Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 27

Memuat...

Tugas monyet bulu putih adalah mencari buah, justru memberikan Tio Bun Yang buah aneh yang mengandung cairan kental.

Tio Bun Yang tidak tahu sama sekali, bahwa buah aneh itu berkhasiat menambah Iweekangnya.

Tanpa terasa sudah dua tahun Tio Bun Yang tinggal di dalam goa itu, dan kini usianya sudah tujuh belas, bertambah tampan dan tinggi.

Hari ini ia duduk bersemedi di atas batu dingin melatih lweekangnya, dan monyet bulu putih duduk tak jauh dan situ memperhatikannya.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak badan Tio Bun Yang melambung ke atas, ternyata lweekangnya telah mencapai ke tingkat tinggi.

Setelah itu, perlahan-lahan melayang turun di atas batu dingin itu.

Ketika badannya menyentuh batu dingin, terdengar suara "Kraak!

Kreeek!" Monyet bulu putih itu terbelalak, sedangkan Tio Bun Yang tetap duduk.

bersemedi dengan mata terpejam.

Ternyata ia sedang mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang.

Kraaaak!

Terdengar suara meretak.

Bukan main!

Yang meretak itu ternyata batu dingin yang didudukinya.

Hal itu membuat monyet bulu putih bercuit-cuit.

Tio Bun Yang membuka matanya, lalu meloncat turun.

Di saat bersamaan terdengar pula suara "Braaak!" Batu dingin itu telah hancur.

Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang Tio Bun Yang sekarang.

Setelah batu dingin itu hancur, tampak sebuah benda bulat di situ memancarkan cahaya.

"Eh?" Tio Bun Yang tercengang.

"Benda apa itu?" Tio Bun Yang mendekati benda itu dengan mata terbelalak.

Sebetulnya benda apa itu" Ternyata benda itu adalah batu inti es, yang amat dingin, yang berada di dalam batu dingin itu.

Perlahan-lahan Tio Bun Yang menjulurkan tangannya untuk menjamah batu inti es itu.

Namun ia tampak terkejut karena batu inti es itu dingin bukan main.

Kalau ?a tidak memiliki Pan Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang, pasti tidak dapat memegang batu inti es tersebut.

"Ini tergolong benda pusaka," gumamnya sambil tersenyum.

"Sangat bermanfaat bagi orang yang berlatih Im Kang (Lweekang yang mengandung hawa dingin).

Benda ini harus kusimpan.

Kalau bertemu orang baik yang berlatih Im Kang, akan kuhadiahkan kepadanya." Sementara monyet bulu putih terus menatap Tio Bun Yang dengan mata tak berkedip, kemudian bercuit-cuit.

"Kauw-heng!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau bilang lweekangku sudah tinggi sekali?" Monyet bulu putih manggut-manggut, lalu menunjuk batu dingin itu sambil bercuit-cuit lagi.

"Oh?" Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Engkau bilang ayahku masih tidak mampu menghancurkan batu dingin itu dalam keadaan bersemedi?" Monyet bulu putih manggut-manggut sambil bertepuk tangan, kelihatannya gembira sekali.

"Kauw-heng," ujar Tio Bun Yang.

"Kalau begitu, kita boleh meninggalkan Gunung Thian San?" Monyet bulu putih mengangguk, kemudian menunjuk batu inti es itu sambil bercuit-cuit.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Maksudmu benda ini harus disimpan di dalam kantong?" Monyet bulu putih menuju sudut goa.

Ternyata ?a mengambil sebuah kantong kulit, lalu diberikan kepada Tio Bun Yang.

"Terima kasih, kauw-heng!" ucap Tio Bun Yang sambil menerima kantong kulit itu.

Dimasukkannya batu inti es itu ke dalam kantong kulit tersebut, setelah itu barulah disimpan ke dalam bajunya.

"Kauw-heng!

Ayah dan ibuku telah berpesan, aku harus pergi ke Gunung Hong Lay San.

Engkau tahu dimana gunung itu, bukan?" Monyet bulu putih mengangguk, kemudian menarik tangan Tio Bun Yang.

"Mau berangkat sekarang?" Monyet bulu putih bercuit tiga kali.

