"Kalian berdua masih kecil, lagi pula belum berpengalaman dalam rimba persilatan." "Kalau begitu, apakab kita harus diam saja?" tanya Toan Beng Kiat dengan kening berkerut.
"Ayah, kami sudab tidak kecil, usia kami sudah enam belas, lagi pula kepandaianku cukup tinggi." "Nak," ujar Gouw Sian Eng.
"Kalian tidak boleh pergi menuntut balas, sebab semua itu urusan kami." "Juga urusanku," Toan Beng Kiat berkeras.
"Sama," sambung Lam Kiong Soat Lan.
"Beng Kiat, biar bagaimana pun kita harus pergi menyelidiki pembunuh Itu." "Betul," Toan Beng Kiat mengangguk.
"Eh?" Toan Hong~Ya menatap mereka tajam.
"Kenapa kalian berdua tidak mau menuruti perkataan orang tua?" "Kakek, kami" Toan Beng Kiat menundukkan kepala.
"Nak," ujar Toan Wie Kie lembut.
"Tentang ini akan kita bicarakan lagi nanti, karena kalian berdua baru pulang hari ini." "Ya, Ayah," Toan 8eng Kiat mengangguk.
"Beng Kiat!" Lam Kiong Soat Lan teringat sesuatu.
Bukankah guru menitip sepucuk surat untuk kakek" "Ya," Toan Beng Kiat segera mengeluarkan sepucuk surat lalu diberikan kepada Toan Hong Ya.
Toan Hong Ya menerima surat itu, lalu dibacanya.
Surat tersebut berbunyi demikian.
"Toan Hong Ya: 'Semua urusan harus diserahkan kepada kedua muridku, biar mereka ke Tionggoan.
Namun ingat, yang lain tidak boleh ikut, sebab akan membahayakan nyawa mereka' Tayli Lo Ceng." "Ayah," tanya Toan Wie Kie.
"Apa yang ditulis Tayli Lo Ceng?" "Bacalah sendiri!" sahut Toan Hong Ya sambil memberikan surat itu kepada putranya.
Toan Wie Kie menenima surat itu, kemudian dibacanya dengan kening berkerut-kerut.
"Kakak" Toan Pit Lian menatapnya "Bagaimana bunyi surat itu?" "Bacalah!" Toan Wie Kie memberikan surat itu kepada adiknya.
Lam Kiong Bie Liong juga ikut membaca, dan keningnya pun berkerut-kerut.
"Siapa yang dimaksudkan "Yang lain" itu?" tanyanya.
"Tentunya kita berempat," sebut Toan Wie Kie.
"Heran?" gumam Toan Pit Lian.
"Kenapa padri tua itu menyuruh Soat Lan dan Beng Kiat ke Tionggoan, sedangkan kita dilarang ikut?" "Kalian dengar baik-baiki" ujar Toan Hong Ya.
"Berhubung Tayli Lo ceng menulis begitu, hatiku pun jadi lega." "Jadi Ayah mengijinkan Beng Kiat dan Soat Lan berangkat ke Tionggoan untuk menyelidiki pembunuh itu?" tanya Toan Wie Kie.
"Ya," Toan Hong Ya manggut-manggut.
"Sebab ayah mempercayai padri tua itu, maka kalian pun barus menuruti pesannya" "Tapi...." Toan Wie Kie mengerutkan kening.
"Engkau tidak mempercayai Tayli Lo Ceng?" Toan Hong Ya menatapnya tajam sambil melanjutkan.
"Kita tahu jelas, bahwa padri tua itu ahli dalam hal meramal.
Jadi kalian berempat tidak boleh ragu." Mereka berempat saling memandang, lama sekali barulah Toan Pit Lian membuka mulut.
"Ayah telah mengambil keputusan, bahwa Soat Lan dan Beng Kiat boleh berangkat ke Tionggoan menyelidiki pembunuh itu?" "Betul" "Kami...." "Kalian berempat tidak boleh ikut," tegas Toan Hong Ya.
"Padri tua telah berpesan demikian, maka kalian berempat harus mentaatinya." "Ayah...." Toan Wie Kie mengernyitkan kening.
