Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 26

Memuat...

"Ya." Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengangguk.

"Sedangkan keputusanku . . . " Kou Hun Bijin melirik putrinya.

"Setelah dia menguasai semua ilmu itu, dia harus pergi mencari Bun Yang." "Tidak salah," sahut Kim Siauw Suseng.

"Kita berdua tetap tinggal di sini, tidak usah pulang ke Kwan Gwa.

Sebab pulau ini sungguh indah, udaranya pun segar.dan sejuk." "Yang lebih nyaman lagi yakni bisa main catur dengan Sam Gan Sin Kay dan Tio Tocu.

Ya, kan?" sambung Kou Hun Bijin.

"Betul, betul." Kim Siauw Suseng tertawa gelak.

"Engkau memang isteriku yang baik, tahu hobi suami." "Merayu nih ye?" goda Sam Gan Sin Kay.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa.

"Dia suamiku, dia senang aku gembira.

Dia gembira aku senang, bahkan aku pun harus menuruti perkataannya." "Yah, ampun!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Begitu mesranya, itu sungguh tak disangka!

Ha ha ha...!" -oo0dw0oo- Di dalam sebuah kamar, tampak Tio Hong Hoa duduk di pinggir tempat tidur dengan kening berkerut-kerut, dan Lie Ai Ling duduk di sisinya.

"Bagaimana" Ibu setuju kan?" tanya Lie Ai Ling.

"Nak!" Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Itu urusan nanti, maka lebih baik dibicarakan nanti saja." "Setelah menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan Paman Cie Hiong, Goat Nio akan pergi mencari Kakak Bun Yang.

Ai Ling ingin ikut dia ke Tionggoan mencari ayah?" "Nak!" Tio Hong Hoa tersenyum getir.

"Tentang ini akan ibu rundingkan dengan kakekmu.

Ibu tidak berani mengambil keputusan sekarang?" "Kalau begitu, lebih baik Ai Ling beritahukan kepada kakek," ujar Lie Ai Ling.

"Jangan!" Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.

"Kalau engkau singgung ayahmu, kakekmu pasti marah besar.

Lebih baik engkau berunding dengan Paman Cie hong saja.

Biar dia yang memberitahukan kepada kakekmu." "Kalau begitu...." Wajah Lie Ai Ling berseri.

"Ibu setuju kau ikut Goat Nio pergi ke Tionggoan?" "Bagaimana mungkin ibu melarangmu," Tio Hong Hoa menghela nafas.

"Sebab engkau berhak pergi mencari ayahmu.

Hanya saja engkau harus berhati-hati." "Terim kasih, Ibu!" ucap Lie Ai Ling, lalu berlari ke kamar Tio Cie Hiong, dan kebetulan Lim Ceng Im mau melangkah ke luar.

"Ai Ling?" Lim Ceng Im tercengang karena melihat gadis itu begitu tergesa-gesa ke kamarnya.

"Ada apa?" tanyanya.

"Bibi, Ai Ling ingin bicara dengan Paman," jawab Lie Ai Ling.

"Baik." Lim Ceng Im mengangguk, lalu mengajak gadis itu ke dalam kamar.

Tio Cie Hiong belum tidur, hanya sedang duduk bersemedi.

"Paman!" panggil Lie Ai Ling sambil mendekatinya.

Tio Cie Hiong membuka matanya, dan begitu melihat gadis itu ?a pun terheran-heran.

"Ada apa, Lie Ai Ling?" "Paman!" Lie Ai Ling duduk di hadapan Tio Cie Hiong.

"Ai Ling ingin bicara dengan Paman." "Oh?" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Mau bicara apa?" "Setelah berhasil menguasai ilmu-ilmu yang Paman ajarkan itu, Goat Nio akan pergi mencari Kakak Bun Yang, kan?" "Benar.

Lalu kenapa?" tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya sementara Lim Ceng Im sudah duduk di sisi suaminya.

"Tadi Ai Ling sudah berunding dengan Ibu, maksud, Ai Ling ingin ikut Goat Nio ke Tiong-goan mencari ayah.

Ibu setuju, tapi ibu bilang harus berunding dengan Paman, setelah itu, barulah Paman memberitahukan kepada kakek.

Kalau ibu atau Ai Ling yang memberitahukan, kakek pasti marah besar," jawab Lie Ai Ling memberitahukan.

