panggil Lim Ceng Im cemas.
"Ceng Im!" Lim Peng Hang tersenyum getir Tio Cie Thong segera memberi hormat, namun tidak bertanya apa pun.
Sedangkan Sam Gan Sin kay terus menatapnya dengan perasaan tegang, berselang sesaat barulah membuka mulut.
"Peng Hang," Telah terjadi sesuatu di Kay Pang?" "Tidak," jawab Lim Peng Hang.
"kalau tidak, kenapa wajahrm begitu murung?" Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.
Ketika Lim Peng Hang b?ru mau menjawab, mendadak muncul Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.
Lim Peng Hang segera memberi hormat, Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin memandangnya dengan penuh rasa heran, sebab wajah ketua Kay Pang itu tampak murung sekali "Lim Pangcu, kenapa wajahmu..." Kim Siauw Suseng terus memandangnya.
"Aaaah ~" Lim Peng Hang menghela nafas panJang "Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terbunuh di sebuah lembah" "Apa" Semua orang terkejut, bahkan Sam Ga?
Sin Kay sampai meloncat bangun saking kagetnya "Peng Hang!
Engkau bilang apa?" tanya Sam Gan Sin Kay dengan wajah pucat pias.
"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terbunuh di sebuah lembah!" jawab Lim Peng Hang mengulanginya.
"Setan tua itu...." Mata Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng tampak basah.
"Siapa pembunuh itu?" tanya Tio Tay Seng.
"Entahlah." Lim Peng Hang menggelengkan kepala sambil memberitahukan.
"Sekujur badan mereka hangus seperti terbakar." "Apa?" Sam Gan Sin Kay Lerkejut.
"Apakah mereka dibakar?" "Bukan," sahut Lim Peng Hang.
"Kelihatannya mereka terkena semacam ilmu pukulan." "Ilmu pukulan apa itu?" Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Itu adalah ilmu pukulan yang mengandung api," ujar Kou Hun Bijin.
"Tergolong ilmu sesat." "Bijin tahu tentang ilmu pukulan itu?" tanya Sam Gan Sin Kay.
"Tidak begitu jelas." sahut Kou Hun Bijin.
"Kalau tidak salah, ilmu itu berasal dari Persia.
Tapi...
selama dua ratus tahun ini, tiada seorang pun berhasil mempelajarinya, Namun sungguh mengherankan, kenapa kini ilmu pukulan itu malah muncul?" "Kakak," tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Bagaimana kedahsyatan pukulan tersebut?" "Sangat dahsyat sekali," jawab Kou Hun Bijin.
"Siapa yang terkena pukulan itu, pasti mati hangus." "Aaaah...!" Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.
"Setelah Bu Lim Sam Mo mati, kukira rimba persilatan akan aman, tidak tahunya kini malah muncul bencana lagi, bahkan Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin yang terbunuh!" "Oh ya!" Tio Tay Seng memandang Lim Peng Hang seraya bertanya.
"Bagaimana Gouw Han Tiong?" "Dia berangkat ke Tayli untuk memberitahukan kepada Sian Eng dan Lam Kiong Bie Liong," jawab Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lam Kiong Bie Liong pasti berduka sekali.
"Heran?" gumam Sam Gan Sin Kay.
"Padahal Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin hidup tenang di Tayli, tapi kenapa mereka masih ke Tionggoa??" "Mungkin ingin menengok Gouw Han Tiong," sahut Lim Peng Hang.
"Itu memang masuk akal" Sam Gan Sin Kay manggutmanggut.
"Lalu untuk apa Lam Kiong hujin juga ikut ke Tionggoan?" "Entahlah." Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Oh ya!
Di mana Bun Yang?" "Bun Yang dan kauw-heng pergi ke Gunung Thian San." Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Oh?" Lim Peng Hang tercengang.
"Untuk apa Bun Yang dan kauw-heng pergi kesana?" "Itu adalah usul kauw-heng," ujar Lim Ceng Im.
Bun Yang berlatih lweekang disana." "Oooh!" Lim Peng Hang manggut~manggut.
Di saat bersamaan, tampak Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berjalan ke dalam.
Begitu melihat Lim Peng Hang, Lie Ai Ling langsung memberi hormat.
Begitu pula Siang Koan Goat Nio.
"Ai Ling!" Lim Peng Hang tersenyum.
"Engkau sudah besar!
Eh" Siapa gadis itu" Sungguh cantik sekali!" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Dia puteriku." "Oh?" Lim Peng Hang terbelalak.