"Kalau kalian betempat berani melanggar pesan layli Lo ceng, maka selamanya jangan memanggilku ayah lagi!" ujar Toan Hong Ya sungguh-sungguh.
"Ya, Ayah." Toan Wie Kie mengangguk Sedangkan Gouw Sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian diam saja.
"Ayah, bagaimana kematian kakek tua?" tanya Toan Beng Kiat.
"Sama seperti Lam Kiong hujin," Toan Wie Kie memberitahukan.
"Sekujur badan mereka hangus terkena semacam ilmu pukulan yang mengandung api.
"Kalau begitu, tidak suilt bagi kami menyelidiki pembunuh itu," ujar Toan Beng Kiat.
"Ayah, kami akan tinggal di sini sebulan, lalu berangkat ke Tionggoan." "Tapi...." Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayah, itu adalah pesan dan guru kami.
Maka aku harap Ayah jangan melanggarnya!" ujar Toan Beng Kiat.
"Benar," sela Lam Kiong Soat Lan.
"Itu adalah pesan guru kami, jadi kami barus mentaatinya" "Baik," Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong manggutmanggut.
"Kalian boleh berangkat ke Tionggoan, asal kalian mampu mengalahkan kami berdua." "Ayah...." Toan Beng Kiat terbelalak, begitu pula Lam Kiong Soat Lan.
"Kenapa harus begitu?" "Kami harus menguji kepandaian kalian.
Apabila kalian mampu mengalahkan kami, pertanda kalian memang telah berkepandaian tinggi," sahut Toan Wie Kie sungguh-sungguh.
"Maaf, Ayah!" ucap Toan Beng Kiat.
"Terus terang, kami takut salah tangan.
Lebih baik kami mempertunjukkan kepandaian kami saja." "Itu memang baik sekali," sahut Toan Hong Ya sambil tertawa.
"Nah, kalian berdua boleh mulai?" "Soat Lan," ujar Toan Beng Kiat sambil bangkit berdiri.
"Aku duluan mempertunjukkan kepandaianku." "Silakan!" Lam Kiong Soat Lan tersenyum.
Toan Beng Kiat berjalan ke tengah-tengah ruangan.
Kemudian setelah memberi hormat, Ia mulai mengerahkan Kim Kong Sin Kang (Tenaga Sakti Cahaya Emas), dan seketika sekujur badannya memancarkan cahaya keemasan.
Toan Hong Ya dan lainnya terbelalak.
Di saat bersamaan mulailah Toan Beng Kiat mempertunjukkan Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Belas Jurus Pukulan Cahaya Emas).
Sepasang tangannya berkelebat laksana kilat, dan memancarkan cahaya kekuningkuningan.
Betapa kagumnya Toan Hong Ya dan lainnya ketika menyaksikan ilmu pukulan itu.
Mereka terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
"Sungguh di luar dugaan!" bisik Toan Wie Kie kepada Lam Kiong Bie Liong.
"Kelihatannya kepandaian Beng Kiat jauh di atas kita." "Benar," Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Heran!
ilmu pukulan apa itu" Kok memancarkan cahaya kekuningkuningan?" "Entahlah!" Toan Wie Kie menggelengkan kepala.
Sementara Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lan menyaksikan sambil manggut-manggUt, dan wajahnya pun tampak berseri.
Berselang beberapa saat, barulah Toan Beng Kiat berhenti, dan kembali ke tempat duduknya.
Menyusul adalah giliran Lam Kiong Soat Lan mempertunjukkan kepandaiannya, dengan mempertunjukkan Kim Kong Cap Sah Ciang.
Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian menyaksikannya sambil tersenyum-senyUm, mereka kelihatan gembira sekali.
Setelah Lam Kiong Soat Lan berhenti, Lam Kiong Bie Liong segera bertanya sambil tertawa gembira.
"Soat Lan, ilmu pukulan apa itu?" "Itu adalah ilmu pukulan Kim Kong Cap Sah Ciang," Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.