"Tentang ini...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Belum tentu kakekmu mengijinkanmu pergi mencari ayahmu." "Kalau Paman bersedia membantu bicara, kakek pasti mengijinkan," ujar Lie Ai Ling.

"Sebab kakek Ai Ling sangat sayang kepada Paman" "Itu...." Tio Cie Hiong berpikir sejenak, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh sambil menatap gadis itu.

"Sebagai anak, engkau memang berhak pergi mencari ayahmu.

Baiklah.

Kelak akan kuberitahukan kepada kakekmu.

Tapi...." "Ada apa, Paman?" "Mulai besok engkau harus lebih tekun berlatih, agar kepandaianmu bertambah tinggi.

Jadi kakekmu tidak akan mencemaskanmu.

Mengerti?" "Ai Ling mengerti, Paman." "Bagus!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sekarang kembalilah ke kamar menemani ibumu!

Ingat, jangan menyinggung ayahmu di hadapan kakekmu!" "Ya, Paman." Lie Ai Ling mengangguk, lalu meninggalkan kamar Tio Cie Hiong.

Setelah Lie Ai Ling pergi, Tio Cie Hiong menggelenggelengkan kepala seraya berkata, "Sungguh kasihan Ai Ling!" "Kakak Hiong," bisik Lim Ceng Im.

"Betulkah kelak engkau akan memberitahukan kepada pamanmu?" "Itu harus," sahut Tio Cie Hiong.

"Apakah pamanmu akan mengijinkan Ai Ling pergi mencari ayahnya?" "Kalau aku yang membicarakannya, mungkin pamanku akan mengijinkannya.

Biar bagaimana pun, Lie Man Chiu tetap mantunya." "Kakak Hiong!" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudah sekian tahun tiada kabar beritanya tentang Lie Man Chiu, entah bagaimana keadaannya sekarang?" "Adik Im!" Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Aku yakin dia sudah hidup senang di ibu kota." "Oh?" "Aku yakin dia berada di ibu kota," ujar Tio Cie Hiong.

"Kita tidak perlu memikirkannya." "Huh!" dengus Lim Ceng Im.

"Siapa yang memikirkannya?" "Adik Im!" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Barusan engkau menyinggung dirinya, tapi kenapa sekarang malah bilang siapa yang memikirkannya?" "Itu dikarenakan aku merasa kasihan kepada kakak Hong Hoa dan Ai Ling, bukan berarti aku memikirkan Lie Man Chiu, yang tak punya perasaan itu." "Adik Im...." Wajab Tio Cie Hiong berubah serius.

"Terus terang, yang harus kita pikirkan justru adalah Lam Kiong Bie Liong.

Entah bagaimana dia setelah mengetahui kematian ibunya?" -oo0dw0oo- Sementara itu, Gouw Han Tiong pun telah tiba di Tayli.

Begitu mendengar tentang kematian Lam Kiong hujin dan Tui Hun Lojin, Lam Kiong Bie Liong nyaris pingsan seketika, sedangkan Gouw Sian Eng menangis terisak-isak.

Toan Hong Ya dan isterinya hanya duduk diam dengan wajah murung.

Toan Pit Lian terus menerus menghibur suaminya, dan Gouw Han Tiong menghibur putrinya.

Suasana di ruangan itu menjadi hening, kecuali terdengar suara isak tangis.

"Siapa pembunuh ibuku" Siapa pembunuh ibuku?" teriak Lam Kiong Bie Liong dengan wajah pucat pias.

"Tenang, kakak Bie Liong!" Toan Pit Lian memegang bahunya.

"Jangan terlampau berduka!

Nanti engkau akan sakit." "Ibu!

Ibu..." teriak Lam Kiong Bie Liong.

"Bie Liong," ujar Gouw Han Tiong.

"Engkau harus tenang, jangan begitu!

Aku pun kehilangan ayah." "Aaaah...!" keluh Lam Kiong Bie Liong.

"Tak terduga sama sekali," ujar Toan Hong Ya sambil menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin berangkat ke Tionggoan karena rindu kepada Beng Kiat dan Soat Lan...." "Hong Ya!" Gouw Han Tiong tertegun.

"Bagaimana Kiat Beng dan Soat Lan bisa berada di Tionggoan?" "Tayli Lo Ceng menerima mereka berdua sebagai murid, maka Tayli Lo Ceng membawa mereka ke Gunung Thay San." Toan Hong Ya memberitahukan.

