"Bun Yang, gadis itu sungguh cantik sekali, dan lemah lembut.
Dia juga menggunakan suling emas sebagai senjata." "Kalau begitu, dia pandai meniup suling?" "Betul.
Gadis itu memang pandai meniup suling.
Kalau kalian bertemu pasti akan cocok," ujar Lim Peng Hang sambil tertawa gelak.
"Engkau memiliki Giok Siauw, dia memiliki Kim Siauw." "Kalian berdua memang serasi," sela Gouw Han Tiong sambil tersenyum."Eeeh...." Wajah Tio Bun Yang kemerahmerahan.
"Oh ya!" Lim Peng Hang teringat sesuatu, dan segera memberitahukan kepada Tio Bun Yang.
"Ayah dan ibumu berpesan, engkau tidak usah kembali ke Pulau Hong Hoang To." "Oh?" Tio Bun Yang tercengang.
"Memangnya kenapa, Kakek?" "Karena engkau harus membantu Kakek menyelidiki pembunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin." Lim Peng Hang memberitahukan.
"Jadi engkau boleh berkecimpung dalam rimba persilatan untuk membela kebenaran, sekaligus mencari pengalaman." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Tapi.." Lim Peng Hang menambahkan, "Kauw-heng harus mendampingimu, ini adalah pesan dari ayah dan ibumu." "Tentu." Tio Bun Yang tersenyum.
"Kauw heng memang harus ikut aku."Monyet bulu putih itu bercuit-cuit, kemudian menepuk dadanya sendiri sekaligus mengangkat dadanya.
"Bun Yang!" Gouw Han Tiong bingung.
"Kauw-heng bilang apa?" "Dia harus melindungi diriku.
Itu adalah tugasnya." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Oooh!" Gouw Han Tiong tertawa.
"Kauw heng," ucap Lim Peng Hang.
"Terima-kasih atas kesediaanmu melindungi cucuku!" Monyet bulu putih itu menggoyang-goyangkan sepasang tangannya, itu membuat Lim Peng Hang terheran-heran.
"Bun Yang, kauw-heng bilang apa?" "Dia bilang, Kakek tidak usah berterima kasih kepadanya," sahut Tio Bun Yang sambil membelai monyet bulu putih itu, lalu melanjutkan, "Kalau begitu, aku akan tinggal di sini beberapa hari.
Setelah itu, aku akan pergi menyelidiki pembunuh itu." "Bun Yang, biar bagaimana pun engkau harus berhati-hati," pesan Lim Peng Hang "Jangan menyombongkan diri menghadapi segala apa pun harus tenang dan bersabar." "Aku pasti menuruti nasihat Kakek." "Bagus, bagus!" Lim Peng Hang tertawa gembira.
Beberapa hari kemudian, mulailah Tio Bun Yang berkecimpung di dalam rimba persilatan, dan ditemani monyet bulu putih.
-oo0dw0oo- Bagian Ke Dua belas Menolong pembesar yang bijaksana Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk berhadapan didalam kamar.
Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.
"Besok Goat Nio akan pergi mengembara, sekalian mencari Bun Yang," ujar Tio Cie Hiong.
"Aku pernah berjanji kepada Ai Ling akan berunding dengan paman, ini entah bagaimana baiknya?" "Kakak Hiong!" Lim Ceng Im tersenyum.
"Berundinglah dengan pamanmu, aku yakin pamanmu pasti memperbolehkan Ai Ling pergi mencari ayahnya." "Ngmmm!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Kalau begitu, aku akan pergi menemui paman." Tio Cie Hiong meninggalkan kamar itu, dan langsung pergi menemui Tio Tay Seng, yang sedang bermain catur dengan Sam Gan Sin Kay.
"Tio Tocu," ujar Sam Gan Sin Kay sambil menghela nafas panjang.
"Begitu cepat sang waktu berlalu, tak terasa sudah dua tahun." "Ya." Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Kita bertambah tua, entah bisa bertahan berapa lama?" "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Aku justru ingin cepat-cepat mati, rasanya sudah bosan hidup di dunia." "Eeeh?" Tio Tay Seng menatapnya, kemudian tertawa.
"Kalau engkau mati, aku celaka." "Kenapa?" "Karena tidak ada orang yang menemani aku main catur.
Bukankah aku akan celaka saking kesepian?" "Kalau begitu...." Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.