"Baiklah." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Mari kita berangkat, sebab aku harus segera menemui Bibi Tan Li Cu!" -oo0dw0ooTiraikasih Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan monyet bulu putih telah tiba di Gunung Hong Lay San.

Betapa girangnya Tan Li Cu, ia membelai Tio Bun Yang dengan penuh kasih sayang.

"Bun Yang!" Tan Li Cu memandangnya dengan mata basah.

"Kini engkau sudah besar.

Engkau dari pulau Hong Hoang To ya?" "Bibi Li Cu, aku dan Gunung Thian San." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oh?" Tan Li Cu tertegun.

"Bagaimana engkau dan kauwheng bisa datang dan Gunung Thian San?" "Begini Bibi Li Cu...." Tio Bun Yang menjelaskan dan menambahkan, "Ayah dan ibuku berpesan aku harus ke mari mengunjungi Bibi." "Oooh!" Tan Li Cu manggut-manggut.

"Kalau begitu, lweekangmu pasti sudah tinggi sekali!" "Maaf, Bibi Li Cu, aku sendiri tidak mengetahuinya," sahut Tio Bun Yang jujur.

Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul seorang gadis cantik berusia enam belasan.

"Guru..." panggil gadis itu, yang kemudian terbelalak karena melihat Tio Bun Yang dan seekor monyet bulu putih duduk di atas bahunya.

"Siok Loan!" Tan Li Cu tersenyum.

"Mari guru perkenalkan!

Dia adalah Tio Bun Yang, putra kesayangan Tio Cie Hiong." "Oooh!" Ma Siok Loan memandang Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar, lalu memberi hormat seraya berkata, "Kakak Bun Yang, selamat bertemu!" "Terima kasih!" sahut Tio Bun Yang kemudian balas memberi hormat.

"Bun Yang!" Tan Li Cu tersenyum.

"Engkau harus memanggil dia adik." "Ya, Bibi." Tio Bun Yang mengangguk lalu memanggil gadis itu.

"Adik Siok Loan!" "Hi hi hi!" Ma Siok Loan tertawa geli.

"Siok Loan!" tegur Tan Li Cu halus.

"Tidak boleh bersikap begitu.

Engkau sudah berusia enam belas, bukan anak kecil lagi." "Guru!" Ma Siok Loan masih tertawa geli.

"Aku tertawa geli karena melihat monyet bulu putih itu, sungguh lucu!" "Oooh!" Tan Li Cu tersenyum dan memberitahukan, "Engkau harus tahu, bahwa itu monyet sakti." "Oh?" Ma Siok Loan menatap monyet bulu putih.

"Janganjangan monyet itu mempunyai hubungan dengan Sun Ngo Kong (Siluman Monyet Sakti Dalam Dongeng See Yu)!" "Benar," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Monyet bulu putih ini adalah saudara seperguruan dengan Sun Ngo Kong.

"Bohong ah!" "Tentu bohong." Tio Bun Yang tertawa kecil.

Sedangkan monyet bulu putih itu menyengir.

"Hi hi hi!" Ma Siok Loan tertawa geli lagi.

"Guru, monyet bulu putih itu bisa menyengir, lucu sekali deh!" "Siok Loan!" Tan Li Cu tersenyum.

"Tahukah engkau berapa usia monyet bulu putih itu?" "Entahlah." Ma Siok Loan menggele?gkan kepala.

"Usianya sudah tiga ratus tahun lebih lho!" Tan Li Cu memberitahukan.

"Apa?" Ma Siok Loan terbelalak.

"Guru jangan bohong!

Bagaimana mungkin monyet bulu putih itu berusia setua itu?" "Adik Siok Loan," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"G?rumu tidak bohong, memang benar monyet bulu putih ini sudah berusia, tiga ratus tahun lebih!" "Wuah, bukan main!" Ma Siok Loan menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan-jangan benar monyet bulu putih itu saudara seperguruan Sun Ngo Kong!" Tan Li Cu tersenyum lembut.

Kini ia sudah berusia empat puluhan.

Beberapa tahun yang lalu, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis kecil, yang kedua orang tuanya dibunuh perampok, lalu dibawanya ke gunung Hong Lay San, sekaligus diangkat jadi muridnya.

