"Sudah belasan anggotaku mati secara aneh.

Itu membuatku tidak habis berpikir." Yo Suan Hiang menghela nafas panjang.

"Mereka mati dalam tugas atau mati.

di markas ini?" "Mati di markas." "Kalau begitu..." ujar Tio Bun Yang dengan kening berkerut.

"Sudah pasti ada orang-orang tertentu menyusup di dalam Tiong Ngie Pay" "Benar." Yo Suan Hiang mengangguk.

"Namun tiada seorang pun yang mencurigakan." Tio Bun Yang berpikir, sejenak kemudian membuka mulut sambil tersenyum.

"Bibi Suan Hiang, aku bisa membantu dalam hal ini." "Oh?" Yo Suan Hiang menatapnya seraya bertanya.

"Betulkah engkau bisa membantu dalam hal ini?" "Ya." Tio Bun Yang tersenyum.

"Bagaimana caranya?" Yo Suan Hiang tampak agak ragu.

"Bibi harus mengumpulkan semua anggota, setelah itu Bibi akan mengetahuinya," jawab Tio Bun Yang dan tersenyum lagi.

"Pasti ada kejutan nanti" "Baiklah" Yo Suan Hiang memandang Tan J?

Liang.

"Paman, perintahkan semua anggota berkumpul di sini" "Ya, Ketua." Tan Ju Liang mengangguk, kemudia?

berkata kepada Cu Tiang Him.

"Tiang Him, cepatlah perintahkan semua anggota berkumpul di sini!" "Ya, Guru." Cu Tiang Him segera melangkah pergi.

Tak lama kemudian ia telah balik dan memberi hormat kepada Yo Suan Hiang seraya berkata.

Post a Comment