"Aku tidak mau cepat-cepat mati, karena masih harus menemanimu main catur." "Ha ha ha!" Tio Tay Seng tertawa gelak.
"Memangnya engkau bisa mengatur hidup matimu" Hidup matinya orang berada di tangan Thian (Tuhan) lho!" "Benar.
Tapi kalau kita bisa menjaga diri agar selalu sehat, tentunya tidak akan cepat mati," sahut Sam Gan Sin Kay.
"Tidak salah." Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Oh ya!
Putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin telah menguasai semua ilmu yang diajarkan Cie Hiong, dan besok gadis itu mau pergi mengembara mencari pengalaman." "Sekaligus mencari Bun Yang!
Ha-ha-ha...!" Sam Gan Sin Kay tertawa dan menambahkan, "Menurutku, Goat Nio dan Bun Yang memang merupakan pasangan yang serasi." "Itu bagaimana mereka berdua saja," ujar Tio Tay Seng., "Oh ya, entah bagaimana keadaan dimarkas pusat Kay Pang,dan di Tayli" Mungkinkah pihak Kay Pang sudah berhasil menyelidiki pembunuh itu?" "Sudahlah, jangan membicarakan yang memusingkan itu!
Kita sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan, jadi tidak usah membicarakan itU." tandas Sam Gan Sin Kay.
"Benar." Tio Tay Seng mengangguk.
Disaat itulah muncul Tio Cie Hiong sambil tersenyum-senyum.
"Cie Hiong." Sam Gan Sin Kay tertawa "Engkau ke mari mau ikut main catur?" "Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Paman," sahut Tio Cie Hiong jujur.
"Bolehkah aku ikut mendengar?" tanya Sam Gan Sin Kay "Kalau tidak boleh, aku akan segera meninggalkan tempat ini." "Tentu boleh." Tio Cie Hiong duduk.
"Cie Hiong!" Tio Tay Seng menatapnya seraya bertanya, "Engkau ingin bicara apa dengan Paman?" "Mengenai Ai Ling" "Kenapa dia?" "Kakak Hong Hoa telah setuju, namun dia dan Ai Ling tidak berani memberitahukan kepada Paman." "Lho" Ada apa" Tio Tay Seng mengerutkan kening "Hong Hoa menyetujui apa" Beritahukanlah!" "Besok Goat Nio mau pergi mengembara Ai Ling ingin ikut dan kakak Hong Hoa telah menyetujui." "Apa?" Wajah Tio Tay Seng tampak berubah.
"Maksud Ai Ling ingin pergi mencari ayahnya?" "Ya" Tio Cie Hiong mengangguk "Tidak boleh!" bentak Tio Tay Seng gusar.
"Pokoknya dia tidak boleh pergi mencari binatang itu!" "Tio Tocu," ujar Sam Gan Sin Kay sambil tersenyum.
"Jangan emosi, dengar dulu apa yang akan dikatakan Cie Hiong!" Tio Tay Seng diam, lalu memandang Tio Cie Hiong dengan kening berkerut-kerut "Lanjutkanlah!" katanya.
"Paman," ujar Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.
"Biar bagaimana pun, Man Chiu tetap ayah Ai Ling, maka Ai Ling berhak pergi mencarinya." "Tidak bisa!" Tio Tay Seng tetap berkeras.
"Paman!" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kini Ai Ling sudah remaja, kalau paman melarangnya pergi mencari ayahnya, itu akan membuat batinnya tertekan sekali.
Paman harus memikirkan itu, jangan membuatnya menderita.
Ibunya sudah cukup menderita, jangan sampai Ai Ling menderita pula." "Tio Tocu," sela Sam Gan Sin Kay.
"Memang benar apa yang dikatakan Cie Hiong, engkau jangan berkeras hati lagi." "Aaaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas panjang.
"Sesungguhnya aku sangat kasihan kepada Hong Hoa dan cucuku itu, sehingga membuatku terus berpikir setiap malam." "Apa yang kau pikirkan, Tio Tocu?" tanya Sam Gan Sin Kay.
"Aku memikirkan Lie Man Chiu," sahut Tio Tay Seng jujur.
"Rasanya ingin sekali aku pergi mencarinya." "Oh?" Sam Gan Sin Kay dan Tio Cie Hiong terbelalak.
"Tapi...." Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak mau meninggalkan pulau ini." "Kalau begitu...." Wajah Tio Cie Hiong tampak berseri.