"Bijin masih bisa mempunyai anak?" "Eeeh?" Kou Hun Bijin melotot.
"Itu putri kandungku lho!
Berarti aku bisa mempunyai anak." "Maaf, maaf!" ucap Lim Peng Hang cepat.
"Oh ya!
Di mana Lie Man Chiu" Kenapa dia tidak kelihatan?" "Dia binatang!" sahut Tio Tay Seng dengan wajah merah padam.
"Haah?" Lim Peng Hang tertegun.
"Dia...." "Dia telah meninggalkan anak isterinya." Sam Gan Sin Kay memberitahukan "Dia ingin mengangkat namanya di rimba persilatan." "Oh?" Lim Peng Hang tefbelalak.
"Lim Pangcu!" Tio Tay Seng menatapnya.
"Engkau pernah mendengar tentang dirinya dirimba persilatan?" "Tidak pernah,"jawab Lim Peng dan bertanya.
"Tio Tocu!
Sudah berapa lama dia meninggalkan pulau ini?" "Sudah lima tahun lebih," jawab Tio Tay Seng kemudian mencaci lagi.
"Dia memang binatang, membuat anak isteri menderita!" "Padahal..." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia murid Tayli Lo Ceng." "Sudahlah!" tandas Tio Tay Seng.
"Jangan membicarakan binatang itu, sebab akan merusak suasana!" "Ayah...." Lim Peng Hang memandang Sam Gan Sin Kay.
"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin dibunuh orang misterius, bagaimana rencana Ayah?" "Ayah sudah tua, lagi pula sudah jemu akan urusan rimba persilatan.
Oleh karena itu, ayah tidak mau turut campur mengenai kejadian ini," sahut Sam Gan Sin Kay.
"Tapi..." Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Tui Hun Lojin adalah kawan baik Ayah, kenapa Ayah tidak mau turut campur?" "Peng Hang, ayah ingin hidup tenang di pulau ini.
Engkau ingin memaksa ayah mencampuri urusan rimba persiiatan lagi?" tegur Sam Gan Sin Kay.
"Lim Pangcu," ujar Kim Siauw Suseng.
"Tui Hun Lojin memang kawan baik kami, tapi kami sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan.
Lebih baik engkau saja yang menanganinya." "Lim Pangcu," sela Tio Tay Seng.
"Kami semua sudah tua, maka ingin hidup tenang." "Aku mengerti." Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Tapi kematian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin...." "Peng Hang!" bentak Sam Gan Sin Kay.
"Engkau sebagai ketua Kay Pang, tapi kenapa jadi begini?" "Ayah!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang.
"Kepandaian orang misterius itu sangat tinggi." "Sudahlah!
Engkau diam saja!" Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.
"Jangan mengusik ketenangan di sini!" "Ayah...," ujar Lim Ceng Im.
"Kakek memang sudah tahu, dan harus hidup tenang disini.
Ayah jangan terus mendesak kakek, lebih baik kita cari jalan lain saja." "Ayah tahu." Lim Peng Hang menghela nafas lagi.
"Engkau dan Cie Hiong juga sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan.
Tapi kini di rimba persilatan mulai timbul badai.
Hiat Ih Hwe dan Tiong Ngie Pay saling membunub." "Tiong Ngie Pay?" Tio Cie Hiong tertegun.
"Partai baru dalam rimba persilatan?" "Ya." Lim Peng Hang mengangguk.
"Menurut dugaanku, ketua perkumpulan itu Yo Suan Hiang." "Oh, ya?" Lim Ceng Im tersenyum.
"Hebat juga dia, mampu mendirikan Tiong Ngie Pay!
Ayah, bagaimana kekuatan partai itu?" "Kini sudah kuat sekali." Lim Peng Hang memberitahukan.
"Banyak pesilat golongan putih bergabung dengan Tiong Ngie Pay, sebab Tiong Ngie Pay selalu membela rakyat, sekaligus melawan Hiat Ih Hwe." "Siapa ketua Hiat Ih Hwe?" tanya Lim Ceng Im.
"Kalau tidak salah, ketua Hiat Ih Hwe adalah Lu Thay kam," jawab Lim Peng Hang.
"Ayah memperoleh informasi, bahwa Lu Thay Kam berkepandaian tinggi sekali." "Pusing!" ujar Sam Gan Sin Kay.
