Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 36

Memuat...

Betapa terkejutnya pemimpin penjahat itu.

Wajahnya pun sudah pucat pias.

Kam Hay Thian mengarah padanya, kemudian ujarnya dingin."Sekarang giliranmu!" "Siauw hiap, arnpunilah aku!" Pemimpin penjahat itu berlutut di hadapan Kam Hay Thian sambil memohon.

"Ampunilah aku...." "Mengampunimu?" Kam Hay Thian menatapnya dingin.

"Ya." Pemimpin penjahat itu mengangguk perlahan.

"Engkau sering membunuh orang dan memperkosa kaum wanita, bukan?" tanya Kam Hay Thian sambil menatapnya tajam.

"Ya.

Tapi kini aku sudah mau bertobat, sungguh!" Pemimpin penjahat itu membentur-benturkan kepalanya di tanah.

"Siauw hiap, ampunilah aku!" "Memang sudah waktunya engkau bertobat, selamalamanya engkau tidak akan bisa melakukan kejahatan lagi!" ujar Kam Hay Thian dan mendadak menggerakkan pedangnya secepat kilat.Casss!

Putuslah leher pemimpin penjahat itu, dan kepalanya menggelinding bagaikan bola.Setelah para penjahat dan pemimpin penjahat itu mati, barulah Tan In Ngo dan kedua orang tuanya keluar, kemudian disusul para penduduk dan Cungcu.

"Adik Hay Thian!" panggi!

Tan In Ngo.

"Kakak In Ngo!" sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Mulai sekarang desa ini sudah aman." Tan In Ngo mengangguk, dan Cungcu mendekati Kam Hay Thian sambil tersenyum-senyum.

"Siauw hiap, sungguh hebat engkau!

Hanya seorang diri engkau mampu membunuh para penjahat dan pemimpinnya itu." "Cungcu!" ujar Kam Hay Thian memberitahukan.

"Tan In Ngo adalah kakak angkatku, sudah barang tentu kedua orang tuanya juga orang tua angkatku.

Mereka sangat miskin, aku harap Cungcu mau menaruh perhatian kepada mereka!" "Tentu, tentu," sahut Cungcu sambil tertawa.

"Bahkan aku pun akan memberi hadiah kepadamu." "Hadiah itu kuterima, tapi harus diserahkan kepada kakak angkatku," ujar Kam Hay Thian.

"Baik, baik," sahut Cungcu sambil manggut-manggut.

Apa yang diucapkan Kam Hay Thian, membuat Tan In Ngo dan kedua orang tuanya terharu sekali.

Mereka tidak menyangka sama sekali kalau Kam Hay Thian akan mengucapkan begitu dihadapan Cungcu, yang tentunya mengangkat derajat mereka, sebab Kam Hay Thian mengaku Tan In Ngo sebagai kakak angkatnya.

"Paman, Bibi, Kakak In Ngo!" Kam Hay Thian menghampiri mereka.

"Kini desa ini telah aman, maka aku mau mohon pamit!" "Adik Hay Thian...." Wajah Tan In Ngo langsung berubah muram.

"Kenapa begitu cepat?" "Aku masih ada urusan lain, maka harus segera melanjutkan perjalanan," sahut Kam Hay Thian, lalu memandang Cungcu seraya berkata, "Kuharap Cungcu menepati janji, sampai jumpa!" Begitu Kam Hay Thian melesat pergi, Tan In Ngo berteriak memanggilnya.

"Adik Hay Thian!

Adik Hay Thian...!" Namun Kam Hay Thian sudah tidak kelihatan.

Tan In Ngo pun menangis terisak-isak.

Sedangkan cungcu memandang mayat-mayat para penjahat itu sambil menghela nafas panjang dan kemudian bergumam.

"Pemuda itu memang Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat), karena tiada seorang penjahat pun dibiarkan hidup." Setelah bergumam begitu, Cungcu itu pun berkata pada para penduduk.

"Kuburkan mayat-mayat para penjahat Itu!" Para penduduk menurut.

Ketika orang tua Tan In Ngo ingin membantu, Cungcu segera mencegahnya sambil tersenyum.

"Engkau tidak usah turun tangan membantu mereka, aku ingin bercakap-cakap sebentar," ujar Cungcu ramah sekali.