"Ilmu simpanan guru kami." "Oooh!" Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Oh ya, kenapa kalian berdua tidak menggunakan senjata?" "Kata guru, kami tidak perlu menggunakan pedang," jawab Lam Kiong Soat Lan melanjutkan.
"Sebab ilmu pukulan itu dapat menangkis senjata apa pun." "Oh?" Lam Kiong Siok Liong terbelalak.
"Kalian tidak belajar ilmu lain lagi kepada guru kalian?" "Guru juga mengajar kami Thian Liong Kiam Hoat dan Ciang Hoat," Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.
"Bahkan juga mengajar kami berbagai macam ilmu pedang dan pukulan." "Oooh!" Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Kami belajarHud Bun Pan Yok Sin Kang," tambah Toan Beng Kiat.
"Setelah itu barulah belajar Kim Kong Sin Kang." "Kata guru, apabila Kim Kong Sin Kang kami telah mencapai tingkat teratas, maka kami pun tidak mempan dibacok dan tidak takut racun apa pun," sambung Lam Kiong Soat Lan.
"Itu...
itu adalah Kim Kong Put Huai," ujar Lam Kiong Bie Liong terbelalak dan melanjutkan.
"Sungguh beruntung kalian memperoleh ilmu itu!" "Ayah!" Lam Kiong Soat Lan bertanya sambil tersenyum.
"Tentunya Ayah tidak akan melarang kami ke Tionggoan, bukan?" "Ya." Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Ayah...." Toan Beng Kiat memandang ayahnya.
"Tentunya ayah juga tidak berkeberatan," sahut Toan Wie Kie cepat.
"Namun biar bagaimanapun, kami harus membekali kalian masing-masing sebilah pedang." "Terima kasih, Ayah!" ucap Toan Beng Kiat girang.
"Oh ya!" Lam Kiong Soat Lan teringat sesuatu dan memberitahukan.
"Guru tidak mengajar Kim Kong Sin Kang dan Kim Kong Cap Sah Ciang pada Lie Man Chiu." "Oh?" Lam Kiong Bie Liong dan Toan Wie Kie saling memandang.
"Kenapa begitu?" "Kata guru, Lie Man Chiu...." Lam Kiong Soat Lan tertawa kecil.
"Maaf, aku telah melupakan apa yang dikatakan guru!" "Beng Kiat, engkau ingat?" tanya Toan Wie Kie.
"Aku pun telah lupa, Ayah," jawab Toan Beng Kiat.
"Sudahlah!" Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Itu tidak perlu diingat.
Mulai sekarang kami akan menceritakan pada kalian mengenai rimba persilatan, sebab sebulan kemudian, kalian berdua akan berkecimpung dalam rimba persilatan Tionggoan." "Terima kasih, Ayah!" ucap Lam Kiong Soat Lan.
Sebulan kemudian, barulah Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan berangkat ke Tionggoan menuju markas pusat Kay Pang.
-oo0dw0ooTiraikasih Bagian ke Lima belas Bertemu ketua Tiong Ngie Pay Setelah meninggalkan markas pusat Kay Pang, Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanannya dengan tujuan mencari pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.
Dua hari kemudian, di saat ia sedang melangkah perlahan di jalan yang sepi, mendadak muncul beberapa orang, yang kemudian memberi hormat kepadanya.
"Maaf!" ucap salah Seorang dan mereka dengan ramah.
"Kami telah mengganggu perjalananmu, Giok Siauw Sin Hiap!" "Kalian...." Tio Bun Yang memandang mereka.
"Ada urusan apa?" "Ketua kami mengundang Anda ke markas!" "Siapa ketua kalian?" "Setelah bertemu, Anda pasti mengetahuinya.
Kami adalah anggota Tiong Ngie Pay." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Harap Anda ikut kami!" "Baik," Tio Bun Yang lalu mengikuti mereka.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di suat?
tempat yang sangat sepi, dan di sana tampak sebuah bangunan tua berdiri kokoh.
"Harap Anda mengikuti langkah kami!" kata orang itu.
"Sebab di tempat ini telah dipasang berbagai macam jebakan." "Ooooh!" Tio Bun Yang menengok ke sana ke mari.