"Rimba persilatan bakal diterjang badai, sedangkan kerajaan pun akan disapu topan." "Kini muncul pemberontakan dimana-mana." Lim Peng Hang memberitahukan.
"Yang memimpin pemberontakan adalah Lie Tsu Seng." "Peng Hang!" Sam Gan Sin kay menatapnya tajam.
"Pokoknya Kay Pang jangan terseret kearus pemberontakan, engkau harus ingat itu!" "Ya, Ayah." Lim Peng Hang mengangguk dan menambahkan, "Mengenai kematian Tui Hun Lojin, akan kutangani bersama Gouw Han Tiong." "Bagus!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Memang harus begitu.
Engkau harus tahu, bahwa ayah sudah tahu.
Masih kuat hidup berapa lama lagi, tentunya engkau tidak menghendaki ayah cepat-cepat mati, bukan?" "Ayah, maafkan karena aku tadi mendesak Ayah!" ucap Lim Peng Hang sambil menundukkan kepala.
Sementara Lim Ceng Im berbisik-bisik kepada Tio Cie Hiong, dan kemudian mereka pun manggut-manggut.
"Eeh?" Sam Gan Sin Kay memandang mereka.
"Kok kalian berdua malah berbisik-bisik" Mencaci kakek ya?" "Mana berani kami mencaci kakek?" sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Kami merundingkan sesuatu." "Apa yang kalian rundingkan" Bolehkah dibeberkan untuk kami dengar" tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.
"Tentu boleh." Lim ceng Im mengangguk.
"Sebelum Bun Yang berangkat ke Gunung Thian San, kami telah berpesan kepadanya." "Kalian berpesan apa kepadanya?" tanya Sam Gan Sin Kay, yang tidak sabaran.
"Seusai berlatih lweekang di Gunung Thian San, dia harus ke Gunung Hong Lay San menemui Tan Li Cu.
"Setelah Itu, dia pun harus ke markas pusat Kay Pang menemui kakeknya." Lim Ceng Im memberitahukan.
"Berhubung Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati terbunuh, maka kami menghendaki Bun Yang membantu kakeknya." "Bagus, bagus!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Memang sudah waktunya Bun Yang berkecimpung dalam rimba persilatan." "Tunggu dulu!" potong Kou Hun Bijin.
"Kalau begitu, putriku akan sia-sia menanti di pulau ini?" "Ha ha ha!" Tio Tay Seng tertawa gelak.
"Setelah Goat Nio menguasaj ilmu-ilmu yang diajarkan Cie Hiong, bukankah dia boleh pergi mencari Bun Yang?" "Ngmm!" Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Betul juga.
Tapi...
ayahnya setuju atau tidak, harus bertanya kepadanya." "Aku tidak berkeberatan," sahut Kim Siauw Suseng cepat.
"Sebab Goat Nio pun harus pergi mengembara mencari pengalaman." "Sastrawan sialan," sela Sam Gan Sin Kay, "Goat Nio akan pergi mencari Bun Yang mencari pengalaman?" "Itu...." Kim Siauw Suseng tergagap.
"Mencari Bun Yang sekaligus mencari pengalaman," jawab Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.
"Hi hi hi!
Tidak lama lagi rimba persilatan akan muncul seorang gadis yang cantik jelita!" "Ayah," ujar Lim Ceng Im.
"Kalau Bun Yang ke markas pusat Kay Pang, beritahukan kepadanya bahwa ayah sudah ke mari!" "Itu pasti." Lim Peng Hang tersenyum.
"Oh ya, Ayah," pesan Lim Ceng Im.
"Kauw heng harus terus mendampingi Bun Yang, sebab kauw heng memiliki panca indera keenam, jadi ada baiknya kauw heng mendampingi Bun Yang." "Benar." Lim Feng Hang mengangguk sambil tertawa.
"Tidak lama lagi di rimba persilatan akan muncul seorang pendekar muda yang tampan dan berhati bajik.
Ha ha ha...!" "Yaaah!" Mendadak Tio Cie Hiong menghela nafas panjang sambjl mengge1eng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong!" Lim Ceng Im tercengang.
"Kenapa engkau menghela nafas panjang" Apakah ada sesuatu terganjel dalam hatimu?" "Kita di sini tertawa~tawa, namun di Tayli sana...." Tio Cie Hiong menghela nafas lagi.
"Jadi keputusan kita yaitu Bun Yang membantu Lim Pangcu" Begitu kan?" ujar Kou Hun Bijin mendadak.