"Cungcu mau bercakap-cakap apa?" tanya ayah Tan In Ngo dengan rasa heran.

"Begini...." Cungcu itu menghela nafas panjang.

"Selama ini aku tidak memandang kalian sama sekali, namun kalian justru tetah menyelamatkan desa ini." "Cungcu, kami..." Ayah Tan In Ngo tergagap.

"Bukan kami yang menyelamatkan desa ini, melainkan Chu Ok Hiap - Kam Hay Thian." "Tapi dia anak angkat kalian, maka kalian pun berjasa dalam hal ini.

Di sini aku mohon maaf kepada kalian!" "Cungcu jangan berkata begitu, sebab membuat kami merasa malu!" "Tadi Kam Hay Thian tetah berpesan, aku harus menaruh perhatian kepada kalian.

Nah, apa permintaan kalian"~ "Tidak ada." Ayah Tan In Ngo menggelengkan kepala.

"Kami tidak meminta apa pun.

Kita semua bersyukur karena para penjahat berikut pemimpinnya telah dibasmi, kini desa kita ini sudah aman." "Aku tahu kalian bidup melarat, maka....

Tan In Ngo akan kuangkat sebagai anak angkat, bahkan aku pun akan menghadiahkan beberapa bidang sawah untuk kalian." "Cungcu...." Ayah dan ibu Tan In Ngo terbelalak.

Begitu pula Tan In Ngo sendiri, yang tidak menyangka kalau Cungcu yang kaya raya itu akan mengangkatnya sebagai anak.

"Kalian Jangan menolak, sebab kalau kalian menolak, aku akan merasa tidak enak terhadap Kam Hay Thian," ujar Cungcu sambil tertawa, kemudian berseru memberitahukan kepada para penduduk yang telah usai mengubur mayatmayat para penjahat.

"Kalian semua dengar baik-baik, mulai hari ini Tan In Ngo adalah putri angkatku!

Oleh karena itu, aku akan mengadakan pesta besar-besaran hari ini, harap kalian semua hadir!" "Terima kasih, Cungcu!" sahut para penduduk, lalu berkata kepada Tan In Ngo yang berdiri mematung di tempat.

"Selamat, In Ngo!" Saking girangnya, Tan In Ngo nyaris menangis seketika.

Ia semakin terharu dan berterima kasih kepada Kam Hay Thian, sebab semua itu berkat jasa pemuda tersebut.

-oo0dw0oo- Sementara itu, di halaman istana Tayli, tampak Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng duduk melamun.

"Aaaah.!" Lam Kiong Bie Liong menghela nafas panjang.

"Sudah tujuh tahun lebih, k?napa Soat Lan dan Beng Kiat masih belum pulang?" "Aku yakin tidak lama lagi mereka akan pulang," sahut Toan Wie Kie.

"Aku ingat akan ucapan Tayli Lo Ceng ketika itu, padri tua itu bilang tujuh delapan tahun, Soat Lan dan Beng Kiat pasti pulang" "Benar." Gouw Sian Eng manggut-manggut.

"Aku pun masih ingat akan ucapan Tayli Lo Ceng itu." "Tapi.." Toan Pit Lian ingin mengatakan sesuatu, namun terputus mendadak karena melihat dua sosok bayangan berkelebat ke arah mereka "Ayah!

Ibu!" Terdengar pula suara seruan.

"Soat Lan?" Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian terbelalak.

"Beng Kiat?" Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng juga terbelalak.

Kedua sosok bayangan itu ternyata Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat, yang tidak mereka duga sama sekali.

"Ayah, Ibu!" Lam Kiong Soat Lan langsung mendekap di dada Toan Pit Lian.

"Ayah, Ibu!" Toan Beng Kiat bersujud dihadapan kedua orang tuanya.

"Soat Lan...." Toan Pit Lian memeluknya erat-erat, sedangkan Lam Kiong Bie Liong tidak henti-hentinya membelai putrinya.

"Nak!" Gouw Sian Eng segera membangunkan Toan Beng Kiat dengan mata basah.

"Engkau...engkau sudah pulang...." "Ibu, aku sudah pulang." "Nak!" Toan Wie Kie membelainya.

tidak menyangka engkau sudah besar." "Ayah...." Toan Beng Kiat tersenyum.

"Oh ya!" tanya Toan Wie Kie.