"Sudah berapa lama Kiat Beng dan Soat Lan ikut Tayli Lo Ceng?" tanya Gouw Han Tiong.

"Sudah lima tahun lebih, Ayah," jawab Gouw Sian Eng memberitahukan.

"Karena itu, kakek dan Lam Kiong hujin sangat rindu kepada mereka, maka berangkat ke Tionggoan menuju Gunung Thay San." "Tidak disangka...." Lam Kiong Bie Liong terisak-isak "Ibu pergi selama-lamanya Aaaah...

!" "Siapa yang membunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin?" gumam Toan Hong Ya.

"Apakah mereka punya musuh?" "Hong Ya," ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Setahuku ibu tidak mempunyai musuh.

Musuh kami adalah Bu Lim Sam Mo, tapi....

Bu Lim Sam Mo sudah mati." "Ayahku pun tidak mempunyai musuh, namun malah mati dibunuh," ujar Gouw Han Tiong sambil menggeleng~gelengkan kepala.

"Jadi...

tiada seorang pun yang tahu siapa pembunuh itu?" tanya Toan Wie Kie.

"Memang tiada seorang pun yang tahu." Gouw Han Tiong mengbela nafas.

"Ayahku dan Lam Kiong hujin terkena pukulan yang mengandung api, karena sekujur badan mereka hangus." "Pukulan apa itu?" tanya Toan Wie Kie.

"Entahtah." Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Kami sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apa itu, sebab kami tidak pernah mendengar tentang ilmu pukulan itu.

"Oh ya, kenapa Paman Lim tidak ikut kemari?" Tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.

"Lim Peng Hang pergi ke Hong Hoang To, aku berangkat ke mari." Gouw Han Tiong memberitahukan dan menambahkan, "Mungkin pihak Hong Hoang To tahu tentang ilmu pukulan itu." "Aku harus berangkat ke Tionggoan," ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Aku harus balas dendam." "Engkau tidak boleh pergi," sahut Toan Pit Lian.

"Pokoknya engkau tidak boleh pergi." "Adik Pit Lian...." "Bie Liong!" tegas Toan Hong Ya.

"Engkau tidak boleh ke Tionggoan.

Harus menunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang.

"Tapi...." "Kalau engkau berani pergi secara diam-diam, selamalamanya engkau tidak boleh ke mari lagi," ujar Toan Hong Ya berwibawa.

Lam Kiong Bie Liong diam.

"Kita tidak tahu siapa pembunuh itu, lalu bagaimana engkau mau balas dendam" Lebih baik engkau tunggu Beng Kiat dan Soat Lan pulang, setelah itu barulah berunding dengan Hong Ya." ujar Gouw Han Tiong sambil menatapnya.

"Ya." Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Lagi pula Lim Peng Hang sudah ke pulau Hong Hoang To, aku yakin pihak Hong Hoang pasti membantu dalam hal ini." tambah Gouw Han Tiong.

"Jadi engkau harus tetap bersabar menunggu putrimu pulang.

Mungkin Tayli Lo Ceng juga akan ke mari.

Bukankah engkau boleh mohon petunjuk kepadanya?" "Benar." Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Bie Liong," tegas Toan Hong Ya.

"Engkau tidak boleh pergi secara diam-diam, sebab akan membuat Pit Lian menderita.

Engkau harus ingat itu!" "Ya." Lam Kiong Bie Liong mengangguk, kemudian berjanji kepada isterinya.

"Adik Pit Lian, aku tidak akan pergi secara diam-diam.

Engkau tidak usah khawatir." "Terima kasih atas pengertianmu!" Toan Pit Lian tersenyum dan menambahkan, "Setelah Beng Kiat dan Soat San pulang, barulah kita semua berunding bersama." "Ya." Lam Kiong Bie Liong mengangguk, kemudian berkeluh.

"Ibu...." -oo0dw0oo- Jilid 3 Bagian Ke Sebelas Meninggalkan Gunung Thian San Di puncak Gunung Thian terdapat sebuah goa, yaitu tempat tinggal monyet bulu putih.

Tio Bun Yang tinggal di dalam goa tersebut, dan setiap hari duduk di atas batu dingin berlatih lweekangnya.

Post a Comment