"Paman, ijinkanlah Ai Ling pergi mencari ayahnya!" "Cie Hiong, dia masih remaja, belum berpengalaman dalam rimba persilatan," ujar Tio Tay Seng.
"Itu membuatku tidak bisa tenang." "Paman boleh berlega hati, sebab kepandaian Ai Ling sudah cukup tinggi.
Lagi pula aku sering memberitahukannya tentang rimba persilatan, jadi dia sudah mengerti." "Dia pun pergi bersama Goat Nio, maka kita tidak perlu khawatir," sambung Sam Gan Sin Kay.
"Menurut kalian, aku harus mengijinkannya pergi mencari ayahnya?" tanya Tio Tay Seng.
"Ya." Sam Gan Sin Kay dan Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau begitu...." Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Baiklah.
Aku mengijinkannya pergi mencari ayahnya, mudahmudahan dia berhasil menemukan ayahnya!" "Terima kasih Paman." ucap Tio Cie Hiong.
"Kenapa engkau yang mengucapkan terima kasih?" Tio Tay Seng tersenyum "Engkau memang sela1u memikirkan kepentingan orang lain, paman yakin Bun Yang pun begitu." "Paman!" Tio Cie Hiong tertawa gembira.
"Aku merasa gembira sekali.
Maaf, aku harus segera pergi memberitahukan Ai Ling." Tio Cie Hiong langsung melesat pergi menuju tempat Siang Koan Goat Nio sedang berlatih dengan Lie Ai Ling.
Ia melihat Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin duduk di situ dengan wajah berseri memperhatikan Siang Koan Goat Nio yang sedang berlatih bersama Lie Ai Ling.
"Paman sastrawan, Bibi" panggil Tio Cie Hiong sambil menghampiri mereka.
"Oh, Cie Hiong~" Kim Siauw Suseng tersenyum.
"Duduklah!" Tio Cie Hiong duduk, lalu menyaksikan latihan itu dengan penuh perhatian sambil manggut-manggut.
"Bagaimana, adik kecil" Kepandaian mereka berdua sudah tinggi kan?" tanya Kou Hun Bijin.
"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.
"Besok Goat Nio akan pergi mengembara mencari pengalaman, sekalian mencari Bun Yang putramu," ujar Kou Hun Bijin sambil tersenyum.
"Barusan aku justru berunding dengan pamanku." Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Berunding mengenai apa?" tanya Kim Siauw Suseng heran.
"Mengenal Ai Ling.
Karena dia ingin ikut Goat Nio pergi mencari ayahnya," sahut Tio Cie Hiong.
"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring.Aku yakin pamanmu tidak mengijinkannya." "Semula pamanku memang tidak setuju, namun kemudian mengijinkannya." Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Syukurlah!" ucap Kou Hun Bijin.
"Jadi Goat Nio punya teman dalam pengembaraan." "Cie Hiong...." Kim Siauw Suseng tampak serius.
"Menurutku, Lie Man Chiu tidak akan sejahat itu.
Aku yakin dia akan sadar dari kekeliruannya itu" "Aku sependapat dengan Paman Sastrawan." Tio Cie Hiong manggut-manggut "Aku memang berharap Ai Ling dapat menyadarkannya dan mau ikut Ai Ling pulang ke Hong Hoang To." "Benar." Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Oh ya, adik kecil!" Kou Hun Bijin memandang Tio Cie Hiong sambil tersenyum-senyum.
"Terus terang, kami merasa cocok dengan pulau ini.
Maka kami mengambil keputusan untuk terus tinggal disini." "Oh?" Tio Cie Hiong gembira sekali.
"Bagus, bagus!" "Tapi..." Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Tentunya akan merepotkan pamanmu.
"Tidak akan merepotkan pamanku, sebaliknya pamanku pasti girang sekali," ujar Tio Cie Hiong.
Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sudah berhenti berlatih.
Ketika melihat Tio Cie Hiong, berserilah wajah kedua gadis itu.
"Paman!" seru mereka serentak.
"Goat Nio, Ai Ling!" Tio Cie Hiong tertawa.
"Kepandaian kalian sudah maju pesat sekali." "Itu atas bimbingan Paman," ujar kedua gadis itu.
"Ai Ling...." Tio Cie Hiong menatapnya sambil tersenyum.
"Ada kabar gembira untukmu." "Oh?" Lie Ai Ling tertegun.
"Kabar gembira apa?" "Besok Goat Nio mau pergi mengembara.
Tentunya engkau ingin ikut, karena...