"Bun Yang!" Tan Li Cu menatapnya.

"Kepandaianmu pasti sudah tinggi sekali, dan tentu engkau tidak akan pelit mengajar Siok Loan semacam ilmu, bukan?" "Bibi..." Tio Bun Yang tampak ragu.

"Kakak Bun Yang," desak Ma Siok Loan.

"Guruku memberitahukan kepadaku, bahwa ayahmu berkepandaian sangat tinggi, maka aku yakin engkau juga berkepandaian tinggi.

Namun kenapa engkau tidak bersedia mengajarku semacam ilmu?" "Itu..." Tio Bun Yang berpikir sejenak lalu mengangguk.

"Baiklah.

Aku akan ajarimu Cit Loan Kiam Hoat." "Apa"!" Tan Li Cu tertegun.

"Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Engkau belajar dan man?

ilmu pedang itu?" tanya Tan Li Cu.

"Ilmu pedang ciptaan ayahku." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Ilmu pedang tersebut lihay sekali, maka akan kuajarkan kepada adik Siok Loan." "Ngmm!" Tan Li Cu manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang!" Ma Siok Loan menatapnya.

"Kalau aku belajar ilmu pedang itu, apakah aku tidak akan pusing tujuh keliling?" "Tidak, sebab ilmu pedang itu hanya akan membuat pusing lawan." Tio Bun Yang memberitahukan dan berpesan.

"Tapi engkau harus ingat, bahwa kalau tidak dalam keadaan bahaya, ilmu pedang itu tidak.boleh dikeluarkan." "Kenapa?" "Karena setiap jurusnya akan mematikan pihak lawan." "Ya.

Aku pasti ingat pesanmu, kakak Bun Yang." "Bun Yang," Tan Li Cu tampak tertarik.

"Bolehkah engkau memperlihatkan ilmu pedang itu?" tanyanya.

"Boleh." Tio Bun Yang mengangguk, dan kemudian Tan Li Cu menyerahkan sebilah pedang kepadanya.

Tio Bun Yang berdiri di tengah-tengah ruangan, kemudian mulai mempertunjukkan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat.

Bukan main kagumnya Tan Li Cu, namun kemudian ia merasa berkunang"kunang dan pusing.

Sementara Ma Siok Loan sudah berteriak-teriak tidak karuan.

"Aduuh!

Mataku berkunang-kunang!

Aaaah!

Pusing!

Pusing sekali!" "Siok Loan, cepat pejamkan matamu!" seru Tan Li Cu.

Gadis itu segera memejamkan matanya, sedangkan Tan Li Cu terus memperhatikan ilmu pedang itu walau ?a sudah merasa pusing sekali.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Bun Yang menghentikan gerakannya.

Tan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pias karena menahan pusing, dan Ma Siok Loan pun sudah membuka matanya.

"Bun Yang, sungguh lihay dan hebat ilmu pedang itu!" ujar Tan Li Cu sambil menghela nafas panjang.

"Ayahmu memang luar biasa sekali!" "Kakak Bun Yang!" Ma Siok Loan tertawa.

"Aku tidak berani menyaksikan ilmu pedang itu, sebab mataku lalu berkunangkunang dan merasa pusing." "Jadi engkau sudah tahu akan kelihayan ilmu pedang itu, kan?" Tio Bun Yang memandangnya.

"Ya." Ma Siok Loan mengangguk.

"Oh ya!" Tio Bun Yang memandang Tan Li Cu.

"Ilmu pedang itu akan kuajarkan kepada Bibi juga!" "Oh?" Tan Li Cu tampak girang.

"Memangnya kenapa?" "Bibi dan Adik Siok Loan bisa berlatih bersama, sebab aku tidak bisa lama-lama di sini, harus ke markas pusat Kay Pang menemui kakekku." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oooh!" Tan Li Cu manggut-manggut.

Tio Bun Yang mulai mengajar mereka ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat.

Belasan hari kemudian, barulah mereka dapat menguasai ilmu pedang tersebut, namun gerakannya masih lamban.

Setelah itu, Tio Bun Yang berpamit.

Dengan air mata berderai-derai Ma Siok Loan memandang kepergian Tio Bun Yang, bahkan kemudian menangis terisak-isak.

Post a Comment