"Kok Tayli Lo Ceng tidak kemari?" "Guru mengantar kami sampal di daerah Tayli, lalu pergi," jawab Toan Beng Kiat memberitahukan.

Sementara Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian juga tak henti-hentinya bercakap-cakap dengan putri mereka.

"Soat Lan!" Toan Pit Lian menatapnya sambil tersenyum.

"Engkau sudah besar dan cantik sekali, ibu merasa puas dan bangga.

"Soat Lan!" ujar Lam Kiong Bie Liong sambil tersenyum.

"Ayah yakin, kepandaianmU pasti sudah tinggi sekali" "Kira-kira begitulah, Ayah," sahut Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum manis dan melanjutkan.

"Kini aku dan Beng Kiat telah menguasai seluruh ilmu yang dimiliki guru.

"Syukurlah!" Lam Kiong Bie Liong tertawa gembira kemudian berseru, "Wie Kie, mari kita ajak mereka menemui Hong Ya!" "Baik." Toan Wie Kie mengangguk.

Mereka semua lalu memasuki ruang tengah.

Kebetulan Toan Hong Ya dan Hujin sedang duduk di situ sambil bercakap-cakap.

Ketika melihat Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat, mereka terbelalak.

"Soat Lan" Beng Kiat?" gumam Toan Hong Ya.

"Kakek, Nenek!" Lam Kiong Soat Lan dan Beng Kiat segera bersujud.

Betapa gembiranya Toan Hong Ya dan Hujin.

Mereka berdua terus tertawa gembira.

"Kalian bangunlah!" ujar Toan Hong Ya.

"Ya," Lam Kiong Soat Lan dan Toang Beng Kiat segera bangkit berdiri.

"Ayohlah!

Kalian semua duduk saja, jangan terus berdiri!" ujar Toan Hong Ya sambil tertawa-tawa.

Mereka segera duduk.

Toan Beng Kiat menengok kesanakemari seakan sedang mencari sesuatu.

"Dimana kakek tua" Kok tidak berada disini?" tanyanya.

"Nak," sahut Gouw Sian Eng sambil menghela nafas panjang.

"Kakek tuamu telah meninggal!" "Apa?" Toan Beng Kiat terkejut dan matanya mulai basah.

"Kapan kakek tua meninggal?" "Dua tahun yang lalu," sahut Gouw Sian Eng.

"Aaaakh...!" keluh Toan Beng Kiat.

"Tak disangka aku tidak akan bertemu kakek tua!" Sementara Lam Kiong Soat Lan juga menengok kesana kemari dengan penuh rasa heran, karena dan tadi tidak melihat Lam Kiong hujin, neneknya.

"Ayah, di mana nenek" Kok tidak muncul?" tanya gadis itu.

"Nenekmu telah meninggal," sahut Lam Kiong Bie Liong sanibil menghela nafas panjang.

"Haah...?" Lam Kiong Soat Lan langsung menangis terisakisak.

"Kapan nenek meninggal?" "Dua tahun yang lalu," Lam Kiong Bie Liong memberitahukan dengan wajah murung.

"Nenek meninggal karena sakit?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng segera memandang Toan Hong Ya.

"Beritahukanlah kepada mereka!" ujar Toan Hong Ya.

Lam Kiong Bie Liong mengangguk, lalu memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Soat Lan, nenekmu dan Tui Hun Lojin meninggal karena dibunuh orang." "Apa?" Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat terkejut bukan main, dan wajah pun tampak sedih.

"Siapa pembunuh itu?" "Entahlah," Lam Kiong Bie Liong menggelengkan kepala.

"Ayah," tanya Toan Beng Kiat.

"Bagaimana kejadian itu" Bolehkah Ayah menuturkannya?" "Kejadian itu...." Toan Wie Kie menutur dan menambabkan.

"Kakekmu yang kemari memberitahukan." "Ayah!

Aku barus membalas dendam!" ujar Toan Beng Kiat dengan berkertak gigi.

"Aku juga!" sambung Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian...." Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin kalian membalas dendam, sebab tidak tahu siapa pembunuhnya?" "Kami akan menyelidikinya," ujar Toan Beng Kiat sungguhsungguh.

"Nak!" Toan Wie Kie menggeleng-gl!engkan kepala.

Post a Comment